
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
"Iya betul, eeh ayo kita ke Candi tertua pandawa." ajakku
"Ayo, kita telusuri keindahan candi ini." kata Adhir.
*
Jerman.
Pertarungan di pusat komando masih sengit. Sebenarnya siapa orang yang telah membuat kekacauan ini.
"Hainan sudah meninggal, lalu siapa sebenarnya orang itu." kata Satria.
"Cepat atau lambat kita pasti akan mengetahuinya." sahut Prasta.
Pada saat mereka berbicara satu sama lain. Tiba - tiba ada dua buah peluru yang menuju ke arah mereka.
"Prasta! Awas peluru." teriak Satria
Prasta pun langsung memiringkan badannya ke kiri. Sehingga peluru itu hanya mengenai tembok. Mereka juga segera menatap ke arah dua orang yang melepaskannya. Tapi sayang, dua orang itu langsung pergi.
"Siapa sebenarnya mereka, kenapa mereka ingin mencelakai kita?" tanya Satria
"Bukan kita, tapi yang ingin dicelakai ialah Dika dan Ivan." kata Prasta.
Prasta pun lalu menuju tembok yang rusak akibat peluru itu. Dia lalu menyentuh dan mengambil peluru itu. Kemudian memejamkan mata. Ya dia berharap dapat menelisik benda tersebut. Sehingga mendapatkan petunjuk.
"Gimana? Apakah dapat petunjuk?" tanya Satria
Prasta pun lalu masuk ke dalam orang yang melepas peluru itu. Dia ingin tahu sebenarnya orang yg menginginkan nyawa kedua sahabatnya itu.
"Bagaimana, apakah berhasil?" tanya seorang lelaki bertudung hitam.
"Maaf pangeran, kami gagal. Ternyata Ivan dapat membaca gerakan kami." kata penembak itu.
"Aku sudah menduga, bahwa kedua orang itu. Bukanlah orang sembarangan.
Tapi kehadiran Prasta diketahui oleh orang bertudung hitam. Dia segera menutup penglihatan dari Prasta.
"Apa yang terjadi?" tanya Satria.
__ADS_1
"Lelaki itu disebut pangeran, dia menyadari kehadiranku. Berarti mereka bukanlah orang biasa. Sangat jelas bahwa mereka adalah kerabat kerajaan." kata Prasta.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Satria.
Prasta pun menggelengkan kepala.
*
Kembali ke Dieng.
Nara dan Adhir kini menuju halaman Candi Puntadewa. Ya, Puntadewa adalah nama lain dari sulung Pandawa. Dia disebut juga dengan Darmawangsa, Dharmaputra, Yudistira, dan Pandu Putra.
"Adhir, ala kau tahu tentang candi ini?" tanya Nara.
Adhir pun menganggukan kepala.
Ukuran Candi Puntadewa tidak terlalu besar, namun candi ini tampak lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur bersusun setinggi sekitar 2,5 m. Tangga menuju pintu masuk ke dalam ruang dalam tubuh candi dilengkapi pipi candi dan dibuat bersusun dua, sesuai dengan batur candi. Atap candi mirip dengan atap Candi Sembadra, yaitu berbentuk kubus besar.
Puncak atap juga sudah hancur, sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca
"Pintu dilengkapi dengan bilik penampil dan diberi bingkai yang berhiaskan motif kertas tempel. Ruang dalam tubuh candi sempit dan terdapat sebuah Yoni yang patah pada bagian ceratnya. Di ketiga sisi lainnya terdapat jendela yang bingkainya diberi hiasan mirip dengan yang terdapat di pintu. Sekitar setengah meter di luar kaki candi terdapat batu yang disusun berkeliling memagari kaki candi." kata Adhir menambahkannya
"Banyak batu yang berserakan ya disini." kataku
Di depan candi terdapat batu yang disusun berkeliling membentuk ruangan berbentuk bujur sangkar. Di tengah ruangan terdapat dua buah susunan tumpukan dua buah batu bulat yang puncaknya berujung runcing. Di utara candi terdapat batu yang disusun berkeliling membentuk ruangan berbentuk persegi panjang. Di tengah ruangan terdapat dua buah batu berbentuk mirip tempayan yang lebar.
"Apa ini wajan raksasa?" tanyaku
"Bukan lah, tempayan batu ini dahulunya untuk meditasi. Jadi seolah - olah pimpinan upacara duduk di atas teratai." kata Adhir.
Tapi dalam Mahabharata, Srikandi pada awalnya seorang wanita. Dia merupakan titisan Dewi Amba. Dia lahir membawa dendam untuk membunuh Bhisma Dewabrata. Dalam perjalanannya, dia mengembara ke hutan. Serta bertukar kelamin dengan raksasa Stuna.
"Adhir... ceritakan tentang Candi Srikandi." pintaku
"Tapi sebelum membahas Srikandi. Kita akan menuju Candi Sembadra." kata Adhiraksa.
Candi Sembadra. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar. Di pertengahan sisi selatan, timur dan utara terdapat bagian yang menjorok keluar, membentuk relung seperti bilik penampil. Pintu masuk terletak di sisi barat dan, dilengkapi dengan bilik penampil. Adanya bilik penampil di sisi barat dan relung di ketiga sisi lainnya membuat bentuk tubuh candi tampak seperti poligon. Di halaman terdapat batu yang ditata sebagai jalan setapak menuju pintu.
"Sembadra itu siapa?" tanyaku
"Sembadra adalah asik bungsu dari Krishna dan Baladewa. Dia merupakan seorang tokoh wanita pengiring Krishna. Dia nantinya akan menikah dengan Arjuna." kata Adhir.
"Duuh.. Arjuna banyak amat ya istrinya" kataku sambil tersenyum.
"Kan dia lelanange jagat. Jadi dia bisa memiliki banyak istri. Dia tampan, sakti, dan mempesona. Siapa coba wanita yang bisa menolak pesona Arjuna." kata Adhir.
Sepintas Candi Sembadra terlihat seperti bangunan bertingkat, karena atapnya berbentuk kubus yang ukurannya hampir sama besar dengan ukuran tubuhnya. Puncak atap sudah hancur, sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca.
"Ayo kita menuju Candi Srikandi." ajakkku.
"Ayo, disini ada yang spesial lho." kata Adhiraksa.
"Apa?" tanyaku
__ADS_1
"Pada dinding utara terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu, pada dinding timur menggambarkan Syiwa dan pada dinding selatan menggambarkan Brahma. Sebagian besar pahatan tersebut sudah rusak. Atap candi sudah rusak sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya." kata Adhir.
Kami pun lalu mengamati candi yang menakjubkan ini.
*
Istana Kegelapan
Sedangkan para pengawal dan dayang mulai bergosip. Bahwa selama ini dugaan Patih benar. Dia bukanlah putri Nara tetapi putri Aura.
"Jadi Putri Aura adalah korban? Tak ku sangka, Putri Nara yang lembut itu ternyata hatinya sangat busuk." kata seorang dayang.
"Bagaimana jika sampai Maharaja tahu. Jika yang ada di istana bukanlah putri Nara." kata pengawal.
"Eh.. kalian itu, diamlah jika tidak ingin dihukum oleh Senopati." perintah pengawal dalam.
Pada saat itu, Balapati dipanggil oleh ayahnya.
"Menghaturkan hormat, kepada ayah Mahapatih" kata Balapati.
"Bangunlah, Nak... Kamu tentu tahu. Maksud ayah memanggilmu." kata Mahapatih
"Ya, ayah ... pasti ini berkaitan dengan kabar yang sedang beredar." kata Balapati.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Patih.
"Analisa saya adalah Raja Arda tidak akan mengampuni Putri Nara. Cepat atau lambat perang akan segera terjadi. Peristiwa atau dendam Masa lalu akan segera berkobar." kata Balapati
Desas desus itu cepat tersebar dengan cepat. Seperti biasa, Tamara pun menemui Aura.
"Aura, kabar ini cepat sekali keluarnya." kata Tamara.
"Ya, ini lah yang kita inginkan. Kita akan cuci tangan dan lepas dari hukuman Maharaja." kata Aura.
"Apakah kamu yakin, kita bisa selamat dari Maharaja?" tanya Tamara.
"Aku punya senjata pamungkas yang akan membuat Maharaja bertekuk lutut padaku." kata Aura.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
__ADS_1
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"