Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Perjalanan ke Candi Prambanan


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Perjalanan menuju Prambanan terasa menyenangkan setelah kami berpamitan dengan petani Desa Joho. Kami melanjutkan perjalanan. Jarak Candi Prambanan dengan rumah kami sekitar 10 km. Sehingga nggak butuh waktu kalau kita nggak mampir - mampir.


Jalan menuju Prambanan ternyata melewati jalan Raya Manisrenggo. Sehingga kita harus berhati - hati karena banyak kendaraan bermotor. Kami melewati jalan pinggir, barisan depan ada Ivan, Aku, dan Dika.


"Eh.. itukah Candi Plaosan?" tanyaku.


Ivan dan Dika kemudian melihat ke arah yang kutunjukan. Kebetulan letak Candi Plaosan tidak jauh dari jalan utama Manisrenggo.


"Kayaknya, Iya" jawab Ivan.


"Dari ciri yang dicerita mbahnya tadi sepertinya memang itu Candi Plaosan, Candi Kembar, tu ada 2 candi" timpal Dika.


"Kita lanjut ke Prambanan saja dulu, ntar kalau waktunya cukup, pulangnya kita mampir sana" ajak Ivan.


Ivan sepertinya tahu kalau aku bakalan ngajak mampir sana. Makanya dia mencegahku. Tak butuh waktu lama, 5 menit kemudian kami sudah sampai di pagar hijau Kompleks Candi Prambanan.


"Itu Candi Sewu" kataku.


"Ngerti" jawab mereka berdua.


Mereka terus mengomel tatkala aku menunjukan gugusan candi yang ada di Kompleks Prambanan. Mereka merasa tahu bahwa candi yang aku sebutkan tadi juga familiar di benak mereka.


"Ntar ke situ ya ... kayaknya enak tu ntar makan di bawah pohon rindang itu sambil menikmati sejuknya hari dan melihat kemegahan Candi Sewu" kataku.


"Iya, sambil menikmati semilir angin. Sepi juga candi nya, jadi enak buat istirahat." kata Ivan


5 menit kemudian, kami sampai di parkiran candi. Kami langsung mengarahkan sepeda kami di parkiran khusus sepeda. Kami kemudian diberikan karcis sepeda. Pembayaran dilakukan di muka. Pada saat itu, biaya parkir sepeda Rp 500. Harga yang terjangkau untuk anak - anak seusia kami.


"Jangan sampai ilang" kata Dika.


"Iya" kataku singkat.


Tujuan kami adalah loket candi. Tapi sebelum itu, kami melewati pasar seni Prambanan. Berbagai jenis kerajinan, baju, makanan khas, oleh - oleh, makanan dan minuman berjejeran disitu. Suara ramah dari penjual membuat pelancong terkadang terpengaruh untuk mampir dan membelinya.


"Aku nanti mau beli gantungan candi." kataku


"Murah tu, seribu dapat 5." kata Ivan


Dika tiba - tiba berjalan ke arah orang yang jualan topi cantik. Topi pantai yang bulat trus ada pitanya yang panjang. Dia membeli sebuah topi warna pink dengan pita warna kuning.


Kami menertawakan Dika, karena dia seperti wanita membeli topi warna pink. Tapi tawa kami berhenti tatkala dia memakaikan topi itu di kepalaku.

__ADS_1


"Lho kok buat aku?" tanyaku


"Kamu tu kalau bawa topi yang bener. Topi bolong atas saja dipakai. Panas tau di dalam." katanya


Tak kusangka dia baik banget padaku. Lalu aku mencoba bertanya harga dan bermaksud ingin mengganti uangnya. Tapi dia menolaknya, setelah itu tak lupa aku mengucapkan terimakasih padanya


"Makasih ya teman kecil." kataku


Kami berdua langsung menuju loket candi. Ternyata banyak juga yang antri. Sehingga mau nggak mau kita harus berdiri untuk membeli tiket. Ini adalah kali pertamanya Aku dan Dika masuk Prambanan menggunakan Tiket.


"Biasanya kita gratis ya, Dik" kataku.


"Iya.. tapi nggak papa, sekali - kali. hehehhe" kata Dika.


Ini adalah pengalaman pertama ku dan Dika masuk candi Prambanan membayar. Hampir tiap tahun aku dan Dika ke sini untuk melakukan ritual Tawur Agung. Kami juga biasanya masuk lewat pintu khusus.


"Van, kamu kapan terakhir kali ke Candi Prambanan? atau jangan - jangan ini baru pertama kali ya?" tanyaku.


"TK" jawabnya singkat disertai tawaku dan Dika.


Kami lihat di papan informasi tentang harga tiket. Memang benar, harga tiket untuk pelajar Rp 7.500


Aku kemudian mengeluarkan uang kemarin itu.


"Aku tadi dikasih tambahan uang saku nie" pamerku.


Aku kemudian menunjukan uang yang aku taruh di dompet kecil. Aku menyiapkan uang Rp 30.000 dan siap untuk beli tiket. Tapi tiba - tiba ada seseorang yang memanggilku.


Ivan dan Dika kemudian mencolekku dan menunjukan jari ke arah orang yang manggil aku.


"Heh, Mas Parji" sapaku.


Ternyata lelaki itu adalah sodara sepupuku. Namanya Mas Parji. Dia memang bekerja di candi. Aku kemudian menjabat tangannya. Mama ku pernah menceritakan kalau punya sodara yang kerja di Candi.


"Sama siapa?" tanyanya.


"Ni bertiga sama 2 temenku" aku kemudian memperkenalkan Dika dan Ivan.


"Mau ngapain masuk ke dalam?" tanyanya lagi.


Aku kemudian menjelaskan maksud dari kedatangan kami ber tiga. Kalau kami ingin piknik sebelum masuk sekolah SMP. Aku jyga cerita kalau kami bertiga diterima di sekolah negri desa kami. Mas Parji kemudian menawarkan kami masuk ke candi gratis lewat pintu khusus karyawan.


"Sini masuk lewat sini saja" katanya.


"Tapi, aku belum beli tiket" kataku.


"Ngak papa, uangnya buat jajan saja ntar di dalem kalau haus" katanya lagi.


Kami bertiga kemudian masuk lewat pintu karyawan dan tak lupa kami ucapkan terimakasih ke Mas Parji. Jadi aku dan Dika masuk ke Candi gratis lagi. Selama ini belum pernah sekalipun masuk ke Candi membayar. Suatu anugrah dan rejeki yang tiada kira.

__ADS_1


"Wuah rejeki nomplok" kata Ivan.


"Uangnya utuh" sahut Dika.


Aku kemudian membagikan uang yang kemarin dikumpulkan kepada Dika dan Ivan. Kami kemudian masuk dan melewati air mancur. Banyak wisatawan yang berdatangan. Pria dan wanita bule pun datang dengan membawa kamera. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing.


Banyak guide yang mendekati bule dan berharap menjadi pemandu wisatanya. Mereka merayu bule itu dan berharap dapat bayaran uang dolar.


"Coba Ra ajak mereka berbicara." kata Ivan


Aku memang bisa berbahasa Inggris dan Belanda dasar. Aku mendapatkan itu karena belajar dan membaca bukunya Mas Antong. Meskipun masih kasar tapi mereka paham dengan maksud kita.


Kami kemudian duduk sejenak di pelataran air mancur. Bagi kami anak desa, melihat air mancur yang dihias dengan teratai batu dan ditambah dengan adanya ikan mas dan bunga teratai membuat kesejukan tersendiri.


"Pengen mandi" kataku.


"Kayak bisa renang saja" kata Dika sambil tertawa ngledek aku.


"Haus banget, panas, jajan es yuk" ajak Ivan.


Kami bertiga kemudian mencari pedagang es lilin. Di dalem candi ini ada minuman spesialnya yaitu es lilin gede (bentuk kemasannya kayak Kiko kalau sekarang, tapi lebih gede). Harganya Rp 1.500 per biji. Aku memilih warna hijau, karena aku suka melon. Sedangkan Dika pilih warna kuning, dan Ivan warna merah.


"Mana orang tua kalian?" tanya pedagang es itu.


"Kami hanya bertiga bude" jawab Ivan.


Kami kemudian menjelaskan kalau rumah kami tidak jauh dari sini. Jadi kami berangkat sendiri ditambah Aku dan Dika tiap tahun ke sini. Jadi hapal jalannya. Pada waktu itu pedagang asongan masih bebas berjualan sampai ke dalam candi. Sekarang sudah ditertibkan. Jadi nggak boleh lagi.


"Yuk, naik" ajakku.


"Ayo" jawab mereka berdua.


Kami kemudian bergegas masuk ke pintu utama yang terbuat dari gerbang warna hijau. Ivan sudah was - was apabila nantinya diperiksa tiketnya.


"Aku takut ni." kata Ivan


"Kenapa?" tanya Dika


"Kita kan nggak punya tiket. Nanti kalau kita diusir gimana?" kata Ivan ketakutan


"Tenang saja, ntar aku bilang kalau saudaranya Mas Parji. Mereka pasti kenal dengan saudaraku itu." kataku


Tapi Ivan masih belum beranjak. Dia mau mengamati wisatawan dan memastikan bahwa tidak akan ada pemeriksaan tiket masuk. Setelah semuanya aman, maka kami segera melangkahkan kaki ke dalam bangunan utama.


**


Episode kali ini cukup ya


Terimakasih atas waktunya

__ADS_1


with love


Citralekha


__ADS_2