Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Tepi Sungai


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Aku masih penasaran dengan tempat yang akan Satria tunjukan padaku. Aku bingung, karena seingat aku bertemu dengannya di Candi Prambanan.


"So, dimana ya kira - kira tempat itu?" tanyaku


"Idih, bukannya kalian yang bertemu. Aku heran dengan kamu, Ra." kata Pasopati


"Kakak penasaran? sebaiknya cepat ganti baju dan ikuti Kak Satria." saran Widasari.


Aku kemudian masuk ke bilik dibantu oleh Widasari. Ia menyisir dan membantu menata rambutku.


"Rakyan, kamu beruntung ya karena Kak Satria sangat mencintaimu." kata Widasari


"Kamu juga, Pasopati sangat sayang padamu." kataku


Aku lihat Widasari tertunduk dan ada wajah kesedihan. Aku mencoba menghiburnya.


"Kamu kenapa, putri?" tanyaku


"Aku tidak yakin, apakah dia mencintaiku, kak." katanya sedih.


"Apa yang membuatmu tidak yakin?" tanyaku


Ia menangis dan menutup wajahnya dengan kain. Aku semakin bingung dengan kelakuannya.


"Kenapa sayang?" tanyaku


"Dia tidak mencintaiku. Tapi dia mencintaimu." katanya


Aku terhenyak dengan perkataan Widasari. Aku tidak habis pikir kenapa ia bisa berpikiran seperti itu.


"Itu tidak mungkin, putri." kataku


"Dari kelakuan, sikap, dan perhatiannya padamu. Kakak, aku mohon jangan ambil Pasopati dariku." katanya tersedu


Aku membelai rambut dan memeluknya. Ternyata kedekatanku dengan Pasopati dapat melukaibperasaan Widasari. Tapi hanya Pasopati teman yang bisa kupercaya di dunia ini setelah Satria.


"Putri, kamu kan tahu. Aku sebentar lagi akan menikah dengan Rakai. Jadi kamu tenang saja. Aku hanya menganggap dia sebagai teman " kataku


"Ah iya kak, maafkan aku yang terlalu cemburu." katanya


Kami kemudian saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain. Aku tidak mau memiliki musuh di dunia ini. Cukup aku membunuh 2 orang wanita, Gendis dan Kembang.


tok tok tok


Bilik kamarku diketok oleh Satria. Nampaknya ia sudah tidak sabar ingin segera ke tempat itu. Aku kemudian keluar dan sudah siap pergi.


"Kak gimana kalau kita ajak Pasopati dan Widasari." usulku


"Kok ngajak mereka. Kita nggak jadi pacaran lho." kata Satria cemberut


"Iya kak, ajak kami. Aku dan Kak Pasopati janji nggak akan menganggu kalian." kata Widasari penuh harap.

__ADS_1


Satria kemudian mengiyakan permintaan kami. Ia terlihat sangat kesal, tapi kemudian tersenyum manja setelah aku berusaha merayunya.


Kami pamit kepada ayah dan ibu. Aku takut jika kami tidak pamit akan khawatir.


"Bunda, ayah ... kami minta izin untuk keluar sebentar." kataku


"Hati - hati ya nak. Pangeran tolong jaga putri kesayanganku." kata Dewi Tara.


"Cepat kembali ya." pesen ayahku


Kami menuju kereta dan siap untuk menaikinnya. Kali ini Pasopati dan Widasari berada di kereta tersendiri.


"Kenapa kita berpisah kereta, Kak?" tanyaku


"Aku nggak mau mereka menganggumu selama di perjalanan." katanya


Aku hanya tersenyum. Sais mengendarai kereta dengan sangat hati - hati. Kami juga tidak dikawal oleh prajurit. Bagiku berada di samping Satria semua akan aman. Terlebih aku masih memiliki 2 sahabat tak kasat mata yang akan selalu menjagaku.


"Rara," katanya


Aku melihat ke arah Satria. Ia sangat manis dan tampan. Aku jadi tidak bisa kontrol emosi. Aku langsung memeluknya.


"Terimakasih sudah menyayangi ku dengan tulus." kataku


Ia juga memelukku sangat erat. Dia menciumku untuk ke dua kalinya. Akan tetapi hal romantis itu harus tertunda, pasalnya roda kereta kuda tiba - tiba tersandung batu. Aku pun tertawa tapi wajah Satria terlihat sangat kesal.


"Sais !! hati - hati atau kau tidak akan selamat." bentaknya


"Sabar sayang, jangan marah - marah gitu." godaku


"Awas kau sayang. Aku nggak akan melepaskanmu. Aku akan memangsamu." kata Satria penuh nafsu.


Aku semakin menertawakannya. Ia terlihat sangat lucu ketika keinginannya tidak tersampai.


"Selamat datang, sayang." katanya sambil mencium pipiku


"Tempat apaan ni?" tanya Pasopati


"Kak Rakai kenapa membawa kami ke sungai opak?" tanya Widasari.


Aku mencoba mengingat tempat ini. Halaman luas, penuh bunga teratai, dan ditengah halaman itu mengalir sebuah sungai yang berkelok kelok.


"Kalau hanya ingin melihat bunga teratai dan air di istana kan ada, ngapain jauh - jauh ke sini." kata Pasopati kesal.


"Tunggu" kataku


Mereka kemudian menatapku. Aku mengingat tempat ini adalah sungai saat aku terjatuh dan diselamatkan oleh Satria untuk pertama kali.


"Apa kau ingat sesuatu, sayang?" tanya Satria.


"Iya, kau menyelamatkanku ketika hampir terjatuh." kataku


Satria kemudian berlutut dan meminta maaf karena ulahnya. Aku hampir terjatuh dari sungai.


"Kenapa minta maaf?" tanyaku


"Aku yang memanggilmu saat itu. Sehingga kau hampir jatuh karena belum siap menerima panggilanku." katanya


Aku kemudian mengamati sekitar lokasi ini. Rasanya tempat ini tidak asing. Desiran angin sungai membuat kain yang aku pakai berkibar.

__ADS_1


"Hahaha tak ku sangka pangeran dan ratunya bertemu di tempat seperti ini." ledek Pasopati


"Suatu hari nanti di sinilah aku berjanji padamu, sayang. Aku membangun sebuah kompleks percandian yang megah dan indah. Candi itu akan selamanya dikenang oleh seluruh penjuru dunia ini." katanya


Aku mengingat, iya betul ini adalah lokasi tempat dibangunnya Candi Prambanan. Jadi disini lah nantinya pintu gerbangku kembali ke masa depan.


'Rara, kamu sudah ingat?' tanya Puspa


"Iya, ini adalah Siwagrha." kataku


'Mintalah pada Satria untuk berjanji membuatkanmu tempat yang ia katakan tadi.' pesan Kencana


Aku menatap Satria dan memegang erat tangannya. Aku memandanginya dengan penuh harap dan cinta.


"Ada yang ingin kau katakan, sayang?" tanya Satria.


"Berjanjilah padaku secepatnya bangun kompleks percandian yang indah dan megah." kataku


Satria menatap dan memelulku dengan erat. Pasopati mengajak Widasari untuk menjauh dari kami. Nampaknya Pasopati mengerti akan tempat ini. Mungkin ia teringat bahwa aku alan bisa kembali ke masa depan dengan memasuki gerbang percandian rumah Siwa.


"Kakak kapan akan membangun candi di sini?" tanyaku


"Setelah aku menikahimu dan ketika aku menjadi maharaja." katanya


"Apakah ada alasan lain, kenapa kakak memilih tempat ini?" tanyaku


"Lembah ini adalah lembah para dewa. Tempat yang tepat untuk memuja Sang Hyang Siwa sebagai Girinatha. Lihatlah ke utara, ada gunung merapi yang agung. Keagungannya bagaikan gunung mahameru di Jambu dwipa." kata Satria.


"Jika terjadi marabaha akibat lindhu atau gempa dan gunung meletus, gimana?" tanyaku


"Bancana hanya akan datang sebentar. Tapi setelah itu kemakmuran dan keharmonisan yang akan tercipta." kata Satria.


Di tanah yang aku pijak ini adalah tanah suci. Aku ingat, bahwa aku pernah bertemu pandita Narada di sini. Ini adalah tempat pertama kali aku masuk ke abad 9. Melalui pintu ini aku bisa masuk di dalam keluarga kerajaan.


Aku sangat bahagia, karena telah menemukan lokasi dimana aku bisa kembali ke masa depan. Tiba - tiba aku dikejutkan dengan gambaran orang - orang yang kucintai di masa depan. Bayangan Dika dan Ivan muncul di depanku.


"Dika, Ivan!!" teriakku


"Apa yang kau lihat?" tanya Satria


"Teman - teman di masa depanku, kak." kataku


Aku kemudian menangis ketika melihat bayangan mereka berdua terjun ke dalam Sungai Opak.


"Tidaaaaaaak !" teriakku


Aku berusaha mengejar bayangan Ivan dan Dika. Tapi langsung dicegah oleh Satria.


"Ini berbahaya sayang." kata Satria


"Tapi aku melihat Dika dan Ivan terjerembab dalam sungai itu, Kak." kataku sambil menangis.


Satria kemudian mengajakku untuk berjalan - jalan di


tepian Sungai Opak.


**


Episode kali ini cukup yak. Maaf telat update.

__ADS_1


with love


Citralekha


__ADS_2