
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Dayang dengan sigap mengambilkan kami baju ganti. Aku pun ke pendopo kecil untuk berganti pakaian. Jarak kamar dan tempatku bermain air denga Satria lumayan jauh. Meskipun satu kompleks di Istana.
Istana ini luas sekali. Maklum jika di sekitar kolam ada pendopo kecil yang ditutupi dengan anyaman bambu. Aku berganti pakaian, agak ribet sebenarnya menggunakan pakaian ala kerajaan.
"Nararia sudah belum ganti bajunya?" tanya Satria
"Bentar kak." sahutku
Aku kemudian keluar dari bilik itu. Aku melihat ada yang beda dengan Satria hari ini. Ia menggunakan baju zirah dan pengawal membawakan anak panah, busur, pedang, dan tombak.
"Eh ada apa ini? Apakah negara ini akan diserang musuh?" tanyaku keheranan
Aku berpikir apakah perang dan pemberontakan dari adikku sudah dimulai. Ini terlalu cepat batinku.
"Katakan kak, apakah ada pemberontakan?" tanyaku lagi.
Satria tersenyum lalu memegang bahuku.
"Enggak ada pemberontakan atau penyerangan, sayang." kata Satria.
"Lalu kenapa kakak berpakaian dan membawa perlengkapan perang?" tanyaku
"Akan ada adu ketangkasan di istana, sayang." katanya
Aku terhenyak mendengar penuturan Satria. Akankah ilmu panahku dari Dewi Sakti akan berguna dalam acara itu.
"Apakah para putri juga ikut?" tanyaku
"Tidak untukmu, sayang." katanya sambil tersenyum
Dari kejauhan aku melihat Pasopati dan Putri Widasari juga beberapa pengawal membawa senjata dan menggunakan baju perang.
"Kalian mau ikut gladen?" tanyaku
Mereka mengangguk kepala sambil tersenyum.
"Rakyan, kamu kenapa tidak menggunakan baju sepertiku?" tanya Widasari.
"Dayang tidak memberiku baju perang." kataku
Aku kemudian melirik pada dayang yang membawakan bajuku. Mereka nampak tertunduk dan melirik pada Satria. Aku pun juga mengalihkan pandanganku padanya.
"Kak Satria!" bentakku
"Jangan marah, sayang. Kakak nggak mau kamu terluka." kata Satria.
"Iya, Ra ... lagian kamu kan nggak terbiasa menggunakan senjata seperti ini." timpal Pasopati.
Mereka meremehkanku ternyata. Mereka tidak tahu kalau aku sudah mendapatkan pelatihan panah dari Dewi Sakti (dewi perang istana Kaindran).
"Hei kalian kenapa sih, Rakyan itu bisa menggunakan senjata ini." kata Widasari.
Satria dan Pasopati saling bertatapan. Itu sebagai tanda kalau aku bukanlah Rakyan yang hidup sejak kecil di lingkungan kerajaan. Aku adalah Rakyan di masa depan.
"Widasari, Rakyan itu calon ratu. Jadi tidak elok jika dia ikut gladen. Dia tidak perlu bertarung. Dia akan selalu dilindungi." kata Pasopati.
__ADS_1
"Iya Widasari, dia adalah ratuku. Aku tidak akan mengizinkan dia terluka sedikitpun." kata Satria.
"Baiklah." kata Widasari.
Widasari kemudian berbisik padaku.
"Rakyan ... kamu nggak mau menunjukan kalau kau bukanlah wanita lemah?" bisik Widasari
Aku hanya tersenyum mendengar penuturan Widasari. Sebenarnya aku bisa dengan mudah mengalahkan Widasari untuk panah. Terlebih aku memiliki kalung sakti panca roba.
'Nararia sebaiknya kamu diam dulu. Ada saatnya nanti kamu menunjukan kehebatanmu.' kata Kencana
'Iya, ikuti saran Pasopati dan Satria.' usul Puspa.
Aku kemudian setuju dengan usul 2 sahabat tak kasat mataku. Kami berjalan menuju arena gladen. Di seberang jalan istana. Ada rombongan yang di dalamnya ada seorang pangeran dan 2 orang putri. Mereka mendekati kami.
"Putri Arum dan Putri Kembang." sapa Widasari.
Mereka terlihat akrab sekali dengan 2 orang putri itu. Widasari memeluk dan membawa mereka kehadapan kami.
"Rakyan, apa kamu ingat dengan mereka?" tanya Widasari.
"Putri Arum dan Putri Kembang, kan?" tanyaku
Widasari hanya mengangguk kepala. Ia mempersilahlan 2 putri itu untuk jalan bersama menuju tempat gladen.
"Putri Widasari, kau sudah siap bertanding denganku nanti?" tanya Arum.
"Tentu, aku sudah berlatih dan pasti akan bisa mengalahkanmu." kata Widasari.
"Rakyan sudah siap kamu bertarung denganku?" kata Kembang
Aku belum sempat menjawab, Pasopati sudah menjawabnya.
"Tidak putri Kembang Sari. Rakyan akan menjadi ratu, jadi dia hanya akan menonton." kata Pasopati.
Aku hanya tersenyum mendengar ejekan dari Kembang Sari. Untuk sementara ini aku akan mengalah dan mengikuti saran Pasopati. Tapi nanti saat terakhir perlombaan, aku akan maju dan memukau semua orang.
Satria tiba - tiba menggenggam tanganku. Aku sedari tadi diam, karena Kembang Sari bergelayutan manja dengan Satria.
"Kenapa?" tanyaku
"Jangan terpancing emosi, sayangku." bisik Satria.
Aku kemudian memeluk manja tangan Satria. Kembamg Sari kemudian berjalan menyusup ke tengah (diantara aku dan Satria).
"Pangeran, jika aku menang nanti, hadiah apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Kembang.
"Coba tanya pada ratuku." kata Satria.
"Bukankah ratumu itu aku." kata Kembang
Satria kemudian melepaskan pelukan tangannya dari Kembang.
"Putri Kembang apa kau tidak tahu, kalau aku akan segera menikah dengan Rakyan?" tanya Satria.
"Seorang raja pasti butuh istri ke dua kan?" tanyanya lagi.
'Gendis Wangi berhasil kusingkirkan, kini muncul lagi pelakor.' batinku
'Jangan terpancing emosi. Tetaplah anggun dan bijaksana, Nararia.' pesan Puspa.
'Tapi Pus, lihatlah mereka.' kataku
__ADS_1
Pasopati kemudian mendekatiku. Ia menenangkanku agar tidak terpancing emosi dan cemburu pada Satria.
"Jangan terpancing emosi." bisiknya
Aku hanya tersenyum dan terus berjalan. Widasari pun kemudian menggandeng tangan Pasopati.
"Kangmas, kalau aku menang nanti, kamu akan memberikanku hadiah apa?" tanya Widasari
"Apapun yang kau mau." kata Pasopati.
"Aku berjanji akan mengalahkan mereka." kata Widasari semangat.
Putri Arum juga mendekatiku. Ia menenangkanku, ia nampak berbeda dengan kakaknya, Kembang Sari.
"Rakyan maafkan kakakku ya." katanya
"Santai saja putri Arum." kataku sambil tersenyum.
Kami berjalan menyisir tepian istana. Aku melihat banyak para ksatria bersama pengawalnya berdatangan. Mereka terlihat gagah, karena menggunakan perlengkapan perang. Banyak para putri juga ikut dan bersiap akan melakukan pertandingan.
'Puspa, kenapa banyak pangeran yang hadir? apa menariknya perlombaan ini?" tanyaku
'Perlombaan ini memperebutkan gelar pangeran dan putri sakti di tanah Yawa.' kata Puspa
Pantas saja banyak yang ingin ikut. Ternyata alasan dan hadiah yang membuatnya menarik. Seperti biasa ak terlihat seperti orang asing, karena aku tidak mengenal orang - orang yang datang.
Aku hanya berlalu dan terus menuju podium khusus keluarga kerajaan. Ayah dan ibuku sudah ada di tempat. Satria dan Pasopati ikut mengantarkanku menuju kursi VIP. Ibuku memeluk dan mempersilahkan aku duduk di tempat para putri.
"Kenapa kamu tidak memakai baju zirah, nak?" tanya Dewi Tara.
"Tidak kanjeng ibu. Rakai yang melarangnya untuk ikut." kata Satria.
"Baiklah, ibu senang jika kau tidak ikut gladen. Ibu takut kau akan terluka." kata Dewi Tara.
Aku hanya tersenyum dan kemudian duduk di kursiku. Ayahku beramah tamah dengan para tamu undangan. Adikku juga ada di seberangku. Ia juga sangat gagah dan tampan menggunakan baju zirah itu.
"Aku akan membunuh Rakai saat gladen ini. Orang tidak akan menyalahkanku. Aku akan bilang jika ini tidak sengaja." batin Balaputra
Aku reflek dan berteriak
"Balaputraaaa!!" teriakku.
Semua orang memandang ke arahku. Termasuk adikku yang kaget mendengar teriakku hang seperti orang marah. Balaputra pun kemudian mendekatiku.
'Nararia tenanglah, jangan membuat semua orang mencurigaimu.' kata Kencana
"Ada apa kakak? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Balaputra
"Tidak, Dik. Kakak takut kau akan terluka. Jangan ikut ini, Dik." kataku mencoba cari alasan.
"Kakak tenanglah, aku akan baik - baik saja." kata Balaputra.
Ia kemudian meminta restu dari ayah dan ibuku. Ia menyembah dengan hormat ke dua orang tuaku. Rencana jahatnya jelas aku dengar dari hatinya. Ia kemudian kembali duduk ke kursinya.
"Kak Satria, hati - hati ya." kataku
"Tenang sayang, aku tidak apa - apa." katanya
MC atau pembiawara mulai mengumumkan aturan permainan gladen. Ayahku memberikan sambutan dan beberapa dayang maju membawa mahkota bagi pemenang. Ayahku juga berpesan, agar tidak ada kecurangan dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya telah bersedia membacanya.
__ADS_1
with love
Citralekha