Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Pusaka Kunta Wijaya Danu


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*


***


"Aaah tidak bisa! Aku sudah terjebak dan tidak bisa keluar. Melawan pun percuma, kekuatanku tidak akan mampu mengalahkan Arda dan pasukannya. Justru kalau aku menyerang bisa saja, dia menggunakan aku untuk menekan Adhiraksa dan lainnya. Tapi kalau aku menyerah. 3 dunia akan menjadi taruhannya." batinku.


Aku pun masih bingung dengan apa yang harus aku lakukan.


"Ada apa permaisuri? Apa yang sedang kau pikirkan" tanya Dipta.


"Aku hanya tidak menyangka. Kita bisa ketemu lagi. Raja, dimana orang tua ku?" tanyaku


"Mereka sedang menunggu kita di ruang makan. Ayo kita segera ke sana. Kamu pasti lapar juga kan?" tanya Dipta.


Aku hanya menganggukan kepala. Saat ini, aku hanya bisa mengikuti permainan Dipta. Tak berapa lama, kami sampai di ruang makan. Orang tua ku (palsu) pun berdiri. Mereka menghampiri dan ingin memelukku. Tapi langsung aku tepiskan.


"Jangan mendekat, kita harus menjaga jarak. Meskipun kau orang tua ku. Tapi, aku sebentar lagi akan menikah dengan Maharaja. Jadi aku akan menjadi permaisuri. Bersikaplah hormat padaku." kataku


Orang tua palsu ku nampak bingung. Mereka melirik kepada Dipta.


"Benar yang dikatakan oleh permaisuri ku. Sebentar lagi dia akan menjadi permaisuri 3 dunia. Jadi meskipun kalian orang tua nya. Tidak boleh sembarangan mendekati putri Nara." kata Dipta.


Aku pun hanya tersenyum. Tentu saja, aku tidak mau disentuh oleh para Denawa itu.


"Raja dan permaisuri, mari silahkan menikmati sarapan. Sebentar lagi Yang Mulia akan menikah. Jadi harus menikmati sarapan terlebih dahulu." kata Senopati baru.


"Benar, aku juga ingin mengisi energi ku. Makanan itu nampak lezat dan mengairahkan." kataku


Tapi ketika, aku mengedipkan mata sembari membaca doa. Makanan itu semua telah diberikan mantra gaib. Mantra yang sangat kuat. Aku pun lalu ingat, bahwa makanan yang suci adalah makanan yang tidak disentuh oleh tangan Denawa pada bagian inti nya.


"Maharaja, makanan itu nampak lezat. Tapi, aku tidak mau itu." kataku


"Lalu apa mau mu?" tanya Dipta.


"Aku mau minum dan makan kelapa muda. Aku dengar bahwa kelapa muda sangat bagus untuk pengantin wanita. Air nya sangat segar serta bisa meningkatkan aura dari dalam diri ku. Sebab, aku tidak mau mengecewakan mu malam nanti, Maharaja." kata ku sambil bermanja - manja.


Dipta pun yang pada awalnya curiga karena aku menolak makanan itu. Akhirnya dia setuju, serta memerintahkan pengawal untuk mencarikan buah kelapa muda.


"Tunggu, tapi aku ingin agar kelapa muda itu aku sendiri yang membuka nya. Kalian cukup bawakan aku 1 ikat kelapa muda saja." kataku


"Tanganmu nanti bisa terluka. Biar dibuka oleh pengawal saja." kata Dipta.


"Tidak Dipta! Aku mau melakukan sendiri. Aku ingin malam nanti spesial. Sehingga tidak ada yang boleh mencampuri dengan tangan kotor para pelayan. Kamu sangat spesial, Dipta. Mana mungkin aku akan membiarkan makananku tercemar. Apakah kamu juga mau membagi aku dengan yang lain?" tanyaku


Dipta pun terus memerah wajah nya. Akhirnya dia meminta pengawal untuk membawakan buah kelapa muda. Tapi para pengawal tidak boleh menyentuh dengan tangan mereka.


"Terimakaish Dipta, mulai sekarang. Aku tidak mau urusan ku sebagai seorang permaisuri ad ayang ikut campur. Apakah kau mau memberikanku hak itu?" tanyaku


"Tentu saja, permaisuriku. Kau adalah permaisuri raja Agung Dipta. Sehingga perintahmu sama dengan perintah ku." kata Dipta.


Aku harus terus mengulur waktu, agar aku bisa menemukan cara. Aku yakin di luar sana, Adhiraksa dan yang lainnya sedang berusaha menyelamatkanku.


"Adhir segeralah datang, temukan cara membuka gerbang ilusi ini." batinku


*


Jerman.


Mereka (Adhir, Dika, Ivan, Kencana, Puspa, Senopati, dan Ratu Bang) masih menyimak apa yang sedang terjadi denganku.


"Nara berusaha mengulur waktu. Kita harus temukan cara menembus gerbang ilusi." kata Dika.


"Dari tadi juga kita memikirkan cara nya." kata Adhir.

__ADS_1


"Santai lah, kamu itu nada bicara mu seperti Kunta Wijaya Danu, saja." sunggut Dika.


"Apa Elo bilang tadi??" tanya Adhiraksa.


"Eeeiiitts stop! busyet deh, kalian berdua tu nggak ngerti sikon banget. Malah berantem saja, huh!" kata Ivan.


Tapi Adhiraksa terus menatap Dika. Dia menyadari satu hal yang Dika bicarakan tadi. Dia pun ingin Dika mengulangi lagi.


"Aku serius, tadi Elo ngomong Gue kayak senjata apa?? Gue serius nanya!" kata Adhiraksa.


"Kunta Wijaya Danu" kata Dika.


Puspa, Kencana, Ratu Bang, dan Adhiraksa pun saling menatap. Lalu Adhiraksa tersenyum kegirangan. Dia pun langsung memeluk Dika.


"Terimakaish ya, berguna juga Elo ternyata jadi teman Nara." kata Adhiraksa.


"Apaan sih, lepasin nggak!! Najong Elu peluk gue. Emang kenapa dengan Kunta? Itu senjata nya Basukarna. Pusaka sakti tiada tanding milik Dewa Surya." kata Dika.


"Kita menemukan solusi sekarang!" kata Adhiraksa.


Adhiraksa pun seperti anak kecil yang habis menang lotere. Dia menari - nari dan mengajak satu per satu menari.


"Elo kenapa? Sudah nggak waras?" tanya Dika.


"Kita akan menembus benteng pertahanan Kerajaan Ilusi. Hanya senjata Kunta Wijaya Danu saja yang bisa menembus nya." kata Adhiraksa.


Dika pun lalu tertawa ngakak. Dia meragukan Adhiraksa. Pusaka milik Dewa Surya tidak mungkin diberikan kepada pangeran tengik macam dia. Tapi bukan Adhiraksa namanya, kalau tidak menemukan cara


"Betul pangeran, aku rasa hanya senjata Kunta yang bisa melakukan hal itu." kata Ratu Bang.


"Kita harus ke Surya Loka." kata Adhiraksa.


"Kita tidak bisa pergi semuanya. Haruslah ada yang menunggu pasu. Tetapi kita tidak bisa sembarangan masuk Surya Loka. Kita bisa terbakar. Harus ada ksatria kturunan Dewa Surya yang mengantar" kata Senopati.


Adhiraksa pun lalu tersenyum. Dia tahu apa maksud dari Senopati.


"Baik kita bagi tugas, Dewi Puspasari adalah keturunan Dewa Surya." sahut Kencana


Mereka pun lalu membagi tugas. 1 regu ke Surya Loka dan 1 regu terus mengamati pasu. Regu 1 terdiri dari Adhiraksa, Puspa, dan Senopati. Regu mereka berangkat ke Surya Loka. Sedangkan sisa nya mengamati perkembangan istana ilusi.


"Kami mengerti ratu" kata Adhiraksa


Mereka pun lalu berangkat ke Surya Loka.


*


Istana Medang.


Prasta dan Satria masih bersemadhi. Mereka juga berusaha menemukan solusi. Serta harus segera kembali ke masa depan. Dalam penglihatan Satria, dia melihat jika Adhiraksa telah menemukan cara.


"Prasta, apakah mereka akan berhasil?" tanya Satria.


"Kalau pun berhasil mendapatkan pusaka Kunta. Pasti akan terjadi dilema lagi." kata Prasta.


"Arda bener - bener keparat! Dia telah merencanakan dengan sempurna. Kita tidak boleh kalah dengannya." kata Satria.


Setelah itu, mereka kembali melakukan samadhi. Dalam tapa nya itu, tiba - tiba Dewi Sakti datang.


"Selamat datang, Mahadewi. Terimalah salam hormat dari kami. Kiranya Mahadewi dapat membantu masalah kami?" tanya Satria.


"Pangeran, bhakti mu aku terima. Aku datang ke sini, untuk memberi kalian anugrah. Terimalah bunga tunjung ini." kata Dewi Sakti.


Satria lalu menerima bunga itu. Seketika bunga tunjung berubah menjadi sebuah kaca benggala. Kaca itu dapat memperlihatkan apa yang terjadi di Istana Ilusi.


"Prasta, lihat! Putri Nara akan menikah dengan Arda. Ini tidak bisa dibiarkan." geram Satria.


"Aku tahu, tapi kita bisa apa? Kita hanya bisa berdoa. Semoga pernikahan itu tidak terlaksana. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka menikah." kata Prasta.


"Tiga dunia taruhannya" kata Satria lirih.


"Aku tahu, pasti dewa juga tidak akan tinggal diam. Semoga Dewa Surya berkenan memijamkan senjata Kunta." kata Prasta.


*


Surya Loka

__ADS_1


Rombongan Adhiraksa pun telah mencapai gerbang. Dengan mudah, mereka melewati kulit Matahari. Jika tidak dengan Puspa, maka mereka pasti sudah hangus terbakar.


"Selamat datang Dewi Puspasari." kata para Kinara dan Kinari Surya Loka.


"Terimakasih, dimana kah Dewa Surya?" tanya Puspa.


"Dewa ada di singgasana sinar nya, Dewi. Anda sudah dinantikan kehadirannya." kata mereka lagi.


"Ternyata kehadiran kita telah dinantikan Dewa Surya." kata Adhiraksa.


Mereka pun hanya tersenyum melihat tingkah Adhir. Lalu melangkahkan kaki menuju singgasana Dewa Surya.


"Istana nya sangat bagus, kilau nya seperti emas. Sungguh luar biasa." puji Adhiraksa.


"Apa kau ingin memiliki istana seperti ini, pangeran?" tanya Senopati.


"Hehehe.. ingin sih, tapi jika permaisuriku adalah Nararia." kata Adhiraksa.


Lagi - lagi mereka hanya tersenyum. Tak berapa lama mereka sampai di tempat tujuan.


"Salam hormat dan bhakti kami Dewa Surya" salam mereka semua.


"Aku terima, berdirilah dan duduklah" pinta Dewa Surya.


Mereka pun lalu duduk di kursi yang sudah disediakan. Seperti kata Kinara tadi. Dewa Surya ternyata telah menunggu mereka.


"Dewa" kata Puspa.


"Aku tahu apa maksud kalian datang ke Surya Loka." kata Dewa Surya.


Mereka pun hanya saling tatap kemudian tersenyum.


"Mohon ampuni kami Dewa, apakah kami diizinkan untuk meminjam pusaka Kunta Wijaya Danu?" tanya Adhiraksa.


Dewa Surya pun lalu tersenyum


"Pangeran, tentu saja kau boleh meminjam pusaka ini." kata Dewa Surya.


Mendengar perkataan sang dewa, mereka pun senang sekali. Mereka tidak menyangka, semua nya akan berjalan lancar.


"Apakah kalian tahu keistimewaan pusaka itu?" tanya sang dewa.


Adhir pun lalu menjelaskan tentang kehebatan pusaka yang dia tahu. Pusaka tiada tandingannya itu. Pusaka yang pernah dimiliki oleh Basukarna.


"Kau sangat cerdas, pangeran. Tapi ada hal lain yang harus kalian tahu. Bahwa pusaka Kunta Wijaya Danu hanya bisa digunakan sekali oleh pemiliknya. Setelah itu, pusaka akan kembali lagi pada ku." kata Sang Dewa.


"Hanya sekali, dewa?" tanya Adhiraksa.


Senyum di wajah nya kini berubah masam. Bagaimana dia hanya bisa menggunakan sekali. Artinya siapa yang akan ditembus benteng pertahanannya. Apakah menghancurkan benteng ilusi Istana Medang. Atau kah menghancurkan benteng Kerajaan Ilusi Ardana?


Adhiraksa pun sangat dilema.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next:


Benteng gaib siapa yang akan ditembus oleh Adhiraksa?


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"

__ADS_1


__ADS_2