Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Candi Perot


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*


***


Aku dan Adhir pun kemudian tersenyum.


"Bisakah aku dibawa melihat atau kalian menceritakan pada aku tentang Candi Perot." kata Ivan sangat antusias.


"Kamu sudah lihat Candi Perot kok" kataku


"Hah?? dimana? yang mana?" tanya Ivan.


Adhir pun lalu mengajak Ivan untuk mengikutinya. Dia bawa Ivan ke deket Candi Perwara. Ya, ke setumpuk bantuan candi yang berserakan.


"Tuh candi nya" tunjuk Adhiraksa.


"Hah?? Maksudnya?" tanya Ivan bingung


"Dari tadi hah heh hah heh saja." ledek Adhiraksa.


Ivan pun cengigisan mendapatkan ledekan dari Adhir.


"Tapi jujur, aku bingung ... Ini maksud nya apa?" tanya Ivan


"Ini Candi Perot." kata Adhir.


Ivan pun lalu tertawa. Dia kira Adhiraksa sedang berbohong.


"Reruntuhan ini adalah Candi Perot? Seriously?" tanya Ivan masih tak percaya.


Aku pun hanya menganggukan kepala.


"Apakah Candi Perot ini Candi utama dari Candi Pringapus?" tanya Ivan.


"Bukan, candi ini ditemukan tidak jauh dari kawasan Candi Pringapus di kabupaten Temanggung. Konon letak aslinya berada di area hutan bambu yang dianggap angker oleh warga sekitar. Kondisi candi ini sudah runtuh dan seluruh batu penyusunnya dipindah di pelataran halaman Candi Pringapus. Menurut cerita yang beredar, Candi ini diperkirakan runtuh pada kisaran tahun 1907 akibat badai yang besar melanda daerah tersebut" kataku


"Lalu kenapa dipindahkan kemari? Kenapa tidak dibiarkan di tempatnya yang semula? Ini termaksud menghilangkan orisinilitas kan?" tanya Ivan.


Adhir pun tersenyum mendengarkan bagaimana Ivan sangat peduli dengan tinggalan Mataram.


Lokasi reruntuhan Candi Perot yang direlokasi atau dipindahkan berada di halaman Candi Pringapus. Lokasi sebenarnya candi ini berada di desa atau dusun sebelah dari Situs Candi Pringapus.


Rute menuju situs candi ini dari pusat kota Temanggung menuju ke arah utara menuju Parakan. Dari Parakan pilihlah jalur menuju ke arah Ngadirejo sebagai jalan utama menuju ke Jalur Pantura. Sebelum tiba di area pasar Ngadirejo ada sebuah jalan kecil ke kiri memasuki kawasan pemukiman penduduk. Ikuti jalan tersebut hingga ujung pemukiman dan akhirnya tiba di area candi Pringapus yang tersimpan susunan batu Candi Perot


"Reruntuhan Candi Perot Temanggung tersusun rapi di sebelah pinggir halaman Candi Pringapus. Bila dilihat perkiraan tahun pembangunannya, bentuk bangunan candi ini memiliki kemiripan dengan bangunan Candi Pringapus. Hal tersebut diperkuat dengan kemiripan ornamen dan relief candi yang cukup jelas terlihat pada reruntuhan Candi Perot ketika dibandingkan dengan Candi Pringapus" kataku


Ivan pun lalu memperhatikan detil dari reruntuhan Candi Perot.


"Oh iya, kenapa dinamakan Candi Perot?" tanya Ivan.


"Perot artinya miring, dahulu ketika ditemukan candi ini kondisinya miring. Ya karena terkena angin ****** beliung" kataku


"Candi ini ada keistimewaan lho." kata Adhiraksa.


"Apa?" tanya Ivan dengan antusias.


"Keberadaan Candi Perot juga cukup penting karena pada tahun 1819 M ditemukan sebuah prasasti yang menyebutkan angka tahun 772 Caka atau 15 Juni 850 M. Prasasti yang ditemukan disebut Prasasti Tulang Air yang ditulis dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Prasasti tersebut berisi tentang penetapan Sima oleh Rakai Panantapan Pu Manuku atas sebuah bangunan suci di desa Tulang Air, Rakai Panantapan Pu Manuku adalah pejabat pemerintah kerajaan Mataram Kuno yang dibawah kekuasaan Rakai Pikatan, suamiku" kataku bangga

__ADS_1


Adhir pun agar menepis, dia seperti tidak suka. Tapi itu lah kenyataannya, hehehe.


"Jadi daerah ini dulunya masuk kekuasaan Rakai Pikatan?" tanya Ivan.


"Iya, luas banget kan kerajaannya. Ini masuk wilayah utara." kataku


"Ini masuk wilayah kerajaanku." kata Adhir.


"Berarti kamu dibawah kekuasaan Rakai Pikatan dong?" tanya Ivan.


Adhir pun lalu membelai tanduk dari kepala Kala.


"Eh Ivan, lebih tepatnya kita adalah saudara kembar. Jadi kekuasaan dia sama dengan kekuasaanku. Aku kan baik hati dan tidak sombong. Makanya dia boleh mendirikan bangunan suci di wilayahku" kata Adhir.


"Sama saja kali, tetap maharajanya Rakai Pikatan" ledek Ivan.


"Ivvvvaaaaan,. Elo tu ya, sama ngeselinnya dengan Dika" teriak Adhiraksa.


Ivan pun menjulurkan lidahnya. Sungguh sangat lucu sekali. Tingkah para pemuda tampan itu. Untung saja, tidak ada manusia yang melihat kita.


"Udah capek?" tanyaku


Mereka berdua hanya cenggegesan. Dasar menyebalkan. Pada saat gurauan itu, tiba - tiba Adhiraksa melakukan sesuatu.


Aaaaaakkkhhh


Terdengar jeritan yang sangat menyeramkan.


"Adhir, ada apa?" tanyaku


Dia pun menarik seorang Denawa.


"Bagaimana mungkin dia bisa melihat kita?" tanya Ivan.


"Dia memang tidak bisa melihat kita. Tapi dia bisa merasakan kehadiran kita." kata Adhiraksa.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Serta siapa dia?" tanya Ivan.


"Tapi kenapa harus dilenyapkan?" tanya Ivan


"Apa kau ingin diganggu oleh dia?" tanya Adhiraksa.


"Enggak, terimakasih" kata Ivan.


Setelah memusnahkan Denawa itu. Kami pun memberi pesan kepada Ivan.


"Van, kamu berani kan kami tinggal di sini?" tanyaku


"Heleeeh... kalau takut mah percuma menjadikan dia kawan." ledek Adhir.


"Tenang Ra, aku tidak apa - apa kok. Tinggalkan aku di sini. Aku akan selesaikan tapa ku. Serta membawa kejayaan dan kesaktian. Aku akan membantu mu mengalahkan para musuh." kata Ivan.


Mendengar perkataan Ivan, aku pun lalu memeluknya. Kasih sayang seorang sahabat yang tulus. Rela berkorban untuk diriku.


"Yaudah Van, sepertinya kita harus pergi. Nara ... ayo kita tinggalkan Ivan." ajak Adhiraksa.


"Iya Adhir, yaudah Van. Kita pergi dulu ya. Kamu baik - baik di sini" kataku


Tapi tatkala hendak pergi, tiba - tiba terjadi gempa bumi yang dasyat.


"Nara,. pegang aku" kata Adhir.


"Adhir ... kenapa tiba - tiba terjadi gempa?" tanyaku


"Ini sepertinya gempa ghaib deh. Coba lihat pada orang - orang itu. Mereka terlihat santai saja." kata Ivan.


Aku pun lalu memperhatikan orang yang ada di lingkaran ajian halimunan. Ternyata benar, mereka tenang - Tenang saja. Seperti tidak terjadi sesuatu hal.


"Aneh... ini gempa yang aneh. Pasti akan terjadi sesuatu." kata Adhir.

__ADS_1


"Apakah kekuatan jahat?" tanya Ivan.


"Aku kurang tahu, tapi pasti iya. Kejadian buruk apa aku kurang tahu." kata Adhir.


"Baiklah kalau begitu, cepat kalian pergi dari sini. Cepet cari tahu apa yang sedang terjadi." kata Ivan.


Kami berdua pun lalu pergi meninggalkan Ivan seorang diri.


*


Jerman.


Hainan merasa sangat senang sekali. Misi nya melenyapkan Dika atau Ivan berhasil. Kini saatnya dia menangih janjinya.


"Pangeran, saya sudah melakukan apa yang anda inginkan. Sekarang anda harus memenuhi janji." kata Hainan


"Tentu saja, kerja mu sangat bagus sekali. Ternyata mengalahkan Ivan sangat gampang. Kamu pandai sekali, memilih lawan yang paling lemah." kata seseorang itu.


Orang itu lalu memberikan sekantong uang emas. Tentu jika dijual harganya sangat mahal sekali.


"Sekarang aku akan pergi dahulu. Senang sekali bekerjasama denganmu" kata orang itu.


"Baik oangeran, kalau begitu bolehlah saya tahu siapa anda sebenarnya?" tanya Hainan.


Lelaki itu berbalik badan dan bersiap melepas topengnya.


"Apa kau sungguh - sungguh ingin tahu aku siapa?" tanya lelaki itu.


"Tetapi jika kau tidak berkenan ya tidak apa - apa. Intinya, aku sudah mendapatkan uang emas ini." kata Hainan.


Dia pun lalu bersiap hendak pergi dari ruangan yang ditentukan itu. Tapi sebelum menuju pintu, lelaki misterius telah menghadang nya.


"Hei ... ada perlu apa lagi?" tanya Hainan.


"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Tapi aku belum mendapatkan apa yang aku mau." katanya.


Hainan sangat bingung dengan perkataan orang itu. Bagaimana tidak, tugasnya untuk membunuh Dika atau Ivan berhasil.


"Bukankah kau sudah mendapatkannya? Bukankah Ivan sudah mati." kata Hainan.


"Ya dia memang sudah mati. Tapi aku juga ingin nyawa lagi." katanya


"Baiklah, nyawa siapa yang harus aku bunuh untukmu? Berapa imbalan yang kau berikan padaku?" tanya Hainan.


Lelaki itu hanya tersenyum kecil.


"Apa kau ingin Dika aku matikan?" tanya Hainan.


"Aku akan membayar dan memberikan semua emas ini untukmu." kata lelaki itu.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"

__ADS_1


mf update nya lama. Lagi agak nggak enak badan nie.


__ADS_2