Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Janji


__ADS_3

Extra Part


Aku langsung memeluk erat mamaku. Aku kangen banget sama mama. Meskipun kata Dika Aku hanya tertidur sekitar satu jam.


"Yaudah sana mandi, udah mama rebusin air." kata mama


Aku langsung mandi, ganti baju, makan, dan istirahat. Aku bahagia, bisa kembali ke rumahku. Meskipun sederhana tapi rumah ini sangat nyaman. Lalu kupandangi foto kakek dan nenek ku.


"Kakung dan simbok, aku kembali." kataku sambil berkaca - kaca.


Aku langsung menuju tempat tidur ku. Bantal tedy bear dan guling hello kitty sudah menyambutku. Aku terlelap dalam tidur ku. Aku merasa sangat capek banget. Perjalanan spiritual yang aku lakukan menguras tenaga. Hingga aku terpejam dan aku bertemu dengan Dewi Sakti.


"Dewi, apakah aku bermimpi?" tanya ku


"Aku mengambil jiwa mu sebentar." kata Dewi Sakti


Aku lalu memandang jasadku yang masih terbaring di tempat tidur ku. Aku kaget, sekilas aku seperti tidur. Tapi sebenarnya raga ku itu tanpa nyawa. Puspa dan Kencana juga hadir. Aku lalu memeluk mereka secara bergantian.


"Pergilah bersama Dewi Sakti, putri. Kami akan menjaga raga mu dari kekuatan jahat." kata Kencana


Aku lalu ikut bersama Dewi Sakti. Kami naik kereta kencana bidadari. Kereta itu menuju Candi Sewu.


"Dewi, kenapa..." tanyaku terhenti


Belum sempat aku melanjutkan perkataanku. Dewi Sakti memotong dan kemudian menjelaskan apa yang akan aku tanyakan.


"Kamu adalah jiwa murni yang rela berkorban untuk orang lain. Demi kebahagian orang terdekatmu. Kamu rela mengorbankan segalanya. Untuk itu, aku memberikanmu anugrah. Kamu mengingat semua kejadian di masa lalu. Tulislah pengalaman berhargamu ini untuk kepentingan orang banyak." kata Dewi Sakti


"Jadi dewi, gerbang menuju masa lalu ku ada di Candi Sewu dan bukan Candi Prambanan?" tanyaku


"Tidak, karena kau memilih ke masa depan sebelum candi itu di bangun." kata Dewi Sakti


Dewi Sakti lalu membawaku menuju gerbang gaib Candi Sewu. Lingkaran putih yang penuh dengan bunga dan kupu - kupu. Aku tidak tahu dewi mau mengajakku kemana. Mungkinkah aku akan di bawa ke alam selanjutnya (maksudnya aku meninggal).


"Jangan berpikir seperti itu, anakku." kata Dewi Sakti tersenyum


Aku lupa, bahwa Sang dewi bisa menebak apa yang akan aku ucapkan dan pikirkan.


"Tutup matamu dan jangan membuka mata sebelum aku memintanya." pesan dewi


Aku lalu memejamkan dan mengikuti perintah sang dewi. Aku merasakan ada aura dingin angin sepoi - sepoi. Serta suara alat musik yang sangat menenangkan jiwa. Tak lama kemudian, sang dewi memintaku untuk membuka mata.


"Buka matamu, Nak." kata sang dewi


Aku lalu membuka mata dan betapa kagetnya aku. Ternyata aku dibawa kembali ke Medang. Aku bisa melihat kesibukan yang terjadi di Medang. Ya, kesibukan menyiapkan pesta pernikahanku dan Satria di masa ini.


"Dewi, apakah mereka bisa melihat kita?" tanyaku khawatir


Aku takut jika Sanjiwani dan Satria melihat kehadiranku. Aku juga melihat Widasari dan Pasopati. Aku sangat merindukan mereka. Ingin sekali memeluk mereka tapi ada dinding pembatas yang membuat aku tidak bisa menjangkau mereka.


Air mataku menetes tatkala aku tidak bisa beranjak dari tempatku. Dewi lalu tersenyum, dan aku bisa melangkah. Tapi tetap saja aku tidak bisa menyentuh mereka.

__ADS_1


Mataku kemudian tertuju pada sepasang pengantin yang sangat menawan. Pernikahan yang sakral. Pandita mengucapkan puja mantra. Harapannya ialah agar pengantin dapat berbahagia. Banyak tamu kerajaan yang hadir ke pernikahan calon raja itu.


Setelah semuanya selesai dalam ritual pengantin. Mempelai kemudian mengelilingi api suci sebanyak 7 kali. Aku melihat rona kebahagian di mata mempelai.


"Apa kamu sedih, Nak?" tanya Dewi


"Aku bahagia bunda dewi. Melihat Sanjiwani dan Satria menikah." kataku


"Sanjiwani adalah dirimu, sekarang majulah kamu dan mendekat di depan Sanjiwani." kata dewi


Aku bingung apa yang akan dewi sakti lakukan. Tapi aku mengikuti saja petunjuknya. Aku berjalan dan mendekati Sanjiwani. Dewi Sakti lalu mengarahkan tangan kanannya. Seketika itu raga ku seperti tersedot dan masuk ke dalam rangka Sanjiwani.


"Ikuti ritual pernikahan suci ini. Aku merestui kalian." kata Dewi Sakti


Aku menyatu dengan raga Sanjiwani. Betapa bahagianya aku bisa bersanding dengan pangeranku.


"Satria" kataku


"Putri, akhirnya kita bisa bersatu dalam ikatan pernikahan." kata satria.


Setelah ritual pernikahan secara niskala (yang disaksikan oleh para dewa). Kami juga mengikuti ritual pernikahan secara sekala (adat kerajaan Medang). Pada saat itu juga, ayah dan ibundaku berdiri menghampiri kami.


"Selamat anak - anaku. Kalian duduklah, kami punya hadiah untuk kalian." kata ibundaku


Ayahandaku lalu maju ke depan dan mengambil perhatian dari para hadirin.


"Om Nama Siwaya, awighanamastu wisnu swaha. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan kepada kami. Putri tunggal kami Dyah Nararia telah bersatu dalam ikatan pernikahan dengan pangeran Satria. Saat yang berbahagia ini saya akan mengumumkan. Tahta Medang Ini akan saya berikan kepada putri mahkota. Sudah sepatutnya saya turun tahta. Kepada putri mahkota silahkan duduk di singgasana." kata ayah Samaratungga.


Duduknya aku kemudian dikukuhkan sebagai ratu. Tapi sebelum itu aku tidak mau sendirian.


"Terimakasih maharaja, tapi izinkan saya untuk memanggil suami saya. Karena tahta ini nantinya akan dibawah kepemerintahan suami." kataku


Satria lalu dipersilahkan naik ke tahta. Dia duduk di sebelah ku. Pada waktu itu, Pandita kerajaan lalu mengukuhkan aku dan Satria menjadi ratu dan raja. Kami kemudian di mandi kan dengan air susu dan air suci.


Pandita membacakan mantra, kami dikalungin rangkaian bunga. Selanjutnya Sang Hyang Wahuta Kudur (pemimpin pendeta) memindahkan mahkota raja yang awalnya dipakai ayah kemudian sekarsng dipakaikan di kepala Satria dan aku memiliki mahkota sendiri. Setelah itu, pandita mengatakan sesuatu.


"Ritual pengangkatan tahta telah selesai. Selanjutnya adalah pemberian abhisekanamaraja... Dengan mengucapkan om brahma wisnu siwa, Ratu Medang bernama Dyah Pramoddhawarddhani dan Raja Medang bergelar Rakai Pikatan Dyah Seladu.!!" seru Pandita


Semua hadirin berdiri dan kemudian menghaturkan hormat kepada kami berdua. Kami pun juga mengucapkan terimakasih.


**


Pengukuhan telah selesai. Aku memanggil Satria dan Pasopati.


"Pasopati" kataku sambil memeluknya, aku rindu sama dia.


Pikatan pun tidak keberatan aku memeluk Pasopati. Pada kesempatan itu. Aku menceritakan semua tentang kisahku. Pikatan nampak kaget, dia tidak menyangka bahwa selama ini dia telah mencintai dua orang yang sama.


Aku juga jelaskan, bahwa tidak lama lagi aku harus kembali ke masa depan. Tapi Pikatan tidak terima jika aku pergi. Demikian juga dengan Pasopati. Tapi perdebatan itu segera berhenti tatkala Dewi Sakti muncul.


Sang Dewi lalu menjelaskan tentang kodrat kami. Dewi menjelaskan bahwa Sanjiwani atau Pramodhawarddhani di masa kini adalah Nararia di masa depan. Penjelasan sang dewi kemudian diterima oleh mereka berdua. Setelah itu, aku memisahkan diri dari raga Sanjiwani.

__ADS_1


Sanjiwani dan aku menangis, karena kami akan berpisah. Demikian juga dengan Pikatan dan Pasopati.


"Pangeran, cintai aku di masa kini. Aku akan menunggu mu di masa depan. Segeralah reinkarnasi, aku menunggu mu." kata ku sambil terisak


"Putri, berjanjilah padaku untuk selalu menunggu aku di masa depan." kata Satria


"Putri, aku akan ikut Pikatan reinkarnasi sampai masa depan." kata Pasopati


Kami berempat lalu berpelukan bersama - sama. Air mata kami meleleh tanpa terbendung.


"Pangeran, Pasopati jagalah aku di masa kini. Aku akan setia menunggu kalian di masa depan. Aku mencintaimu Satria." kataku


"Aku juga mencintaimu, putri." kata Satria


"Pangeran berjanjilah untuk selalu ada untuk Pramodhawarddhani., Selamat tinggal." kataku


Setelah itu, raga ku lama - lama pudar. Tapi aku masih bisa melihat wajah mereka bertiga. Mereka menangis karena kepergianku. Tapi dewi sakti, lalu berkata


"Meskipun raga kalian jauh, tapi kalian satu. Kalian akan saling terikat satu sama lain. Pangeran, masa kini, esok, dan masa depan. Kalian akan selalu menjadi pasangan suami istri. Berbahagialah.. cintai Pramodhawarddhani dengan sepenuh jiwa dan raga mu." kata Dewi Sakti


Pikatan lalu memeluk dan mencium mesra Pramodhawarddhani. Melihat mereka bahagia hatiku tenang. Aku lalu meminta dewi untuk mengembalikan diriku ke masa depan.


***


POV Satria :


Mencintai seseorang bukan soal tubuh. Tapi tentang cinta dan pengorbanan. Kebencian dapat mengubah cinta. Pada awalnya aku hanya akan merebut tahta Medang. Tapi begitu melihat wajah putri Medang. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Cintaku dan cintanya akan terus bersatu. Entah di masa kini, esok, dan masa depan. Aku akan terus mencintai pada seorang wanita yang penuh dengan cahaya.


Cinta dan pengorbanan kami akan terus dikenang sampai kapanpun. Akan aku tunjukan pada semesta bahwa cintaku pada Pramodhawarddhani tulus. Aku akan membuat sebuah kompleks percandian yang megah. Candi ini nantinya akan terus dikenang oleh semua orang. Candi ini nantinya akan menjadi salah satu sumber penghidupan cucuku. Hanya berupa batu2 berukir yang bisa aku warisan.


Untuk anak cucuku di masa depan. Tolong jagalah, hormati, dan pelajari peradaban besar kami. Kalian adalah generasi hebat. Candi itu kami bangun dengan penuh perjuangan, dengan penuh cinta, dan penuh pengorbanan. Demi sebuah peradaban besar, kami harus saling serang dan saling bunuh. Tapi tetesan darah yang telah berkorban jangan disia - siakan. Aku titipkan Candi ku untuk kalian semua wahai anak cucuku.


Aku tunggu kalian semua di pintu masuk SIWA GRHA (CANDI PRAMBANAN).


POV Nararia :


Mencintai seseorang dengan tulus adalah sebuah anugrah. Dicintai oleh seseorang dengan penuh kasih sayang adalah sebuah kehormatan. Meskipun untuk mendapatkan cinta sejati. Kita harus banyak berkorban. Tapi pengorbanan sebuah cinta dengan hati yang ikhlas akan mendapatkan balasan cinta yang tulus pula. Aku mencintai sebuah peradaban masa lalu, hingga aku kembali ke tempat asalmu. Aku tahu bahwa masa lalu bukan untuk dikenang. Tapi masa lalu adalah refleksi dan nasihat untuk masa depan.


Aku menunggu mu, pangeran. Aku akan menanti cinta sejatiku. Aku tidak akan pernah lelah untuk mencari dan menunggu mu. Aku mencintaimu pangeran. Rinduku adalah kekuatanku untuk terus bersamamu. Meski raga ku tidak bersamamu. Tapi kau akan selalu bersamaku. Candi Prambanan adalah saksi cinta kita. Ketika ku merindukan pangeran, aku akan selalu mengunjungi candi prambanan.


Memandang prambanan adalah memandang masa depan yang gemilang. Memandang cinta, ketulusan, dan pengorbanan.


Aku berjanji, pangeran. Aku akan terus menjaga tinggalan leluhur kita. Aku berjanji akan mendedikasikan diriku untuk menjaga candi kita.


Kunjungi, lindungi, dan lestarikan


TAMAT


Terimakasih untuk para pembaca setia Kekasih di abad - 9. Terimaaksih sudah mengikuti kisah ini. Kisah ini belum sepenuhnya berakhir. Jika berkenan dan minat. Nanti akan kita buatkan episode 2. Sementara karya ini harus ditamatkan.


Jika berkenan mengikuti kisah Nararia, maka bisa membaca pada novel "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku".

__ADS_1


__ADS_2