Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Pusaka Wijaya Danu


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Happy reading


***


Dia mulai meraung - meraung seperti orang kesetanan. Lalu dia bangun dan menuju pintu. Secepatnya Puspa datang dan membuat Retno tak sadarkan diri. Kencana lalu mengendong Retno kembali ke tempat tidur


"Apa yang terjadi Kencana? Pasti ada yang tidak beres." kataku


"Kami akan memeriksanya putri" kata Kencana.


Kencana pun lalu membuka mata Retno.


"Ada apa?" tanyaku


"Pantas saja putri, kalau Retno melihat kalian sangat takut. Mata Retno telah dilumuri dengan cairan wajah Denawa. Itu artinya, dia akan melihat kalian bertiga seperti melihat wujud Denawa yang paling menakutkan." kata Kencana.


Aku, Prasta, dan Satria pun lalu mendekati Retno. Pantas saja Retno seperti orang kesetanan begitu melihat kami.


"Apakah bisa disembuhkan?" tanya Prasta.


Kencana pun menganggukan kepala. Lalu menutup matanya. Sepertinya dia sedang mencari tahu. Obat apa yang bisa menyembuhkan Retno.


"Mata Retno harus dibasuh dengan air perasan mahkota dewa." kata Kencana.


"Maksudmu mahkota dewa siapa, Kencana? Apakah mahkota Dewa Indra?" tanya bingung.


"Putri, kau ngajak bercanda yaa" ledek Satria.


Aku beneran tidak tahu, apa itu mahkota dewa. Soalnya Kencana belum mendetailkan apa itu.


"Emang kamu tahu?" tanyaku


"Tahu lah, itu kan pohon mahkota dewa. Buahnya warna merah kecil. Itu berkhasiat untuk pengobatan. Ayo segera kita cari buahnya." kata Satria sangat semangat.


Tapi sebelum Satria pergi, dia sudah dicegah oleh Puspa terlebih dahulu.


"Bukan asal pohon mahkota dewa. Tapi ini pohon mahkota dewa yang tumbuh di Alas Krendhawahana." kata Puspa.


"Alas Krendhawahana?" tanyaku


Aku pun kaget mendengar perkataan Puspa. Alas itu adalah alas yang saat ini terseram di Jawa Tengah. Pada alas itu, terdapat kerajaan jin yang sangat kuat. Aku pun bergidik ngeri membayangkannya. Tapi, Retno adalah yang utama.


"Benar putri, alas Krendhawahana adalah alas kuna. Di sana terdapat kerajaan jin." kata Puspa.


Benar seperti dugaanku, bahwa di Alas itu terkenal sangat angker dan serem.


"Berarti kita akan berhadapan dengan penguasa alas itu?" tanya Prasta


"Sepertinya Raja Kegelapan ingin mengadu kita dengan penghuni alas itu." sahut Satria.


Aku pun sejenak berpikir. Bagaimana caranya agar tidak terjadi pertarungan. Aku ingin ke alas itu dan meminta baik-baik kepada penguasanya. Tapi pasti penguasa itu tidak akan dengan mudah memberikannya.


"Puspa, apakah kita bisa minta baik-baik?" tanyaku


"Tapi putri, penguasa Kerajaan Krendhawahana sangat menjaga buah itu. Karena buah Mahkota Dewa Krendhawahana adalah pusaka yang dimiliki hutan itu. Pasti penguasanya tidak akan memberikan kepada kita." kata Puspa

__ADS_1


"Berarti kita harus merebut atau mencuri dengan paksa?" tanya Satria.


Aku pun lalu mengeryitkan alisku. Bagaimana mungkin pemikiran seorang pangeran seperti itu. Tapi, jika meminta dengan baik tidak boleh. Mencuri untuk kebaikan nggak papa kan. Tapi hati kecil ku melarang, karena jika ketahuan akibatnya sangat fatal.


"Sebaiknya kita minta baik-baik. Jika nanti ketahuan maka akibatnya sangat buruk." kataku


"Kalau tidak dikasih gimana?" tanya Prasta.


"Kekuatan kerajaan Krendhawahana sangat besar. Mereka memiliki ribuan pasukan jin. Mereka berilmu semuanya." kata Puspa


"Dan jika kita bermusuhan dengan Kerajaan Krendhawahana. Maka raja kegelapan akan mengambil keuntungan. Bisa dibayangkan jika sampai Kerajaan Kegelapan bersatu dengan Krendhawahana. Akan sangat fatal dan berbahaya." kata Kencana


Aku sangat ngeri membayangkan jika yang dikatakan Kencana benar. Pasti akan banyak korban jika perang terjadi. Tak terasa air mataku pun menetes.


"Kita tidak mungkin diam seperti ini, putri. Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya." kata Prasta.


"Baik, kita akan coba berangkat ke Kerajaan Krendhawahana. Semoga niat baik kita diterima." kataku.


Tapi sebelum kami berangkat. Puspa dan Kencana pun mencegah kami.


"Tunggu dulu, putri." kata Puspa


"Ada apa Puspa?" tanyaku


"Putri apakah kau sudah memikirkannya?" tanya Puspa.


Meskipun aku ragu, tapi jika hanya berdiam diri itu lebih tidak berguna. Tapi kenapa aku melihat keraguan di nata Puspa dan Kencana. Ini sangat aneh, mereka terlihat sangat khawatir dengan kami. Aku ingin tanya tapi aku sudah yakin ingin mencobanya. Siapa tahu nanti ratu Krendhawahana baik hati. Serta mau membantu kami. Aku juga meminta kepada Puspa dan Kencana untuk tetap tinggal dan menjaga Retno.


"Puspa dan Kencana, aku nitip Retno ya" kataku


"Apa putri yakin kalau kami tidak perlu ikut?" tanya Kencana.


"Pangeran Kencana, aku berjanji akan melindungi Putri Nararia." kata Satria.


"Enak saja,. kamu saja yang berkorban. Trus nanti aku bisa menikah dengan Nara deh." kata Satria.


Prasta dan Satria pun kemudian saling adu mulut. Duuh...dasar kelakuan seperti anak kecil dan bocah. Aku pun lalu melangkah keluar kamar.


"Kalau kalian mau berantem sebaiknya enggak usah ikut." kataku


Satria dan Prasta pun saling menatap. Serta mengejarku.


"Putri, tunggu ... kami ikut." kata Prasta.


*


Jerman


Dika dan Adhiraksa pun bersatu lalu bersamadi. Pikiran keduanya pun tertuju pada sebuah pusaka. Ya Pusaka Wijaya Danu. Pusaka itu tidak mudah untuk diambil. Bahkan pusaka berupa tombak emas itu pun memberontak. Pusaka itu lalu berubah menjadi seorang pangeran. Lalu dia menyerang Dikadiraksa.


"Pusaka Wijaya Danu ... ini aku Pangeran Adhiraksa." kata Adhiraksa menjelaskan.


Tapi pusaka itu pun tidak mendengarkan perkataan Adhiraksa. Mungkin dia berpikir jika dirinya akan digunakan untuk kejahatan.


"Kenapa Wijaya Danu melawan kita?" tanya Dika


"Pasti wijaya danu masih berpikir jika aku seorang penghianat. Makanya dia tidak mau ikut denganku. Dika kekuatan pusaka ini sangat dasyat. Kita harus hati - hati." kata Adhiraksa memperingatkan.


Terjadilah pertarungan antara Dikadiraksa dengan pusaka Wijaya Danu. Keduanya sama - sama sakti. Tapi serangan Dika dapat dengan mudah dikalahkan oleh Wijaya Danu. Pertarungan yang sengit, bahkan Dika pun beberapa kali jatuh dan babak belur.


"Kita tidak bisa seperti ini, Adhir. Pusaka itu tidak bisa dilukai." kata Dika.


"Tidak ada senjata yang mampu mengalahkannya" kata Adhiraksa.

__ADS_1


"Lalu bagaimana ini?" tanya Dika mulai panik.


Adhiraksa lalu berpikir bagaimana cara nya untuk menenangkan senjata Wijaya Danu.


"Adhiraksa cepatlah" teriak Dika.


Adhiraksa pun kemudian lalu melihat kalung yang ada di leher Dika. Dia inget sesuatu bahwa senjata Wijaya Danu bisa ditenangkan oleh Padma Locana.


"Dika pergunakan kalung Padma Locana." perintah Adhiraksa.


Dika pun lalu menganggukan kepala. Segera dia mengucapkan mantra dan memegang kalung itu. Cahaya warna kuning keluar dari Kalung itu. Pusaka Wijaya Danu pun lalu berhenti menyerang.


"Tenanglah Wijaya Danu, aku adalah Pangeran Dikadiraksa. Anugrah dari Dewi Kali adalah kekuatanku. Kita bukanlah musuh. Wijaya, aku adalah pelindung putri mahkota. Aku penjaga Putri Pramodhawarddhani" kata Dikadiraksa.


Seketika itu, ksatria wujud dari Wijaya Danu pun tenang. Dia lalu berubah menjadi sebuah tombak. Senjata yang sangat bagus. Penuh cahaya, ukiran kala dan sulur menghiasi tubuhnya. Meskipun senjata yang bagus. Tapi sangat mematikan.


"Dika ambillah pusaka Wijaya Danu." perintah Adhiraksa.


Dika lalu maju serta menutup matanya. Perlahan dia memegang senjata itu. Sekarang tidak ada lagi perlawanan dari Wijaya Danu. Ketika memegang senjata itu, tangan Dika seperti tersengat aliran listrik.


"Jangan dilepas! Itu tandanya senjata Wijaya Danu akan menyatu dengan tubuh mu." kata Adhiraksa.


Dika pun sekuat tenaga menahan tangannya.


"Adhir, aku tidak kuat." kata Dika.


"Bertahanlah Dik, aku akan bantu kamu." kata Adhiraksa.


Adhiraksa pun lalu menyalurkan tenaga murni nya. Meskipun sebenarnya Dika bisa menggunakan kekuatan Adhiraksa. Tapi Dika belum tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan Adhiraksa.


Kira - kira 5 menit, pusaka Wisata Danu bisa masuk ke dalam tubuh Dika. Tubuh Dika mengeluarkan cahaya sekali lagi.


"Gimana perasaanmu, Dik?" tanya Adhiraksa.


"Aku merasa tubuhku sangat enteng." kata Dika.


"Sekarang segera meluncur ke depan Siwa Grha." kata Adhiraksa.


Setelah itu, Dika pun melesat seperti roket. Dika sangat mengagumkan kali ini. Dia berharap agar segera sampai dan mengurung Walaing.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next :


Apakah Dika akan berhasil mengurung Walaing?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.

__ADS_1


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2