Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Aku bingung


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Aku segera menjauh dari Satria dan Gendis. Pasopati dengan setia mengikuti. Tak berapa lama kami sampai di tempat parkiran kereta.


"Mau kemana kita Rakyan?" tanyanya.


"Aku mau pulang. Ayo antar aku." kataku


"Baik." jawabnya


Tak berapa lama aku ingat kalau ini adalah abad 9. Aku baru ingat kalau aku nggak punya rumah. Pasti rumahku yang setiap hari kutinggali belum ada. Bahkan mungkin pekarangan rumahku masih hutan.


'Aku akan kembali ke masa depan.' batinku.


Aku kemudian memejamkan dan buka mata tapi sama saja. Aku masih di dunia yang sama.


"Bagaimana mungkin ini terjadi. Kenapa aku nggak bisa kembali ke masa depan." gumamku.


"Kenapa Rakyan? kenapa dari tadi selalu berbicara masa depan." tanyanya.


"Pasopati ... aku mau pulang. Aku rindu mama, keluarga, dan teman - temanku." kataku sambil menanggis.


Pasopati kemudian menghentikan keretanya. Ia berbalik badan dan memberikanku minum. Ia memberikanku kendi.


"Rakyan minumlah, mungkin kamu lelah dan suasana hatimu sedang tidak enak." katanya


"Pasopati ayo antar aku ke Desa Tambakan." kataku


Ia kemudian mengeryitkan dahi dan memandangiku.


"Rakyan ... apa itu desa?" tanyanya.


"Astaga Pasopati, desa tempat aku dilahirkan. Desa yang banyak rumah - rumah penduduk." kataku


"Maksud kamu wanua?" tanyanya dan konfirmasi tentang maksudku.


Aku kemudian mengiyakan perkataan Pasopati. Aku juga turun dari kereta dan mengambil kayu kecil. Aku kemudian menggambar denah dari Candi Prambanan menuju rumahku.


"Pasopati aku mau menunjukan rumahku." kataku penuh semangat.


Aku berharap dia mengetahui letak desaku. Lama sekali Pasopasi memperhatikan denah gambarku. Aku tiba - tiba ingat Parahyangan Bodisatwa (Candi Plaosan) dan Parahyangan Brahman (Candi Prambanan). Pasopati semakin binggung dengan gambarku.


"Maaf Rakyan ... apa yang kamu maksud dengan 2 parahyangan itu?" tanyanya.


Aku kemudian menjelaskan kalau 1 lokasi untuk memuja Tri Murti dan 1 lagi untuk memuja Budha.

__ADS_1


"Hahahhaha ... Rakyan 2 tempat itu tidak ada. Kalau untuk memuja Adi Budha ada di daerah Sambarabudara. Tapi itu jauh."


Aku semakin bingung kenapa 2 bangunan besar itu tidak ada. Tidak mungkin hilang begitu saja. Aku kemudian berfikir gimana caranya mengetahui letak desaku.


"Oh ya Pasopati, wanua di sini masuk kekuasan siapa?" tanyaku.


"Ini masuk wanua taji harun." katanya


"Antarkan aku ke sana. Aku mau pulang, di sanalah rumahku" kataku


Pasopati kemudian tertawa dan menggelengkan kepala.


"Apanya yang lucu, kenapa kamu tertawa?" tanyaku sewot.


"Rakyan di lokasi yang kamu tunjukan itu hutan belantara. Banyak semak belukar dan binatang berbisa." katanya.


Aku kemudian menangis. Ini tidak mungkin terjadi. Aku mau pulang dan kembali ke duniaku. Aku rindu sama Dika dan Ivan. Mereka pasti sekarang bingung mencariku.


"Prambanan!" teriakku.


Aku kemudian meminta Pasopati untuk membawaku ke Candi Prambanan. Aku berharap di sanalah pintunya.


"Pasopati bawa aku ke Parahyangan Brahman ke Siwa Grha." kataku.


Aku kemudian langsung naik kereta. Tapi Pasopati masih diam mematung dan nampaknya bingung.


"Ayo Pasopati, tunggu apa lagi!" kataku.


Aku semakin bingung dengan ucapan Pasopati. Nggak mungkin kan tempat yang begitu megah sampai dia nggak tahu.


"Masa kamu nggak tahu. Itu lho tempat untuk memuja Tri Murti. Bangunan itu besar banget. Bangunan itu dibangun oleh Rakai Pikatan Dyah Seladu." kataku.


"Rakyan maaf tapi paduka Rakai tidak membangun candi." katanya


"Pasopati kamu jangan bercanda. Kalau kamu nggak mau antar aku akan jalan." kataku.


Aku kemudian turun dari kereta dan bermaksud ingin jalan kaki.


"Rakyan jangan marah. Aku mengatakan yang sebenarnya. Rakai tidak membangun candi untuk Tri Murti. Tapi Rakai sedang menyelesaikan pembangunan pembangunan Manjusri Grha." terangnya


Aku kemudian membalikkan badan begitu Pasopati menyebutkan Manjusri Grha.


'Manjusri Grha kan kata Fais nama lain dari Candi Sewu. Jarak dengan Prambanan kan deket." batinku


"Pasopati ayo antarkan aku ke Manjusri Grha." kataku dengan semangat.


"Sebentar Rakyan ... apakah kamu tidak ingin pergi ke sana dengan Rakai?" tanyanya.


"Tidaaaaaak ... biarkan dia memadu kasih dengan Gendis Wangi." kataku


Pasopati berusaha mempengaruhi pikiranku untuk bertemu Rakai. Tapi aku sudah terlanjur sebel dengannya. Kalau dia sayang denganku pasti dia akan mengejarku. Ini nyatanya dia malah tidak muncul.

__ADS_1


"Tapi Rakyan, Gendis Wangi bisa merayu Rakai. Rakyan apa mau berbagi suami denganya?" katanya.


"Siapa yang mau menikah dengan Rakai. Dih ogah, dia playboy." kataku


"Tapi pernikahan kalian sudah ditentukan. Kalian akan segera menikah." katanya


Aku kaget dan tersedak air yang kuminum.


"Siapa yang menentukan? atas dasar apa?" tanyaku.


"Rakyan orang tua kalian sudah sepakat untuk menikahkan kalian. Pernikahan terjadi untuk meredam peperangan." katanya


Aku semakin binggung dengan semua penjelasan Pasopati. Aku hanya bisa gelengkan kepala.


"Pasopati ayo cepat ke Manjusri Grha." kataku


Ia kemudian membelokkan keretanya menuju tempat yang ku maksud. Aku melihat jalan yang berbeda dari tempat semula.


"Pasopati ini kan jalannya berbeda dari pertama kita lewat." kataku sambil mengingat jalannya.


"Kita motong jalan Rakyan. Bukannya kamu ingin segera sampai." katanya.


Aku nurut sama dengannya. Aku kan juga nggak ngerti daerah ini. Aku percaya dengan Pasopati. Dia pasti akan membawaku ke tempat yang kumaksud.


"Hei apa itu?" kataku sambil menunjuk sebuah pertunjukan di lapangan.


"Itu mabanyol." katanya.


Aku tahu kata mbanyol yang artinya melucu atau melawak. Akh kemudian meminta Pasopati untuk berhenti dan menonton.


"Pasopati kita berhenti sebentar ya. Aku mau lihat." kataku.


Ia kemudian menghentikan kereta dan memberikanku beberapa keping pilocinto mas ma.


"Untuk apa?" tanyaku.


"Kalau orang nonton diharapkan akan membayarnya. Mereka melakukan mabanyol untuk cari uang." katanya


"Oh semacam saweran ya?" tanyaku.


"Mungkin ... bahasamu aneh Rakyan. Oh iya kasih saja 1 keping" katanya.


Aku kemudian berjalan mendekati pertunjukan itu. Tak berapa lama Pasopati juga menyusulku.


**


Episode kali ini cukup ya teman - teman.


Terimakasih sudah berkenan membaca.


With love

__ADS_1


Citralekha.


__ADS_2