
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
Aku sudah bertekad akan segera berangkat ke Vaikuntha. Aku ingin bertemu dengan Dewa Wisnu. Tentu saja untuk meminjam pusaka Kembang Wijaya Kusuma.
"Putri, apa kau tahu dimana Vaikuntha?" tanya Kencana
Aku hanya menggelengkan kepala. Tapi kenyataannya memang benar. Aku tidak tahu dimana letak Vaikuntha. Hal yang sangat bodoh, bagaimana bisa ke sana. Jika tidak tahu letak Vaikuntha.
"Kencana, aku ingat. Kau pernah ke Vaikuntha tolong kasih tahu aku dimana Vaikuntha berada?" tanyaku
"Putri, Vaikuntha sangat jauh. Ada di dasar samudra. Kau tak akan sanggup." kata Kencana
"Aku adalah murid Dewi Sakti. Aku pasti bisa ke sana." kataku sombong
"Tidak putri, belum saatnya kau ke Vaikuntha" kata Puspa
Aku bingung dengan perkataan Puspa. Apa maksudnya coba dia ngomong seperti itu. Tanpa memperdulikan mereka lagi. Aku segera keluar dari kamar. Tujuanku saat ini adalah ke balai obat.
"Putri mau kemana?" tanya Puspa
Aku melirik tajam kepada Puspa. Mereka nampak kaget melihat tatapan tajam dariku. Aku terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan puspa.
Adhiraksa sudah ada di depan kamarku.
"Ngapain loe?" tanyaku
"Galak amat sih wanitanya Satria ini." goda Adhiraksa sambil menghalangiku
"Minggir, aku mau ke balai obat" kataku
Aku segera menepis tangan Adhiraksa. Tapi dia berusaha bertahan. Wajah dengan senyum menyebalkan itu terus menghalangiku.
"Adhiiiir ... Minggir,. aku mau ketemu Pasopati " kataku membentak dia
"Yaudah ayok ke balai obat. Pasopati masih ada harapan hidup." katanya
"Aku tau" kataku
Adhiraksa segera menyusul ku dari belakang. Dia terus mengomel dari mana aku tahu.
"Ra, dari mana kau tahu Pasopati masih hidup?" tanya Adhiraksa
"Aku yakin Pasopati itu kuat. Daya hidupnya besar. Makanya dia masih ada harapan hidup. Lagi pula, ajian Wirabuana ditujukan pada Widasari." kataku
"Dari mana kau tahu itu semua?" tanya Adhi
Adhiraksa terus menginterogasi. Tapi aku hanya belalu begitu saja. Begitu sampai di depan balai obat. Aku melihat beberapa orang mulai gusar. Mereka berlari - lari dan panik.
"Ada apa ini?" tanyaku
"Prajurit, ada apa ini?" tanya Adhiraksa menghentikan salah satu prajurit.
"Ampun pangeran Satria dan Putri Mahkota. Ada musibah di balai obat." katanya gugup
Aku tercenang dengan perkataan prajurit. Musibah apa yang ada di balai obat. Aku sudah berpikir buruk tentang Pasopati dan Widasari.
__ADS_1
"Prajurit ada apa?" tanyaku sambil mengguncangkan bahu prajurit.
"Rara, lepaskan tangan mu!" bentak Adhiraksa
Aku sadar, bahwa tanganku telah menyentuh bahu prajurit. Tentu hal itu akan membuat prajurit ketakutan.
"Ampun pangeran, hamba yang salah." kata prajurit tertunduk ketakutan.
"Tidak apa - apa, kali ini aku ampuni. Sekarang katakan, apa yang terjadi?" tanya Adhiraksa
"Hamba dapat kabar dari tabib, kalau pangeran Pasopati menghilang." kata Prajurit.
Mendengar kata hilang. Aku segera masuk ke balai obat.
Semua orang di dalam panik.
"Putri Mahkota, Pangeran Satria" kata tabib dan pelayan balai obat.
"Apa yang terjadi tabib?" tanyaku
"Ampun putri, Pangeran Pasopati tiba - tiba hilang." kata tabib kerajaan
"Hilang bagaimana tabib? bukannya Pasopati lemah tak berdaya?" tanya Adhiraksa
Tabib kemudian menjelaskan bahwa Pasopati menghilang secara tiba - tiba. Hal itu terjadi setelah tabib berusaha mengoperasi tubuhnya yang terpotong. Hal yang tak masuk akal. Bagaimana dia bisa menghilang.
"Tabib tapi bagaimana bisa?" tanyaku penasaran.
"Hamba sudah mencari melalui mata batin, putri. Tapi hasilnya nihil. Pangeran Pasopati tidak kami temukan." kata tabib
Mataku kemudian tertuju pada Widasari. Dia nampak tak berdaya. Aku mendekatinya.
"Tabib, bagaimana keadaan putri Widasari?" tanyaku
Aku kemudian membelai rambut Widasari. Ada rasa kasian di hatiku. Dia seperti orang yang tak terkendali. Kehadiran Sanjiwani membuat Widasari berubah. Tak berapa lama, Sanjiwani masuk ke dalam balai obat.
"Putri Mahkota, Pangeran Satria." sapanya dengan hormat.
Aku segera mendekati Sanjiwani. Aku tak tega melihat Widasari tersiksa.
"Putri Sanjiwani, tolong maafkan putri Widasari." kataku
Dia mengeryitkan dahinya. Dia kemudian berganti melirik ke arah Widasari.
"Aku sudah berusaha memperingatkan dia, putri. Tapi putri tahu sendiri bagaimana sikapnya pada hamba." kata Sanjiwani agak sedikit keras.
"Sanji ... bisakah kau ringankan penderitaan Widasari?" tanya Adhiraksa
"Aku akan mencobanya, Adhiraksa." kata Sanjiwani yang tak sengaja memanggil nama Adhiraksa.
Aku curiga dengan keakraban mereka berdua. Aku curiga, bagaimana mungkin Sanjiwani bisa berani memanggil Adhiraksa. Bahkan dia tahu siapa sebenarnya sosok manusia imut di depan kami. Dia tahu bahwa dia adalah Adhiraksa. Aku berniat bertanya, tapi diurungkan niatku. Aku tidak mau membuat keributan di balai obat. Bagaimanapun juga keselamatan Widasari paling penting.
"Tabib, aku akan mencoba mengeluarkan ajian Wirabuana untuk menetralkan tenaga dalam Widasari." kata Sanjiwani meminta izin tabib
"Baik paduka Sanjiwani." kata tabib
"Selama pengobatan, saya mohon tidak ada yang boleh menganggu. Itu akan sangat berbahaya." kata Sanjiwani.
Aku mundur beberapa langkah. Karena memang Adhiraksa sudah menarik lenganku.
"Nggak usah pegang - pegang. Aku bisa sendiri." bisikku
__ADS_1
"Kekasih hatiku, di sini ada tabib dan dayang kerajaan. Kau ingin mereka mengetahui semua ini?" tanyanya
Sungguh menyebalkan, bukan? Ya sangat menyebalkan manusia imut satu ini.
"Adhir ... Aku mempunyai beberapa pertanyaan terkait Sanjiwani." kataku
Dia kaget, karena tiba - tiba aku membahas Sanjiwani.
"Apa yang mau kau tahu? jangan - jangan kau cemburu ya?" godanya
Aku kemudian mencubit pinggangnya dan melotot ke arahnya.
"Tenang sayang, aku hanya milikmu." katanya sambil mengedipkan matanya
"Inget ya,. Aku milik Satria bukan Adhiraksa, huh" protesku.
Perdebatan kami ternyata menganggu konsentrasi Sanjiwani. Sehingga, dia mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menyerang kami. Reflek Adhiraksa menghindar sambil mendorongku. Bilik batu balai obat jebol.
"Sanjiwaniiiii!!" gertak Adhiraksa
"Adhir sudah, ini memang salah kita. Tadi dia sudah memperingatkan kita untuk tidak mengganggunya. Mungkin kamu sudah mengganggunya." kataku
"Kamu juga salah, hahaha" goda Adhiraksa
"Diaaaam!!" terdengar suara lantang dari Sanjiwani.
Akhirnya kami diam. Karena kami tidak mau terkena ajian Wirabuana. Aku memilih memperhatikan Sanjiwani. Sedangkan, Adhiraksa kemudian mengamati ruangan sekitar pengobatan. Dia berusaha mencari jejak orang atau siluman.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku heran
"Mencari jejak, orang atau denawa yang membawa lari Pasopati." katanya
Aku pun ikut mengamati keadaan sekitar. Pintu, jendela, dan pilaster menjadi pusat perhatian kami.
"Adhir, makhluk macam apa ya yang bisa datang dan menembus pagar gaib istana Medang?" tanyaku
Istana Medang adalah istana yang sudah dikabari secara gaib. Selain itu keamanan fisik dengan ribuan prajurit siyap menjaganya. Seingat ku, pagar gaib istana Medang sangat kuat. Tidak akan bisa ditembus dengan kekuatan biasa.
Tiba - tiba Adhiraksa memunggut sesuatu. Aku mendekatinya.
"Bagaimana, apa kau menemukan sesuatu?" tanyaku
"Pasopati diculik oleh kekuatan yang sangat kuat." katanya
"Diculik? siapa yang menculiknya " tanyaku
"Mana aku tahu, kan kita sama - sama tidak ada di sini." kata Adhiraksa yang membuat aku sebal.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe
next :
Siapa yang menculik Pasopati? Apakah orang jahat atau orang baik?
Apakah Widasari akan selamat?
Tunggu episode selanjutnya ya.. Kasih masukan di kolom komentar juga boleh lho.
With Love
__ADS_1
Citralekha