
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, rate, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Aku dan Pasopati masih di kandang binatang yang di dalamnya terdapat seekor macan putih yang ditangkap oleh Satria kemarin. Setelah bermain dan bercanda dengan macan. Kami (Aku dan Pasopati) kembali ke Keputren.
"Macan cantik, aku kembali ke Keputren dulu ya. Besok kita main lagi." kataku
"Ra ayo segera kembali. Kamu masih memiliki tugas untuk terus menyelidiki sikap aneh Satria." kata Pasopati
"So, jangan lupa selidiki tentang Balaputra, adikku." kataku
Kami kemudian berpesan kepada penjaga macan untuk terus memperhatikannya. Setelah itu, aku dan Pasopati berpisah. Aku menuju Keputren sedangkan Pasopati menuju kesatrian.
"Ra kamu bisa kan ke Keputren sendiri?" tanya Pasopati
"Iya So, bisa. Kamu hati - hati ya." kataku
Kami kemudian berpisah. Aku berencana untuk melihat Widasari di Balai obat. Tapi ternyata Widasari sudah menghampiriku.
"Kakak dari mana?" tanya Widasari
"Dari kebun binatang, melihat macan putih." kataku
"Sama siapa kak?" tanya Widasari.
Aku bingung menjawab pertanyaan Widasari. Aku takut dia akan cemburu dan marah lagi.
"Oh iya Wida, bagaimana kondisi mu?" tanyaku
"Aku baik kakak. Tadi kakak belum menjawab pertanyaanku." kata Wida.
"Aku bersama Pasopati." kataku
Wida hanya tersenyum dan kemudian dia mohon diri dari hadapanku. Aku tahu Wida pasti marah denganku.
"Wida, jangan salah paham. Aku dan Pasopati hanya sedang menyusun konsep pernikahanku dengan Satria." kataku
Mendengar hal itu, Widasari berbalik badan dan menghampiriku.
"Kakak sudah mau menikah ya?" tanya Wida.
"Iya, kan bulan depan." kataku
"Apa yang bisa ku bantu?" tanyanya.
"Temui Pasopati dan tanyakan padanya." kataku
Aku kemudian berlalu dan masih melihat Widasari tersenyum ketika hendak bertemu dengan Pasopati.
...
(sisi lain)
Pasopati sedang berjalan menuju biliknya di kesatrian. Tiba - tiba ia dikejutkan dengan pertemuan antara Balaputra dan Satria. Nampak oleh Pasopati jika Satria sedang menghaturkan sembah dan tunduk pada Balaputra. Melihat hal itu, jelas Pasopati sangat terkejut dan semakin curiga.
"Heh, apa yang terjadi dengan Satria. kenapa dia tunduk dengan Balaputra." gumam Pasopati
Pasopati berusaha mendekat akan tetapi dia takut ketahuan. Dia hanya bisa mengamati dari jauh dari gerak geriknya. Pasopati juga melihat jika Satria menyerahkan kotak kayu yang di dalamnya berisi gelang tri datu pemberian dariku.
Tapi ketika dibuka, Satria mundur beberapa langkah melihat kilatan cahaya. Balaputra kemudian menukarnya dengan gelang yang sama rapi tidak memancarkan cahaya. Satria kemudian memakai gelang itu.
Pasopati juga melihat bahwa Balaputra sedang memberi perintah kepada Satria. Melihat hal itu, Pasopati menjadi sangat geram.
"Itu kenapa sih, Satria tunduk banget sama Balaputra." umpat Pasopati.
Satria terlihat takut ketika berhadapan dan berbicara dengan Balaputra.
"Pasti ada yang tidak beres." kata Pasopati
__ADS_1
Secepatnya Pasopati segera mundur tapi naas. Kakinya menginjak ranting kering.
(krek krek krek)
Bunyi ranting kering itu mengalihkan perhatian Balaputra dan Satria.
"Sial." umpat Pasopati
Balaputra kemudian berjalan mendekat ke arah sumber suara itu.
"Siapa di sana? keluar atau akan saya habisi." ancam Balaputra.
Tapi Pasopati tidak menjawabnya. Dia terus berusaha kabur dari pandangan Balaputra. Akan tetapi Balaputra semakin lama semakin dekat. Pasopati semakin khawatir dia akan ketahuan.
"Kalau sampai tertangkap basah. Mati aku, bisa dicincang oleh si Balaputra." batin Pasopati.
Sebelum sampai di lokasi persembunyian Pasopati. Dia melihat seekor kucing yang keluar dari semak.
Meong meong
Kucing kuning keluar dari semak. Kucing itu kemudian mendekati Balaputra dengan manjanya.
"Siapa pangeran?" tanya Satria
"Kucing, sialan, aku kira ada mata - mata." kata Balaputra.
Akhirnya mereka berdua berpisah setelah Satria menerima briefing dari Balaputra. Satria nampak nurut dengan Balaputra. Padahal selama ini mereka musuh bebuyutan yang saling ingin menyingkirkan.
Pasopati segera mencariku.
(tok tok tok)
Pasopati mengetuk jendela bilikku. Aku yang lagi istirahat sontak malas untuk membukakan pintu.
"Siapa sih yang gedor - gedor jendela kamar, bikin malas saja." umpatku
Lama pintu tidak aku buka membuat Pasopati tidak sabaran.
"Ini anak kemana sih, pasti lagi tidur deh tuan putrinya. Rara Rara Rara cepat buka pintunya." kata Pasopati
Aku langsung bangun dari tidur ku dan segera membuka jendela bilik kamar.
"Pasopati." ledekku
"Lama amat bukanya pasti lagi tidur ya?" tanya Pasopati
"Iya, hehehe" kataku
Pasopati segera melompat dan masuk ke dalam bilik kamarku.
"So, ada apa?" tanyaku kaget.
Aku hanya takut jika keberadaan Pasopati akan diketahui oleh dayang atau prajurit.
"Aku membawa berita yang sangat penting." kata Pasopati
"Apaan?" tanyaku penasaran
"Kamu pasti tidak percaya dengan apa yang aku lihat barusan." kata Pasopati.
"Ya enggak lah, kan kamu belum cerita." kataku
Aku kemudian menuangkan air dalam kendi untuk Pasopati. Setelah itu, aku mempersilahkan dia untuk minum terlebih dahulu
"Minum dulu, So." kataku
Pasopati menghabiskan air yang aku tuangkan dalam gelas perunggu. Setelah itu dia mulai cerita tentang pertemuan antara Balaputra dan satria. Semua yang Pasopati lihat diceritakan dengan detil tak berkurang satu pun. Mendengar penjelasan Pasopati Aku semakin bingung dan tidak tahu, kenapa Satria berubah.
"Kenapa Satria bisa tunduk pada Balaputra ya, So?" tanyaku
"Aku juga tidak tahu, Ra. Oh iya, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Pasopati
"Apa?" tanyaku
__ADS_1
"Apa keistimewaan gelang tri datu itu?" tanya Pasopati.
Aku kemudian menjelaskan kalau gelang itu adalah pemberian Dewa Indra. Gelang yang hanya bisa dipakai oleh sepasang kekasih yang terkasih dewa. Gelang yang bisa melindungi sepasang kekasih dari godaan hal - hal negatif.
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanyaku
"Satria memberikan kotak kayu itu kepada Balaputra." jawab Pasopati
Aku semakin curiga dengan Satria. serta gerak - gerik dari Balaputra.
"Aku akan panggil gelang itu." kataku
"Memangnya bisa?" tanya Pasopati
Aku hanya mengangguk dan mencoba memanggil gelang tri datu. Aku kemudian menyentuh gelang yang aku pakai. Tak lama kemudian, gelang itu kembali padaku.
"Hebat, gelang yang bertuan." kata Pasopati
"Gelang ini hanya bisa dipanggil olehku dan Satria." kataku
"Kita harus menyelidiki ada apa sebenarnya dengan Satria." kata Pasopati
Aku memiliki cara agar Satria itu mengaku apa yang sebenarnya terjadi. Karena tidak mungkin tiba - tiba tidak ada angin dan hujan mereka berdamai.
"So, kamu coba panggil Satria ke sini." kataku
"Untuk?" tanya Pasopati
"Aku akan mengajak dia ke tepi sungai. Aku berharap dia akan mengingat semuanya." kataku
Pasopati segera keluar dari bilik kamarku. Akan tetapi terlebih dahulu dia celinggukan agar tidak ketahuan di curigai oleh orang - orang istana.
Tak berapa lama Pasopati dan Satria datang. Aku pun sudah menyambut mereka berdua. Aku lihat Satria juga menggenakan gelang tri datu di tangannya.
"Kakak kau sangat satya wacana (menepati janji). Kau memakai gelang pemberianku." kataku
Dia mendekatiku dan hendak menyentuhku. Tapi sayangnya dia seperti tersetrum.
"Kenapa?" tanyaku
"Apakah Pasopati memasang pagar pelindung?" tanya Satria
"Tidak, aku hanya memakai gelang pemberian Dewa Indra. Gelang ini akan membebaskanku dari hawa negatif dan pengaruh bhuta kala." kataku
Aku mencoba menyentuh Satria tapi dia mundur beberapa langkah.
"Ada apa pangeran?" tanyaku
"Aku sedang menjalankan upawasa (puasa) untuk tidak menyentuh dan disentuh seorang wanita." katanya
Aku dan Pasopati saling melirik. Aku juga curiga bahwa Satria ini bukanlah Satria ku. Bukan Satria calon suamiku. Bukan Satria kekasih dewa yang dikirim untukku. Tapi aku harus membuktikan terlebih dahulu dan juga aku harus tahu dimana keberadaan satria yang asli.
"Putri bisakah kau melepas gelang mu itu" kata Satria
"Kenapa harus aku melepasnya?" tanyaku
"Aku sudah kembali, aku lah yang akan melindungimu." katanya
Aku hanya tersenyum dan kemudian melepas gelang tri datu itu. Aku berharap dia tidak curiga denganku. Sehingga aku menurut dengan permintaannya. Begitu dia melihat aku melepasnya dan seketika gelang itu menghilang. Dia mendekati dan menyentuh tanganku.
"Pangeran bukannya tadi kau bilang sedang upawasa?" tanya Pasopati
Seketika itu dia melepaskan tanganku. Wajahnya memerah.
"Maaf aku tidak sengaja. Kalau begitu aku akan ke bilik kamarku dulu. Istirahatlah sayang, aku akan kembali. Aku sangat capek setelah melakukan perjalanan panjang." kata Satria
Sepeninggalnya Satria, aku dan Pasopati semakin curiga dan semakin kuat dugaan kami. Satria itu palsu.
"Lalu dimana Satria yang asli?" tanya Pasopati
**
Episode kali ini cukup ya teman - teman. Maaf telat update.
__ADS_1
With love
Citralekha