
"Tentu saja temannya yang merupakan reinkarnasi dari Putri Widasari. Putri Nara tidak menyadari bahwa teman dekatnya itu adalah reinkarnasi sahabatnya di masa lalu." kata raja kegelapan.
"Reinkarnasi putri Widasari?" tanya senopati
Raja kegelapan lalu memberikan penglihatan kepada Senopati. Siapakah reinkarnasi dari Putri Widasari. Setelah mengetahui siapa orang nya. Senopati beserta 2 orang pengawal kegelapan turun ke dunia. Mereka pun lalu malih rupa menyerupai wajahku, Prasta, dan Satria.
"Dengan menggunakan wajah seperti ini. Kita akan dengan mudah membawa putri Widasari pergi." kata Senopati sambil tertawa.
"Baik, paduka senopati." kata pengawal.
Mereka bertiga pun lalu menuju sebuah kos mahasiswi. Ya, mereka akan menemui sahabatku yang merupakan reinkarnasi dari Widasari.
*
Kamarku
Aku sangat curiga dengan Kencana dan Puspa. Mereka berdua seperti ingin menghindariku. Setelah tragedi Prasta baru saja. Tentu saja aku sangat curiga.
"Ngapain kalian mau ke Indraloka? memangnya ada masalah?" tanyaku
"Dewa Indra memanggil kami putri." kata Kencana
"Apakah kalian sedang menghindariku?" tanyaku penuh curiga
"Tidak putri, memang putri mau tanya apa?" tanya Puspa
Aku pun lalu mengitari mereka berdua. Serta membuat benteng perlindungan. Tujuannya agar mereka berdua tidak bisa kabur.
"Putri kenapa kau pasang pagar gaib?" tanya Kencana
"Biar kalian enggak kabur sebelum menjawab pertanyaan ku." kataku
Puspa dan Kencana pun hanya tersenyum melihat aku seperti anak kecil. Mereka pun lalu menanyakan apa yang ingin aku tahu.
"Apakah kalian tahu, siapa Prasta sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa mengenali dia?" tanyaku
"Putri, meskipun kami tahu. Tapi itu bukan kewenangan kami. Harus kamu lah yang mengetahui siapa sebenarnya mereka. Gunakan hati mu, maka kau akan tahu siapa dibalik Prasta dan Satria." kata Kencana
"Kenapa sih kalian tidak langsung saja kasih tahu aku?" tanyaku kesal.
"Sudah kami katakan, kalau kau sendiri yang harus mengenalinya." kata Puspa.
Hmmm..akhirnya aku menyerah. Dua makhluk kahyangan itu pasti akan teguh dalam pendiriannya. Sekali bilang tidak pasti tidak. Itu artinya, aku harus bisa mengenali siapa Prasta dan Satria. Tapi gimana caranya.
"Puspa lalu apa yang harus aku lakukan agar aku bisa tahu siapa mereka?" tanyaku
"Ketulusan hati dan cinta mu lah yang akan memberitahu siapa mereka." kata Kencana
"Baiklah, aku akan mengenalinya." kataku
Aku lalu melepaskan ikatan gaib itu kepada mereka.
"Maaf putri hanya dengan kamu mengenali secara langsung lah. Akan membuat kekuatan kalian sempurna." kata Kencana
"Baiklah, maafkan aku ya untuk perbuatanku padamu." kataku lalu berhambur memeluk Puspa dan Kencana.
*
...Prasta POV...
Setelah aku keluar dari kamar Nararia. Langkah kakiku terasa berat. Sebenarnya aku tidak ingin jauh darinya. Ini adalah sebuah kabar yang sangat hebat. Sekian lama aku mencari keberadaan putri mahkota. Ternyata selama ini ada di dekatku. Aku pun lalu masuk masuk kamar. Ada kebimbangan dalam diriku.
"Apakah aku harus memberitahu Satria?" tanyaku dalam hati.
Tapi jika aku memberitahu ke dia. Artinya aku dan dia pasti akan bersaing mendapatkan putri Nara. Selain itu, Adhiraksa juga tidak akan melepaskan Nara lagi. Tapi jika aku tidak memberitahu Satria. Maka akan bisa menimbulkan perpecahan dikemudian hari. Aku pun langsung mencari ponselku
"Seharusnya dia belum tidur" kataku dalam hati
Aku pun langsung menelpon Satria. Benar saja, teleponku langsung dia angkat.
__ADS_1
"Ada apa Pras?" tanya Satria
"Aku punya kabar gembira. Ini tentang identitas putri mahkota." kata Prasta
"Hah, serius kamu Sat? Siapa dia? dari mana kamu tahu dan apakah kamu yakin?" tanya Satria
Aku pun lalu menarik napas panjang dan membuangnya.
"Putri Mahkota adalah Nararia." kata Prasta
"Apa?? putri Nararia? Apa kau yakin dia orangnya?" tanya Satria mencoba memastikan
Aku pun lalu menceritakan apa yang aku lihat. Serta menceritakan kalau Adhiraksa telah kembali. Serta telah menyatu dengan tubuhnya Dika.
"Apa?? Dikadiraksa?? bagaimana mungkin itu bisa Pras?" tanya Satria lagi
Aku pun kembali menjelaskan kepada Satria. Kalau aku telah melihatnya dari tv yang ada di kamar Nara. Tv yang telah di setting oleh penjaga Nara.
"Jadi selama ini putri mahkota ada di dekat kita. Tapi kenapa kita tidak menyadarinya dari awal?" tanya Satria
"Aku sudah menyadarinya sebenarnya sejak pertama bertemu dengannya di Prambanan." kataku
"Akankah kita membuka jatidiri kita, Pras?" tanya Satria
"Biarkan dia mengenalinya kita semua." kataku
Setelah itu, telepon aku matikan. Aku pun lalu bermeditasi. Memohon petunjuk kepada Jagadnatha.
*
...Dika POV...
Setelah pertarungan yang melelahkan itu. Aku pun ingin tidur. Tapi Ivan pun masuk ke kamarku. Dia terlihat sangat canggung.
"Ada apa Van?" tanya ku
Aku pun lalu tertawa. Bagaimana mungkin dia seperti itu. Meskipun aku telah bersatu dengan Adhiraksa. Tapi karena dia berupa sukma. Dia hanya muncul saat aku terdesak saja.
"Berapa kali aku harus katakan. Kalau Adhiraksa hanya muncul saat aku terdesak saja." kataku
"Baiklah, berarti kita seperti biasanya untuk berteman. Dika, jadi sekarang tugas kita semakin berat. Musuh pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan menuntut balas atas kekalahan kemarin." kata Ivan
"Benar, kalau gitu mulai besok kita akan latihan tenaga dalam lagi. Kita harus terus asah kemampuan kita." kata ku
Pada waktu itu, Senopati Dandaka datang ke kamarku.
"Terimalah salam kami senopati." kata kami
"Berbahagialah kalian para pangeran muda." kata Senopati.
"Ada apakah gerangan senopati?" tanyaku
"Pangeran, apakah kalian tahu siapa sahabat dekatnya putri Nara? saya mendapatkan informasi kalau senopati kegelapan akan menculik sahabat putri Nara yang merupakan reinkarnasi putri Widasari." kata Senopati
Aku pun kaget mendengar hal itu dari senopati Dandaka. Aku lalu hendak menghubungi Retno Ayu Kartika. Tapi di Indonesia sudah terlalu malam. Lagi pula, nomor teleponnya juga tidak dapat dihubungi.
"Senopati apakah kau sudah memberitahu kepada Nara?" tanya Dika
"Pangeran Kencana telah mengetahuinya. Tapi sayang mereka terlambat menyelamatkan Retno Kartika. Retno telah dibawa ke istana kegelapan untuk dijadikan media." kata Senopati.
"Media? media apa itu senopati?" tanya Ivan penasaran.
*
...Nararia POV...
Aku hendak tidur, tapi Kencana datang ke kamarku.
"Ada apa pangeran?" tanya ku
__ADS_1
"Putri, ini sangat bahaya. Retno Ayu diculik oleh senopati kegelapan." kata Kencana
Aku pun langsung bangun dari rebahanku. Bagaimana mungkin Retno bisa diculik oleh mereka.
"Kenapa mereka menculik Retno?" tanyaku penasaran.
"Karena Retno adalah reinkarnasi putri Widasari." kata Puspa yang tiba - tiba datang.
Aku semakin kaget setelah mengetahui kebenarannya. Ternyata selama ini Retno adalah reinkarnasi putri Widasari. Kenapa aku tidak tahu sih. Bodohnya aku, sekarang Widasari atau Retno sedang ditawan di istana kegelapan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyaku
"Kita tidak bisa sembarangan masuk ke istana kegelapan, putri. Istana Kegelapan sangat kuat pagar pelindungnya. " kata Kencana.
"Lalu gimana bisa menyelamatkan Retno?" tanyaku
*
Istana Kegelapan
Raja kegelapan pun kemudian menemui tabib istana nya. Dia ingin menanyakan keadaan 3 pengikut nya itu.
"Selamat datang yang mulia" kata tabib
"Bagaimana perkembangan mereka?" tanya raja kegelapan.
"Ampun Maharaja, efek dari kekuatan kalung Padma Locana sangat dasyat. Jika tidak segera ditolong maka mereka semua akan meninggal. Sukma pangeran Walaing akan membeku. Sedangkan putri Tamara dan Aura akan meninggal." jelas tabib
Raja kegelapan pun muka nya merah. Melihat ke 3 pengikut setia nya tidak berdaya.
"Kesaktian kalung itu sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka kalau Adhiraksa adalah pemuja Dewi Sakti dalam bentuk Dewi Kali." kata raja kegelapan.
"Benar yang mulia, selain itu jika kalung Padma Locana digabungkan dengan kalung pancaroba milik putri Nara. Maka ...." kata tabib tersebut langsung ditahan oleh raja kegelapan.
"Apakah ada cara untuk membangkitkan mereka?" tanya raja kegelapan.
Tabib kerajaan lalu berpikir sejenak. Dia lalu memandang ke 3 para pengikut raja nya itu. Pada saat itu, Senopati datang dengan membawa tawanan.
"Yang mulia ini tawanan kita." kata Senopati.
Tabib pun lalu mengamati Retno yang sedang pingsan.
"Saya tahu cara nya menghidupkan mereka kembali, Maharaja." kata tabib dengan senyum licik nya.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Apakah Retno akan selamat?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1