
*Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Fais melanjutkan ceritanya. Aku kemudian memotong penjelasan Fais.
"Aku tahu kenapa!" kataku.
Fais kemudian mempersilahkan Aku untuk menceritakan Kumbhakarna.
"Khumbakarna disebut pahlawan oleh Alengka. Dia membela negaranya bukan kakaknya, Rahwana. Dia seorang ahli negara yang mengerti tentang tata kenegaraan. Sehingga begitu tahu bahwa negaranya diserang, dia harus melindungi negaranya. Khumbakarna seorang ksatria yang jujur. Dia terkenal dengan melakukan tapa tidur. Makanya nggak heran jika Khumbakarna sulit dibangunkan" jelasku.
Semuanya kemudian tersenyum dan kembali melanjutkan cerita.
"Ini mungkin Wibisana. Dia adik Rahwana yang paling tidak setuju akan perbuatan Rahwana. Dia lah yang memberitau tentang kelemahan semua ksatria Alengka kepada Rama" jelas Dika.
"Apakah ini Dasamukha" tanya Ivan.
"Ya, nama lain dari Rahwana adalah Dasamukha. Dia adalah seorang raja yang sakti mandraguna. Dia sulit dikalahkan. Rama pun terkena ajiannya, hingga membuat Rama mati suri. Wibisana meminta kepada Anoman untuk mencari sebuah bunga. Anoman nggak tahu tumbuhan mana yang dimaksud. Akhirnya dia membawa sebuah gunung ke hadapan Wibisana." terang Fais yang nggak mau kalah di depanku dan Dika.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan dan tibalah saatnya Rama yang mengalahkan Rahwana.
"Rahwana ternyata memiliki ajian pancasona yaitu ajian yang membuat dirinya tidak mati. Wibisana kemudian memberitahu pada Rama. Rahasia kematian Rahwana adalah tubuhnya tidak menyentuh bumi. Akhirnya, Rama mengeluarkan senjata pamungkas berupa panah yang ujungnya terdapat cakra" terangku.
Kami sangat bahagia bisa menyusuri candi dengan berbagai macam pendapat dan pengetahuan masing - masing.
"Ini adalah adegan ketika Wibisana diangkat menjadi Raja di Alengka. Rama dan Sita kemudian kembali ke Ayodya. Rama meragukan kesucian cinta dari Sita
Ia kemudian dibuang ke hutan" jelasku.
"Di buang ke hutan?" tanya Ivan
Dika kemudian menunjuk sebuah relief yang berupa api.
"Api apa ini?" tanya Ivan
Dika kemudian menjelaskan, bahwa api yang ada di relief ini merupakan upaya untuk membuktikan kesucian Dewi Sita. Jadi dewi sita akan menceburkan diri ke dalam api suci.
"Sita bakalan kebakar?" tanya Ivan
"Enggak, krna Sita tidak bersalah." kataku
__ADS_1
Aku kemudian menceritakan kalau pada saat api abong. Terlebih dahulu dilakukan upacara kesucian yang dipimpin oleh pendeta. Sita diambil sumpahnya sebagai tanda keikhlasan dalam menjalankan ritual itu.
Penduduk Ayodya kemudian menyiapkan tungku api besar. Di sampingnya terdapat panggung tinggi yang ada tangganya.
"Tangga ini untuk apa?" tanya Ivan
"Sebagai tumpuan saat Dewi Sita hendak turun ke dalam kobaran api." kata Dika
Aku kemudian menceritakan setelah menceburkan diri. Sita masih sehat dan keluar dari kobaran api. Itu menandakan bahwa Sita masih suci dan tidak berbuat serong dengan Rahwana.
Sita setia kepada suami dan negaranya. Selama di Alengka, Sita memiliki sahabat yang bernama Tri Jatha. Dia adalah salah satu anak dari Rahwana yang memiliki butho pekerti baik.
Tri Jatha juga sempat jatuh cinta pada Hanoman. Tatkala Hanoman menyusup ke istana Alengka.
"Ngapain Hanoman ke Alengka?" tanyaku
"Memberikan cincin dan memastikan kalau Sita dalam keadaan baik." kata Dika.
Aku kemudian menjelaskan bahwa tidak lama setelah api suci. Sita dikabarkan telah hamil. Kehamilan Sita masih diragukan oleh penduduk Ayodya. Desas desus tentang keraguan Sita didengar oleh Rama. Bahkan rama juga ragu jika anak dalam kandungannya. Bukanlah anak Rama, bisa saja itu anak dari Rahwana. Sehingga Sita diusir dari istana.
"Kasian ya Sita." kata Ivan
"Tapi itu semua karena karma yang didapatkan Sita karena telah membuat Laksmana bersedih." kataku
Aku kemudian menjelaskan, tatkala Sita di Hutan dan Rama sedang mengejar kijang emas. Laksmana menjaga Sita. Kemudian sita mendengar teriakan Rama (yang ternyata adalah kijang emas). Lalu Sita meminta Laksmana untuk menyusul. Tapi Laksmana menolak dan Sita menuduh jika Laksmana akan menodainya.
"Saat di Hutan apa yang terjadi?" tanya Ivan
Fais kemudian melanjutkan cerita bahwa selama di hutan, Sita bertemu dengan Rsi Walmiki. Ia bersahabat dengan seluruh binatang.
"Hidup Sita kasian ya." kata Dika
"Makanya jangan pernah meragukan cinta suci dari seorang istri yang sudah terbukti tidak selingkuh." kataku
Tak berapa lama Sita melahirkan 2 anak laki laki. Mereka diberi nama Kusa dan Lawa. Setelah anak - anaknya besar. Sita sakit dan dia pun meninggal dalam keadaan terluka dan sakit hati.
"Kesedihan Sita adalah tatkala melahirkan anak tanpa ditunggui oleh suami." kataku
"Iya kasihan, seharusnya kelahirannya dinantikan oleh rakyat Ayodya." timpal Dika
Adegan dimana Kusa dan Lawa menjadi pelawak. Dia membawakan cerita tentang hikayat cerita Dewi Sita. Ketenaran Kusa dan Lawa membuat istana Ayodya mengundangnya. Saat sampai di Istana mereka menceritakan kisah Ramayana. Rama kaget dan binggung, karena cerita itu mirip dengannya.
"Dalam adegan ini, apakah Rama akan mengakui ke dua anaknya?" tanya Ivan
Saat itu, Fais menjelaskan bahwa setelah Kusa dan Lawa ke istana. Dia ditanya oleh Rama tentang kisah Ramayana. Saat itu, Rsi Walmiki hadir ke istana dan membantu ke dua anak itu.
__ADS_1
Kehadiran Walmiki membuat Rama sadar. Bahwa selama ini dia telah berbuat salah terhadap Sita. Sehingga, Rama segera menyerahkan tahta Ayodya kepada dua orang anaknya.
Rama juga kaget tatkala tahu bahwa istrinya telah meninggal dan keadaan menggenaskan. Rama sangat menyesal atas perbuatannya. Sehingga Rama memutuskan untuk kembali ke Swargaloka sebagai Wisnu kembali.
Fais kemudian menjelaskan tentang akhir dari cerita Ramayana.
"Ini adalah adegan ketika Rama kembali ke swargaloka. Dia menyerahkan kerajannya kepada ke 2 anaknya yang didampingi oleh Rsi Walmiki. Ini adalah adegan terakhir saat pesta pengangkatan raja muda Kusa dan Lawa. Para maharsi disuguhkan hidangan oleh kerajaan". terang Fais.
Adegan terakhir adalah ketika para rsi menerima jamuan makan. Ku lihat di depannya terdapat beberapa hidangan seperti belut, ikan gabus, cumi - cumi, sate, kepiting, ikan bawal.
"Jadi ini adalah potret makanan pada jaman dahulu, ya?" tanya Dika
"Kemungkinan iya, mereka sudah tahu cara mengolah ikan laut." kataku
Fais juga menceritakan bahwa orang jaman dahulu tidak sembarangan makan. Mereka makan dengan mempertimbangkan gizi dan kesehatan.
"Oke anak - anak ini adalah terakhir di Candi Brahma" kata Fais.
Kami kemudian turun dan menuju ke Candi Siwa.
"Panas banget ya" kata Ivan.
"Eh gimana kalau kita makan siang dulu, sembari istirahat" kataku.
"Mas Fais ikut makan kita ya. Rara bawa bungkusan banyak tadi". Ajak Ivan.
Kami kemudian mencari tempat yang teduh. Kami berteduh di bawah pohon keben. Letaknya di pojokan barat daya atau tepatnya di sebelah belakang Candi Brahma. Saat itu memang masih diizinkan wisatawan membawa dan makan makanan di dalam candi, kalau sekarang sudah nggak boleh.
"Teman - teman, ini satu - satu ya bungkusannya. Oh hya karena Mas Fais tadi tidak direncakan akan gabung. Maka Mas Fais makan bungkusan bakmi ya. 3 bungkus untuk Mas Fais semua" kataku.
Kami kemudian menikmati makan siang ber empat sambil merasakan angin dan indahnya peradaban leluhur. Dari jauh aku melihat seorang anak laki - laki yang memikatku. Kuperhatikan dia, ia tersenyum kepadaku dan aku membalas senyumannya itu.
'Siapakah laki - laki itu' batinku.
Aku seperti mengenal sosok itu. Wajahnya tampan, kulitnya putih, gagah (lengannya berotot), tinggi, dan menarik. Duuuh idaman banget deh. Ciri - cirinya seperti seorang pasukan khusus.
**
Episode kali ini cukup ya.
Terimakasih atas waktunya sudah membaca cerita ini.
With love
Citralekha
__ADS_1