
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
"Nararia,. are you okay?" tanya Prasta sambil tersenyum manis
"I am okay, thanks" kataku
"Nara, Prasta Ayo kita segera kembali. Kita akan istirahat dan besok akan ke Desa Kuna lainnya." ajak Gusde
"Kemana?" tanyaku
"Ayo kita segera ke kapal. Karena penyeberangan akan segera ditutup. Apa mau nginep di desa ini?" tanya Gusde.
Aku lalu beranjak dan segera bergabung dengan rombongan.
"Dika kemana ya?" tanyaku
Aku mencari lelaki cinta monyetku. Karena aku tidak melihatnya. Ternyata cinta monyetku sedang membeli sesuatu.
"Kamu dari mana sih?" tanyaku
Dia hanya tersenyum lalu mengalungkan syal cantik. Ya syal yang terbuat dari tenun.
"Ini untuk aku?" tanyaku
"Iya" jawabnya singkat.
Dia lalu menggandeng tanganku dan berjalan mendahului rombongan.
"Nara, Ardika maaf, kita adalah tim. Ada banyak orang di sini. Tapi kenapa kalian malah bermesraan?" kata Satria
"Bermesraan gimana? cuma gandengan tangan gini kok. Lagian dia tu teman kecilku yang lama nggak ketemu." sargahku
"Sudah sudah sudah ... ayo kita jalan. Kapal nya ke buru lewat." lerai Prasta
Aku pun lalu diam dengan sikap Satria yang menyebalkan. Dia saja tidak ingat denganku. Masa iya aku saja yang selalu menjaga hati nya. Sudah cukup, kemarin dia membuat hati ku panas. Meskipun aku tidak tahu sih. Apakah Satria itu merupakan Satria ku di masa lalu.
**
Kami sampai di penginapan, ya kami menginap di rumahnya Mas Arya. Ya Mas Arya berasal dari Karangasem. Jadi kita menginap di sini. Tapi karena Pak Gede ada acara di keluarga nya. Maka beliau pulang duluan.
"Ini acara bebas kan?" tanyaku
"Iya, kenapa?" tanya Mas Arya
"Sepertinya aku, Dika, dan Ivan akan menginap di hotel sekitar sini saja." kataku
"Lho kenapa?" tanya Gusde
__ADS_1
Aku lalu menjelaskan ketidak enakan Dika dan Ivan. Setelah menjelaskan secara pelan - pelan. Akhirnya Dika dan Ivan mengalah. Kami tetap berada di rumah Mas Arya.
**
"Prasta, apakah Nararia itu putri mahkota?" tanya Satria
"Entahlah, Sat ... kita akan tahu setelah ramalan itu datang." kata Prasta
"Apakah ramalan itu akan terjadi?" tanya Satria
"Entahlah, kita berdoa saja. Jika sudah kehendak Dewa pasti terjadi. Aku merasakan kalau musuh utama kita sudah reinkarnasi ke dunia ini." kata Prasta
**
Malam ini, aku bercengkerama dengan Dika dan Ivan. Kami menceritakan tentwng kisah - kisah dahulu. Kisah bagaimana petualangan kecil kita. Serta cerita tentang pendidikan militer dan perkuliahan. Seru sekali mendengarkan ketika mereka di Akmil.
"Nara kamu tidak banyak berubah. Masih saja manja" kata Dika
"Iya masih saja bawel dan cerewet." timpal Ivan
"Kalian masih saja ngeselin." kataku Tak mau kalah.
Malam yang indah disertai canda tawa. Tapi tiba - tiba Prasta datang.
"Boleh gabung?" tanya Prasta
"Silahkan" jawab Dika
Kami lalu bercerita tentang apapun itu. Prasta menjelaskan tentang pasukan khusus milik Jerman. Serta menceritakan banyak hal tentang Jerman. Makhlum, Dika dan Ivan dalam waktu dekat akan berangkat latihan bersama. Tak terasa, aku merebahkan kepala ku kepada sandaran kursi dan tertidur. Tapi aku masih mendengar meski samar apa yang mereka bicarakan.
"Nara ... ah ni bocah emang tukang tidur ya." kata Ivan
"Kayaknya sudah malam. Saya akan bangunin dia." kata Prasta.
"Jangan, biarkan saja. Dia kalau tidur di bangunin bisa ngamuk." kata Ivan.
Mereka bertiga lalu mencari cara agar aku terbangun dengan sendirinya. tapi karena aku nya capek dan energi ku terkuras saat masuk dalam perjalanan Pancering Jagad. Aku tak peduli dengan mereka.
"Aku akan gendong dia." kata Dika
"Enggak, jangan biar aku saja." kata Prasta
"Biar aku saja, aku teman 1 tim" sahut Satria yang datang dari dalam.
"Dika teman kecil nya, biarkan Dika saja." kata Ivan.
Tapi lagi - lagi mereka berdebat dan berebut buat gendong aku ke dalam. Aku pun lalu membuka mata.
"Brissssiiik... Dika gendong aku ke dalam. Kamu kan pasukan khusus, kamu kuat kan gendong aku?" kataku
Dika pun lalu mengendong aku ke kamar yang sudah disiapkan untukku. Setelah itu, mereka kembali istirahat.
**
Pagi hari, setelah kami sarapan kami siap untuk menjelajahi desa wisata lainnya.
"Siyap untuk pergi?" tanya Gusde
__ADS_1
"Kita kemana, Gus?" tanya Satria
"Tenganan" kataku
Semua mata tertuju pada ku. Ya tidak heran sih, kalau aku paham tentang desa adat kuno di Bali. Hehehe... setelah semua nya siap, kami berangkat. Tak berapa lama kami sampai di Desa yang kami maksud.
Desa Adat Tenganan Pegringsingan masuk dalam wilayah Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Jaraknya sekitar 70 km dari Bandara Ngurah Rai Bali. Desa wisata dan budaya ini disetiap penjuru desanya masih sangat kental dengan adat budaya leluhur. Mulai dari bahasa sehari-hari yang digunakan hingga tata letak serta bentuk bangunan tiap rumah penduduk.
Masyarakat Bali dikenal masih menjunjung tinggi adat dan budaya peninggalan nenek moyang. Salah satunya adalah Desa Adat Tenganan Pegringsingan, yang merupakan salah satu desa berkategori Bali Aga. Di desa ini, para pengunjung akan mendapati warisan budaya leluhur yang masih dilestarikan oleh masyarakatnya.
"Ini adalah desa Bali Aga selain Trunyan" kata Mas Arya mengawali pembicaraan kita.
"Apa yang khas di sini?" tanya Satria
"Bangunan, adat istiadat, dan apapun itu." kata Mas Putu
Dari segi penggunaan bahasa sehari-hari, terdapat keunikan yakni memakai bahasa Bali yang halus madia dan setiap logatnya diakhiri dengan “a” bila bertemu dengan tamu yang berkunjung ke desa. Dari logat dan pengucapan, bahasa yang digunakan terkesan unik dan berbeda. Ada pula bahasa khas yang digunakan sebagai panggilan untuk laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki memiliki panggilan “Cong”, sedangkan untuk perempuan memiliki panggilan “Nyi.
"Mereka tidak menyebut mas dengan sebutan 'bli?" tanyaku
"Tidak, itu lah tadi aku ceritakan di sini sangat berbeda." kata Gusde.
Untuk bentuk bangunan baik untuk bangunan adat maupun tempat tinggal masyarakat, memiliki perbedaan dan keunikan yang tidak ditemui di wilayah Bali manapun. Setiap bangunan adat memiliki tempat dan fungsi yang berbeda-beda, baik untuk kegiatan adat masyarakat maupun sebagai hunian keluarga.
"Kenapa rumah adat nya berjajar seperti itu?" tanya Prasta
"Bale-bale tersebut dibangun berjejer mulai dari arah selatan hingga utara. Paling selatan adalah Bale Agung, kemudian disusul Bale Kulkul di sebelah utara. Dilanjutkan Bale Jineng Petemu Kelod, Bale Petemu Kelod, Bale Gambang, Bale Banjar. Kemudian Bale Jineng Nungnungan, Bale Jineng Petemu Tengah, Bale Petemu Tengah, Bale Glebeg. Lalu Bale Jineng Petemu Kaje, Bale Petemu Kaje, Wantilan, Balai Lantang, Bale Ayung. Yang berada di paling utara adalah Bale Banjar." kata Mas Arya yang berlagak seperti pemandu kami.
Mayoritas penduduk Desa Adat Tenganan Pegringsingan bermata pencaharian sebagai petani. Namun ada juga sebagian penduduk merupakan pengrajin. Kerajinan yang dibuat oleh penduduk diantaranya ukir-ukiran, anyaman bambu, lukisan di atas daun lontar dan kain tenun.
"Oh iya, aku dengar kain tenun desa ini memiliki kualitas yang bagus" sahutku
"Iya betul, kain tenun di sini kualitas warna dan kerapiannya bagus. Tapi mahal lho." kata Gusde
"Nanti aku belikan." sahut Prasta dan Dika secara bersamaan.
Kain tenun yang dihasilkan oleh penduduk Desa Tenganan dikenal dengan nama Kain Gringsing. Kain tenun khas masyarakat Desa Tenganan ini sangat terkenal bahkan sudah mendunia. Teknik pengerjaannya menggunakan teknik dobel ikat, yang diketahui sebagai teknik tenun satu-satunya di Indonesia.
***
Haii... apa kalian merindukan author?
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Kira - kira Nara bakalan menerima kain tenun dari siapa ya?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
__ADS_1
With love
Citralekha