
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
Dika dan Ara pun kemudian salah tingkah.
"Dika kaki ku sakit." kata Ara
"Baik aku akan menggendong mu." kata Dika.
Dika pun lalu meletakan tas ransel nya dan meminta Ivan untuk membawakannya. Sementara Dika menggendong Ara. Nampak sekali wajah kemenangan pada Ara dan Ciki.
Dika dan Ivan pun lalu mengantar Ara dan Ciki ke flat mereka. Ini bisa dikatakan bukan sebuah flat. Tapi Apartemen mewah.
"Ara apa kaki mu sudah membaik?" tanya Dika.
"Sudah Dika, terimakasih ya" kata Ara.
Selama dalam perjalanan menuju apartemen mereka berdua. Dika dengan telaten telah memijat kaki Ara. Ada senyum manis yang sempat mereka berikan.
ehem
"Kamu haus Van?" tanya Dika.
"Geraah, oh iya... masih berapa lama lagi akan sampai di pintu apartemen kalian?" tanya Ivan.
Rupanya Ivan dan Dika mengantar mereka sampai di depan kamarnya. Setelah semuanya baik - baik saja. Ivan dan Dika pamit dan akan menuju ke tempat latihan bersama.
"Kita berhasil menyelesaikan misi ini." kata Ciki
"Ya, tapi jangan senang dulu. Tugas kita masih berat. Tapi aku merasakan kalau Dika dan Ivan sudah terisi ilmunya." kata Ara.
"Ya, mereka sudah lebih kuat. Tapi, Dika seperti bukan sosoknya. Aku malah kepikiran jika kadang Dika lebih mirip seperti pangeran kedua." sahut Ciki.
"Aku juga berpikiran begitu. Tapi kita harus membuktikannya dahulu." kata Ara
*
Dika dan Ivan sampai di markas pasukan khusus Jerman. Mereka mendapat rumah dinas bersamaan. Selama 3 bulan mereka akan melakukan latihan bersama.
"Dik, kamu curiga nggak sih dengan 2 wanita tadi." kata Ivan.
"Ciki dan Ara maksudmu?" tanya Dika
"Iya, kamu inget kan dengan Tamara dan Citra. Musuh nya Nararia yang sekarang jadi musuh kita juga." kata Ivan memperingatkan Dika
"Tapi aku tidak merasakan hawa ancaman dari dua wanita itu. Justru mereka berdua itu telah melindungi kita." kata Dika
"Melindungi kita? maksud mu apa Dik?" tanya Ivan penasaran.
"Kamu akan tahu nanti, apa maksud aku. Yang jelas, Ciki dan Ara tidak membahayakan kita." kata Dika.
"Terserah kamu Dik, tapi aku nggak suka kamu dekat - dekat dengan mereka. Aku akan selalu waspada dengan mereka berdua." tegas Ivan.
"Sudah tugas kita sebagai seorang pasukan khusus untuk selalu curiga." kataku.
Setelah itu Ivan meninggalkan kamar Dika. Dia agak sedikit jengkel dengan kelakuan Dika. Ivan pun lalu menelpon diriku.
📞📞📞
__ADS_1
"Hallo Ivaan... apa kabar?" tanyaku
"Aku baik tapi sahabatmu itu lagi bener - bener membuatku kesal." kata Ivan.
"Dika? Kenapa dia?" tanyaku
Ivan pun lalu menceritakan tentang pertemuan mereka dengan dua wanita. Ivan juga menceritakan kalau Dika tidak ada rasa curiga sama sekali dengan mereka.
"Dika tidak curiga dengan 2 wanita itu? lalu kamu curiga kenapa Van" tanyaku
"Aku takutnya, 2 wanita itu adalah malih rupa dari Tamara dan Citra. Ara sama dengan Tamara dan Ciki bisa juga nama samaran dari Citra." jelas Ivan.
Penjelasan Ivan sangat masuk akal. Aku pun lalu memperingatkan kepada Ivan agar selalu waspada. Serta menjaga Dika. Aku juga memperingatkan agar Ivan tidak berantem dengan Dika. Bisa saja itu rencana Tamara untuk mengadu domba Ivan dan Dika.
"Ra, kamu di sana baik - baik ya. Aku akan menjaga Dika sebaik - baiknya. Terlebih di sini kan ada Senopati Dandaka. Dia pasti akan melindungi kita berdua di Jerman. Kamu jangan khawatirkan kami." kata Ivan.
"Ya Van, aku percaya denganmu. Kamu akan bisa melindungi Dika dengan baik." kataku
Setelah itu, telepon pun kita akhiri. Aku lalu memanggil Puspa dan Kencana.
"Ada apa putri?" tanya Puspa
"Puspa, barusan Ivan ngasih kabar kalau mereka berdua bertemu dengan dua orang wanita. Aku curiga deh jika mereka berdua itu Tamara dan Citra." kataku
Mengetahui aku mengadukan hal tersebut. Puspa pun tersenyum.
"Apakah kamu tahu siapa nama wanita itu, putri?" tanya Kencana
"Namanya Ara dan Ciki" kataku
Kencana pun lalu tersenyum. Melihat mereka berdua tersenyum. Aku merasa aneh dan curiga. Jangan - jangan mereka sudah tahu siapa 2 wanita itu.
"Kenapa kalian tersenyum?" tanyaku
"Kedatangan 2 wanita itu justru akan bisa mengasah ketajaman Dika dan Ivan." kata Puspa.
"Dika dan Ivan bisa menggunakan intuisi mereka untuk mengenali musuh atau temannya." kata Kencana.
"Tenang saja putri, jika 2 wanita itu membahayakan dan jika memang benar mereka adalah Tamara dan Citra. Kamu tak perlu khawatir. Dika dan Ivan sudah dibekali ilmu tenaga dalam. Serta di sana ada Senopati Dandaka." kata Puspa.
Penjelasan Puspa dan Kencana sangat masuk akal. Aku tidak seharusnya terlalu khawatir yang berlebihan. Terlebih ke dua sahabatku itu sekarang telah memiliki ilmu kesaktian. Mereka pasti bisa menghandle Citra dan Tamara.
"Sebaiknya putri fokus pada meditasi tingkat akhir. Asah kemampuanmu agar bisa menggunakan pusaka Medang yang sakti. Karena musuh terus meningkatkan tenaga dalamnya, putri. Terlebih musuh utama telah bersekutu dengan raja kegelapan. Kau harus bisa mengimbanginya putri jika terjadi perang nanti." kata Kencana.
"Baik" kataku singkat.
Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Kencana. Sebaiknya aku fokus pada meditasi tingkat akhir. Terlebih aku belum bisa menemukan siapakah Rakai ku sebenarnya. Apakah Prasta atau Satria, atau Rakai ku belum muncul. Hmmm..entahlah, kenapa sulit sekali menemukan Rakai.
*
Kembali ke Jerman.
Tamara marah - marah tidak jelas. Semua perabotan yang ada di depannya langsung melayang. Dia menghancurkan sebagai tanda kekesalan.
"Tamara sabar lah, kamu akan rugi banyak nanti jika membanting semua benda - benda mu ini." kata Aura
"Sabar?? Bagaimana mungkin aku bisa sabar?? Apakah kita salah informasi tentwng kedatangan 2 manusia tengik itu??" tanya Tamara sambil mencengkeram kerah baju Citra.
"Aku tidak tahu, Tamara. Dari pada kamu marah tidak jelas. Sebaiknya kamu kerahkan orang mu untuk mencari informasi yang akurat" usul Citra.
Tamara pun lalu mengambil hp nya. Dia menghubungi bawahannya untuk mencari informasi.
"Segera carikan aku informasi kedatangan Ardika Pradnyawan dan Novian Mahendra ke Jerman. Kapan mereka akan sampai di Jerman." kata Tamara di telepon.
Citra lalu mengambilkan air putih agar Tamara bisa sedikit tenang. Sebenarnya Citra juga sangat sebal dengan hari ini. Masalahnya buruannya yang paling berharga lepas begitu saja.
"Bagaimana mungkin kita bisa salah informasi. Kemana Dika dan Ivan sebenarnya." gumam Citra
__ADS_1
Sebenarnya saat pesawat Dika dan Ivan landing. Semua anak buahnya telah dikerahkan untuk memata - matai kedatangan Dika dan Ivan. Tapi seperti ditelan bumi, Dika dan Ivan tidak ada dalam kedatangan orang itu.
"Tam, minum dulu dan tenangkan pikiran mu. Jika kau marah dan emosi kita tidak bisa berpikir." kata Citra.
Tak berapa lama HP Tamara berdering.
"Hallo, apakah sudah dapat? jika tidak maka aku akan membunuhmu." ancam Tamara.
"Tuan putri, kami telah mendapatkan informasi. Bahwa tuan Dika dan tuan Ivan tidak ada di Jerman." kata seseorang yang sedang menelpon Tamara
"Apa?? bagaimana bisa! Cari informasi yang benar." bentak Tamara
"Baik tuan putri" kata seseorang itu.
Mengetahui bahwa Tamara marah - marah tidak jelas. Citra juga penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa Tam?" tanya Citra.
"Informanku bilang jika Dika dan Ivan tidak ada di Jerman. Kurang ajar, pangeran kegelapan telah membohongi kita." kata Tamara.
Tamara pun marah - marah, dia menganggap pangeran kegelapan telah membohonginnya. Tak berapa lama asap hitam muncul. Sebagai tanda bahwa pangeran kegelapan muncul.
"Pangeran Kegelapan bagus sekali kamu telah menipuku" kata Tamara dengan sangat keras.
"Dasar bodoh, kalian benar - benar tidak berguna." bentak Pangeran kegelapan.
Mendengar perkataan pangeran kegelapan. Tamara pun tak terima.
"Yang bodoh aku atau kamu?? memberikan informasi tidak jelas. Buang - buang waktuku saja." tanya Tamara.
Pangeran kegelapan pun marah. Dia lalu mencekik Tamara.
"Beraninya kau!!!" bentak Pangeran kegelapan.
"Pangeran ampuni Tamara, tapi memang benar bahwa Dika dan Ivan tidak ada di Jerman." kata Citra
Mendengar hal itu, Pangeran kegelapan melepaskan leher Tamara.
"Bagaimana bisa bahwa Dika dan Ivan tidak di Jerman??" tanya nya
"Mana aku tahu, informanku telah mencarinya. Tapi nihil dan aku juga Citra telah menunggu di pintu kedatangan luar negeri. Sama sekali aku tidak melihat Ivan dan Dika." kata Tamara.
Pangeran kegelapan lalu diam dan menutup mata. Dia mencoba melacak melalui mata batin. Beberapa saat kemudian dia membuka mata.
"Ada kekuatan besar yang menyelimuti Dika dan Ivan. Tapi yang jelas, mereka ada di Jerman. Temukan mereka sampai dapat!!" perintahnya
"Aku sudah berusaha tapi nihil. Sekarang bantu kami menemukan mereka!" gertak Tamara.
Setelah itu pangeran kegelapan menghilang.
***
Haii... jangan menghujat ya teman2,. maaf ini sedang banyak deadline. Jadi jangan menghujat konten sedikit, lama update ya. Ini sudah berusaha disempatkan untuk diketik.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ivan dan Dika sampai tak bisa terlacak?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
with love
__ADS_1
Citralekha