
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Setelah itu kami pamit. Hari ini sangat menyenangkan. Bisa jalan - jalan mencari air.
"Selanjutnya kita kemana?" tanyaku
"Ke pura dengan mata air terjernih. " sahut Andi
"Ayo kita ke sana ... lokasi nya di Tabanan." kata Jofel.
Aku berpikir sejenak, jika lokasi nya di Tabanan. Artinya sudah ke arah pulang dunk.
"Selain mata air itu, yang ada di deket daerah sini ada lagi nggak?" tanyaku
Menurut ku jika di daerah Gianyar ada lagi. Akan sangat menghemat waktu. Tapi sebelum itu, aku mengajak mereka semua untuk makan siang. Aku juga lapar, jadi aku rasa kita perlu istirahat. Aku yakin setelah perut kita terisi. Pikiran akan jernih, hehehe
"Kalau gitu kita berhenti di warung makan. Kita makan siang dulu yaa. Kak Nara lapar ni, kalian juga lapar kan?" tanyaku
"Oke kak, siyap" kata mereka kompak.
Setelah kita mencari - cari. Akhirnya kita berhenti di warung makan. Tentu saja warung makan khas Bali. Tapi warung ini memiliki aneka menu yang lainnya. Aku yakin, jika mereka pasti bosan menyantap makanan Bali. Tapi tidak denganku, aku ingin selalu makannya. Untuk itu, kami memilih warung makan yang menyediakan menu Bali dan Jawa.
"Warung nya rame gini, Kak." kata Jofel
"Harusnya enak ni karena rame." sahut Wira
"Tunggu... hati - hati kalau rame. Bisa jadi warung nya pakai penggaris." kata Andi.
Aku tertarik dengan omongan Andi. Aku pun kemudian menajamkan indra penglihatanku. Betapa terkejut nya aku. Ternyata bener apa yang di katakan Andi. Warung ini menggunakan ilmu pangleakan untuk penglarisan. Aku pun lalu memandangi Andi. Aku baru sadar ternyata Andi punya indra ke enam.
"Pindah gimana kak?" tanya Andi
"Ndi kamu?" tanyaku
Dia hanya menganggukan kepala. Pantas saja, beruntung ada Andi. Tapi ketika hendak balik kanan. Seperti ada sesuatu yang menahan langkah kaki kita.
Ternyata benar, penglaris itu berupa pocong yang meneteskan air liur. Andi menelan ludah nya. Melihat hal itu, Wira dan Jofel mengerti. Tapi apa daya mereka selain mengucapkan doa - doa.
"Ndi, kamu jangan bergerak ya. Biar Kak Nara yang menyelesaikan." kataku
Andi hanya mengangguk. Tiba - tiba pelayan warung menghampiri kami.
"Mari silahkan duduk di seberang sana." kata nya lembut
"Gimana bisa kami bergerak, kalau kaki kami ditahan sama pocong." kata Andi.
Sontak suara Andi menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju pada Andi.
"Andi kenapa kamu ngomong?" tanyaku
"Lha kan memang benar, Kak. Ada pocong yang menahan kaki kita." katanya lagi
Pengunjung pun kemudian ribut - ribut. Hingga akhirnya, pemilik warung keluar. Mataku langsung memancarkan amarah. Langsung aku panggil Puspa untuk memberi pelajaran kepada pocong itu.
Tentu saja dalam waktu singkat Puspa dapat mengalahkan pocong itu. Pemilik pun lalu marah dan mengusir kami.
"Pergi kalian dari sini. Hanya membuat kacau saja." kata nya
Kami pun langsung pergi. Secepat nya juga pembeli warung itu keluar. Mereka ribut bahwa makanan mereka basi.
__ADS_1
"Itu lah akibat dari berbuat tidak jujur, putri." kata Puspa
Kami pun kemudian pindah warung makan. Setelah menemukan tempat yang aman. Kami makan dengan tenang. Pada saat di tempat makan. Aku mencoba membuka diskusi.
"Apakah kalian tidak tahu di Gianyar ini ada mata air kuno lagi?" tanyaku
"Bentar kak, Wira googling dulu." kata Wira sambil meraih gadget nya.
Astaga... Aku lupa, kenapa aku tidak browsing sendiri sih. Kenapa sih jadi pikun gini. Ini kan jaman sudah canggih. 😂😂😂😂
"Ketemu kak, kita akan ke Pura kuno ini. Pura ini adalah pura untuk meditasi dan sebagai pusat pendidikan." kata Wira.
"Pura apa namanya, Wir?" tanya Jofel
"Letaknya di Banjar Samigunung, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar." jawab Andi
Aku melirik ke Wira sebagai tanda konfirmasi atas jawaban Andi. Wira pun kemudian menganggukan kepala.
"Namanya pura apa?" tanyaku
"Menurut prasasti Lawang Pintu, situs ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Jaya Pangus, dan tempat ini bernama Dharma Hanyar yang dulu berfungsi sebagai pesraman pendeta, seperti disebutkan dalam prasasti Mpungkwing Dharma Hanyar yang berarti pendeta di Dharma Hanyar" jelas Wira
"Kalau gitu ayo kita segera ke sana." kataku
Aku pun menyelesaikan administrasi. Ea administrasi, hahaha... membayar makan siang kita. Setelah itu, kita lanjut ke dharma hanyar itu. Kata Wira, perjalanan dari Goa Gajah ke tempat itu tidak jauh. Butuh sekitar 20 menit sampai.
*
(20 menit kemudian).
Kami sampai ke lokasi yang di maksud oleh Wira dan Andi. Sebagai penumpang tentu saja aku percaya dengan kemampuan ke - 3 navigasi ku ini.
"Sudah sampai kak." kata Wira
Aku pun lalu turun dari motor. Pemandangan yang indah. Kesan pura klasik sangat terpancar. kawasan situs ini berada dikelilingi oleh hutan yang masih cukup rindang dan berada di tepi timur tebing Sungai Pakerisan.
"Mata air yang akan kita tuju ialah menjadi satu kawasan dengan Pura Pengukur - ukur." kata Wira
Situs Pura Pengukur-ukuran berada di lembah curam yang terbentuk dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan. Terdapat kompleks pura, candi tebing, dan ceruk-ceruk pertapaan yang di pahatkan pada dinding tebing di tepi sebelah barat DAS Pakerisan.
"Pura nya lumayan luas ya, Wir. Bisa Kak Nara jelaskan tentang mandala pura ini?" tanyaku
(Penjelasan Wira)
Pura Pengukur-ukuran terbagi atas tiga halaman. Pura berdenah persegi panjang yang mengecil ke bagian halaman dalamnya. Halaman dibatasi oleh tembok penyengker dengan pintu masuk masing-masing halaman berbentuk candi bentar.
Halaman Luar Terdapat tangga yang cukup tinggi dan candi bentar yang menjadi gerbang halaman luar. Di dalam halaman luar terdapat beberapa bangunan, di antaranya sepasang sedahan apit lawang di depan candi bentar yang memisahkan halaman luar dan halaman tengah, panggungan, dan bale kulkul.
Di sebelah timur halaman luar terdapat bale jajar dan Wantilan. Bale jajar dan bale penyambung (tempat sabung ayam) terletak di sebelah barat halaman luar.
"Kita masuk ke halaman tengah, Kak." ajak Jofel
(Jofel melanjutkan apa yang dia tahu)
Halaman Tengah Dalam halaman tengah, terdapat beberapa undakan anak tangga dan candi bentar. Di halaman tengah yang dibatasi oleh tembok penyengker terdapat beberapa bangunan, di antaranya Pelinggih Ratu Panji (pada pelinggihnya terdapat sebuah batu bentuknya silindris) dan Pelinggih Barong yang terletak di sisi paling utara menyatu dengan tembok penyengker yang membatasi halaman tengah dan halaman dalam.
Bale gong terletak di sebelah timur. Penggungan, panegtegan, perantenan, bale paebatan, pyasan pasamuan agung, dan Pesimpangan Goa Lawah terdapat di sebelah barat halaman. Selain bangunan, di halaman tengah ini juga terdapat fragmen-fragmen bangunan yang kemungkinan besar merupakan reruntuhan dari bangunan keagamaan.
"Tinggalan Arkeologi nya apa saja?" tanyaku
(Andi menyahut)
Ini didasarkan pada ditemukannya yoni yang patah menjadi dua, hiasan kemuncak berbentuk bundar seperti sebuah stupika, relief gada dan kapak yang terdapat pada batu segi empat.
"Kita masuk ke utama mandala, Kak." kata Andi
"Tolong jelaskan ya, Ndi" kataku
(Penjelasan Andi)
__ADS_1
Halaman Dalam Terdapat candi bentar yang menjadi pembatas antara halaman tengah dan halaman dalam. Candi bentar dihias makara gaja-mina: relief tinggi berupa harimau dalam ukuran kecil. Candi bentar juga diberi hiasan berupa cerita Ramayana.
"Andi rasa cukup kak. Sebaiknya kita langsung ke Goa Garba." kata Wira
"Goa Garba?" tanyaku
"Betul, Kak... mata air kuno itu ada di samping goa." jelas Andi
Aku pun lalu mengikuti ke 3 yunior ku turun ke bawah. Goa Garba sendiri memiliki arti, yaitu lubang di dalam.
Goa kecil yang tampaknya seperti lorong terowongan ke bawah ini, dibuat sebagai simbol persembahan kepada ibu pertiwi.
Kami pun berpapasan dengan pemangku yang memang sebagai oengempon tempat ini.
"Swastyastu Jero Mangku, nunas ampura. Kami dari jurusan Arkeologi Udayana. Apakah kami boleh nunas tirta di sini?" kata Wira.
"Swastyastu ... tapi mata air di sini tidak setiap waktu ada air nya, Nak" kata Jero Mangku
Aku pun mulai deg - degan. Takut kalau mata air itu kering.
"Tapi jika kalian beruntung. Maka mata air yang kering akan mengalir dengan sendiri nya." kata Jero Mangku
Kami pun lalu diajak ke bawah lagi. Ya ke sebuah pancuran. Hatiku tenang tatkala mendengarkan aliran air.
"Di area Goa ini juga terdapat beberapa pancuran dan kolam. Ada juga tempat penampungan air yang diberi nama Mahadewi" terang Jero Mangku
"Kenapa dinamakan Mahadewi, Jro?" tanyaku
"Karena di percaya sebagai tempat pesiraman Kebo Iwa." kata Jero Mangku I Dewa Gede Badung.
Kami pun lalu diajak untuk sembahyang lebih dahulu. Setelah itu, kami dipersilahkan untuk mengambil tirta dari pancuran Mahadewi.
"Air ini juga dipercaya memiliki kesaktian untuk tolak bala. Serta memberikan berkah kepada siapapun juga. Selain itu, tirta dari pancuran ini sangat berkhasiat untuk menghilangkan ilmu tenung. Kau mencari air ini untuk membebaskan temanmu dari oengaruh buruk, buka? " tanya Jero Mangku.
"Betul Jero Mangku, bagaimana anda tahu?" tanyaku
Tapi Jero nya hanya diam saja sambil tersenyum. Setelah mengambil air. Kami lalu mohon pamit. Kami harus segera melakukan perjalanan ke tempat selanjutnya. Mata air ke - 4.
"Berjalanlah kalian ke tempat mata air yang menjadi tujuan kalian sebelum memutuskan ke sini." saran Jero Mangku
"Mata air yang jernih di Bali?" tanyaku
"Betul kak, kita harus ke sana. Lokasi nya searah dengan arah kita pulang." kata Andi
"Tapi sebaiknya, kau tidak pulang ke vila. Tapi kalian harus selalu bersama sebelum kalian mengumpulkan 7 tirta dari 7 mata air kuna." kata Jero Mangku
"Lalu dimana kita akan menginap?" tanya Wira
"Aku tahu dimana." kataku
Kami pun lalu segera bergegas untuk pamit. Setelah mengucapkan terimaaksih. Kami langsung menuju motor dan berangkat ke Pura dengan mata air yang paling jernih itu.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya.
next :
Dimanakah kira - kira tempat mata air ke -4 ?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
Citralekha
__ADS_1