
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, hayooo..jangan lupa vote nya lho*
***
Patih lalu membisikan sebuah rencana. Hal tersebut membuat Raja Arda berbinar.
"Bagus sekali patih, aku akan ikuti saranmu." kata Raja Arda.
Dia pun lalu bangkit dan mulai menyusun rencana.
"Patih sementara waktu, istana kegelapan aku serahkan padamu. Aku pergi dulu." kata Raja Arda.
"Baik maharaja" kata Patih.
Setelah Raja Arda menghilang, masuklah Tamara. Jiwa keponya ternyata tinggi.
"Patih, kemanakah Raja Arda pergi?" tanya Tamara.
"Raja sedang bertapa, kalian berdua saya rasa cukup. Kembalilah ke dunia kalian." perintah patih.
Tamara pun mengerti dan paham. Dia segera pamit dari pendopo utama. Tamara lalu menuju keputren.
"Aura kita akan kembali ke dunia kita." kata Tamara
"Kenapa secepat ini, Tam? Aku tidak mau,. Aku mau tinggal disini saja. Aku mana bisa jauh dari Raja Arda." kata Aura.
"Dasar bucin, Raja Arda tidak ada di istana. Jadi ngapain kau di sini? Mending cari lelaki di dunia kita." kata Tamara
"Nggak bisa Tam, aku dah cinta mati sama Raja Arda. Kalau aku menikah dengannya. Aku akan menjadi the queen of demon" kata Aura.
Aura pun lalu membayangkan, jika dirinya akan menjadi ratu kegelapan. Dia akan banyak dipuja oleh manusia lemah. Tapi Tamara segera menyadarkan lamunan Aura.
"Nggak usah menghayal, ayo segera kembali ke dunia kita." kata Tamara.
"Tunggu, kemana Raja Arda pergi?" tanya Aura.
Tamara pun hanya mengangkat kedua bahunya. Sebagai tanda kalau dia tidak tahu. Tapi bukan Aura jika dia puas dengan perkataan Tamara. Dia pun lalu mencari patih.
"Patih ... Patih.." teriak Aura.
Yang dipanggil pun segera datang.
"Ada apa putri Aura?" tanya patih.
Meskipun Patih tahu, apa tujuan Aura mencarinya. Tapi dia pura - pura tidak tahu.
"Patih, kemana Raja Arda pergi?" tanya Aura.
"Maharaja pergi untuk bertapa. Jangan tanya lagi, bertapa dimana. Aku tidak akan memberitahumu. Sebaiknya kau kembali ke dunia mu." titah patih.
Aura pun terus mendesak patih. Tapi semuanya sia - sia saja. Sebab patih tetap bersikekeh. Akhirnya Aura menyerah.
"Tamara, ayo kita kembali ke dunia kita." ajak Aura.
"Ayo, aku sudah tidak sabar ingin bertemu pangeranku." kata Tamara.
"Jangan halu, pangeran Pikatan pasti sudah tidak mau ketemu denganmu." ejek Aura.
__ADS_1
Mereka berdua pun kemudian kembali ke dunia manusia. Sesampainya di Jerman. Mereka lalu menyusun rencana. Tentu saja rencana untuk menyerang Dika dan yang lainnya.
"Akhirnya aku sampai di kamarku. Aku merindukan bantal dan guling. Ini adalah pemberian dari Satria ku" kata Tamara yang memeluk guling kesayangannya.
"Dasar bucin" ejek Aura.
Tamara pun kemudian melempar bantal karakter kepada Aura.
"Kamu juga kan bucinnya Raja Arda, hahaha" balas Tamara.
Aura pun kembali ingat dengan Raja Arda. Dia berusaha mencari tahu keberadaan Arda. Tapi sayangnya nihil.
"Kenapa loe?" tanya Tamara.
"Kira-kira kemana ya Raja Arda?" tanya Aura.
Tamara pun sejenak diam. Dia juga memikirkan keberadaan raja itu. Tidak seperti biasanya sang raja akan menghilang. Serta meninggalkan singhasananya.
"Kalau begitu kita harus mencari tahu keberadaan Raja Arda. Aku curiga kalau dia tidak bertapa." kata Aura.
"Ya, aku juga curiga, untuk apa Raja Arda bertapa? bukankah dia sendiri adalah inti kekuatan adharma?" tanya Tamara
"Kalau begitu ayo kita bagi tugas".
Mereka berdua lalu berpencar dan menjalankan aksi masing - masing.
*
Adhiraksa.
Adhiraksa sangat senang sekali dengan wujud manusianya. Dia selalu bercermin, makhlum jika sebelum nya dia tidak terlihat dalam cermin. Hal tersebut lah yang membuat Dika semakin jengah.
"Heleh, muka jelek saja bercermin" ledek Dika.
"Ganteng lah gue, Jagadnatha telah memberikanku wajah yang sempurna. Apa kau tidak ingat putri Nara sangat terpukau begitu melihat aku?" kata Adhiraksa.
Mereka berdua pun sama - sama melempar bantal ke muka Ivan. Akhirnya mereka dapat bercanda satu sama lain. Ya itu lah mereka terkadang akur, usil, dan suka meledek. Tapi mereka tetap menyayangi dan melindungi satu sama lain.
Kegiatan bercanda mereka pun dihentikan. Ketika Adhiraksa tiba - tiba memejamkan mata.
"Kenapa pangeran tengik itu?" tanya Dika.
"Dia sepertinya sedang mendeteksi sesuatu." kata Ivan.
Kini Dika dan Ivan pun memejamkan mata. Mereka berdua pun mencoba menelusuri apa yang sedang dicari oleh Adhiraksa.
"Eh, kalian ngapain ikut - ikutan?" tanya Adhir.
"Lha bukannya kamu lagi mendeteksi energi lain?" tanya Ivan.
"Hehehe...kamu sangat cerdas Ivan. Jika kau kembali ke masa lalu. Aku akan menjadikanmu seorang senopati di kerajaan Utara Jawa. Sedangkan Elo, tuan Dika ..." kata Adhiraksa terpotong oleh Dika.
"Kagak minat jadi bawahanmu" sahut Dika.
Mereka pun kembali saling lempar bantal. Dasar para lelaki konyol. Tapi kali ini Adhiraksa bener - bener merasakan sesuatu.
"Sepertinya kita akan kedatangan tamu." kata Adhiraksa.
"Siapa?" tanya Dika
"Ah elo, ngakunya ksatria hebat. Merasakan kedatangan energi lain saja nggak bisa. Dasar lemah!" ejek Adhiraksa.
"Pangeran tengik, gue hanya mengetes kamu saja, wleek" balas Dika.
"Sudah hentikan perdebatan kalian. Sebaiknya kita fokus. Mau apa dia kemari, kalau membahayakan kita ringkus. Tapi kalau tidak, kita cari tahu. Sebaiknya, pangeran Adhiraksa bersembunyi dulu." saran Ivan.
Setelah semuanya setuju, akhirnya Adhiraksa menghilang dari hadapan mereka berdua. Dia sebenarnya tidak pergi jauh. Tapi dia menggunakan ajian halimunan. Jadi dia tidak terlihat.
Benar saja, tak lama kemudian datang seorang wanita. Jika lelaki mata keranjang. Maka dia pasti sudah tidak bisa menahan nafsunya. Bagaimana tidak coba, wanita itu hanya menggunakan tank top dan celana di atas lutut.
__ADS_1
"Permisi tuan, bisakah anda memberikan saya tumpangan untuk istirahat sebentar?" tanya wanita itu.
"Oh nona cantik, boleh silahkan. Nampaknya anda sangat kelelahan? Saya akan ambilkan minum." kata Ivan dengan ramah.
Wanita itu pun terus memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi sekali. Ya, Dika adalah seorang lelaki normal. Tentu saja dia berusaha menahan nafsu nya. Sementara itu di balik tembok ilusi. Adhiraksa tertawa puas melihat Dika seperti itu.
"Dasar lelaki mesum, tidak bisa melihat wanita seksi dikit." ejek Adhiraksa.
"Pangeran Adhiraksa jangan meledek seperti itu. Bukankah kau juga bisa tergoda?" ledek Senopati Dandaka.
Adhiraksa pun langsung kaget karena tiba - tiba Sang Senopati muncul.
"Senopati, sejak kapan kau ada di sini?" tanya Adhiraksa.
"Sejak pangeran berkata yang tidak - tidak pada Ardika." kata Senopati.
"Oh ... jadi kamu nguping dan membela Ardika?" tanya Adhiraksa.
Tapi Senopati hanya menanggapi dengan senyum dan mengangkat kedua bahunya. Setelah itu semuanya fokus menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sedangkan wanita seksi itu dengan gerakan erotisnya berusaha mengoda Dika.
"Amit-amit, Dika... jika pangeran tengik tahu. Mampuslah kau Dika. Kau bakalan diledekin terus menerus." batik Dika.
Padahal, sejak tadi Adhiraksa mengamati mereka berdua.
"Ini kenapa sih Ivan lama banget. Cuma ngambil air putih doang." gerutu Dika.
"Tuan, kalau boleh kenalan, siapa nama anda? Anda sangat baik sekali dengan saya." kata wanita itu,.
Dia berusaha mendekati dan naik di pangkuan Dika. Tapi secepatnya Dika menepis.
"Maaf, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Dika sudah tidak bisa ramah.
"Maksud anda apa? Saya hanya numpang sebentar. Setelah itu saya akan pergi." kata wanita itu.
Dika pun berusaha menahan amarahnya. Dia kembali tenang setelah Ivan datang dengan membawakan botol mineral. Dia pun lalu minta maaf karena sudah tidak sopan dengan tamunya itu. Tapi sebagai pasukan khusus, dia harus menaruh rasa curiga. Soalnya apa?
Ini adalah markas militer di Jerman. Daerah terlarang bagi siapapun. Hanya anggota dan pelatih utama saja yang bisa masuk. Hal itu lah yang membuatnya curiga dengan wanita itu.
"Maaf ya, hanya ini yang kami punya. Tapi ini kan asrama TNI. Bagaimana kamu bisa kesasar ke sini? Kemudian bagaimana kamu melewati pos penjagaan yang begitu ketat? Maaf, dengan penampilan mu yang seperti ini. Bagaimana kamu bisa lolos dan masuk ke rumah dinas kami?" tanya Ivan.
Wanita pun kemudian kaget. Dia tidak menyangka bahwa lelaki itu curiga dengannya.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next:
Kira-kira apa rencana Raja Arda?
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1