
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
"Bisakah kamu ceritakan padaku tentang bangunan ini, nona Arkeolog Muda?" tanya Adhir.
"Sure, i will do" kataku sambil tersenyum
"Ra, lihat deh para penari wayang itu." tunjuk Adhiraksa.
"Ah iya Dhir, aku mau foto sama mereka boleh?" tanyaku
"Of course." kata Adhir.
Aku pun lalu berlari menghampiri para penari wayang orang itu. Mereka menggunakan kostum hanoman, gatotkaca, arjuna, srikandi, dll. Tapi karena banyak yang mau foto bareng. Jadinya aku mengantri. Tapi sang pangeran itu sepertinya tidak sabar.
"Mas penari wayang, saya tanya berapa sehari kalian mendapatkan uang itu?" tanya Adhir.
"Sekitar 500 - 1 juta, mas. Itu pun kalau lagi banyak pengunjung." kata salah satu pemain wayang.
Adhir pun lalu mengeluarkan uang 1 gepok 50rb an. Aku pun menatap pada Adhir. Serta bisa ditebak apa yang akan Adhir lakukan.
"Mas, ini ada uang 5juta. Tapi kalian stop semua orang itu. Kalian saya sewa selama putri mahkota mau sama kalian." kata Adhir.
"Ini serius mas?" tanyanya lagi.
"Ya, pangeran mah nggak oernah bohong. Kalian semua sekarang harus nurut sama putri Nara. Jika dia senang, maka nanti saya tambah lagi." kata Adhir.
"Adhiiiir" kataku
"Yang penting kamu bahagia. Apapun akan aku lakukan." kata Adhir.
Sumpah deh, ni orang.. tapi aku heran deh. Dia dapat duit itu dari mana. Jangan - jangan itu duit daun. Nanti kalau sudah pulang, berubah jadi daun. Kan kasian jadinya, di PHP in para pemain nya.
"Ini duit asli ya, bukan daun." kata Adhiraksa
"Kamu dapat duit itu dari mana? Kamu nyuri ya?" tanyaku berbisik.
__ADS_1
"Sembarangan, enggak ya, masa pangeran ganteng macam aku nyuri." kata Adhir.
Tapi tetep saja, aku curiga. Pasalnya di dunia dia kan tidak ada uang kek gitu. Jadi dari mana dia mengambil?
"Nanti aku ceritain, yang penting kamu senang dan tidak mengantri." kata Adhir.
Akhirnya aku mengalah pada Adhir. Dari pada tanya terus malah berabe. Setelah puas selfi dengan pemain. Aku pun lalu mengajak Adhir kembali fokus pada Candi Arjuna.
"Tuan putri, terimakasih ya buat kebaikan pangeran juga. Semoga kalian berdua berjodoh dan menjadi pasangan yang abadi." ucap pemain wayang itu.
Adhir pun mengeluarkan uang lagi 1 gepok. Tapi langsung aku sahut. Serta aku kasih ke mereka 1jt lagi.
"Makasih ya buat pujiannya, nih buat anak istri kalian di rumah." kataku
"Yaampun tuan putri baik banget, makasih ya pangeran." katanya lagi.
"Ra, kamu suka duit? Kalau mau mah tinggal bilang. Aku bisa kasih berapapun yang kamu mau. Itu kasih tadi seharusnya semua buat mereka. Dia sudah doain lho buat kita." kata Adhir.
"Ooh... emang aku mau sama kamu?" tanyaku langsung pergi.
"Naraaa... tunggu ih, tunggu dulu. Iya maaf jangan ngambek. Cuma bercanda" kata Adhir.
"Iya iya, udah deh... mending sekarang kamu jelaskan tentang Candi Arjuna ini." kataku
Adhir pun tersenyum dan langsung berlagak seperti seorang pemandu wisata.
Dinding tubuh Candi Arjuna dihias oleh 3 relung pada 3 sisinya yang sekarang telah kosong tidak ada arcanya. Bagian atas relung masing-masing relung dihias dengan ragam hias kepala kala tanpa dagu, dan dihubungkan dengan sepasang makara oleh bingkai relung.
Pintu candi di sebelah barat, dengan hiasan ragam hias kepala kala pula, dan dihubungkan oleh bingkai pintu dan pipi tangga ke sepasang makara yang di hias oleh burung kakaktua di mulutnya yang menganga.
"Keren juga ya penjelasanmu, Dhir.. Tapi secara Arkeologi, aku mau menceritakan padamu." kataku
"Silahkan cerita, pangeran Adhiraksa sudah siap mendengarkan putri mahkota." kata Adhir.
Pada tahun 1924 seorang arkeolog Belanda pernah meneliti Candi Arjuna, dan menurut pendapatnya, ukuran dan bagian-bagian Candi Arjuna jelas mengikuti aturan Vastusastra.
Ragam hias sangat sederhana, atap candi dipenuhi dengan ragam hias antefiks (simbar), dan hiasan Kala-makara pada pintu candi dan ketiga relung pada badan candi. Bingkai pintu ini pada bagian bawah dihubungkan dengan pipi tangga yang melengkung pada kiri kanan tangga masuk.
"Ruangan tengah (garbhagrha) telah kosong, dahulunya mungkin diisi arca Siwa yang mungkin sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Yoni lapik arcanya sekarang masih ada di dalam ruangan" kata Adhir.
"Pada dinding luar sisi utara, selatan dan barat terdapat susunan batu yang menjorok ke luar dinding, membentuk bingkai sebuah relung tempat arca. Bagian depan bingkai relung dihiasi dengan pahatan berpola kertas tempel. Bagian bawah bingkai dihiasi sepasang kepala naga dengan mulut menganga." sahutku
Di bagian atas bingkai terdapat hiasan kalamakara tanpa rahang bawah. Pada dinding di kiri dan kanan ambang pintu bangunan utara terdapat relung tempat meletakkan arca.
"Saat ini kedua relung tersebut dalam keadaan kosong. Pada dinding di sisi selatan terdapat arca Brahma, barat ada Siwa dan utara ada Wisnu. Ambang relung diberi bingkai dengan hiasan pola kertas tempel dan Kalamakara di atasnya. Kaki bingkai dihiasi dengan pahatan kepala naga dengan mulut menganga." kataku
Tepat di pertengahan dinding di bawah relung terdapat jaladwara (saluran air). Atap candi berbentuk kubus bersusun, makin ke atas makin mengecil. Bagian atas dan puncak atap sudah hancur. Di setiap sisi masing-masing kubus terdapat relung dan di setiap sudut terdapat hiasan berbentuk seperti mahkota bulat berujung runcing. Sebagian besar hiasan tersebut sudah rusak.
__ADS_1
"Ra, depan itu candi apa sih?" tanya Adhir.
"Namanya Candi Semar" kataku
"Semar? siapa dia?" tanya Adhir.
"Dalam tradisi pewayangan Jawa, dikenal adanya punakawan. Dia adalah Semar Gareng Petruk Bagong. Mereka adalah para penjaga Pandawa. Apa di dunia mu dulu tidak mengenal Punakawan?" kataku
Adhir pun menggelengkan kepala. Tidak heran memang, bahkan di relief candi masa Jawa Tengah. Tidak ditemukan adanya penggambaran tokoh punakawan.
"Oke, i see... sekarang tolong jelaskan padaku. Candi kecil di depan Candi Arjuna ini apa ya? Kenapa bentuk perwaranya sangat unik begini?" tanya Adhir.
"Candi Semar berbentuk persegi panjang atau limasan dengan dasar polos candi dengan tinggi sekitar 50cm. Tangga untuk memasuki bangunan candi ditempatkan di sisi timur atau menghadap ke Candi Arjuna. Bangunan pintu tidak terdapat susunan atap. Bagian dasar pintu berupa lantai dengan potongan batu bermotif datar dan kepala naga di ujung bawah. Di bagian atas pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang." kataku
Candi Semar berdiri di depan Candi Arjuna berdenah persegi panjang berukuran 7 x 3.50 meter, dengan pintu menghadap ke timur. Seperti candi-candi lainnya, Candi Semar memiliki kaki-tubuh dan atap. Alas kaki candi dan alas tubuh candi dihias dengan perbingkaian berupa bingkai padma (sisi genta) dan bingkai rata. Pintu dihias dengan kala-makara, tubuh candi diberi bidang penghias yang kosong.
Selain itu terdapat, sebuah jendela kecil dibangun pada masing-masing sisi kiri dan kanan pintu. Ada dua lubang yang berfungsi sebagai jendela pada masing-masing dinding candi sebelah selatan dan utara, dan tiga lubang di dinding (belakang) barat. Interior di dalam bangunan candi kosong.
"Atap candi nya unik ya, kenapa bisa seperti itu?" tanya Adhir
"Atap candi bentuknya sangat unik, karena tidak berlapis seperti halnya Candi Arjuna dan candi-candi lainnya, namun hanya satu lapis melengkung ke atas, bentuknya seperti padma yang besar. Puncak atap berbentu apa, sudah tidak diketahui karena telah hilang. Candi Semar ini berfungsi sebagai candi perwara, atau candi pengiring, namun yang diletakkan di ruangan candi tidak diketaui jelas apa itu. Karena keadaanya telah kosong." kataku
Apabila dibandingkan dengan kompleks kuil di India, bangunan yang berhadapan dengan bangunan utama, biasanya dipakai untuk menempatkan arca Nandi, vahana (kendaraan) Siwa. Candi Semar. Candi ini letaknya berhadapan dengan Candi Arjuna. Denah dasarnya berbentuk persegi empat membujur arah utara-selatan. Batur candi setinggi sekitar 50 cm, polos tanpa hiasan.
"Tangga menuju pintu masuk ke ruang dalam tubuh candi terdapat di sisi timur. Pintu masuk tidak dilengkapi bilik penampil." sahut Adhir.
"Iya betul, eeh ayo kita ke Candi tertua pandawa." ajakku
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1