
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
"Aku tidak tahu, maaf siapa kakek buyut Rahyangta Medang." kata Adhir.
Mereka pun lalu berusaha mencari tahu petunjuk dari Dewi Sakti. Semoga segera mengetahuinya ya.
Mereka masih berusaha mencari silsilah dari Ranghyangta Sanjaya. Malam hari nya, mereka berkumpul di rumah Nara.
"Coba kita buka Prasasti Canggal." kataku
"Oke aku akan searching prasasti nya. Mungkin dari sana kita bisa tahu silsilah dari Raja Sanjaya." sahut Retno.
Prasasti Canggal adalah prasasti yang berangkat tahun 732 M. Prasasti itu ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir. Lokasinya berada di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Magelang. Aksara tang digunakan ialah Pallawa dan berbahasa Jawa Kuna.
Prasasti ini menceritakan tentang pendirian lingga (lambang Siwa) di desa Kunjarakunja oleh Sanjaya. Diceritakan pula bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah Sanna, kemudian digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Sanna.
"Dari keterangan prasasti itu diketahui bahwa Ibu Sanjaya adalah Sannaha?" tanya Denta.
"Lalu bapaknya siapa?" tanyaku
"Dalam keterangan prasasti ini tidak diketahui asal usul lebih jauh lagi." kata Retno.
Bait 1: Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung
Bait 2-6: Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu
Bait 7: Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa
Bait 8-9: Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung.
Bait 10-11: Pengganti raja Sanna yaitu keponakan bernama Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melalui kakak perempuannya (Sannaha)
Bait 12: Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang
"Apakah Raja Sanna tidak memiliki putra? Kenapa digantikan oleh Sanjaya? Lalu kenapa tahta nya tidak langsung diberikan kepada Sanjaya? Kenapa harus melalui ibu nya dahulu?" tanya Denta.
"Kita harus telusuri terlebih dahulu. Kenapa Raja Sanjaya yang mengantikan pamannya. Apakah sang paman tidak berputra?" tanya Adhiraksa.
"Apakah tidak ada petunjuk sama sekali, selain dari Prasasti Canggal?" tanya Retno.
Adhir pun mencoba mengingat - ingat. Dan dalam dokumen dokumen Kerajaan Mataram pun dia tidak pernah menjumpainya.
"Tapi pasti ada petunjuk" kataku
"Coba kita tarik kebelakang, candi apa yang paling tua dari Gunung Wukir." kata Adhiraksa.
"Dieng" sahut Denta dan Retno.
__ADS_1
"Nggak ada data di sana" kata Adhiraksa.
Mereka pun masih pusing memikirkan hal itu. Dan entah kenapa mereka kemudian dilanda ngantuk yang sangat berat.
"Aku tiba - tiba ngantuk banget" kata Denta.
"Aku juga" kata Retno.
Mereka berdua lantas langsung tertidur. Melihat hal itu, kami berdua merasa aneh.
"Ada yang aneh, Dhir." kataku
"Bener banget, coba aku telisik" kata Adhir.
Tapi Adhir pun juga merasa sangat ngantuk berat. Dia masih berusaha melawan ngantuk nya.
"Nara... maafkan aku, tapi aku sangat ngantuk. Kamu berhati - hati lah." kata Adhir.
"Adhir... Adhir" kataku menggoyangkan badan dia.
Dia pun lalu tertidur pula.
"Hey.. siapa kamu, kenapa kau buat teman - temanku tertidur semua. Apa maksudmu?" kataku
Tiba - tiba seberkas cahaya datang. Aku melihat ada seseorang penuh bercahaya. Ya, kakek jubah putih. Kakek yang pernah menemui ku ketika pertama kali masuk ke Candi Prambanan.
"Ka..Kakek, kenapa kau membuat semua temanku tertidur?" tanyaku
"Cucu ku, keberadaanku harus lah diketahui hanya oleh dirimu dan pangeranmu. Aku datang untuk menjawab kebingungan kalian." kata kakek jubah putih.
"Menjawab kebingungan kami? Maksud mu adalah leluhur Ranghyangta Medang?" tanyaku
Kakek itu pun menganggukan kepala serta tersenyum. Aku sangat seneng sekali. Kakek datang tepat waktu.
Kakek itu lalu menunjukan pada ku sebuah gambaran. Ya di kerajaan yang penuh dengan kemegahan.
"Itu siapa, kakek?" tanyaku
"Itu adalah leluhur Ranghyangta Medang." kata kakek jubah putih.
Ayah Sanjaya ialah Sena/Bratasenawa termasuk raja ketiga Galuh. Sena ialah putra Mandiminyak, raja kedua Galuh (702-709 M). Di masa depan, Sanjaya termasuk penerus kerajaan Galuh yang sah, menyerang dalam Galuh terhadap bantuan Tarusbawa, termasuk dengan raja Sunda. Serangan ini bertujuan sebagai menjatuhkan Purbasora.
Ketika Tarusbawa meninggal pada 723, otoritas Galuh dan Sunda berada di dalam sebuah tangan terhadap Sanjaya. Sunda dan Galuh dapat berkumpul lagi di tangannya. Pada 732 Sanjaya untuk menyerahkan terhadap kekuasaan Sunda-Galuh kepada putranya yang bernama Rakryan Panaraban (Tamperan).
Di wilayah Kalingga, Sanjaya dapat memegang adanya sebuah kekuasaan dengan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian dapat digantikan dengan putranya dari Rakai Panangkaran dan Dewi Sudiwara.
"Itu adalah gambaran awal untuk kamu, cucu ku. Kamu bisa konfirmasi semua nya melalui sebuah naskah." kata kakek.
"Naskah? naskah apa itu kek?" tanyaku
"Kamu akan mendapatkan jawaban besok ketika menyusul para pangeran ke Bhumi Sunda." kata kakek.
"Bhumi Sunda?" tanyaku
Kakek itu hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian kakek langsung menghilang dalam cahaya. Detik itu juga, Denta, Retno, dan Adhir bangun.
"Nara.. apakah kau baik - baik saja?" tanya Adhir.
"Aku baik dan semua nya aman. Aku sudah mendapatkan gambaran awal. Besok kita akan menyusul Satria dan Prasta." kataku
__ADS_1
"Menyusul mereka? menghilang kan?" tanya Denta.
Dia sudah seneng banget, dan mungkin sedang membayangkan enak dan cepat nya menghilang. Tapi jelas saja, aku tidak setuju.
"Enggak, kita akan naik pesawat." kataku
"Yaampun, kenapa sih enggak menghilang saja?" tanya Denta.
"Kalau enggak mau ikut yaudah" kata Retno.
Akhirnya Denta pun mengalah serta setuju untuk ikut ke Jabar. Malam itu juga, Nara menelpon Prasta. Tentu saja memberikan kabar bahwa mereka akan ke Bandung.
"Nara?? seriusan kau bakalan ke sini?" tanya Prasta.
"Iya, bersama Denta, Adhir, dan Retno." kataku
"Lha.. kenapa mereka diajak?" tanya Satria keberatan.
"Kenapa?? Elo enggak suka kita ikut?" tanya Adhir.
Akhirnya setelah sepakat, kami pun istirahat. Agar pagi hari nya fresh. Mama pun tahu, kalau kita akan ke Jabar.
(Jabar).
Satria dan Prasta merasakan sebuah keanehan. Bagaimana tidak, tiba - tiba Nara dan yang lainnya ingin menyusul.
"Apakah ada sesuatu yang terlewatkan?" tanya Prasta
"Entahlah.. tapi, aku juga merasakan hal yang sama. Pasti telah terjadi hal yang tidak enak." kata Satria.
"Pasti ada hubungannya dengan Walaing." kata Prasta.
"Kita harus segera mengakhiri semua ini." kata Satria tertunduk.
Setelah membicarakan itu, tiba - tiba Satria dan Prasta mendapatkan serangan dadakan. Sebuah panah yang berubah menjadi 2 panah. Masing - masing panah itu pun menyasar pada tubuh 2 ksatria itu. Tapi mereka berdua bisa menghindar.
"Kurang ajar, panah siapa ini." kata Satria.
Dalam panah itu pun terdapat sebuah surat. Mereka langsung mendekati dan membuka nya. Betapa terkejutnya mereka ketika membaca surat kiriman itu.
***
Maaf banget baru sempat update.
Banyak hal dan deadline yang harus dikerjakan.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
__ADS_1
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"