
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
"Pangeran siapa namamu? Nama saya adalah Rakyan Wwatan Pu Tamer." katanya
"Pangeran Satria, ayo segera kembali ke Dandaka." kata Senopati
"Pangeraaann." kata Pu Tamer dengan manja.
"Saya akan mengirimkan prajurit untuk mengantar anda kembali ke kerajaan anda." kata Senopati
Pu Tamer dengan rasa dongkol akhirnya menyerah. dalam hatinya "pangeran Satria, aku harus mendapatkanmu."
Senopati pun segera mengirim prajurit terbaiknya untuk mengantarkan Pu Tamer ke kerajaannya. Tapi dia ingin ke Dandaka dan berkilah ingin mengucapkan terimakasih kepada Satria. Semula prajurit menolak, tapi dia terus mendesak. Akhirnya prajurit menyerah.
"Baiklah putri Tamer, kami akan mengantar anda ke Dandaka." kata prajurit
"Terimakasih prajurit." kata nya yang kegirangan
**
Kamarku
Aku masih menangis dengan semua kenyataan. Ternyata di abad ini, aku bukanlah siapa - siapa. Meskipun aku di masa depan adalah reinkarnasi dari putri Pramoddhawarddhani. Tapi hatiku merasa sakit sekali.
Puspa dan Kencana pun keluar dari tubuhku. Begitu melihat mereka, aku langsung memeluk Puspa.
"Tenanglah putri, ini memang menyakitkan. Tapi ketahuilah putri, bahwa sebenarnya kamu dan putri Pramoddhawarddhani itu satu. Tapi karena raga mu yang baru, sehingga kalian seperti dua orang yang berbeda." jelas Puspa
Aku masih memikirkan perkataan Puspa. Siapakah sebenarnya putri Pramodhawarddhani yang dimaksud oleh Adhiraksa dan Puspa. Tiba - tiba aku ingat dengan Adhiraksa. Aku langsung bangkit dari tidur ku.
"Puspa Kencana, apa boleh aku tahu siapa Adhiraksa itu sebenarnya? kenapa dia bisa tahu aku?" tanyaku penasaran.
"Maaf putri, kami belum bisa menjelaskan siapa itu pangeran Adhiraksa." kata Kencana
Aku ingin intrupsi tapi rasanya untuk saat ini aku lebih mementingkan siapakah sosok putri Pramodhawarddhani.
"Puspa, kali ini tolong jawab pertanyaanku. Siapa kau putri Pramodhawarddhani di masa sekarang?" tanyaku
"Dia memang dirimu di masa ini, putri. Tapi karena kau di masa depan kembali ke masa lalu. Maka semuanya menjadi seperti ini." kata Puspa
"Kau sudah bertemu dengan dirinya, putri." kata Kencana.
"Siapa? kapan?" tanyaku
Puspa dan Kencana kemudian membawaku ke sebuah tempat. Entah tempat macam ini. Seperti goa pertapaan.
"Goa?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Di sini lah putri Pramodhawarddhani bertapa. Selama dia bertapa, engkau hadir sebagai orang lain." kata Puspa
"Jadi kekacauan ini terjadi karena aku?" tanyaku
"Bukan begitu maksudku, putri." kata Puspa
Aku tak memperdulikan perkataan Puspa. Aku kemudian berjalan masuk ke goa pertapa. Tujuanku cuma satu yaitu bertemu dengan aku di masa ini yang sesungguhnya.
Ya, goa pertapaan yang indah. Goa yang di dalamnya sangat wangi karena aroma cendana. Selain itu juga terdapat beranekaragam bunga yang masih segar.
Hingga aku sampai di sebuah pintu goa yang di hias dengan kala makara. Hatiku berdetak kencang. Aku di masa kini seperti apa. Tak lama, aku menjumpai seorang wanita yang menggunakan pakaian serba putih.
"Selamat datang diriku di masa depan." katanya lembut
Aku kaget karena dia tahu, kalau aku akan datang. Aku hanya tersenyum kecil. Karena penasaran siapa sosok itu sebenarnya.
"Hai diriku di masa kini. Bolehkah aku melihat rupa mu yang cantik?" tanyaku
"Tentu" katanya singkat
Dia kemudian perlahan menoleh ke belakang. Jantungku sudah berdetak tak karuan. Wajah yang masih bercahaya itu tiba - tiba menampakan dirinya dengan jelas.
"Kau?" kataku heran
"Halo diriku di masa depan." katanya
Aku masih tidak percaya bahwa sosok yang aku kenal adalah diriku di masa kini. Pantas saja, sejak pertama kali kami ketemu. Ada rada getar aneh yang aku rasakan. Ternyata sosok itu, adalah sosok yang selama ini dekat denganku.
"Putri Sanjiwani?" tanyaku
Rakyan Sanjiwani dalam prasasti masa Balitung disebutkan sebagai nini haji. Kata tersebut berarti adalah nenek raja. Rakyan Sanjiwani nantinya akan membangun sebuah percandian yang disebut dengan Sanjiwana Grha atau sekarang dikenal dengan nama Candi Sojiwan.
"Jadi, selama ini?" tanyaku bingung harus berkata apa.
"Aku kembali dari pertapaanku, putri. Tapi semuanya berubah, karena diriku di masa depan kembali ke masa lalu." katanya sedih
Aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. Bahkan aku tidak tahu, harus bagaimana. Kalaupun aku kembali ke masa depan, gimana caranya. Resi Narada berkata, bahwa pintu ku adalah siwa Grha. Akan tetapi bangunan tersebut belum dibangun oleh Rakai Pikatan.
"Putri Sanjiwani, maafkan aku." kataku Tak tertahankan. Seketika itu air mataku mengalir deras.
Dia pun langsung memelukku dengan penuh cinta.
"Putri, aku akan menetap di Dandaka. Gantikan diriku, putri." kataku
"Tidak semudah itu putri, selama aku pergi. Mereka telah sudah memilihmu sebagai penggantiku. Jadi, kau tetaplah ada di istana." katanya
"Lalu dirimu?" tanyaku
"Aku akan tinggal disini sampai kau bisa kembali ke masa depan." katanya
Tapi aku tahu, ada rasa kecewa dan sedih di hatinya. Aku tahu dia sangat kangen dan rindu keluarganya. Dia juga pasti sangat rindu dengan Satria. Aku pun langsung terduduk lemas. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Putri, kembalilah ke istana Medang sekarang." katanya
__ADS_1
"Tidak putri, aku belum berhak ke sana. Aku yang sekarang bukanlah dirimu saat ini." kataku
Kami berdua lalu menangis bersamaan. Kami juga bingung apa yang harus dilakukan. Aku tidak mungkin menikah dengan Satria. Aku tidak mau menyakiti diriku di masa kini.
"Putri kembalilah ke istana." katanya
"Tapi Adhiraksa." kataku lirih
"Aku yang akan menjelaskan padanya, putri. Kembalilah sekarang." katanya
Tapi tetap saja, aku merasa bahwa semua ini akan berakhir jika aku kembali.
"Putri, aku pergi dulu ya." kataku
"Mau kemana?" tanyanya
"Ada hal yang harus aku selesaikan." kataku
Aku langsung lari dan segera menemui Puspa dan Kencana. Aku meminta mereka untuk membawaku ke sebuah tempat yang jauh.
"Puspa, Kencana bawa aku pergi dari sini." kataku
"Kemana putri?" tanya Puspa
"Hilangkan aku dulu dari sini, nanti aku kasih tahu setelah kita jauh dari tempat ini." kataku
Sebelum aku menghilang, Rakyan Sanjiwani berlari dari dalam goa. Dia ingin mencegahku, tapi Aku meminta kepada 2 sahabatku untuk segera membawa pergi.
"Ayo sekarang, sebelum Sanjiwani mengejar kita." kataku
"Baik putri." kata Kencana
Mereka berdua kemudian memegang lenganku. Aku masih mendengar dari atas, kalau Sanjiwani memanggil - manggil namaku. Aku sedih dan sangat sedih. Hingga di lapisan langit ke tujuh. Puspa dan Kencana mengajakku untuk beristirahat di atas awan.
"Putri, katakan pada kami, kamu mau diantarkan kemana?" tanya Puspa
"Apa kalau aku menyebutkan suatu tempat kalian akan mengantarkanku?" tanyaku
"Kami akan ikuti kemanapun putri pergi. Kami tidak akan pernah meninggalkan putri." katanya
Aku kemudian tersenyum dan langsung memeluk Puspa.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe
Maaf ya telat update baru pulang dari Semarang nie. Belum istirahat langsung ngetik. Jadi Aku mohon jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya..
next :
Kemanakah putri Nararia akan pergi?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya ya.
__ADS_1
With Love
Citralekha