Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Taman Puspa Dharma


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa like, Vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Malam yang penuh kebahagiaan. Aku bertemu dengan orang tuaku di abad - 9. Tapi pertemuan itu sedikit formal, karena mengingat status mereka sebagai raja dan ratu.


"Apa kamu bahagia, sayang?" tanya Rakai


"Iya, tapi aku kangen dengan orang tuaku di abad 21, kak." kataku


"Sabarlah Nararia, kamu pasti akan segera bertemu dengan orang tuamu di abad 21." kata Pasopati


"So, mamaku di abad 21 ada di sini." bisikku pada Pasopati.


Ia kemudian terbelalak begitu mendengar perkataanku. Aku menjelaskan dan menunjuk pada salah satu ibu paruh baya yang duduk di sisi sebelah kananku.


"Apa kau yakin itu ibumu?" tanya Pasopati.


"Aku yakin, So. Aku mau memeluknya, aku kangen." kataku


Pasopati diam sejenak. Sepertinya ia memikirkan suatu cara agar aku bisa menemui ibu itu.


"Ra, aku akan cari informasi dulu dia siapa." kata Pasopati


"Makasih, So." bisikku


Widasari dan Satria pun melihat tingkah kami ber dua. Mereka berdua sepertinya curiga dengan tingkah kami. Soalnya kami hanya bisik - bisik. Terlihat Widasari agak cemburu padaku.


"Kalian kenapa bisik - bisik?" tanya Satria.


"Ada deh, kepooo." kataku. Aku kemudian tertawa.


"Hahahahha" tawa Pasopati.


Satria tidak terima dengan ejekan Pasopati. Ku dengar Satria memberikan peringatan pada Pasopati.


"So, dia milikku ... sebentar lagi kami akan menikah." kata Satria.


"Aku juga seorang pangeran. Aku juga pantas mendampinginya." bisik Pasopati.


"Kaauuu!!!" bentak Satria.


Suara Satria menarik perhatian orang - orang. Semua mata tertuju pada Satria.


"Kenapa pangeran?" tanya ibuku.


"Tidak apa - apa kanjeng ibu." kata Satria.


"Kenapa teriak pangeran?" tanya ayahku


"Aku tergigit semut ayah, ibu." kata Satria.


Aku dan Pasopati kemudian tersenyum dan melirik kepada ayah dan ibuku. Tak berapa lama pertunjukan musik dan tarian muncul. Penari sangat lemah gemulai dan terdengar seorang mengidung.


"Itu lagu apa?" tanyaku


"Wiracarita Kicaka." sahut Pasopati.


"So, kan aku yang di tanya bukan kamu." bentak Satria.


"Emang Nararia nyebut namamu?" goda Pasopati.


Aku melihat Widasari sangat tidak suka pada mereka berdua. Aku kemudian mendekati Widasari yang terlihat gelisah.


"Tenang putri Widasari, jangan cemburu. Aku hanya menganggap Pasopati sebagai sahabat dan kakak saja kok." kataku


"Tapi kalian sangat akrab sekali." kata Widasari sambil menunduk.


"So, kamu mau melakukan permintaanku?" tanyaku

__ADS_1


"Boleh, apaan?" tanya Pasopati


"Ajak putri Widasari jalan - jalan besok ya." kataku


Pasopati hanya mengangguk kepala sebagai tanda persetujuan. Aku lihat Widasari sangat senang dan tersipu malu.


"Dandan yang cantik ya." godaku


"Aaah kakak, aku jadi malu." katanya


Aku kemudian kembali ke posisi duduk semula. Ibuku memperhatikan tingkahku


"Ada apa sayang?" tanya ibuku


"Tidak apa - apa ibuku sayang." kataku


Aku kembali memperhatikan kesenian dan sajian makanan. Terlihat dayang sibuk keluar masuk membawa makanan. Aku mengambil beberapa buah dan minuman sari tebu.


"Kamu suka Nararia?" tanya Satria.


"Pertanyaan yang aneh, jelas - jelas dia menyukainya." kata Pasopati


"Hahahaha" tawa putri Widasari.


"Apaan sih loe" sanggah Satria.


Ibuku ternyata memperhatikan tingkah kami. Ibuku bilang padaku kalau kangen banget. Tapi aku bingung kenapa aku bisa menghilang.


'Kamu pada mulanya menolak perjodohan dengan Rakai.' bisik Kencana


'Kamu kemudian kabur dari istana.' tambah Puspa.


'Lalu dimana Rakyan yang asli?' tanyaku.


'Dia sedang bertapa dan akan kembali setelah kamu kembali ke masa depan.' kata Kencana.


Aku paham sekarang, kenapa mereka sangat merindukanku. Jadi kalau aku kembali ke masa depan sesudah Candi Prambanan di bangun mereka tidak akan curiga.


"Kamu ini sangat cerewet ya." goda Pasopati.


Ia kemudian minta izin kepada hadirin untuk keluar sebentar. Ia juga tersenyum dan menaikan alis sebagai tanda semuanya akan beres.


Pesta malam ini sangat melelahkan. Para tamu istirahat di kamar yang sudah disediakan. Aku juga kembali ke kamarku. Tapi aku tidak masuk kamar. Aku masih menunggu Pasopati.


"Kenapa kamu tidak istirahat putri?" tanya Widasari.


"Aku menunggu Pasopati." kataku


"Hah?" ucap Widasari kaget.


"Putri kamu jangan salah paham. Aku janjian dengan Pasopati karena ia ingin curhat padaku tentang memperlakukan wanita. Besok kan kalian akan kencan." kataku


Widasari percaya dengan omonganku. Dia terlihat tersenyum dan tersipu. Aku kemudian menyuruh Widasari untuk istirahat duluan. Aku nggak mau ia mendengar rencanaku. Aku juga terpaksa berbohong padanya.


"Putri Widasari sebaiknya kau istirahat. Kalau dia melihatmu ada di sini pasti dia tidak akan cerita." kataku


"Baiklah Rakyan, aku akan duluan. Aku percaya padamu." kata Widasari.


Ia masuk ke bilik kamarnya. Ia juga sesekali menengok ke arahku. Aku membalas dengan senyuman.


"Fyuh akhirnya dia pergi." gumamku


Tak berapa lama Pasopati datang. Aku sudah tidak sabar menunggu kabar baik darinya. Aku berlari ke arahnya.


"Gimana, So?" tanyaku


"Apanya?" tanyanya


"Jangan bercanda deh, dapat nggak informasinya?" tanyaku


"Bayaran apa yang akan aku terima?" tanyanya.


Aku bingung dengan perkataannya. Bayaran apa yang dia maksud. Apakah dia meminta emas atau berlian. Orang tuaku memang kaya, tapi aku tidak mungkin meminta emas padanya.

__ADS_1


"Aku nggak punya uang emas." kataku


"Aku nggak butuh uangmu." katanya


Aku bingung dengan maksud Pasopati. Dia bilang tidak butuh uangku tapi dia minta upah.


"Lantas?" tanyaku


"Aku ingin mencubit pipimu." kata Pasopati


Aku sangat kaget dan mengejarnya. Dia berlari sampai ke taman belakang istana. Taman ini begitu indah. Terdapat beberapa pendopo, air mancur, dan berbagai jenis tanaman bunga.


"Ini taman istana kah?" tanyaku


"Iya, namanya taman Puspa Dharma." kata Pasopati.


Aku melihat sekeliling taman itu. Lampunya menyala sangat indah. Air taman sangat indah terkena pantulan cahaya bulan.


"So, dapat nggak?" tanyaku


"Apa sih yang tidak bisa ku dapatkan." kata Pasopati sombong.


"Siapa dia?" tanyaku penasaran.


"Namanya ratu Dharmakrtti. Ia dari kerajaan Randu Sari." kata Pasopati.


Aku senang sekali, karena Pasopati mendapatkan informasi yang kuinginkan.


"Apa aku bisa menemuinya?" tanyaku


"Tentu saja." kata Pasopati


"Dimana? katakan, So." tanyaku nggak sabar.


"Di sini, di taman ini besok siang." kata Pasopati.


Aku bahagia sekali. Pasopati bisa diandalkan. Aku akhirnya bisa bertemu dengan mamaku di sini.


"So, apa hubungan dia dengan istana Medang?" tanyaku


"Randusari adalah salah satu kerajaan bawahan Mataram. Ia tidak memiliki anak, karena anaknya meninggal ketika ikut perang melawan ayahmu." kata Pasopati


Aku menangis mendengar hal itu. Ibu Dharmakrrti pasti sedih dan kesepian. Tapi aku paham pada masa ini perang adalah hal yang lazim.


"Suaminya?" tanyaku


"Suaminya bernama Raja Kerti Bangun. Ia juga ada di sini." kata Pasopati


"Tapi kamu harus berhati - hati. Sepertinya Raja Kerti Bangun masih menyimpan dendam. Tapi kamu tenang saja, besok yang akan menemuimu adalah Dewi Kerrti Dharma." terang Pasopati.


Aku sudah tidak sabar menunggu esok hari. Aku hanya ingin memeluk sebagai tanda kangenku pada mamaku.


Satria tiba - tiba muncul diantara kami.


"Apa yang kalian lakukan berduaan di sini?" tanya Satria tidak suka.


"Aku sedang menikmati udara malam." kataku


"Kenapa tidak memanggilku?" tanya Satria


"Dia butuh aku dan tidak butuh kamu, hahaha." ejek Pasopati.


"Bener - bener ya So, ngelonjak kamu." gertak Satria.


Aku kemudian melerai mereka berdua. Aku nggak mau mereka sampai berantem. Intinya malam ini aku bahagia dan sudah tidak sabar menanti hari esok.


**


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya.


With love


Citralekha.

__ADS_1


__ADS_2