Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Serangan Dini Hari


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Malam yang mencekam membuat kami semua bersiaga. Hanya Widasari yang masih tertidur pulas. Aku menjadi lebih peka karena kehadiran Kencana dan Puspa yang ada di dalam tubuhku


"Aku merasakan tidak beres dengan suasana malam ini." kata Pasopati


"Iya betul, kita harus berjaga. Sayang kembalilah ke tenda. Aku tidak mau kau terluka." perintah Satria


"Tidak, aku akan membantu kalian." kataku


Satria terus saja memaksaku agar aku masuk ke tenda. Aku menjelaskan ke dia kalau aku akan baik - baik saja. Pasopati juga membantu menjelaskan pada Satria tentang aku.


"Baiklah tapi jangan jauh - jauh dariku." kata Satria


Sais kereta pun masuk ke tenda Widasari. Aku memerintahkan pada mereka untuk menjaganya di dalam tenda.


Angin semakin kencang dan suara deru dari butho terdengar di telingaku


"Hei siapa yang memasang pagar ghaib?" tanya Satria


Aku melirik pada Pasopati, dia pun mengerti akan lirikan yang aku berikan.


"Aku, Ya yang masang nya." kata Pasopati


"Sejak kapan kau memiliki kesaktian seperti ini?" tanya Satria


"Masa iya aku harus selalu laporan ke kamu, hehehe." kata Pasopati


"Tapi ini pagar ghaib tingkat tinggi, dari mana kau mendapatkannya?" tanya Satria


Aku melerai perdebatan mereka. Aku meminta agar mereka fokus pada serangan yang mungkin terjadi. Belum sempat aku selesai berkata prajurit butho merah telah berdatangan.


Suara tawa yang menyeramkan semakin membuat siapapun yang mendengar akan ketakutan. Wujud mereka sangat seram. Jin, gendruwo, kuntilanak, semua para setan muncul.


"Jangan ada yang bergerak, kita perkuat saja pagar ghaib nya." kata ku


Sais membuka tirai tenda dan begitu melihat pasukan butho merah, mereka ketakutan.


"Cepat masuk!" perintahku


"Ba ... baik putri." katanya gemetaran


"Tetap berada di dekatku." kata Satria


Satria maju ke depanku, ia berusaha melindungi dan memperkuat pagar yang di buat oleh Kencana.


Pasukan butho merah tidak ada satu pun yang berhasil menembus pagar ghaib kami. Satria dan Pasopati memperkuat dengan ajian mereka.


"Ken, aku khawatir butho akan bisa menembus benteng pertahanan kita" bisikku


'Tidak Ra, mereka tidak akan bisa masuk. Aku jamin, terlebih dengan kesaktian yang ditambahkan oleh Satria dan Pasopati.' kata Kencana


'Aku akan keluar dan masuk ke dalam tubuh Widasari.' kata Puspa


Tak berapa lama Puspa keluar dari tubuhku dan masuk ke tubuh Widasari.


"Kenapa kau keluar Widasari?" tanya Pasopati


"Ini terlalu berbahaya untukmu." kata Satria


"Jangan meremehkan kekuatan wanita jika sedang marah." kataku

__ADS_1


Aku dan Widasari akan menjadi pasangan yang hebat, karena di dalam tubuh kami ada Kencana dan Puspa. Tiba - tiba muncullah senopati dari butho merah. Mereka akan menghancurkan pagar gaib itu.


"Apa yang terjadi?" tanyaku


"Pagar nya menipis." kata Widasari


"Ayo satukan kekuatan kita." kataku


Aku dan Widasari mengeluarkan ajian Bayu Jagad. Angin kencang sebagai balasan ke butho membuat pertahanan mereka goyah. Satria dan Pasopati memandang kami berdua dengan takjub. Akan tetapi pasukan butho mendapatkan bala bantuan dari butho sakti lainnya.


"Hebat, dari mana mereka mendapatkan ajian itu?" tanya Satria


"Bukan saatnya untuk bertanya, ayo giliran kita menghajar mereka." kata Pasopati


Satria dan Pasopati maju ke depan dan menghajar para prajurit butho. Aku dan Widasari juga tidak mau kalah. Aku berhadapan dengan patih butho, sedangkan Widasari dengan senopati butho. Nampaknya Satria dan Pasopati mencemaskan kami ber dua.


"So, bagaimana mungkin mereka bisa menang melawan pimpinan pasukan butho ini?" tanya Satria


"Percaya pada mereka." kata Pasopati


"Baiklah ... Ayo kita segera habiskan demit ini." kata Satria


Kekuatan dari senopati dan patih tidak bisa dianggap enteng. Kami beberapa kali beradu kesaktian dan pedang. Akan tetapi pedang kami tidak mempan pada tubuh butho. Mereka adalah makhluk astral yang tidak tertembus dengan pedang biasa.


"Puspa, ada rencana?" tanyaku


Belum sempat Puspa menjawab, patih terus menghajarku.


"Sial, kalau begini terus aku bisa kehabisan tenaga." gumamku


"Hahahahha ... kau tidak akan mampu membunuh kami." kata patih.


"Rara, ingatlah dengan cara apa kau menghancurkan raja butho, kemarin?" tanya Puspa.


Aku berusaha mengingat sembari melawan kesaktian patih yang lebih sakti dari raja butho kemarin.


"Kencana ada rencana?" tanyaku


Sementara itu Satria dan Pasopati terus disibukan dengan prajurit butho yang seakan tidak ada habisnya.


'Rara keluarkan panah panca teratai emas' saran Kencana


"Senjata macam apa itu?" tanyaku bingung.


"Aku tahu, kau harus menggabungkan antara panah pancaroba dengan teratai emas." kata Puspa


"Gimana caranya?" tanyaku


Senopati dan Patih butho terkejut ketika mendengar senjata tersebut.


"Dari mana kalian mendapatkan senjata sakti itu?" tanya patih butho


"Siapa kalian?" tanya Senopati butho


Aku ingin sekali segera mengalahkan mereka. Tapi aku tidak tahu caranya menggabungkan dua pusaka itu.


"Rara cepat gabungkan dua pusaka itu." kata Puspa


"Aku tidak tahu caranya." kataku


"Hahahahha ... kalau begitu matilah kalian berdua." kata Patih.


Patih dan Senopati menggabungkan diri dan berubah menjadi raksasa yang mengerikan. Nafasnya yang panas bisa membakar apapun di sekitar kami.


"So, demit ini kapan habisnya?" tanya Satria.


"Keluarkan kesaktian kita." kata Pasopati

__ADS_1


"Aku khawatir dengan dua wanita kita." tanya Satria


Mereka telah melihat perubahan wujud senopati dan patih menjadi raksasa yang mengerikan. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.


"Puspa, Kencana kalian tahan butho itu. Aku akan berusaha menggabungkan dua pusaka ini." usulku


Kencana keluar dari dalam tubuhku. Aku kemudian duduk dan memejamkan mata. Aku memanggil dua pusaka itu keluar dari tubuhku.


'Lepaskan kalung saktimu. Maka kami akan bisa menyatu.' kata suara dari teratai emas.


Aku kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh dua pusaka itu. Seberkas cahaya menyilaukann mata keluar dari kalung saktiku. Tak berapa lama dua pusaka itu menjadi satu. Panah Pancaroba mata teratai emas.


"Ini senjata yang hebat." gumamku


Aku merasakan kehebatan dari tiga pusakaku itu. Tanganku sudah memegang pusaka itu dan bersiap untuk melepaskannya.


"Butho ... Akan ku hancurkan kau." teriakku


Butho mengerikan itu melirik ke arahku. Ia melihat adanya panah pusaka sakti itu. Demikian dengan Satria dan Pasopati merasa takjub dengan pusaka yang aku miliki.


"Kau siapa?" tanya butho


"Aku Nararia yang akan menghancurkan kesombongan dan keangkuhanmu." kataku


Aku sudah bersiap merentangkan busur dan akan melepaskan panah sakti. Blaaasssh... Panah telah meluncur dari busur.


Duuuuaaaaarrrrr ...


Suara ledakan yang yang sangat memekik telinga. Hilang sudah semua prajurit butho yang melawan Satria dan Pasopati.


Satria, Widasari, dan Pasopati kemudian mendekatiku. Tak berapa lama muncullah dua orang pertapa.


"Terimakasih tuan putri. Anda telah membebaskan kami dari kutukan dewa." kata pertapa


"Siapakah paduka ini?" tanyaku


"Nama saya resi Puteswara dan Dharmaswara. Kami melakukan kesalahan, sehingga dewa murka pada kami. Kami akan terbebas apabila sudah terkena pusaka gabungan yang dilepaskan oleh seorang putri yang akan melahirkan keturunan hebat di tanah Jawa." kata Resi Puteswara


Kami kemudian mengucapkan sembah kepada mereka berdua sebagai wujud penghormatan terhadap pada rsi. Mereka kemudian pamit dan menghilang.


"Kau siapa?" tanya Satria.


"Apa maksudmu, kak?" tanyaku


"Kenapa kau mempunyai pusaka dewa?" tanya Satria.


"Aku juga tidak tahu." kataku


Satria mencengkeram bahuku dengan kuat. Melihatku diperlakukan seperti itu Kencana keluar dari tubuhku dalam bentuk sinar.


"Pangeran ... Aku lah yang meminjam badan kasar Nararia. Aku Pangeran Kencana dari Kaindran." kata Kencana


Satria dan Pasopati kemudian melakukan sembah begitu tahu sinar itu siapa.


"Nararia dan Widasari menjadi hebat karena kami berdua. Kami akan keluar dan kembali ke Kaindran karena tugas kami sudah selesai. Jagalah dia." pesan Kencana.


Aku heran dengan perkataan Kencana. apakah dia akan meninggalkan ku. Puspa pun juga keluar dari tubuh Widasari dan seketika itu Widasari pingsan. Mereka menghilang dalam sekejab


Aku merasa sedih dengan kepergian dua sahabatku itu


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.


with love


citralekha

__ADS_1


__ADS_2