
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, hayooo..jangan lupa vote nya lho*
***
"Maaf ya, hanya ini yang kami punya. Tapi ini kan asrama TNI. Bagaimana kamu bisa kesasar ke sini? Kemudian bagaimana kamu melewati pos penjagaan yang begitu ketat? Maaf, dengan penampilan mu yang seperti ini. Bagaimana kamu bisa lolos dan masuk ke rumah dinas kami?" tanya Ivan.
Wanita pun kemudian kaget. Dia tidak menyangka bahwa lelaki itu curiga dengannya.
"Saya ... saya ... saya " katanya gugup
"Sudahlah, aku tahu kamu itu kalau tidak Tamara ya Aura." kata Dika.
Wanita itu langsung berdiri dan langsung menghampiri Ivan. Dia langsung mencekik Ivan sekuat tenaga. Serta mengangkat tubuh Ivan.
"Menyerahlah kalian berdua, atau Ivan akan mati ditanganku." ancam Aura.
Kini wanita tadi sudah berubah kedalam wujud aslinya. Ivan pun berusaha melepaskan cengkeraman tangan Aura pada lehernya. Melihat hal itu, Dika menjadi geram dan ingin menyerang.
"Stoop!! Atau Ivan akan mati. Bergerak selangkah saja. Maka aku akan mengalirkan ajianku yang mematikan." ancam Aura penuh kemenangan.
"Pangeran tengik, kemana kau. Tidakkah kau lihat bagaimana tersiksanya Ivan?" batin Dika.
Adhiraksa pun senang karena dirinya dipanggil. Tapi sebelum dia menampakan tubuhnya. Sudah dicegah oleh Senopati Dandaka.
"Tetap disini dan jangan menampakan wajahmu. Aku yang akan menyelesaikan." kata Senopati.
Adhiraksa pun kemudian tersenyum dan mempersilahkan Senopati pergi. Setelah itu Senopati langsung menyambar tangan Aura.
"Aaaaawwww..panas sekali. Kurang ajar, ada mahkluk yang berbuat curang." teriak Aura.
Ivan pun langsung diselamatkan Senopati. Dia lalu terbatuk- batuk akibat cekikan itu.
"Terimakasih Senopati." kata Ivan.
Kesempatan itu tak disia - siakan oleh Dika. Secepatnya dia mengeluarkan ajian tangan dewa. Sebuah pukulan keras yang dapat melumpuhkan tenaga dalam musuh. Aura dalam keadaan tidak siap. Sehingga dengan mudah dia dapat dikalahkan oleh Dika.
"Kini kau yang akan menjadi tawanan kami." kata Dika.
Tapi bukan Aura namanya jika dia tidak mempunyai rencana licik. Dia pun segera meminta tolong.
"Tolong ... tolong...tolong" teriak Aura.
Adhiraksa yang mengetahui hal itu langsung menyembunyikan tubuh Aura. Agar tidak terlihat oleh prajurit jaga. Para TN Jerman pun mencari sumber suara itu. Tapi ketika sampai di rumah dinas Ivan Dika. Tak ada suara apapun.
"Maaf, apakah kalian mendengar suara wanita meminta tolong?" tanya prajurit TN Jerman
"Dari tadi kami tidak mendengarnya. Jangan - jangan asrama ini seram." kata Dika berusaha menyakinkan temannya itu.
Aura merasa heran, soalnya para tentara itu tidak melihat dirinya. Padahal Aura tepat berada di depan mereka.
"Hey apa yang terjadi? Kenapa mereka tidak melihatku." kata Aura.
Senopati Dandaka pun tertawa mengetahui hal itu. Dia tahu bahwa ketidaknampakan Aura karena Adhiraksa.
"Kau licik Aura, tapi ada pangeran yang lebih cerdik dari kau." kata Senopati.
"Kau akan menjadi tawanan kami" kata Dika.
Segera Dika berjalan menuju arah Aura. Tapi sayangnya, Aura mengeluarkan abu muslihat. Sehingga Dika terkena sebaran abu yang menyebabkan Dia tidak fokus.
"Aaaah sakiit mataku" teriak Dika.
Ketika abu itu hilang kabutnya. Ternyata Aura sudah menghilang.
"Dasar wanita licik" gumam Senopati.
Dika pun masih terhuyung akibat abu itu. Dia terus mengerang kesakitan. Adhiraksa pun lalu muncul dan menolong Dika.
"Abu muslihat." gumam Adhiraksa.
"Gawat pangeran, abu ini dapat menyebabkan kebutaan. Kita harus segera mengeluarkan abu ini dari mata Ardika." kata Senopati
__ADS_1
"Lalu apa penawar nya?" tanya Ivan.
Dia sangat khawatir dengan keadaan Dika. Adhiraksa pun lalu membuat Dika pingsan. Dia tidak tega melihat Dika mengerang kesakitan.
"Air dari teratai emas adalah penawar nya." kata Senopati.
"Kalau begitu, aku akan menemui putri Nararia." kata Adhiraksa.
Setelah semua sepakat, Adhiraksa pun hendak pergi. Tapi sebelum dia menghilang. Puspa datang dengan membawa sebuah kendi perunggu.
"Dewi Puspasari" sapa mereka bertiga.
"Pangeran Adhiraksa tidak perlu ke Indonesia. Saya sudah membawakan obat penawar buat Ardika Pradnyawan." kata Puspa.
Mereka bertiga pun tersenyum. Ternyata tidak perlu menembus ruang dan waktu. Segera, air kendi tersebut akan dipakai untuk mengompres mata Dika. Tapi, sebelum itu, selembar kain telah merampas kendi itu. Tentu saja hal itu membuat mereka geram.
"Hahahaha... tidak semudah itu ferguso" kata seorang Denawa wanita.
"Kurang ajar, Denawa itu akan membawa kabur air teratai emas." kata Senopati.
Adhiraksa pun segera mengejar Denawa itu. Secepatnya Denawa kabur dan menghilang. Tapi bukan Adhiraksa jika membiarkan buronan pergi.
"Apa yang akan terjadi, dewi?" tanya Ivan.
"Ardika harus segera mendapatkan air itu sebelum matahari tenggelam." kata Puspa.
"Kenapa tidak kembali ke Indonesia dan mengambil air itu lagi?" tanya Ivan.
"Tidak Ivan, air teratai emas hanya bisa digunakan sekali dalam sehari." kata Senopati.
Ivan pun menjadi panik, artinya jika dalam waktu 2 jam. Ardika dalam keadaan bahaya.
"Jika lewat matahari tenggelam apa yang akan terjadi, dewi?" tanya Ivan.
"Dika akan buta selamanya" kata Puspa.
"Kurang ajar wanita licik itu. Aku tidak akan memaafkanmu." geram Ivan.
*
Kini Adhiraksa sedang mengejar Denawa itu. Sekuat tenaga Denawa berusaha kabur dan lari. Tapi ketika hendak mencapai tujuannya. Ada beberapa Denawa hang menghadang Adhiraksa.
"Keparat, licik sekali Denawa itu." gumam Adhiraksa.
"Astaga mereka adalah prajurit Candrabhairawa." kata Adhiraksa.
Segera Adhiraksa memanggil prajurit Cakrabuana. Maka sekarang terjadi pertempuran antara Denawa Candrabhairawa dan Cakrabuana. Adhiraksa kembali mengejar Denawa pembawa kendi itu.
"Ternyata pangeran itu adalah pangeran dari utara Jawa. Apa?? dari utara Jawa?? Apakah dia??" tanya Denawa itu terkejut.
Tapi akibat dari ketidakfokusan Denawa itu. Membuatnya tertabrak mega mendung. Kendi itu pun terlepas dari genggaman tangan Denawa. Kesempatan itu tak disia - siakan oleh Adhiraksa. Secepatnya dia menggunakan tali kasta untuk menarik kendi itu.
"Dapat...tunggu Dika, kamu akan sembuh" kata Adhiraksa.
Secepatnya Adhiraksa kembali. Tapi sayangnya, dia sudah dihadang oleh Aura dan pasukannya.
"Siapa kau?? berikan kendi itu pada ku" perintah Aura.
"Dasar wanita licik, menyingkirlah. Aku tidak punya waktu meladenimu." kata Adhiraksa.
"Hahahah... kalau begitu, aku yang akan terlebih dahulu menyerangmu" kata Aura.
Secepatnya, Aura menyerang Adhiraksa. Tapi Adhir mendapatkan pendengaran gaib. Jika dia harus segera menolong Dika.
"Sial, bagaimana ini" batin Adhiraksa.
"Jangan masalah pangeran, serahkan wanita itu padaku. Segera kembali dan selamatkan Dika" kata Senopati.
"Senopati kau datang di waktu yang tepat." kata Adhiraksa berbinar.
Secepatnya Adhiraksa menghilang dari pandangan Aura.
"Pangeran? pangeran siapa? apakah dia?" batin Aura.
Belum sempat dia menemukan jawaban. Senopati telah mengikat Aura dengan menggunakan jerat hijau Dandaka.
"Licik kau senopati!!" teriak Aura.
"Licik dibalas dengan kecerdikan. Sekarang akan aku kirim kau ke penjara ilusi Hutan Dandaka." kata Senopati.
"Tidaaaak" teriak Aura
Tapi sebelum Senopati mengirim Aura. Tamara telah menyambar dan menyelamatkan Aura.
__ADS_1
"Dasar wanita licik" kata Senopati.
Senopati pun segera menghilang dan kembali untuk menolong Dika.
"Adhiraksa untung kau segera kembali" kata Ivan.
Tanpa menunggu waktu lama, Adhiraksa langsung meneteskan air itu kepada mata Dika. Beberapa saat kemudian Dika terbangun dan membuka matanya.
"Dika" teriak Ivan
"Apa yang terjadi?" tanya Dika
"Elo hampir buta jika tidak Gue selamatkan. Buruan ucapin makasih ke Gue." kata Adhiraksa.
Dika pun melirik pada yang lain. Semuanya menganggukan kepala. Lalu Dika bangun dan menghampiri Adhiraksa.
"Pangeran tengik,. eh maksudnya pangeran Adhiraksa terimakasih ya kau telah menyelamatkan aku." kata Dika.
"Jangan GR lho,. Elo harus membalas kebaikan gue." kata Adhiraksa.
"Baiklah asalkan kau tidak meminta aku menyerahkan Nararia saja." kata Dika.
"Elooo! tahu gitu, nggak bakalan gue sembuhin. Biar Elo buta seumur hidup" teriak Adhiraksa.
Dika pun senang mengoda Adhiraksa. Tapi pada akhirnya Dika memeluk Adhiraksa.
"Makasih ya" kata Dika.
"Sama-sama, kita berjuang bersama. Perjalanan masih panjang." kata Adhiraksa.
Semuanya pun merasa terharu, bahwa mereka berdua setidaknya bisa akur.
*
Aku pun sekarang hendak kembali ke Yogyakarta. Dengan menggunakan penerbangan siang. Aku bergegas ke Bandara. Tetap saja, Kencana selalu bersamaku.
Ketika sampai di bandara Soetta. Aku langsung check in. Tapi sial, ketika mengambil KTP. ID card ku terjatuh. Tanganku yang membawa tas kecil dan laptop pun agak kesusahan.
Tiba - tiba ada seseorang yang mengambilkan KTP ku
"Terimaka..." kataku
Astaga,. Lelaki itu tampan sekali. Bener - bener tampan dan manis. Senyumnya sangat indah.
"Hati - hati" kata nya
Sih, suaranya sangat merdu.
Setelah drama itu pun aku menyelesaikan check in dan masuk ruang tunggu. Ternyata lelaki itu juga mau ke Yogya.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya nya
Aku pun hanya tersenyum dan mempersilahkan dia duduk di sampingku. Duh... agak tidak konsen ni aku. Dia juga memberikanku juice jambu.
"Heh" kataku kaget.
"It is for you" katanya sambil menyodorkan cup juice itu.
Awalnya aku ragu, tapi tidak baik kan menolak kebaikan seseorang.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next:
Kira-kira siapa ya lelaki itu?
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1