
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*
***
"Lalu apa yang akan raja lakukan?" tanya Patih.
"Aku sudah mempersiapkan rencana yang luar biasa, hahaha" kata Dipta
"Anda sangat licik Maharaja. Jadi anda selama ini hanya membuat putri Nara senang?" tanya Patih.
"Tentu saja kelinci nakal itu harus diberi sedikit pelajaran." kata Dipta.
Senopati baru pun lalu menghadap Dipta. Dia ingin melaporkan perkembangan di pintu gerbang timur.
"Ampuni saya, Maharaja. Para pangeran telah menghabisi para prajurit. Selanjutnya, apa yang harus kami perbuat raja?" tanya Senopati.
"Biarkan mereka masuk, jangan halangi mereka. Aku mempunyai pertunjukan yang bagus." titah Maharaja
"Baik raja, kami permisi dulu" kata Senopati.
Dipta pun lalu tertawa puas. Dia yakin bahwa rencananya akan berhasil. Dia telah menyusunnya dengan sempurna.
"Lihatlah apa yang akan aku berikan pada kalian para Ksatria keparat." kata Dipta sambil menyeringgai.
*
Gerbang Timur
Para Ksatria telah berhasil memusnahkan prajurit kegelapan. Mereka kini telah bersiap untuk menghancurkan pagar gaib itu. Tapi ketika semua senjata telah dikeluarkan. Tiba - tiba gerbang istana terbuka dengan sendirinya.
Mereka pun merasa heran. Bahkan senjata belum dilepaskan pintu nya terbuka.
"Pasti ada yang tidak beres" kata Satria
"Ya, mereka malah mempersilahkan kita masuk. Hati - hati bisa jadi ini adalah jebakan. Selalu waspada." kata Dika.
"Ayo kita masuk, jika kita berdiam diri di sini. Kita tidak akan tahu, apa rencana dari musuh." kata Ivan
Mereka pun mencoba masuk secara perlahan dan tetap waspada. Tapi betapa herannya, ketika semua prajurit kegelapan memberinya hormat kepada mereka.
"Apa yang terjadi, kenapa mereka begitu sopan." kata Ivan.
"Selayaknya kita adalah tamu kenegaraan." sahut Satria.
Langkah mereka pun terhenti ketika rombongan dayang datang. Dayang dipimpin oleh Senopati Ilusi. Para Ksatria pun telah bersiap diri untuk menyerang nya. Tapi hal tak terduga terjadi.
"Selamat datang para Ksatria Medang. Maharaja Arda telah menanti kehadiran kalian." kata Senopati sambil membungkukkan badan.
"Rencana licik apa yang telah disiapkan oleh raja mu?" tanya Dika.
"Anda akan tahu setelah masuk ke dalam. Raja Arda telah menyiapkan kejutan untuk kalian. Mari Ikuti saya." kata Senopati
Para Ksatria pun saling melirik satu sama lain. Prasta pun lalu menganggukan kepala.
"Baiklah, kami akan mengikutimu. Jangan menyesal karena telah mengundang kami masuk." kata Satria.
__ADS_1
"Tentu kalian lah yang harus berhati - hati." kata Senopati sambil menyeringgai
*
Tamara dan Aura.
Mereka mendapatkan kabar dan undangan tentang pernikahan Raja Arda dan Nara. Tentu saja, hal itu membuat Aura menjadi marah. Dia telah membayangkan jika dirinya lah yang akan menjadi ratu kegelapan.
"Kurang ajar putri Nara itu. Dia telah merebut raja ku" kata Aura dengan geram.
"Aku juga tidak rela, jika Nara menyandang status kegelapan. Itu artinya, dia akan menjadi ratu kita." kata Tamara
"Aku tidak sudi dipimpin oleh ratu wanita macam dia. Kita harus menghabisi Nara agar dia tidak menikah dengan raja Arda." sunggut Aura.
Tapi Tamara memikirkan cara lain. Dia harus menggunakan strategi yang matang. Agar tidak diketahui oleh Raja Arda. Dia tahu, seperti apa Arda itu. Apalagi jika hal itu menyangkut Nararia. Arda pasti tidak akan mengampuni mereka.
"Kita harus memikirkan sebuah cara yang cantik. Jika terang- terangan, kita bisa mati sia - sia. Raja Arda bisa murka dan membunuh kita berdua." kata Tamara
Aura pun terlihat sedang memikirkan setiap perkataan yang Tamara sarankan.
"Betul sekali saranmu, Tamara. Apakah kau punya ide? Kita harus bergerak cepat. Aku tidak mau kehilangan Raja Arda." kata Aura.
"Aku juga sedang memikirkan sebuah cara. Bantuin mikirlah, rencana apa yang harus kita jalankan." kata Tamara.
Omongan mereka berdua ternyata didengar oleh pengawal setia mereka. Dari pengawal itu dia bisa tahu keadaan istana ilusi.
"Mohon maaf Yang Mulia Ratu, jika diizinkan, saya punya saran. Ini saran yang paling jitu untuk menekan putri Nara." kata pengawal bernama Samudra.
"Samudra, saran apa yang kau punya? Kau pasti tahu keadaan istana ilusi, bukan?" tanya Aura begitu bersemangat.
"Betul Mudra, jika kau berhasil membantu kami. Maka aku akan memberikanmu kedudukan yang tinggi sebagai prajurit kepala kepercayaan kami." kata Tamara
Mendengar hadiah yang begitu tinggi buatnya. Tentu saja Samudra menjadi bersemangat. Dia ingin sekali menjadi seorang kepala prajurit. Mungkin inilah jalan nya, begitu pikiran Samudra.
Samudra pun lalu menceritakan semua hal yang menyangkut dengan Nara. Termasuk rencana Raja Arda untuk menekan putri Nara. Serta rencana maut untuk membuat para Ksatria bertekuk lutut di bawah kaki dan kekuasaan Ardana.
Setelah mengetahui hal itu, tentu saja Aura dan Tamara menjadi senang. Mereka tidak menyangka jika pengawalnya sangat cerdas. Serta pandai membaca situasi.
"Ya, kami paham, kami akan melakukan hal itu. Terimakasih Samudra, kami tidak akan melupakan jasa mu. Doakan kami berhasil." kata Tamara
"Betul, apalagi jika aku berhasil menjadi seorang ratu. Maka kau akan menjadi prajurit kepercayaanku. " kata Aura.
Samudra pun sangat senang mengetahui hal tersebut. Bahkan dia berkali - kali memuji kecerdikan dan kecerdasan mereka berdua. Bagaimana tidak, rencana yang Mudra berikan sangat beresiko tinggi jika ketahuan dan gagal. Tapi jika berhasil dampaknya pun akan sangat luar biasa. Sungguh hal yang sangat menyenangkan. Hasilnya sebanding dengan resikonya.
"Ayo kita segera berangkat ke Istana Ilusi. Persiapkan dirimu dengan baik Aura." kata Tamara.
"Tentu saja, aku selalu siap jika berhadapan dengan Nararia itu. Akan aku buktikan bahwa dia tidak layak menjadi permaisuri kegelapan." sunggut Aura.
*
Kamar Mandi Nararia.
Nara sudah mengetahui semuanya. Bahwa selama ini, Arda telah membohongi dirinya.
"Kurang ajar, ternyata Arda sangat licik. Berani sekali dia menipu ku. Tapi rencana apa yang akan dia siapkan untuk para sahabatku. Jika sampai Arda melukai sedikit saja temanku. Maka aku tidak akan mengampuninya" kata Nara.
Tapi Nara terus berusaha berpikir. Sebab, sekarang temannya sedang dalam bahaya. Mereka telah masuk ke dalam perangkap dan rencana Ardana.
"Putri, kau harus melakukan sesuatu. Jika tidak, maka nyawa para pangeran bisa menjadi taruhannya. Raja Arda tahu kelemahan para pangeran. Sehingga Arda akan menggunakan putri sebagai tameng." kata suara tak berwujud itu.
"Tameng? Tameng apa maksudmu?" tanyaku
"Tameng, untuk mengalahkan mereka tanpa senjata. Dia akan menekan mu, putri. Dia akan menggunakan orang yang kau cintai sebagai sandra. Sehingga kau akan menyerah tanpa syarat." kata suara itu.
"Sandra? sandra orang yang paling aku cintai? Apa maksudmu, suara?" tanyaku
Aku sangat penasaran dengan sandra itu. Siapa kira - kira yang akan Arda gunakan untuk menekanku.
__ADS_1
"Dia adalah ...." kata suara itu tertahan tatkala pintu kamar mandi ku diketuk.
"Putri apakah mandi nya sudah selesai?" tanya Dayang.
"Belum dayang, aku maish mau berendam dengan air bunga. Air ini membuatku sangat nyaman dan betah. Lagian pesta nya masih besok pagi." kataku
"Tapi kau tidak bisa mandi malam - malam, putri. Kau bisa sakit dan kami akan dihukum oleh raja." bujuk dayang.
Aku pun tertawa mendengar ketakutan dayang. Aku pun tidak peduli dengan mereka. Saat ini aku hanya peduli dengan nasib para sahabatku. Mungkin juga cintaku adalah salah satu dari 5 ksatria itu.
Tapi belum sempat aku bermeditasi. Pintu nya diketuk sekali lagi oleh ibu palsu ku.
"Putri ku, apakah kau baik - baik saja di dalam sana, nak?" tanya ibu ku
"Ya ibu, aku baik - baik saja. Aku masih menikmati air ini. Tolong jangan ganggu aku ibu, aku ingin membuat Dipta tidak bisa lupa dan berpaling dari ku." kataku
Setelah itu, suasana kembali hening dan damai. Aku pun melanjutkan semedi ku.
*
Singgasana Raja Arda.
Senopati datang menghadap Raja Arda diikuti oleh para Ksatria Medang.
"Ohohoh... selamat datang para Ksatria. Aku merasa sangat terhormat. Kalian semua mau menghadiri pesta pernikahanku bersama putri Nara." ledek Arda.
"Kau berbuat curang Arda!! Kau telah membohongi Nara. Agar dia bisa dengan mudah menerima mu sebagai pengantin nya. Tapi, kau lihat saja, kami 5 ksatria sudah datang." kata Satria.
"Oh, pangeran Satria ... Apakah kau merasa cemburu? Bagaimana perasaanmu, ketika melihat permaisuri mu menikah dengan orang lain?" tanya Arda.
Satria pun hendak maju, tapi langsung ditahan oleh Prasta.
"Ardana!! Rencana licik apa yang akan kau buat?" tanya Prasta.
"Pangeran Prasta, paras yang tampan dan sangat rupawan. Sayang sekali, putri Nara tidak melirik mu sama sekali." ejek Arda.
Arda pun lalu menepukan kedua tangannya. Dia lalu menyuruh para pengawalnya untuk membawakan seorang sandera nya.
"Kami akan menghabisimu dan membawa Nara kembali ke dunia manusia." kata Dika.
"Kau pangeran kemarin sore, nyali mu cukup besar rupanya. Kita lihat saja, siapa yang akan bertekuk lutut" ancam Dipta.
Tak berapa lama pengawal membawa sebuah tralis perunggu. Di luarnya ditutupi dengan kain beludru berwarna merah.
"Pengawal cepat buka sandera kita. Begitu Nara melihat orang yang dicintai nya menjadi tawananku. Pasti dia akan menuruti semua perkataanku. Aku berjanji" ledek Arda.
Seketika itu, pengawal membukakan kain beludru merah itu. Betapa terkejutnya mereka ketika tahu, siapa orang yang ada di dalam kurungan perunggu itu.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next:
Kira- kira siapa sandera nya?
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
__ADS_1
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"