
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
Aku pun lalu memeluk Dika. Rak terasa air mataku menetes. Ini adalah kebahagiaan yang tiada kira. Aku bisa memeluk 2 orang sekaligus. Orang yang selalu aku sayang dan rindukan.
"Putri Nararia, aku kembali. Aku tidak akan membiarkanmu disakiti oleh saudara kembar ku. Aku akan merebutmu dari nya. Kasih kesempatan pada ku, putri." kata Dikadiraksa.
Sempat aku kaget, karena Dikadiraksa berkata seperti itu. Aku pun bingung harus berkata apa. Soalnya, pada masa lalu, aku berjodoh dengan Rakai Pikatan. Meskipun Adhiraksa memiliki paras yang sama dengan Pikatan. Tapi, entahlah aku hanya akan menerima apa yang sudah dituliskan dalam takdir.
"Dikadiraksa ... aku tidak bisa melarang seseorang untuk suka. Tapi aku juga tidak tahu, apakah kita akan berjodoh. Kita serahkan semuanya kepada Hyang Jagadnatha" kataku
Dika pun lalu melepas pelukan itu. Dia pun tertawa kegirangan.
"Makasih ya putri, aku akan berusaha terbaik mungkin. Serta aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." kata Dika
Aku pun hanya tersenyum. Entah kenapa, soalnya aku melihat perpaduan Dikadiraksa. Dia begitu menawan dan mempesona. Pandai sekali, Adhiraksa memilih Dika untuk bersatu. Ternyata pengorbanan dirinya menyelamatkan Dika tidak disia - sia kan.
"Kamu tahu Dika, jika dekat dengan aku ... maka bahaya akan selalu datang. Apakah kamu siap?" tanyaku
"Percayalah,. sekarang aku adalah Dikadiraksa ... kita akan menjadi pasangan pejuang yang hebat. Nararia ... aku menjadi pasukan khusus karena agar bisa melindungimu. Kini Astungkare, Dika kuat secara fisik dan spiritual." kata Dika menyakinkan
"Baiklah kalau memang kamu sudah tahu konsekuensi nya." kataku
Setelah itu aku pun pamit pulang ke Indonesia. Tapi sebelum itu, aku berpesan kepada mereka ber 3.
"Dika, Ivan, Senopati.. musuh pasti akan datang lagi. Untuk itu, tetaplah waspada. Mereka pasti akan menuntut balas. Terus tingkatkan tenaga dalam kalian." kata ku
"Baik putri mahkota." kata Senopati
"Nara, kamu juga hati - hati ya. Selama aku di Jerman. Maaf aku tidak bisa menjagamu." kata Dika sedih.
Aku pun lalu menghibur Dika.
"Dika tenang saja, ada Kencana dan Puspa yang akan melindungi aku. Sebaiknya kamu pikirkan bagaimana agar kamu bisa menggunakan berbagai macam pusaka Medang. Dengan bersatunya kamu dan Adhiraksa. Kamu bisa menggunakan pusaka Medang." kataku
Dika pun tersenyum dan sangat puas. Ternyata penyatuan dirinya dengan Adhiraksa memiliki banyak keuntungan.
Setelah itu, Aku, Puspa, dan Kencana kembali ke kamar dimana aku menginap. Aku pun kaget bukan main. Pasalnya, di kamarku ada Prasta. Dia sedang menyimak obrolan kami di dalam TV kamar hotel ku.
"Pra ... Prasta... kamu ngapain ke kamarku?" tanyaku
__ADS_1
"Ternyata kamu putri mahkota, Nara." katanya.
Prasta langsung berhambur memelukku. Aku pun masih diam mematung. Bagaimana ini, bagaimana bisa dia bisa tahu semuanya.
"Puspa, bagaimana Prasta bisa masuk ke kamarku?" tanyaku dalam hati
Kencana pun lalu melihat pintu kamar hotel ku. Astaga, ternyata aku tidak menguncinya. Sehingga Prasta bisa membuka nya. Udah gitu, layar monitor tv belum dikembalikan seperti semula.
Kini menjadi tidak adil, bukan? Prasta tahu identitasku. Tapi aku belum tahu siapa Rakai Pikatan itu. Apakah Prasta atau Satria. Soalnya ke dua manusia tampan itu selalu saja mengecoh pandanganku.
"Prasta, kenapa kamu kembali ke kamarku?" tanyaku yang berusaha melepaskan pelukannya itu.
Tapi Prasta tidak mau melepaskannya. Bahkan semakin kuat dia merengkuh tubuhku.
"Putri Mahkota, tadi Adhiraksa menyentuh tubuh mu. Aku tidak bisa membiarkan kamu disentuh orang lain. Tubuh mu ini hanya boleh disentuh oleh reinkarnasi Rakai Pikatan." katanya
Aku pun langsung melepaskan dirinya dengan kasar.
"Prasta, apa - apaan kamu itu. Memangnya kamu itu Rakai Pikatan?" tanyaku
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Jadi kamu belum tahu siapa reinkarnasi Rakai Pikatan itu?" tanya Prasta.
Prasta pun lalu berdiri dan mendekatiku lagi. Dia pun menitikan air mata.
"Putri Mahkota, aku sangat beruntung karena aku tahu sekarang. Putri, jika bukan aku Rakai Pikatan. Apakah aku boleh mencintaimu seperti Adhiraksa tadi?" tanya Prasta.
"Putri, kau membiarkan Dikadiraksa mendekatimu. Kini aku mohon, berikan aku kesempatan untuk mendekatimu lagi. Meskipun di masa lalu kamu berjodoh dengan Rakai Pikatan. Tapi belum tentu di abad sekarang, kalian berjodoh lagi bukan?" tanya Prasta
"Prasta, kamu itu ngomong apa sih? Kamu pikir aku ini sebuah piala yang diperebutkan?. Kalau aku bukan putri mahkota apakah kau masih mau mendekatiku?" tanyaku
Prasta pun lalu meraih tanganku. Dia lalu berlutut di hadapanku.
"Nararia, sejak pertama kita ketemu di Candi Prambanan. Aku sudah suka padamu pada pandangan pertama. Aku tidak peduli, kamu siapa. Entah kamu manusia biasa, atau putri mahkota. Aku tidak pernah menilaimu seperti itu. Percayalah Nara, coba kamu ingat ketika kita ketemu pertama kali. Aku bahkan belum mengenal terlalu dekat." kata Prasta.
Pada saat itu aku diam. Dia benar, pada saat kami ketemu pertama kali. Dia bahkan tidak tahu aku. Tapi saat kita tabrakan di depan toilet itu. Pandangan mata kami beradu. Jujur, aku sempat terpesona dengan Prasta pada waktu pertama. Itu artinya, dia tidak melihatku karena aku adalah reinkarnasi putri mahkota.
Aku pun lalu flash back ke beberapa bulan setelah mengenal Prasta. Bagaimana dia melindungiku saat di rumah hantu. Saat di Bali, aku hampir masuk jurang.
"Nara... kenapa kamu diam saja?" tanya Prasta.
"Eh iya Prasta, baiklah ... Aku tidak bisa melarang mu untuk dekat dengan ku. Tapi kalau kau dekat dengan aku. Pasti musuh akan terus mengincarmu" kataku memperingatkan Prasta
Prasta pun lalu menatapku dengan lekat.
"Nara ... tanpa dekat denganmu. Musuh kita sama. Nara, aku adalah salah reinkarnasi dari Medang. Untuk mengetahui aku siapa. Kamu harus mengenaliku. Tapi yang pasti hubungan kita di masa lalu sangat dekat." kata Prasta
"Kamu Pasopati atau Rakai Pikatan?" tanyaku
__ADS_1
"Salah satu dari yang kamu sebutkan. Kenalilah aku Nara... kalau gitu, aku pamit kembali ke kamar ya. Kamu istirahat ya dan inget jangan lupa kunci kamarmu." kata Prasta
Setelah itu, Prasta pun mencium keningku. Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya. Aku masih mencerna perkataan Prasta tadi. Dia Rakai atau Pasopati. Entahlah, aku bingung banget dengan semua ini. Kenapa aku tidak bisa mengenal dan mengetahui siapa Prasta itu.
Setelah Prasta pergi, aku pun lalu mengunci pintu kamarku.
"Puspa, Kencana" kataku
Karena mereka berdua nampak akan pergi. Aku jadi curiga, jika mereka berdua pasti mengetahui siapa Prasta dan Satria.
"Mau kemana kalian?" tanyaku
"Putri, kami harus ke Indraloka dulu." kata Puspa sambil tersenyum
Tapi aku pun curiga, bahwa mereka tidak ke Indraloka. Tapi mereka akan menghindar dari pertanyaan ku.
*
Raja kegelapan masih berada di aula bersama para pejabat kerajaan kegelapan. Mereka pun masih membicarakan strategi untuk menculik temanku.
"Teman mana yang harus kami culik, Maharaja?" tanya Senopati
"Tentu saja temannya yang merupakan reinkarnasi dari Putri Widasari. Putri Nara tidak menyadari bahwa teman dekatnya itu adalah reinkarnasi sahabatnya di masa lalu." kata raja kegelapan.
"Reinkarnasi putri Widasari?" tanya senopati
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Siapa kira - kira reinkarnasi putri Widasari itu?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
__ADS_1
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"