
* Jangan lupa like, vote, and coment ya*
Happy reading
.
.
Beberapa hari kemudian, mama dan pak Kasino menikah. Mau tidak mau, suka tidak suka aku harus menerima kenyataan kalau sekarang aku mempunyai bapak tiri. Pada mulanya dia baik dan penyayang denganku. Tapi lama - lama sifat aslinya muncul.
---
Hari ini adalah yang sangat ku nantikan. Aku akan segera mengetahui lulus atau tidak. Perasaan sudah deg - deg an. Jika sampai aku tidak lulus, pasti aku akan menjadi bulan - bulanan mama. Ia pasti akan marah besar padaku
Semenjak mamaku mempunyai suami baru. Mama sering marah dan membentakku. Bahkan tanpa ada rasa kasian lagi. Entah apa yang membuat mama berubah seperti itu.
---
"Ardika" panggilku.
Dika (panggilannya) adalah teman baik dan cinta monyetku.
Aku melihat sudah banyak anak dan orang tua murid. Mereka ke sekolah untuk mengambil surat pernyataan kelulusan
"Kamu datang ke sini, bonceng bapakmu atau naik sepeda?" tanyaku pada Dika.
Dika merupakan sahabat yang setiap hari main ke rumahku. Kami sering sepedaan bareng. Dia juga teman TK. Jadi kami berdua sering di cie cie in sama teman - teman. Dika juga teman saat pasraman (sekolah dalam Agama Hindu). Jadi dia juga temen baik kalau ke pura.
"Naik sepeda". jawabnya singkat.
---
Bu Guru kelasku namanya bu Kristina. Akrab di panggil Bu Kris. Ia keluar dari ruang guru dan menuju kelas 6 sambil membawa banyak amplop.
Kami mulai ngintip dari jendela samping kelas. Jujur perasaan gugup terus menghantuiku. Apalagi ketika Bu Kris menyampaikan pesan dan kesannya kepada seluruh wali murid kelas 6.
Ayu adalah salah satu murid terpandai di kelasku. Aku kadang iri sama Dia. Ia memiliki keluarga yang lengkap. Punya 2 saudara dan orang tua yang sayang sama dia. Bahkan kulihat beberapa orang tua datang secara lengkap. Tapi aku diem saja, hal itu bukan jadi masalah lagi buatku.
Bu Kris mulai dengan ucapan yang mendebarkan
"Bapak Ibu wali murid kelas 6 SD N 3 Tambakan. Syukur Alhamdulilah semua murid kelas 6 LULUS semuanya, tanpa terkecuali." katanya sambil terharu
Pengumuman dari Bu Kris membuat kami semua bertepuk tangan. Ada juga wali murid menanggis, karena anaknya lulus. Para wali kemudian maju satu per satu setelah nama anaknya dipanggil.
"Dik, mau sekolah mana?" tanyaku.
"SMP Kiran, kamu?" katanya
SMP Kiran atau SMP N 2 Jogonalan adalah SMP yang setahun lalu beroperasi di wilayah desaku. Untuk ukuran desa. Keberadaan SMP karena suatu prestasi dari desa itu sendiri.
"Sama, yang deket saja. Aku nggak punya motor kalau jauh - jauh." jawabku.
Dika adalah anak seorang guru Agama Hindu di sekolahku. Dia memiliki sepeda motor yang lumayan bagus.
__ADS_1
----
Sampai di rumah, Mbok Temu kemudian ke rumah dan menanyakan tentang kelulusanku.
"Ra, Lulus ra koe (Ra, Lulus nggak kamu?)" tanyanya pada mamaku. Mamaku sering dipanggil juga namaku. Mama Rara.
Mama kemudian mengeluarkan surat dalam amplop.
"Lulus, mau kasih hadiah apa?" tanya mama.
Mbok Temu hanya senyum - senyum saja
"Sana tunjukan ke Mas Antong, minta kado apa" katanya.
Aku kemudian berlari ke rumah Mbok Temu dan mencari Mas Antong.
"Mas, aku lulus lho ... minta kado" kataku penuh kegirangan
Mas Antong kemudian mengeluarkan kertas dalam amplop itu. Dia kemudian berkata "Nduk ... punya rencana buat kuliah nggak?"
"Pengen mas, neng STHD. Aku mau kuliah dengan dirimu." jawabku penuh antusias.
STHD (Sekolah Tinggi Hindu Dharma) Klaten. Di kalanganku kuliah di STHD itu keren. Tapi masku punya pikiran beda.
"Kalau bisa di kampus negri wae, Nduk. UGM po UNY" sarannya.
"Tapi biayane mahal nduk kalau kuliah di kampus negri" katanya lagi
Tiba - tiba Mas Antong mengalihkan perhatian.
"Aku mau sekolah di SMP Kiran, Mas." kataku.
"Ya, bagus sih sekolah yang dekat. Biar berkembang sekolah di deaa kita ya Nduk" katanya.
Mas Antong banyak memberikanku petuah dalam menuntut ilmu. Ia juga berpesan kepadaku untuk tetap fokus pada pelajaran. Terlebih untuk pacaran. Ia berpesan untuk menjaga diriku baik - baik. Ia akan ke Jakarta untuk bekerja.
"Mas, jangan pergi." kataku sambil menangis.
"Tapi aku harus merantau, Nduk. Aku ingin mengubah nasib." katanya
Dia juga menjelaskan tentang alasan harus ke Jakarta. Dia juga berjanji akan terus kirim surat kepadaku. Jujur saja aku sayang banget sama dia. Dia seperti sosok lelaki yang menyayangiku. Dia lah pengganti bapak kandungku.
...
Beberapa hari kemudian. Aku ke sekolah untuk melakukan cap tiga jari. Aku melihat nilai nem ku lumayan bagus. Dari 5 mata pelajaran wajib nasional, aku mempunyai jumlah nem 43,90. Sedangkan juara 1 nya, Ayu memiliki nem 46,75. Dika memiliki nem 45,25.
"Ra, kita main yuk." ajak Dika
"Kemana?" tanyaku
"Ke SMP, kita lihat calon sekolah kita yuk." usul Dika.
Kami sepakat akan menuju ke sekolah SMP. Beberapa temanku juga ingin ikut melihat gedung baru itu. Makhlum SMP di desa kami adalah bangunan sekolah tingkat pertama yang baru dibangun setahun ini. Gedungnya masih bagus dan semua fasilitasnya masih baru.
__ADS_1
Jarak antara rumah dan SMP tidaklah jauh. Sekitar 1 km, dan dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda. Kami ke SMP dengan riang gembira.
"Ra, aku haus. Jajan dulu yuk." ajak Dika
"Yaudah ayo kita beli es gabus dan siomay." kataku
Kami kemudian jajan di kantin sekolah. Kami duduk di kursi yang telah sediakan.
"Ini calon kantin kita." kata Dika
"Suasana SMP lumayan asri ya, banyak pohon dan tanaman hijau." kataku
Kami menghabiskan jajanan. Setelah itu, kami mencoba berkeliling dari satu gedung ke gedung lainnya. Di saat menuju gedung perpus, tiba - tiba seorang guru menghampiri kami.
"Ada apa, Dik?" tanyanya
"Kami mau melihat keadaan sekolah, pak." kataku
"Kami rencana mau sekolah di sini, pak." imbuh Dika
Pak guru tadi senang sekali, karena kami adalah kandidat siswa di sekolah ini.
"Berapa nem kalian?" tanya pak guru
"Saya 43, sedangkan Dika 45." kataku
"Wuah kalian ternyata anak berprestasi ya, nem kalian banyak. Kalian pasti diterima di sekolah ini" kata pak guru
Kami berdua sangat senang mendengar pujian dan harapan dari pak guru. Aku juga optimis, kalau kita akan diterima di sekolah ini. Kami juga tidak akan terpisahkan bahkan kami akan berkolaborasi untuk membuat prestasi baru di sekolah ini.
"Ayo ikut pak guru." katanya
Kami kemudian mengikuti pak guru ke kantor guru. Beliau menyuruh kami menunggu di depan. Tak berapa lama pak guru keluar sembari membawa dua lembar kertas.
"Ini baca ya." kata pak guru
"Makasih pak." kataku
Aku dan Dika membaca selebaran kertas itu. Ternyata isinya tentang persyaratan masuk SMP.
"Ayo kita pulang, Dik. Kita siapkan persyaratannya." kataku
"Ayo, makasih ya pak guru." kata Dika.
Kami kemudian mengambil sepeda yang kami perkirakan di kantin sekolah. Setiba di rumahku, Dika langsung pamit dan akan menyiapkan persyaratannya.
**
Episode kali ini cukup ya.
Terimakasih sudah berkenan mampir.
With love
__ADS_1
Citralekha