
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
happy reading
.
.
Dayang meminta aku dan Widasari ke sebuah lincak atau dipan yang terbuat dari kayu. Atas dipan tersebut terdapat kasur empuk yang terbuat dari kapas. Aku menurut saja mengikuti intruksi dan arahan dari dayang. Dayang mengambil beberapa ramuan kecantikan yang digunakan untuk memijit punggung, masker wajah, dan rambut.
Dayang memulai mengoleskan masker pada wajahku. Setelah itu, aku diminta untuk tengkurap dan dayang mulai mengoleskan ramuan dan memijit punggungku. Pijatan itu sangat enak ditambah dengan bau dari aroma terapi, dan alunan lirih dari instrumen gamelan.
Aku sangat menikmati spa Jawa Kuna. Lama kelamaan, aku ngantuk dan terbawa suasana. Aku tertidur pulas, tapi dayang tidak ada yang berani membangunkanku. Bahkan mereka membiarkanku terlelap. Akan tetapi Widasari tidak sanggup menungguku lagi. Dia membangunkanku,
"Kakak, bangun ... perawatan tubuh kita sudah selesai." kata Widasari
Aku menggeliat dan pelan - pelan membuka mata.
" Aku tertidur?" tanyaku
" Nyenyak banget, kak. Udah petang ni, ayo segera kembali ke Keputren." ajak Widasari.
Aku bergegas bangun dan ingin kembali ke Keputren tapi ditahan oleh dayang.
"Kenapa, dayang?" tanyaku
"Maaf putri, wajah putri belum dibersihkan." katanya ketakutan
Aku kemudian menyentuh wajahku dan ternyata masih ada parutan kunir dan tepung beras. Aku mempersilahkan dayang untuk membantu membilas mukaku. Widasari kemudian memberikan uang kepeng kepada para dayang yang telah melayani kami.
Aku dan Widasari keluar dari Taman Gandha Arum dan segera kembali ke Keputren. Satria sudah duduk di kursi yang ada di depan bilik kamarku.
"Kakak" sapaku
Dia tersenyum manis dan mencubit pipiku dengan gemas.
"Wajahmu nampak berseri dan bersinar, hari ini." katanya
Aku pun tersipu dan membalas mencubit pipinya.
"Wajah kakak juga lembut." kataku
"Aku sudah menunggu lama di sini." katanya
Aku kemudian meminta dayang untukembuatkan minuman dan membawakan buah, serta cemilan untuk kami ngobrol santai.
"Ada apa kakak menunggu di sini?" tanyaku
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." katanya
" Dimana?" tanyaku
"Kau akan tahu besok." katanya
Aku berniat mengajak Pasopati dan Widasari tapi dicegah oleh Satria. Dia ingin agar kita saja yang pergi. Setelah sepakat, aku masuk ke bilik dan istirahat. Sedangkan Satria kembali ke Kesatrian (tempat istirahat para pangeran).
__ADS_1
Aku kemudian masuk ke bilik kamarku. Aku masih penasaran dan memikirkan tempat yang akan kami datangi esok pagi. Apakah tempat itu tepi sungai opak. Atau mungkin Manjusri Grha (Candi Sewu). Aku semakin penasaran tempat mana itu. Aku berharap tempat itu adalah tempat yang indah dan belum pernah aku kunjungi.
.
.
Sinar surya menembus melalui jendela kamarku. Aku sudah selesai mandi dam bergegas untuk merias wajah dan diriku. Aku menggenakan kain pemberian dari Satria saat kami ke pasar tempo dulu. Aku memandang wajahku di depan cermin.
"Cermin, apakah aku pantas untuk Satria?" tanyaku
Tapi tak ada jawaban. Hahahah, aku sangat lucu mana mungkin cermin akan menjawab pertanyaanku. Tak berapa lama pintu kamarku diketok dan memanggil namaku. Dari suaranya, sepertinya dayang. Aku bergegas membukakan pintu.
"Selamat pagi sayang." sapa Satria
"Selamat pagi pangeranku ganteng." sapaku
"Sudah siap?" tanyanya
"Sudah, ayo cepat kita berangkat." ajakku
"Kau nampak semangat untuk pergi hari ini, Prameswari?" tanyanya
Aku memang sangat semangat dan penasaran tempat macam apa yang akan kami kunjungi. Aku dan Satria berjalan menuju kereta. Aku naik duluan dan disusul Satria. Kereta kami sangat lumayan besar dan mewah. Kalau dibandingkan dengan abad 21, mungkin semacam Audy.
Aku sangat menikmati perjalanan dan aku merasakan jika jalan ini bukan jalan menuju tepi sungai. Ini adalah jalan yang berlainan. Aku semakin penasaran dengan lokasi yang akan kami tuju.
"Sebenarnya mau kemana kita, pangeran?" tanyaku
"Kau akan tahu segera, sayang." katanya
"Sayang, tidurlah di pangkuanku jika kau capek." katanya
Aku hanya menganggukan kepala dan merebahkan kepala di pengakuannya. Aku sangat nyaman dengan suasana ini. Aku berharap bahwa Satria adalah pangeranku di abad ini, masa depan, dan di kehidupan selanjutnya. Tak terasa air mataku menetes ketika mengingat jika suatu saat aku kembali ke masa depan.
"Kamu kenapa menangis, sayang?" tanyanya
Dia sangat khawatir melihat aku menangis.
"Aku bahagia bisa hidup denganmu. Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkan ku." kataku
"Pasti sayang." katanya
.
.
Kereta kami berjalan lambat saat ini dan tak lama kemudian berhenti dengan sempurna. Aku kemudian menyibakan kain di kereta.
"Apakah sudah sampai?" tanyaku
"Sudah sayang, ayo turun." katanya
Satria turun duluan dan memegang tanganku agar tidak terjatuh saat menuruni kereta. Aku melihat sebuah pekarangan yang ada 3 buah bangunan candi.
"Candi." kataku
__ADS_1
"Iya, ayo masuk." ajaknya
Sebelum kami masuk, kami disambut oleh Pandita yang menyiratkan air suci kepada kami. Mereka kemudian mempersilahkan kami masuk. Aku dan Satria masuk ke Candi yang paling tengah. Candi itu tidak besar dan bentuknya sangat imut. Di dalamnya terdapat sebuah arca batu.
Aku melihat sebuah arca batu yang tingginya sekitar 70 cm. Arca itu digambarkan dalam wujud wanita dan laki - laki yang sedang bergandengan tangan.
"Arca siapa itu?" tanyaku
"Siwa dan Parwati" jawab Satria.
Aku baru kali pertama melihat arca Siwa dan Parwati yang sedang bergandengan tangan.
"Arca itu mengambarkan pada saat pernikahan Dewa Siwa dan Dewi Parwati." kata Satria.
"Pernikahan Siwa dan Parwati?" tanyaku
"Iya, bersatunya Siwa dan Parwati dikenal dengan nama Kalyana Sundara Murti." jelas Satria
Aku mengamati dengan seksama pengarcaan Siwa dan Parwati dalam bentuk Kalyanasundaramurti.
"Apa nama bangunan suci ini?" tanyaku
"Namanya Kalyanasundara grha." jawabnya
Kalyanasundara grha adalah rumah atau candi yang digunakan untuk memuja Siwa dan Parwati pada saat menikah. Harapannya, sang dewa dapat memberikan restu kepada pasangan muda yang hendak menikah dan hidupnya bahagia seperti Siwa dan Parwati.
"Apa kau tahu, sayang kenapa kita harus memuja Kalyanasundara?" tanya Satria
"Agar pernikahan kita bahagia dan diberkahi sang dewa." kataku
"Selain itu?" tanyanya lagi.
"Apa?" tanyaku
Dia kemudian menjelaskan bahwa selain untuk memohon kebahagian dan keselamatan calon pengantin. Kami memuja Siwa dan Parwati dalam bentuk Kalyana adalah untuk memohon berkah terhadap anak kami. Diharapkan, setelah menikah, kami akan mempunyai anak seperti putra dan putri sang dewa. Cerdas seperti Ganesha, Tampan dan kuat seperti Kartikkeya, cantik dan lembut seperti Ashok Sundri, dan lucu menggemaskan seperti Rare Kumara.
"Ayo, kita sembahyang bersama." ajak Satria
Aku kemudian mengikuti intruksi dari Satria dan Pandita untuk melakukan puja. Terlebih dahulu Pandita memercikan tirta kepada kami dan memberikan kami bunga. Pandita mulai menyalakan padamaran (semacam lilin pada abad ke 9), dan kayu cendana. Suara gentha (lonceng pendeta) mulai gemerincing.
Aku larut dalam meditasi dan fokus terhadap Kalyanasundara. Aku memejamkan mata semakin dalam dan semakin khusuk. Tak terpengaruh dengan sekitar. Bayanganku hanya tertuju pada sosok arca yang ada di hadapanku. Harapanku cuma satu, aku ingin hidup bahagia bersama Satria dan anak kami di masa ini, masa depan, dan di kehidupan selanjutnya.
Aku mulai membayangkan pernikahan yang megah dan sakral. Pernikahan yang akan terus dikenang sepanjang masa. Pernikahan yang akan selalu diingat oleh semua orang yang hadir dan diabadikan dalam relief candi. Aku tersenyum dan berharap bisa memohon langsung kepada Siwa dan Parwati.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.
Spesial update ya ...
berikut adalah arca Kalyana Sundara Murti
with love
Citralekha
__ADS_1