Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Adu Ketangkasan Part 2


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


.


.


Happy reading


Adu ketangkasan akan segera di mulai. Ayahku merentangkan busur dan meluncurkan anak panah. Tepat sasaran dan tidak bergeser sedikitpun. Panah pertama dari ayahku sebagai tanda kalau acara perlombaan sudah dibuka. Riuh tepuk tangan dari hadirin dan masyarakat yang datang.


Aku memperhatikan setiap peserta yang akan mengadu keterampilan bersenjata.


"Rakyan, kamu takut kalah dariku ya?" ledek Kembang.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan dari Dewi Kembang. Aku tahu jika dia ingin memanas - manasi agar aku ikut. Sebenarnya aku bisa saja mengalahkannya dengan satu buah anak panah. Tapi Dewi Sakti bilang jika aku hanya boleh menunjukan kemampuan saat terdesak.


"Dewi Kembang tolong jaga ucapanmu." bentak Pasopati


"Sayang, apa kamu mau makan buah?" tanya Satria.


Aku mengangguk dan menunjuk pada buah manggis. Satria mengambil dan membukakan buah itu untukku. Ia juga menyuapiku. Kembang melihat sinis ke arahku.


'Aku akan rebut Rakai dari sisimu. Aku juga akan mempermalukanmu nanti' batin Kembang


Aku bisa mendengar dengan jelas apa rencana Dewi Kembang. Tapi aku pura - pura tidak tahu. Aku semakin manja dengan Satria.


"Kak Satria, kalau ada wanita lain yang suka dengan kakak. Apa kakak akan meninggalkanku?" tanyaku manja.


"Hanya kau yang ada di dalam hatiku, saat ini, besok, dan yang akan datang." kata Satria


Aku juga memperhatikan jalannya adu ketangkasan. Para pangeran maju satu per satu. Kini tiba giliran Balaputra maju.


"Kak kalau nanti kakak dan Balaputra akan berhadapan. Kakak harus hati - hati ya." kataku


"Tenang sayang, kakak nggak akan kalah dengan Balaputra." kata Satria


"Kalau Balaputra nanti mengajak beradu kesaktian. Kakak jangan sungkan untuk menghajarnya." pesanku


Ia melihatku dengan tatapan anehnya. Dia juga memegang lenganku.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Satria.


"Ngak papa ... aku ingin agar kau yang menang adu ketangkasan dengan adikku." kataku


"Aku akan memenangkannya untumu."


Adu ketangkasan dibagi menjadi 2 kategori yaitu laki - laki dan perempuan. Adu yang dilombakan ialah kategori pedang dan panah.


Balaputra maju ke depan. Ia bebas memilih lawan yang akan menjadi saingannya.


"Aku memilih calon kakak iparku, Rakai Pikatan." katanya


Hal yang ku takutkan terjadi. Benar saja ia memilih Satria untuk menjadi lawannya. Satria beranjak dari tempat duduknya dan bersiap membawa busurnya.


"Kak, menangkan mahkota itu untukku." kataku


Ia hanya mengangguk dan mulai melangkah ke arena. Pasopati kemudian mengambil tempat duduk Satria.


"Kamu nampaknya bernafsu sekali ingin mendapatkan mahkota itu!" kata Pasopati.


"So, aku kan dari masa depan. Apa salahnya jika aku ingin memakai mahkota itu." kataku mencoba mencari alasan.

__ADS_1


"Tapi kamu akan menggunakan mahkota ratu dan mendapat gelar prameswari." kata Pasopati.


"Tapi aku juga ingin itu." kataku penuh semangat.


Akhirnya Pasopati mengalah dan memperhatikan jalannya pertandingan. Ia tahu bahwa adikku itu sangat licik. Satria sudah sampai di arena dan siap untuk memainkan busurnya.


"Ayo kakak tunjukan padaku jika kau layak bersanding dengan kakaku." kata Balaputra


"Jangan angkuh kau Balaputra." kata Satria


Mereka beradu panah, panah Balaputra tepat mengenai titik pusat sasaran. Aku khawatir Satria tidak bisa menggeser panah Balaputra.


"Bagaimana? bisakah menggeser panahku?" Kata Balaputra sinis.


'Kencana ... apakah Satria bisa menggeser panah Balaputra?' tanyaku pada Kencana


'Sepertinya akan sulit, Ra.' kata Kencana


'Apa aku bisa membantunya?' tanyaku


'Keluarkan Pancaroba dan bantulah Satria' bisik Puspa


'Apa itu tidak termasuk perbuatan curang?' tanyaku


Aku kemudian melirik pada Pasopati. Ia juga nampak khawatir dengan kondisinya Satria.


"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanyaku


"Iya ... tapi tenang saja, Satria pasti bisa melakukannya itu". kata Pasopati.


Aku melihat saat Satria bersiap untuk merentangkan busur. Aku perhatikan dia baik - baik. Mataku fokus pada anak panah Satria. Aku terus memperhatikannya. Aku takut Satria kalah.


Satria fokus pada titik pusat sasaran. Mataku pun tak berkedip. Anak panah terlepas dari busurnya. Aku tak tau kenapa tiba - tiba menyentuh kalung pancaroba. Aku melihat ada asap yang keluar dari kalungku. Asap itu melesat bersamaan anak panah Satria.


"Yeeeeey ... Kak Satria hebaaat." teriakku


Semua orang kemudian bersorak - sorak dan mengelu - elukan nama Rakai. Aku senang sekali, Kak Satria bisa memenangkan pertandingan ini. Aku kemudian turun dan menghampiri Satria.


"Kakak hebat." kataku.


Aku langsung memeluknya. Ia kemudian menatap Balaputra.


"Balaputra ... ingatlah kesombongan akan menghancurkan segalanya." pesan Satria.


Tapi adikku tidak terima dengan kemenangan Satria. Ia kemudian menantang untuk beradu pedang.


"Kak jangan." kataku


"Kau takut Rakai? memang pantas kau bersembunyi dibalik ketiak kakakku." ejek Balaputra.


"Aku terima tantanganmu!" kata Satria.


Aku sudah memintanya untuk tidak meladeni adikku. Tapi harga dirinya sangat penting, sehingga dia menerima tantangannya.


"Menjauhlah sayang ... aku akan membawakan mahkota itu untukmu. Pasopati !! bawa Rakyan ke kursinya." teriaknya


Pasopati kemudian menghampiriku dan mengajak menjauh dari arena adu ketangkasan.


'Hari ini aku akan menghabisimu, Rakai. Tahta Medang itu milikku.' batin Balaputra.


Aku mendengar apa yang dibayangkan Balaputra. Tapi aku yakin Satria bisa memenangkan pertandingan ini. Balaputra mencabut pedangnya, demikian juga dengan Satria. Mereka kemudian saling serang dan mengeluarkan kesaktiannya masing - masing.

__ADS_1


'Puspa ... apa Satria akan menang?' tanyaku


'Mereka berdua sama - sama sakti. Mereka akan seri.' kata Puspa.


Aku memperhatikan jalannya peperangan itu. Mereka saling serang. Kekuatan Balaputra dan Satria seimbang. Pada gerakan pedang, lengan Satria tergores.


"Satriaaaaaa." teriakku.


Lengannya berdarah, aku langsung menutup mata tak kala darahnya bercucuran.


"So, berikan kain ini untuk Satria. Lukanya harus dihentikan." kataku sambil terisak


"Tenanglah ... terkena pedang bagi seorang ksatria hal yang wajar." kata Pasopati.


Tapi tetap saja, aku khawatir. Aku kemudian memanggil teratai emas untuk membantu Satria menghilangkan rasa sakit dan menghentikan darahnya.


"Teratai emas keluarlah, hentikan tetesan darahnya." kataku


Teratai emas keluar dan langsung melesat ke arah Satria. Tidak ada yang bisa melihat kehadiran teratai emas. Aku melihat Satria tidak lagi kesakitan oleh sayatan pedang.


Ia kembali bangun dan melakukan pembalasan pada Balaputra. Ia melirik ke arahku dan aku tersenyum padanya.


"Hati - hati dengan pedangmu, Balaputra." kata Satria.


"Kau akan mati, Rakai." kata Balaputra.


Satria mengeluarkan pedang saktinya. Ia membalas perlakuan Balaputra. Ia melukai kaki Balaputra. Adikku pun teriak kesakitan. Pedang yang Satria gunakan adalah pedang sakti. Sehingga melumpuhkan Balaputra.


"Prajurit segera tolong Putraku." perintah ibukku


Prajuritpun masuk ke arena dan menandu Balaputra. Ada raut kebencian di rona wajah Balaputra.


"Kali ini kau yang unggul, tapi aku tidak akan membiarkanmu duduk di singgasana." kata Balaputra


Satria hanya tersenyum. Masyarakat kemudian bersorak atas kemenangan Satria. Dewi Kembang mendahuluiku. Ia memberikan kain pada Satria. Tapi tidak diterima olehnya. Ia mengacuhkan Kembang dan menghampiriku. Aku melihat sorot mata cemburu di wajah Kembang.


"Aku akan mempermalukan dan menghabisimu, Rakyan." batin Kembang.


Aku hanya tersenyum begitu mendengar kata hati Dewi Kembang.


Pambiawara kemudian mengumumkan jika sekarang tiba saatnya untuk adu ketangkasan kategori perempuan.


Masing - masing peserta wanita maju dan memperlihatkan kebolehannya dalam bermain panah. Aku sudah siap jika nanti Kembang akan menantangku. Aku tahu jadi ini alasan aku masuk ke Kaindran dan diajari panah oleh Dewi Sakti.


"Kak ... jika aku nanti ditantang adu ketangkasan, aku akan melawannya." kataku


"Tapi kau tidak bisa memanah, sayang." kata Satria.


"Percayalah padaku kak." kataku


Satria tetap tidak mengizinkanku ikut adu ketangkasan. Ia masih takut ketika dulu aku bisa dikalahkan oleh Dewi Kembang dan dipermalukan. Kini giliran Putri Widasari maju. Ia memainkan panah dengan baik. Ia tepat mengenai sasaran. Demikian juga dengan Dewi Arum. Ia memainkan panahnya sangat cantik. Masyarakat bersorak atas keberhasilan 2 orang putri itu.


"Kau hebat Arum." kata Widasari


"Kau juga Widasari." kata Arum


Mereka kemudian berpelukan dan kembali ke tempat duduknya. Pambiawara kemudian memanggil nama Dewi Kembang untuk menunjukan kehebatannya.


**


Episode kali ini cukup ya teman - teman. Maaf telat update.

__ADS_1


With love


Citralekha.


__ADS_2