Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Pengumuman Masuk SMP.


__ADS_3

* Jangan lupa vote, komen, like, dan kasih koin ya*


Happy reading.


.


---


Persyaratan masuk SMP telah aku siapkan sebaik mungkin. Bahkan aku juga sudah memberitahu mama tentang sumbangan uang gedung.


"Ma, pilih mana?" tanyaku


Mama kemudian melihat pilihan sumbagan yang tertera pada form pendaftaran.


"Pilih yang ke dua saja. Kita pilih yang ditengah - tengah." kata mama


"Terus bayarnya gimana?" tanyaku


"Besok mama jual gelangnya." kata mama


Setidaknya aku tenang, karena biaya gedung pasti akan ada. Aku dan Dika berangkat bareng untuk mengikuti dan mengumpulkan berkas pendaftaran. Kami kemudian mendapatkan jadwal dan nomor tes untuk selanjutnya.


"Dik, kita mampir pura yuk. Kita sembahyang semoga kita diterima." kataku


"Ayok" sahut Dika.


Kami kemudian membelokan arah sepeda kami ke arah kiri. Seharusnya ke kanan jika kami ingin pulang. Hawa sejuk dan semilir pura menyihir kami berdua. Seolah - olah kami disambut oleh penghuni pura.


"Ayo masuk." ajak Dika


Tapi sebelum masuk, aku memetik beberapa helai bunga untuk sembahyang. Sementara itu Dika mencari dupa dan menyalakannya. Setelah semuanya siap, kami duduk dan mengelar tikar. Dika memimpin sembahyang siang ini. Kami berdoa dalam hati agar diterima di sekolah negeri.


..


Hari dan jam ujian masuk sekolah. Aku berangkat dengan Dika. Kebetulan kami dianter oleh ayahnya Dika.


"Ra, pamit dulu sama mama biar nanti lancar dalam mengerjakan tes nya." kata bapaknya Dika


"Udah tadi, tapi mama sedang jualan keliling." kataku


"Yaudah, jangan lupa bawa perlengkapan ujian. Pensil, penghapus, papan kayu, penggaris, rautan sudah?" tanya ayah Dika


"Sudah


" jawabku


Kami kemudian berangkat ke SMP. Aku dan Dika ternyata satu ruangan. Aku menduduki di meja urutan ke tiga dari kiri. Sedangkan Dika berada di urutan pertama sisi kanan. Sebelum itu, aku tos dulu sama Dika.


Satu per satu soal yang diujikan kami kerjakan dengan baik. Oret - coretan pada saat mengerjakan soal matematika kami lalui dengan baik. Tak terasa bel tanda selesai mengerjakan tugas berbunyi. Pak guru segera mengambil lembar jawaban dan kami dipersilahkan keluar ruangan.


"Gimana bisa nggak?" tanya Dika


"Bisa dong, kamu?" tanyaku

__ADS_1


"Mudah." kata Dika.


Kami kemudian pulang setelah dijemput oleh bapaknya Dika.


...


Pagi ini adalah hari yang ku tunggu, pasalnya ini adalah hari pengumuman aku di terima di sekolah negri atau tidak. Aku tidak memiliki gambaran sekolah lainnya kalau aku nggak diterima di SMP N 2 Jogonalan. Mamaku juga pasti akan kecewa dan marah. Soalnya di desaku mamaku punya saingan dengan beberapa emak - emak di desa tentang prestasi anaknya.


Aku naik sepeda ke SMP. Jarak dari rumahku tidaklah jauh, sekitar 1 km. Jadi aku cukup bersepeda atau jalan kaki. Mama dan Bapakku naik motor ke sekolahan.


Kulihat sudah banyak sepeda dan sepeda motor yang terpakir di lapangan. Kebetulan SMP itu sebelahan dengan lapangan desa.


----


"Ardika" teriakku. Ternyata dia sudah lebih dahulu ke sekolah.


sambil cenggar cenggir dia berkata "Sorry, aku tadi berangkat bareng bapakku."


"Kamu naik motor?" tanyaku.


Dia hanya menggelengkan kepala dan menunjukan telunjuk yang menunjuk pada sepeda warna birunya.


"Kok tadi nggak mampir ke rumahku?" tanyaku.


"Kan tadi aku dah bilang bareng bapak, lewat Desa Bladu (lewat selatan) jadi aku nggak mampir ke rumahmu" belanya.


Aku dan dia kemudian menuju ke halaman SMP. Ada banyak orang, termasuk teman TK ku dan orang baru yang pada lirak lirik ke kami berdua.


"Masih lama kayaknya, Dik. Yok lihat - lihat kelasnya" kataku.


"Hai.. Namaku Ivan" katanya sambil mengulurkan tangan.


"Nara, panggil saja Rara". Aku memperkenalkan diri. Ini temanku namanya Ardika.


"Panggil saja Dika" katanya.


Kami bertiga kemudian keliling ruangan. Maklum ruangan itu masih baru. Kulihat ruangannya masih mulus, meja kursi juga mulus. Jika kami diterima, kami adalah angkatan ke dua yang akan menghuni sekolah ini selama 3 tahun.


"Eh sekolah ini yang ngrancang namanya Mas Dwi, lho" kataku bangga, karena aku tahu siapa Arsiteknya.


"Iya, ngerti" kata Ardika.


"Aku ngasih tau Ivan kok, hehehe" kataku.


Ivan hanya manggut - manggut. Mas Dwi adalah seorang Arsitek lulusan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Dia lah yang merancang dan menggambar sekolah itu.


Diantara ruangan yang kami kelilingi. Ada satu ruang yang membuatku nggak suka. Aku memiliki feeling kurang bagus sama tempat itu.


"ku nggak suka sama tempat itu" kataku sambil menunjuk pada sebuah box beton untuk tempat sampah.


"Kenapa?" kata Ivan penasaran.


Ardika tau tentang feelingku itu. Dia kemudian menggalihkan pembahasan kami dan berkata

__ADS_1


"Hei, itu rame - rame. Ayo ke sana. Kayaknya sudah keluar pengumumannya" ajak Dika.


----


Kami kemudian menerima selebaran dan mulai mencari nama kami masing - masing. Aku semakin deg - deg an ketika aku tidak menjumpai namaku di nama yang diterima sekolah. Aku kemudian melanjutkan pencarianku di daftar nama siswa yang tidak diterima. Namaku juga tidak ada. Sementara Dika dan Ivan sudah menemukan nama mereka di daftar siswa yang diterima. Kulihat wajah yang sumringgah.


"Kok namaku nggak ada ya" kataku penuh kecewa.


"Eh nama lengkapmu, siapa sih?" tanya Ivan.


"Cahaya Nararia" sahut Dika.


Ivan dan Dika pun kemudian membantuku mencari namaku. Mulai dari halaman terakhir kemudian lembar - lembar ke depannya. Mereka mencari daftar namaku di lembar paling akhir. Aku juga, karena mungkin aku akan diterima dengan nilai yang mepet.


Tiba - tiba Aku cari di lembar paling depan di list 50 pertama. Aku nggak nyangka ternyata ada namaku diurutan no 35.


"Ketemu" sahutku girang sambil menunjukan kertas lembar pertama.


"Bakalan masuk di kelas A, nih" sindirku pada Ardika karena dia di urutan 105.


Aku kemudian mencari mamaku dan memberi tahu kalau aku ketrima. Kulihat wajah bahagia mamaku, tapi aku juga lihat beberapa orang tua yang kecewa karena anaknya tidak diterima.


"Mama aku diterima." kataku


"Mana lihat." kata Mama ku


Aku segera menyerahkan salinan kertas dan menunjukan ada nama ku tertera di situ.


"Ma, aku mau jalan - jalan ya sebelum masuk ke SMP." kataku


"Jalan - jalan kemana dan sama siapa?" tanya mama


Aku menunjuk pada dua orang lelaki yang berada di sampingku.


"Ya boleh tapi jangan jauh - jauh." kata mama


...


Aku, Dika, dan Ivan kemudian bersahabat. Kami mulai tukar - tukaran alamat rumah. Kami juga janjian akan bersepeda bersama. Kami janjian bahwa besok sore akan menjemputku. Aku senang sekali karena memiliki 2 orang sahabat yang baik.


"Van, Dik berjanjilah untuk selalu setia pada persahabatan kita." kataku


"Iya aku berjanji." kata Ivan


"Aku juga." kata Dika


Kami kemudian mengucapkan janji kesetiaan dan akan selalu bersama sebagai sahabat dalam keadaan suka maupun duka. Aku bahagia sekali mendapatkan teman yang baik seperti mereka. Mereka adalah anak lelaki yang polos dan tentunya kadang aku lah yang melindungi mereka. Jujur saja, temanku banyak dari kaum pria. Sedangkan teman wanita aku hanya sedikit.


untuk itulah, aku menjadi tomboy. Selain itu, aku juga sering mengikuti olah raga panah dan lari setiap sore. Aku juga mempelajari ilmu kuno tentang perpanahan. Buku itu aku dapatkan di perpustakaan Mas Antong. Aku menggunakan busur yang terbuat dari lengkungan bambu kemudian aku pasang senar.


**


Terimakasih ya atas kesediaannya mampir di novelku.

__ADS_1


With love


Citralekha


__ADS_2