
*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, rate, vote, dan comen ya*
Happy Reading
.
.
Balaputra masih bingung dengan keanehan yang ada pada diriku. Dia menjadi curiga denganku, terutama dengan kesaktian yang aku miliki.
"Wida, maukah kamu bekerja sama dengan diriku?" tanya Balaputra
"Kerjasama gimana kak?" tanya Widasari
Balaputra pun tersenyum licik. Dia mulai mencuci otak Widasari agar berpihak dengannya.
"Wida, sekarang kakak tanya. Apa mau mu terhadap Pasopati?" tanya Bala
Sejenak Widasari terdiam akan pertanyaan Balaputra.
"Aku mau memiliki Kak Pasopati seutuhnya. Aku mau dicintai dia sepenuh hati." kata Widasari
Mendengar jawaban dari Widasari. Balaputra sempat tertegun, tapi dia mempunyai ide lain.
"Baik Wida, sekarang aku minta kamu untuk menjadi adikku. Tugasmu adalah memberitahukanku tentang kegiatan Kak Pramudya, Pasopati, dan Satria." kata Balaputra
"Jadi, Wida semacam mata - mata gitu, kak? lalu upah untuk Wida apa?" tanya Widasari
Widasari merasa bahwa dirinya akan dimanfaatkan oleh Balaputra. Tapi secepatnya dia mengambil situasi ini untuk mendapatkan bantuan Balaputra agar mendapatkan cinta Pasopati sepenuhnya.
"Aku akan membuatmu hebat di depan Pasopati. Agar dia terkesan dengan keberanianmu. " kata Balaputra
Mendengar tawaran dari Bala. Wida pun sudah membayangkan, bahwa dia akan menjadi pendekar wanita yang hebat. Bisa melindungi dirinya, serta akan dilirik sepenuhnya oleh Pasopati.
Wida setuju dengan tawaran Balaputra. Tapi senyum jahat Bala semakin puas. Dia akan mempunyai seorang mata - mata yang hebat dan akurat.
...
(Hutan Dandaka)
Kalasmara melesat secepat kilat ke Hutan Dandaka. Hutan tempat berkuasanya Kala Bang (istri Kala Maruti). Sampai di gerbang dedemit. Kalasmara dicegat oleh pasukan Kala Bang.
"Hei setan jelek, ngapain kau ke sini?" tanya prajurit Kala Bang
"Kurang ajar, berani sekali mengatakan aku jelek." kata Kalasmara
Terjadilah pertarungan antara Kalasmara dan prajurit Kala Bang. Akan tetapi prajurit Kalasmara kalah jumlah.
"Sial, prajuritku bisa terdesak. Tak ada cara lain." kata Kalasmara
Dia melihat prajuritnya dibantai oleh prajurit Kala Bang. Dia pun menggunakan ajian pikat sewu (ajian yang membuat lawannya menjadi haus ****). Dia mengangkat tangan nya dan segera di arahkan ke prajurit Kala Bang.
"Terima ini demit Dandaka." kata Kalasmara.
Tak berapa lama dedemit Dandaka merasakan gairah **** yang luar biasa. Kalasmara berhasil mengacau mereka. Tapi senopati Dandaka segera muncul dan menyabetkan cemeti sakti. Kalasmara terjatuh dan terlempar beberapa meter.
"Sialan" umpat Kalasmara
"Demit kurang ajar, aku musnahkan kau." kata senopati
Kalasmara segera bangun. Dia tahu bahwa kekuatannya tidak mungkin dapat mengalahkan denawa Dandaka yang terkenal sakti. Akhirnya dia menyerah.
"Ampun senopati, hamba ke sini hanya ingin bertanya saja." kata Kalasmara
"Segera bebaskan anak buahku dari pengaruh jahatmu." kata Senopati
__ADS_1
Dia sudah muak dengan pengaruh Kalasmara terhadap anak buahnya. Karena anak buahnya haus berhubungan badan bahkan dengan sesama denawa lelaki pun mereka lakukan. Kalasmara segera memanfaatkan situasi ini.
"Saya akan bebaskan, tapi pangeran harus menjawab pertanyaan saya." kata Kalasmara
"Baik" jawab senopati
Kalasmara segera membebaskan pengaruhnya terhadap dedemit Dandaka. Tak berapa lama mereka telah bebas dari pengaruh haus ****.
"Sudah saya bebaskan, sekarang Senopati tepati janji anda." kata Kalasmara
"Apa yang ingin kau tanya kan?" tanya Senopati
"Senopati apakah di sini ada seorang manusia yang datang ke mari, namanya pangeran Satria calon suami putri Pramodhawarddhani dari Medang?" tanya Kalasmara
Senopati segera terhenyak mendengar namaku disebutkan. Mereka semua adalah prajurit yang pernah aku tundukan. Bahkan mereka telah mengucapkan janji setia kepadaku.
"Apa yang terjadi dengan putri dan pangeran?" tanya Senopati
"Hamba di perintah oleh adik putri untuk mencari pangeran Satria yang menghilang. Menurut informasi pangeran sedang mencari permata untuk pernikahannya dengan putri." kata Kalasmara
"Tapi di sini tidak ada pangeran Satria. Kalau pun ada pasti kami tidak akan memberitahu, kau pasti punya rencana jahat terhadap pangeran dan putri." kata senopati
Mendengar itu, Kalasmara mencium gelagat tidak baik di sini. Dia menyadari bahwa dedemit Dandaka akan membela putri dan pangeran.
"Kalasmara, berani kau melukai pangeran dan putri. Akan saya musnahkan kau." bentak senopati
Kalasmara segera menyingkir dari hutan Dandaka. Dia tidak mau musnah oleh cemeti penghancur sukma.
"Apa yang harus aku lakukan. Pangeran Balaputra pasti akan memusnahkanku dengan pedang sakti nya. Sialan maju kena mundur kena." kata Kalasmara
Kalasmara segera memutar otak agar tidak mendapatkan hukuman dari Balaputra. Lama sekali dia mondar mandir dan akhirnya dia melihat sekelebat manusia.
"Pangeran Satria" kata Kalasmara
Tanpa pikir panjang Kalasmara mengeluarkan ajiannya. Satria segera terkena ilusi Kalasmara. Dia segera membuat Satria terbuai akan cintanya. Satria kemudian melakukan hubungan badan dengan Kalasmara. Kali ini Kalasmara menang banyak. Dia berhasil bercinta dengan pangeran Medang.
Tanpa perlawanan Satria dapat dipenggal kepalanya.
Dia segera menghilang dan membawa kepala Satria ke hadapan Balaputra. Tak berapa lama dia berada di dalam pendopo alit. Ternyata benar saja Balaputra sedang bercengkerama dengan Astana.
"Kalasmara apa yang kau bawa?" tanya Balaputra
"Silahkan dibuka sendiri, pangeran." jawab Kalasmara
Balaputra segera membuka kain putih. Dia terbelalak ketika membuka isi bungkusan.
"Kepala Satria?" tanya Balaputra memastikan
"Iya pangeran, hamba sendiri yang memenggal kepalanya di luar Hutan Dandaka." kata Kalasmara sambil tertawa.
Balaputra pun segera tertawa. Dia tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat geger Medang.
"Astana, segera kau pergi bawa pasukan. Buat seolah - olah kalian menemukan kepala ini. Bawa ke istana, maka istana akan kacau." kata Balaputra
Astana segera mundur dan membawa beberapa prajurit pilih tanding ke luar istana. Pasopati yang mengetahui rombongan itu segera mencegatnya.
"Astana, mau kemana kalian" tanya Pasopati
"Ampun pangeran, hamba ingin patroli ke daerah perbatasan. Sekaligus melihat kondisi masyarakat." kata Astana.
Pasopati pun segera memberikan izin untuk mereka keluar istana. Tanpa rasa curiga sedikitpun Pasopati memberikan pesan kepada Astana untuk memberikan bahan makan bagi masyarakat yang membutuhkan.
...
(Sore hari).
__ADS_1
Astana kembali dengan terlihat sangat gusar sambil berteriak - teriak kalau Pangeran Satria telah meninggal. Sontak membuat masyarakat dan penghuni istana Medang geger.
Pasopati kemudian keluar karena suara riuh dari luar. Dia mengira jika istana sudah diserang oleh musuh.
"Astana, apa itu?" tanya Pasopati
Tak berapa lama Raja Samaratungga dan Permaisuri Dewi Tara juga muncul. Balaputra, Widasari, dan aku juga muncul.
Balaputra segera tersenyum licik.
"Pertunjukan di mulai" batik Balaputra
Astana segera mempersilahkan Pasopati untuk membuka kereta kuda yang mereka bawa.
"Ampun pangeran, kami tidak berhasil melindungi pangeran Satria." kata Astana tertunduk
Mendengar nama Satria disebut. Aku segera turun dan menyusul Pasopati mendekati kereta kuda. Pelan - pelan Pasopati membuka kain penutup. Betapa kagetnya dia melihat Satria bersimbah darah dengan kondisi kepalanya sudah terpisah dari badannya.
Aku tidak percaya dengan semua itu. Tubuhku limbung dan aku merasakan dunia ini berputar dan setelah itu semuanya gelap.
...
(Kamarku)
Aku membuka mata secara perlahan. Aku berharap kematian Satria hanya sebuah mimpi. Di sampingku sudah ada ibu Dewi Tara, Widasari, dan beberapa dayang.
Ibuku segera memberikanku segelas air putih. Aku heran kenapa mereka ada di kamarku.
"Bunda... saya mimpi buruk" kataku
Ibuku segera memelukku. Air mata nya membasahi kepalaku.
"Bunda kenapa menangis?" tanyaku
"Nak, itu bukan mimpi buruk tapi kenyataan. Pangeran Satria memang sudah meninggal." kata ibuku sambil terisak
Air mataku tumpah dan tak bisa dibendung lagi. Tapi aku ingin memastikannya sekali lagi.
"Bunda dimana pangeran Satria?" tanyaku
"Istirahat dulu sayang, tenangkan hatimu." kata ibuku
"Kakak, aku sangat sedih atas meninggalnya kak Satria." kata Widasari.
Dia juga ikut sedih, karena dia takut Pasopati akan berpaling dari dirinya. Tapi saat seperti iji dukanya lebih besar. Soalnya Satria adalah salah satu orang yang disayangi oleh Widasari juga.
Di istana berita kematian pangeran Satria sudah menyebar. Banyak negara tetangga dan datang untuk mengantarkan Satria ke perabuan. Upacara kematian dilaksanakan selama 7 hari. Setelah itu, mempersiapkan kayu cendana untuk membakar jasad kasar Satria.
Ayah Rakai Patapan Pu Palar beserta keluarga istana Pikatan hadir. Mereka sebenarnya ingin membawa jasad Satria dan ingin dikremasi di Pikatan. Tapi, Pasopati berusaha negosiasi dengan alasan untuk menjaga perasaanku. Akhirnya Satria akan dikremasi di Medang.
Ini adalah duka yang mendalam bagi Mataram.
"Satria kenapa kau meninggalkan ku?" kataku lirih sambil memandangi jasad Satria.
Aku masih tidak percaya bahwa jasad yang ada di depanku adalah Satria. Tiba - tiba semuanya gelap. Aku kembali pingsan.
Pasopati segera menghampiri ku dan memandangi wajah sahabatnya itu.
"Satria, aku tidak menyangka kau akan secepat ini pergi. Aku akan mencari pembunuhmu. Akan ku tuntut balas." batin Pasopati
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
Episode Selanjutnya Rakai Adhiraksa Sida
__ADS_1
With love
Citralekha