
Haaai ...
Lembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Jujur aku ingin sekali bertemu dengan sosok Satria Dewangga. Aku sudah membayangkan pertemuan romantis. Serta Satria akan segera meminangku. Ya ampun aku ingin sekali menikah dengan Satria di abad ini.
*
Malam harinya aku memanggil Adhiraksa ke kamarku. Aku seperti ayam betina yang mengincar ayam jantan. Duh, dimana harga diri mu Candika.
"Enggak usah gengsi, gitu." kata Adhiraksa
"Apa?" tanyaku
Aku kemudian ingat bahwa Adhiraksa bisa membaca pikiranku.
"Eh hantu, gimana caranya biar kau tidak bisa membaca pikiranku?" tanyaku
"Udah aku bilang jangan panggil aku hantu. Aku ini seorang pangeran, tahu." protesnya.
Aku lalu menggodanya agar dia tidak ngambek lagi. Aku berharap dia akan memberitahukan kepadaku. Caranya agar suara hati ku tidak di dengar oleh dia. Akhirnya dia memberitahukan kepadaku cara nya. Ternyata caranya agak susah, menurutku. Katanya aku harus bersama Satria dulu baru bisa suara hati ku tertutup oleh Adhiraksa. Itu artinya, selama aku belum bersama Satria. Dia akan selalu dengar suara hatiku.
"Putri apa kau bahagia?" tanya Adhiraksa
"Iya dunk, sangat. Aku sudah rindu dengan Satria. Sudah tidak sabar." kataku semangat.
"Tapi jangan terlalu senang. Takutnya pada kenyataan tidak seperti yang diinginkan." kata Adhiraksa
Aku agak sedih dengan kata - kata Adhiraksa. Betul juga apa yang dia katakan. Bisa jadi kan Satria Dewangga itu bukan Rakai ku. Akhirnya aku meminta kepada Adhiraksa untuk menemaniku. Aku sedih sebenarnya dan takut menghadapi hari esok. Tapi aku percaya jika Satria akan reinkarnasi.
*
Esok pagi tiba. Aku bersiap - Siap untuk berangkat. Rasanya campur aduk. Antara senang dan takut. Tapi apa dayaku. Semua harus dilewati dengan baik. Pagi hari aku sembahyang sebelum berangkat. Seperti biasa, mama sudah berangkat ke pasar.
"Sudah siap tuan putri?" tanya Adhiraksa
"Kok kamu muncul sih, kan aku enggk panggil." kataku sambil tertawa.
"Bukannya dari semalam kita bersama?" tanyanya
Hehehe, aku lupa kalau Adhiraksa ada di rumahku. Tapi sepertinya dia akan ke Prambanan duluan. Dia pamit padaku dan secepat kilat menghilang dari hadapanku.
"Dasar hantu." kataku
Aku lalu berangkat ke Candi Prambanan. sebelumnya aku sudah menghubungi kepala BPCB. Kami mendapatkan pintu khusus yaitu pintu barat laut. Aku masuk duluan dan seperti biasalah. Bincang - bincang ke satpam penjaga pintu.
Bu Nyoman pun kemudian menghubungi aku. Kita janjian di depan pintu masuk khusus. Tak berapa lama rombongan yang ditunggu datang. Mereka lalu memarkirkan mobil dan penumpangnya turun semua. Tapi ternyata penumpangnya sama seperti kemarin. Satria Dewangga nya belum muncul.
"is everything complete?" tanyaku
Aku bertanya apakah tim nya sudah lengkap. Sebenarnya aku tahu sih, belum ada sosok Satria.
"Mr. Satria is on his way. But my advice, we just go straight to the temple." kata Mr. Petter
Mr. Petter menjelaskan kalau Satria sedang dalam perjalanan. Dia menyarankan untuk naik duluan ke Candi.
__ADS_1
"Oke." kataku
Kita beranjak menuju halaman Candi Prambanan. Tapi tak lama kemudian, ada sebuah mobil Range Rover. Semua mata tertuju pada mobil itu. Kaki kiri melangkah keluar duluan. Kemudian badannya keluar penuh. Lelaki tegap yang sangat tampan. Aku pun merasakan bahwa dia adalah Satria ku.
"Hello sir Satria finally you came too. How about the collaboration with the Jakarta team?" tanya Mr. Petter
Mr. Peter bertanya kepada Satria tentang kerjasama dengan Tim Jakarta. Dia juga merasa lega karena dia bisa hadir ke Prambanan.
"Everything is fine, Mr. Petter. I am sorry i come late." kata Satria
Satria mengatakan bahwa kerjasamanya berjalan dengan lancar. Dia pun meminta maaf karena datang terlambat.
Aku mendengar suaranya sangat merdu. Aku masih terpukau dengan wajah tampan. Juga suara nan merdu itu. Ya ampun Rara kamu mikir apa sih.
"Mr. Gede this is our young researcher. His name is Satria. He is a reliable physicist. His parents were Indonesian ambassadors to Germany. He is our pride." kata Prof Ewert
Prof Ewert mengenalkan kepala Pak Gede. Bahwa Satria adalah peneliti muda di Jerman. Dia seorang Fisikawan yang handal. Dia juga menjelaskan bahwa orang tua Satria seorang Duta Besar di Jerman. Jadi Satria sangat membanggakan.
"hello sir Satria, nice to meet you. Can you speak Indonesian?" tanya Pak Gede
Pak Gede lalu menanyakan apakah Satria bisa berbicara Bahasa Indonesia.
"I can speak Indonesian but a little. The problem is that mom and dad use Indonesian when they are at home. But they were very rarely at home. So my Indonesian is not very fluent." kata Satria.
Satria menjelaskan jika dia bisa berbicara sedikit saja. Soalnya ayah dan ibu nya mengajarkan ketika mereka di rumah. Persoalannya, orang tua nya jarang di rumah. Sehingga bahasa Indonesia nya tidak lancar.
Pak Gede lalu memperkenalkan kami para tim di Yogya. Kemudian tibalah pada giliranku. Tapi Mr Petter yang memperkenalkanku.
"Sir, this name is Ms. Rara. He is an archaeologist who is an assistant in the atomic and nucleus laboratory at UGM. So he will guide us to visit Prambanan temple." kata Mr. Petter
Mr. Petter memperkenalkan aku kepada Satria. Dia bilang bahwa aku seorang Arkeolog yang menjadi asisten di Lab. Atom dan Inti UGM. Dia juga bilang bahwa aku akan menjadi pemandu di Candi Prambanan.
"Hy nice too meet you. My name is Cahaya Nararia. You can call me Rara." kataku
Kami saling kenalan. Tangannya lembut banget, Ya ampun. Sorot matanya tajam. Wajahnya teduh dan sangat tampan. Aku hampir tersihir dengan pesonanya. Lalu Pak Gede berdehem dan meminta ku segera menjadi guide.
"Adhiraksa hadiir" panggilku dalam hati
"Nggak bisa putri, kamu masuk lah. Aku menunggu mu di depan gerbang." kata Adhiraksa
Aku lalu memimpin jalannya menuju halaman utama Candi Prambanan. Sepanjang jalan aku mikir tentang sosok Satria Dewangga.
"Kenapa dia enggak inget pada ku ya. Aku akan tanya pada Adhiraksa nanti. Siapa tahu dia tahu tentang ini" batinku
Satria Dewangga memang sosok yang cool dan keren. Tapi kenapa dia tidak mengingatnya. Setidaknya dia bisa merasakan kalau aku ini istrinya di masa lalu. Tapi keyakinan padanya hanya sekitar 50% saja. Bisa jadi dia Rakai ku bisa juga tidak. Hanya kebetulan saja namanya sama yaitu Satria.
"Prambanan temple is the remains of Mataram kingdom. Built in 856 AD by Rakai Pikatan. The construction of this temple was based on the victory of Pikatan over the walaing pu Kumbhayoni. Pikatan also wants to show that he is a maharaja. So he and his son named Kayuwangi made this temple complex. Pikatan's consort named Dyah Pramodhawardhani is a Buddhist. Meanwhile, Pikatan is Hindu Shiva. To show his love for his wife, Pikatan also ordered the completion of the Sewu Temple construction." jelasku sebagai pengantar.
Aku menjelaskan bahwa Candi Prambanan di bangun oleh Kerajaan Mataram. Di bangun pada tahun 856 M oleh Rakai Pikatan. Pembangunannya berdasarkan atas kemenangan Rakai terhadap Walaing Pu Khumbayoni. Istrinya yang bernama Dyah Pramodhawarddhani beragama Budha. Sedangkan Pikatan Hindu Siwa. Sehingga untuk menunjukan rasa cintanya pada permaisuri. Pikatan juga melengkapi pembangunan Candi Sewu.
Aku berharap Satria akan mengingat sesuatu ketika disebutkan demikian. Tapi ternyata dia cuek banget dengan penjelasanku. Pada saat itu Adhiraksa datang. Dia mengamati dari atas sampai bawah sosok Satria Dewangga.
"Gimana dia Rakai bukan?" tanyaku
"Hmmm ... masih belum terdeteksi." katanya
Aku langsung melanjutkan menuju ke bagian dari arca - arca Candi Prambanan. Seperti biasanya aku menjelaskan seluruh yang aku tahu. Termasuk tulisan bercat merah juga aku jelaskan.
"Ms. Rara, can you explain how your ancestors built this temple so perfectly? I mean, did they have some sophisticated tools like theodolite to make this building very proportional?" tanya Satria
Satria bertanya tentang alat canggih apa yang digunakan oleh leluhur kita. Dalam membangun komplek candi yang sangat proporsional ini.
Sebelum menjawab pertanyaan Satria. Aku tak habis - habisnya tersenyum. Manis sekali senyumnya. Ingin rasanya aku melayang - layang ke langit tujuh.
__ADS_1
"Nggak usah halu" kata Adhiraksa mengagetkanku.
Aku cuma melirik tajam ke arah Adhiraksa.
"So far we have never found such sophisticated equipment. But we believe that their technology was very advanced in its day. As we all know, that iron has been discovered BC. So I believe they already know astronomy, architecture, mathematics, and construction. Besides that, I'm sure they also perform religious rituals to complete this building." jawabku
Aku menjelaskan bahwa tekhnologi pada waktu itu sudah sangat maju. Meskipun hingga saat ini, kita belum menemukan artefaktual secara nyata tentang peralatan canggih itu. Tapi kita tahu bahwa besi telah ditemukan sebelum masehi.
Setelah dirasa cukup dan kita berfoto - foto ria. Akhirnya kami turun. Kita berencana untuk makan siang bersama. Tapi di saat itu juga Satria menerima telepon dari seseorang.
"Yes bro, i'm done. Please pick him up for me" kata Satria di sambungan teleponnya.
Dalam hatiku bertanya siapa yang dia minta untuk jemput. Apakah orang tua nya. Oh Tuhan ini terlalu cepat batinku.
Satria kemudian berbalik badan. Dia memandangi candi itu dengan sangat lekat.
"I feel close to this place. One day I want to propose to my girl here." katanya
Satria mengatakan jika dia suatu saat nanti akan melamar gadis nya di Candi Prambanan.
"I feel like that too." kataku
Tanpa sadar dia mengenggam tanganku. Rasanya tak percaya. Dan deg, beberapa detik jantungku seperti berhenti berdetak. Tapi sejurus dengan itu dia pun melepaskan genggaman itu.
"Sorry Miss Rara I got carried away. May I know what your phone number is?" katanya
Satria kemudian meminta maaf. Dia berkata kalau terbawa suasana. Untuk mengurangi saltingnya, dia meminta no teleponku.
Kami pun jadi salah tingkah. Tapi langsung aku memberikan nomor teleponku.
Setelah itu kita menyusul rombongan yang sudah jauh di depan. Setelah sampai di parkiran mobil VIP. Dia tidak langsung ke naik mobil. Tapi dia mengajakku selfi berdua. Ya hanya berdua... senangnya
"Adhir, sepertinya dia Rakai deh" batinku
"Jangan sok percaya diri anda, putri" kata Adhiraksa.
Kami pun sempet bercanda bersama sebelum menuju resto. Tapi ternyata Satria sedang menunggu seseorang. Padahal kami akan makan di Prambanan Resto. Lokasinya berada di depan candi. Jadi masih ada di dalam kompleks candi prambanan.
Mobil Range Rover warna hitam kembali melintas di depan kami. Kemudian pintu mobilnya terbuka. Kaki panjang nan putih mulus keluar. Tubuhnya sangat seksi dan cantik banget.
"Hello, pretty lady , how was your trip, was it tiring? tanya Satria
Satria menyapa gadis cantik itu dan menanyakan tentang perjalanannya. Apakah melelahkan atau tidak.
"No, because my long trip paid off after seeing you" katanya manja.
Gadis cantik itu menjawab jika berjalannya menyenangkan. Kelelahannya dibayar lunas setelah melihat Satria.
Dalam hatiku bertanya, siapa wanita cantik itu.
***
Cukup sekian ya teman - teman. Jangan lupa untuk klik like, rate, dan comment.
Siapakah wanita cantik itu?
Apa hubungannya dengan Satria?
Jangan lupa kasih pendapat ya.
With Love
Citralekha
__ADS_1