
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya*
Happy Reading
.
.
"Baik pangeran, tapi ingat ya jangan kelewat batas." bisik Pasopati
Adhiraksa hanya tersenyum dengan tingkah Pasopati. Dia pun juga akan menjaga diriku selama Satria belum kembali dari pertapaan Wana Taas.
Setelah acara ramah tamah selesai, tamu undangan kembali ke negaranya masing - masing. Adhiraksa menyampaikan pesan kepada dayang untuk ku. Dia berharap dapat bertemu denganku di Taman Puspajali.
Puspa tiba - tiba keluar dari dalam tubuhku. Sontak membuat aku kaget. Tidak biasanya, dia keluar tanpa aku panggil.
"Puspa, ada apa?" tanyaku
"Kamu nampak ceria banget, putri. Kamu mau ketemu Pangeran Adhiraksa, ya?" tanya Puspa
Aku hanya tersenyum malu.
"Aku hanya menganggap dia sebagai adik, Puspa. Bagaimanapun juga Satria telah banyak berkorban untukku. Mana mungkin aku menghianati dia." kataku
"Bagus putri, tapi jika kau ingin membuka hatimu untuk Adhiraksa Sida juga tidak apa." kata Puspa
Aku sangat kaget dengan perkataan Puspa. Ada apa sebenarnya. Kenapa dia malah memberikanku saran seperti itu.
"Puspa, apa yang kau katakan?" tanyaku
"Ikuti kata hatimu, putri. Seiring berjalannya waktu, kamu akan tahu" kata Puspa
Setelah mengatakan hal itu, Puspa menghilang.
"Puspa, Puspa, Puspa." teriakku
Tapi tak ada jawaban dan dia juga tidak nongol. Tiba - tiba, aku kaget oleh ketokan pintu.
tok tok tok
"Putri, putri, ini saya Anupali." kata Anupali
Anupali adalah pelayan setiaku. Dia lah yang membantu aku menyiapkan segala kebutuhanku. Aku segera membukakan pintu.
"Hai Anupali" sapaku
Dia segera memberi hormat dan aku pun mempersilahkan dia masuk ke kamarku. Anupali juga yang memberikan kabar, bahwa Adhiraksa ingin bertemu denganku.
"Putri, kenapa belum dandan. Pangeran Satria kan sudah kembali. Ayo sini saya bantu." kata Anupali
Aku hanya tersenyum dan kemudian duduk di kursi rias. Ku tatap cermin yang ada di depanku. Anupali dengan lihai memainkan sirkam. Serta kapas yang dia gunakan untuk merias wajahku. Setelah itu, dia juga menata rambutku. Sanggul dengan untaian mutiara menghiasi rambutku.
"Putri, pantas saja pangeran Satria sangat mencintai anda. Coba lihat wajah putri." kata Anupali
"Kamu sangat berlebihan Anupali." kataku
"Putri, cepat ganti baju. Nanti kami akan mengantarkan putri ke taman Puspajali." kata Anupali
Anupali kemudian keluar dari bilikku. Aku langsung berganti wastra (kain). Tak lupa aku juga memasang asesoris yang nyaman ku gunakan. Aku membuka pintu bilik. Beberapa dayang yang pimpin oleh Anupali menyambutku.
"Mari putri, kami antarkan ketemu paduka Rakai." kara Anupali.
Selama dalam perjalanan, Anupali sangat lucu. Dia mulai dengan candaan - candaan konyolnya. Tak elak aku pun ikut tertawa.
"Kakak mau kemana?" tanya Widasari
"Putri mau ketemu dengan paduka Rakai, putri Widasari." jawab Anupali
"Mau ikut?" tanyaku
Widasari hanya menggelengkan kepala. Dia tahu, jika dia ikut maka akan menjadi orang ke tiga. Dia pun bergegas pergi dan kemungkinan mencari Pasopati.
Tak berapa lama, kami tiba di pintu gerbang taman Puspajali. Taman yang sangat indah, terdapat air, bunga, dan tentunya pendopo batu.
"Maaf putri, kami hanya bisa mengantar anda sampai depan gerbang." kata Anupali mewakili dayang yang lainnya
"Kenapa tidak ikut masuk?" tanyaku
"Tidak putri, kami akan menunggu di pendopo luar saja. Silahkan masuk putri." kata Anupali
Prajurit Adhiraksa pun segera menjemputku. Tak lupa mengucapkan salam dan hormat padaku.
"Tuan putri, paduka Rakai sudah menunggu anda." kata prajurit.
__ADS_1
Dia lalu membawaku masuk dan mengantarkanku. Aku di bawa ke pendopo utama. Nampak Adhiraksa sudah tersenyum. Dia pun bangkit dari duduknya.
"Selamat datang tuan putri." katanya
"Apa - Apaan coba." kataku sambil tersenyum.
Adhiraksa pun meminta kepada pengawal untuk pergi. Setelah pengawal menjauh. Adhiraksa mendekatiku. Ada rasa gugup dan detak jantung tak karuan.
"Aneh kenapa aku seperti ini. Ingat, Ra ... Satria sedang berjuang untukmu." batinku
"Mari silahkan duduk." kata Adhiraksa
Aku harus menjaga jarak dengan Adhiraksa. Bagaimanapun juga dia adalah calon adik iparku. Adik kandung dari pangeran Pikatan.
"Adhiraksa, aku bisa sendiri. Terimakasih." kataku sambil tertunduk
"Tadi kamu manggil aku apa?" tanya Adhiraksa
"Apa? Adhiraksa, kan?" tanyaku sekali lagi sembari senyum.
Dia lalu mendekatiku dan memencet hidungku. Aku segera menepis tangannya. Aku kaget, bagaimana tidak coba. Kami baru bertemu beberapa hari. Ini adalah kali pertama kami ngobrol berdua. Bisa - bisanya dia memperlakukanku seperti ini.
"Pangeran jangan seperti ini. Aku adalah calon iparmu." kataku
"Bukankah kita sedang bersandiwara?" tanyanya
"Ya, tapi kan nggak harus begitu." kataku sambil manyun
Adhiraksa terus melihat dan menggodaku. Ada perasaan aneh ketika tak sengaja tangan kami saling menyentuh.
"Tidak Adhiraksa, aku sangat menghormatimu sebagai adik dari Satria." kataku
"Ssssttt ... kamu mau rencana kita gagal?" tanyanya
Aku segera menggelengkan kepala. Jelaslah aku tidak mau ini gagal. Aku setuju menjalankan rencana ini karena Satria. Demi keselamatan dia selama bertapa. Jika saja senopati Dandaka tidak menolong. Bisa jadi, Kalasmara akan beneran membunuh Satria yang asli.
"Baiklah ... Aku harus gimana?" tanyaku
Adhiraksa kemudian tersenyum lebar. Dia kembali menghampiriku. Pandangan mata kami bertemu. Tapi secepat mungkin aku mengalihkan ke pandangan lain.
"Panggil aku Satria." katanya
"Tap ..." kataku
"Jika kamu memanggil ku dengan sebutan 'Adhiraksa', penyamaran kita langsung kebongkar. " katanya
Aku kemudian berpikir. Ada benarnya juga apa yang dia katakan. Kalau hanya kami berdua atau bertiga dengan Pasopati tak masalah. Tapi jika kebiasaan di depan banyak orang. Maka akan menimbulkan masalah.
"Setidaknya kakak harus bertahan selama Kak Satria belum kembali." katanya
"Baiklah Adhir ... eh Satria." kataku
"Jadi kita sekarang sepasang kekasih, ya?" tanyanya
Aku mengeryitkan dahiku. Tapi Adhiraksa terus membalas dengan senyum dan candaan. Lama - kelamaan, aku tidak canggung lagi.
"Hanya sementara." kataku
"Baiklah kekasih hatiku, aku mau kamu melakukan satu hal." katanya
"Apa Sat?" tanyaku
Dia menatapku dengan tajam. Ketika aku memanggil dia dengan kata 'Satu'.
"Biasanya kamu memanggil Kak Satria, dengan sebutan apa?" tanyanya
"Kakak atau sayang." kataku
"Kalau gitu panggil aku sayang." katanya sambil tersenyum
Reflek aku memalingkan wajahnya dengan jariku.
"Eeeh maaf." kataku
"Ngak papa, itu artinya kita siap bersandiwara." katanya
Obrolan kami menjadi hangat. Adhiraksa ternyata pribadi yang menyenangkan. Tapi tetap saja lebih menyenangkan pangeranku.
...
(sisi lain) ~ Pasopati sedang mondar mandir
Pasopati terlihat sangat panik. Dia tidak mendapatiku berada di kamar. Dia ketok - ketok pintu tapi tidak ada jawaban. Iyalah aku kan lagi di taman Puspajali, hehehe.
__ADS_1
"Ini anak ngilang kemana sih" kata Pasopati
"Ampun paduka Pasopati, tuan putri Widasari sedang mencari anda." kata salah satu prajurit.
Pasopati segera keluar dari kompleks keputrenku. Dia tidak mau Widasari menuduh yang tidak - tidak. Tapi ketika Pasopati keluar dari gerbang ku. Widasari memergoki.
"Kak Paso, aku mencarimu, tahu!!" kata Widasari sambil cemberut.
"Maaf Wida, aku sebenarnya mencari pangeran Satria. Tapi aku tidak menemukan dia di kamarnya. Jadi aku ke sini saja. Eh ternyata putri Nararia juga tidak ada." kilah Pasopati.
Widasari kemudian menarik lengan Pasopati.
"Wida mau kemana?" tanya Pasopati
"Katanya mau mencari kak Rakai." kata Widasari
"Kamu tahu dimana mereka?" tanya Pasopati
Widasari hanya mengangguk. Pasopati pasrah tangan nya ditarik oleh Widasari. Tibalah mereka di depan gerbang taman Puspajali. Kedatangan mereka disambut oleh Anupali.
"Anupali, apa paduka Rakai dan Rakyan di dalam?" tanya Pasopati
"Betul, paduka." kata Anupali
Pasopati segera melangkahkan kaki masuk ke dalam. Kami tersenyum ketika melihat kedatangan Pasopati dan Widasari.
"Pasangan bucin, eh enggak sih. Pasopati enggak." batinku
Adhiraksa kemudian mencolek hidungku.
"Hayo kenapa senyum - senyum?" tanya Adhiraksa.
Pasopati segera berdiri dan menengahi kami (aku dan Adhiraksa). Melihat tingkah Pasopati menjadi curiga.
"Kak Paso, apa yang kakak lakukan?" tanya Widasari cemberut
"Iya, ganggu saja. Minggir sana." usir Adhiraksa
Pasopati pun melotot ke arah Adhiraksa. Tapi hanya dibalas dengan senyuman.
...
sisi lain ~ Balaputra
"Astana, kamu punya rencana apa?" tanya Balaputra
semenjak adanya Adhiraksa. Balaputra terlihat sangat masam. Selalu naik darah jika salah sedikit. Prajurit nya lah yang menjadi sasaran kemarahannya.
"Menurut saya, kehadiran pangeran Satria kali ini sangat berbeda, pangeran." kata Astana
"Beda gimana, maksudmu??" tanya Bala
Astana kemudian menjelaskan bahwa aku seperti thai dengan rencana itu. Ketika kembalinya Pu Palar dari Dandaka. Aku tidak lagi sedih. Selain itu, pangeran Satria jauh lebih sakti. Buktinya kekuatan Balaputra tidak ada yang bisa menembus kereta rencananya.
Balaputra terlihat menyimak setiap detil analisa Astana. Bala sangat percaya dengan Astana. Dia sangat cerdas dan mumpuni dalam menyusun strategi perang.
"Ya, aku memang sempat terkejut." kata Bala
"Pangeran, hamba punya saran untuk anda." kata Astana
"Apa? katakanlah." kata Bala
"Sebaiknya pangeran bertapa. Memohon kekuatan dan kedigdayaan kepada Dewa." saran Astana
Mendengar saran Astana, Balaputra nampak manggut manggut. Sepertinya dia setuju dengan usul Astana.
"Apa kau ada saran, dimana aku harus bertapa?" tanya Balaputra
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
Apakah Balaputra akan berhasil mendapatkan tambahan kesaktian?
Apa yang terjadi ketika Balaputra pergi bertapa?
Tunggu episode berikutnya.
note : berikut adalah contoh gambaran Taman Puspajali. (gambar sebenarnya adalah sebuah hotel yang mengambil konsep heritage).
With love
Citralekha
__ADS_1