Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Kembalinya Satria


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik vote, rate, like, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Prajurit segera membantu aku dan Pasopati untuk bisa melewati kerumunan masyarakat. Tak berapa lama kami sampai di pendopo dan dapat menyaksikan pertunjukan. Sontak aku dan Pasopati kaget melihat apa yang dipertunjukkan.


"Satriaaaa" teriakku


Ternyata Satria kembali dengan membawa seekor macan. Binatang buas tersebut sudah jinak dan menunjukan talenta bermainnya.


Satria kemudian melihat ke arahku dan tersenyum. Akan tetapi pertunjukan yang Satria tampilkan tidak membuat Pasopati senang. Dia (Satria) menyiksa macan tersebut jika macannya tidak menuruti perkataan Satria.


"Satria kejam sekali." gumam Pasopati


Aku melihatnya juga kasian terhadap macan itu. Mata macan berkaca - kaca seperti menangis dan minta tolong. Aku segera mendekati Satria.


"Satria, hentikan. Kasian macannya." kataku


Tapi Satria tidak menggubris perkataanku. Bahkan dia menyiksanya dengan memukul macan menggunakan rantai. Dua kali pukulan membuatku tak tahan. Hingga akhirnya aku menahan pukulan itu.


"Satria hentikan." teriakku


Pasopati kemudian menyusul ke tengah arena. Dia juga menasehati Satria.


"Pangeran, kenapa kau sangat kejam dengan macan itu?" tanya Pasopati.


"Dia pantas mendapatkannya, karena dia tidak nurut dengan perintahku." kata Satria


Aku melihat ada suatu sorot mata yang aneh pada macan itu. Aku mendekati macan nya dan membelai kepalanya. Macan itu sangat manja padaku. Dia menjilati tanganku dan tangannya menyentuh kepalaku.


"Ada apa dengan macan ini?" gumamku dalam hati.


"Satria, aku mohon jangan siksa macan ini." kataku


"Baiklah karena ini permintaanmu. Aku akan kabulkan, prajurit kurung macan ini." perintah Satria.


Aku langsung membawa Satria ke pendopo pertunjukan. Satria memegang tanganku dengan sangat erat. Tangannya tidak selembut biasanya.


"Putri, ayo kita segera menikah. Lusa kita akan menikah." kata Satria.


Mendengar perkataan itu, macan tadi mengaum dan mengamuk pada prajurit. Macan tadi berencana menyerang kami. Tapi dengan sigap prajurit langsung menjeratnya. Macan tadi terus meronta - ronta.


"Bunuh saja macan sialan itu, kalau masih melawan." teriak Satria


Aku mendengar perkataan Satria menjadi tidak suka. Dia sangat arogan sekali.


"Tidak, mungkin macan itu lapar. Prajurit, obati luka macan itu dan kasih makan dengan baik." kataku


"Tidak biarkan macan sialan itu mati pelan - pelan." teriak Satria.


"Aku putri Pramodhawarddhani pewaris tahta Medang. Dengarkan perintahku, jaga dan perlakukan dengan baik macan putih itu." teriakku


Semua masyarakat, prajurit, dan Pasopati menyembah ke arahku. Tapi Satria melihatku dengan pandangan tidak suka.


"Kenapa?" bentakku


"Tidak putri, baiklah perlakukan macan itu dengan baik." perintah Satria.


Tak berapa lama dayang pembawa minum dan makanan sampai ke pendopo tempat kami duduk.

__ADS_1


"Pangeran, apa yang terjadi, kenapa kau tidak kembali ke Pikatan?" tanya Pasopati


"Aku berburu ke hutan mencari macan putih" kata Satria


"Lalu dimana gelang memberikanku?" tanyaku


Dia nampak gugup tatkala ingin menjawab pertanyaanku.


"Hm..anu, gelangnya jatuh." katanya


"Apa kau masih ingat gelang yang ku berikan warna apa?" tanyaku


Tapi belum sempat dia menjawab, tiba - tiba Balaputra datang dan menyela.


"Kakak ipar, apa kabar?" tanya Balaputra


Mereka berdua kemudian pelukan dengan sangat akrab. Melihat pemandangan itu, aku sedikit curiga, sejak kapan Balaputra dan Satria bersahabat. Yang ku tahu, mereka berdua bermusuhan dan ingin merebut tahta Medang dari tanganku.


Aku dan Pasopati saling lirik tatkala melihat mereka berdua semakin akrab.


"Apa kabar pangeran Balaputra?" tanya Satria


"Aku baik pangeran Pikatan. Kau pasti capek kan, nah silahkan minum ini." kata Balaputra sembari mengambilkan air gula jawa dari kendi.


"Wuah ada apa ini, pangeran Balaputra dan Pikatan sangat akrab ya." ledek Pasopati


Mereka (Pikatan dan Bala) hanya tersenyum ketika mendengar perkataan Pasopati.


"Oh iya, kakak Rakyan, tadi pangeran Pikatan ingin segera menikah denganmu. Bagaimana kalau diselenggarakan dalam bulan ini." kata Balaputra


"Tidak pangeran, pernikahan putri dan Rakai sudah ditentukan pada bulan Margasira (November), Suklapaksa (purnama)." kata Pasopati


Terlihat wajah tidak bersahabat dari Satria dan Balaputra. Tapi mereka menutupinya. Satria kemudian berdiri dan mendekatiku.


"Tidak Satria, kita sudah sepakat seperti apa yang dibilang Pasopati tadi." kataku


"Apa kau tidak ingin segera menikah denganku?" tanya Satria


Meskipun aku akan senang sekali jika pernikahan kami segera dilangsungkan. Tapi aku merasakan ada yang beda. Sehingga aku berniat mencari tahu kenapa Satria bersikap tidak seperti biasanya.


Aku kemudian mengajak Satria untuk berbicara bersama di pendopo Keputren. Aku mengedipkan satu mata ke Pasopati dan kami menuju ke Keputren. Setelah sampai di pendopo, aku masuk ke dalam bilik.


"Satria tunggu dulu di sini, ya. Aku akan mengambil sesuatu." kataku


"Baiklah, jangan lama - lama, aku rindu padamu." kata Satria


Aku masuk ke bilik kamarku dan ternyata Pasopati sudah ada di dalam bilikku. Dia masuk melalui jendela kamarku.


"Rara, sepertinya ada yang salah dengan Satria." kata Pasopati


"Iya, aku juga berpikir begitu." kataku


"Sekarang apa rencananya?" tanya Pasopati


Aku kemudian mengambil kotak kayu berukir teratai di dalam meja riasku. Aku mengambil gelang tri datu dari Dewa Indra.


"Aku akan memberikan kembali gelang ini." kataku


"Lalu?" tanya Pasopati


"Kau akan tahu nanti." kataku


Aku kemudian keluar dari bilik kamarku. Satria sudah menungguku dengan senyum.

__ADS_1


"Sayang, kau lama sekali. Aku sudah tidak sabar ingin memelukmu." kata Satria.


"Satria duduklah, aku ingin mengembalikan gelang mu yang jatuh." kataku


Aku segera menyerahkan sebuah gelang kepada Satria. Tapi dia sepertinya ingin menyingkir.


"Kenapa?" tanyaku


"Ti ... Ti... Tidak, kenapa aku harus memakainya?" tanya Satria.


"Ini adalah gelang perlindungan, kau akan terlindung dari hawa jahat." kataku


Satria terus berpaling dari gelang itu. Melihatnya demikian aku semakin curiga.


"Sini biar aku yang memakaikannyaa." kataku


"Sayang tolong masukan gelang itu ke kotaknya lagi, nanti setelah aku mandi aku akan memakainya." kilahnya


Aku segera menuruti permintaan Satria. Aku memasukan gelang tadi ke kotak kayu dan memberikannya kepadanya. Dia segera pergi membawa kotak kayu itu. Tak lama kemudian Pasopati muncul dari balik jendela.


"Gimana?" tanya Pasopati


"Dia nggak mau memakainya. Tapi dia akan memakai setelah mandi katanya." kataku


"So, aku ingin melihat macan tadi. Ayo antar aku." kataku


Aku dan Pasopati segera menuju ruang kebun binatang istana. Pasopati bertanya kepada penjaga untuk lokasi macan itu.


"Prajurit dimana macan tadi?" tanya Pasopati.


"Ada pangeran Pasopati disebelah ujung kanan." kata prajurit.


Aku segera melangkahkan kaki ke tempat yang ditujukan dengan prajurit. Macan itu begitu melihatku langsung bangun dari duduknya dan mendekatiku.


"Macan putih, bagaimana kabar mu?" tanyaku


"Ra dia seekor macan, bagaimana dia bisa menjawab pertanyaanmu." kata Pasopati.


Aku terus memperhatikan macan yang terus manja denganku.


"Macan ini sangat manja padamu." kata Pasopati


"Iya, aku sangat menyukai macan ini." kataku


Aku kemudian mengambil daging ayam yang disediakan oleh prajurit. Aku segera memberinya makan daging mentah. Tapi dia tidak mau makan daging mentah.


"Aneh macan ini tidak mau makan daging mentah." kataku


"Iya putri, macan ini hanya mau jika dagingnya direbus." kata prajurit.


Aku dan Pasopati saling bertatap muka. Lalu aku meminta prajurit untuk segera menyiapkan daging matang. Setelah dagingnya siap, aku memberikannya makan dan benar saja macan itu mau memakannya.


"So, kenapa aku sayang banget ya sama macan ini." kataku


"Entahlah'' kata Pasopati


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.


with love


citralekha

__ADS_1


__ADS_2