
*Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan komen ya*
Happy Reading.
.
.
Pendeta itu tidak melanjutkan perkataannya, tetapi kemudian mengangkat kan tangan dan membaca mantra "Om Siwa Sthana, Om Brahma, Wisnu, Maheswara, Loka datu..". (maaf tidak saya lanjutkan mantranya).
Tak berapa lama bangunan megah muncul di seberang danau yang penuh dengan bunga teratai. Betapa takjubnya aku melihat Candi Prambanan utuh tidak hancur seperti yang ku lihat di duniaku. Aku terus memandangi bangunan itu, ditambah dengan mekaran teratai berbagai warna semakin membuat aku takjub dan tak berkedip.
"Indah sekali candi nya." gumamku
Aku masih terheran dengan kemunculan candi prambanan yang indah.
"Rakyan" panggil Pendeta itu.
Kubiarkan pendeta itu memanggilku dengan kata 'Rakyan'. Aku pernah dipanggil seperti itu oleh penduduk sekitar Parahyangan Bodisatwa.
"Iya, Pendeta" jawabku.
"Apa kau takjub?" tanyanya.
"Iya, pendeta. Di duniaku, candi ini banyak yang hancur pendeta, dan sekarang jadi tempat wisatawa yang terkenal sampai ke penjuru dunia" kataku
Pendeta itu kemudian tersenyum. Dia langsung melangkahkan kaki dan mengambil setangkai bunga teratai.
"Bunganya cantik, Pandita." kataku
Pandita itu lalu memberikan bunga itu kepadaku. Aku merasa tersanjung dengan Pandita itu. Tak kusangka aku mendapatkan apresiasi yang luar biasa.
"Untukmu, Rakyan." katanya
"Terimakasih Pandita." kataku
Pandita kemudian melanjutkan pertanyaannya kepadaku tentang candi prambanan di masa depan.
"Rakyan, apakah banyak warga asing yang datang ke Candi ini?" tanyanya
"Banyaaaak banget pendeta, mereka sangat mengagumi candi ini" kataku.
Aku kemudian menceritakan banyak orang kulit putih dari seluruh penjuru dunia yang dayang ke Candi. Keberadaan candi ini membuat perekonomian masyarakat sekitar menjadi makmur dan menyumbang devisa negara yang banyak.
"Syukurlah jika candi ini bermanfaat untuk semua orang." kata Pandita
"Iya Pandita, semua candi yang dibangun pada masa Mataram memberikan manfaat untuk negara ini." kataku
__ADS_1
Pendeta itu tersenyum kembali dan menjelaskan kenapa banyak orang datang dikemudian hari untuk mengunjungi tempat ini.
"Rakyan, apa kamu tahu kenapa orang asing itu suka ke sini?" tanyanya.
"Enggak" jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Karena parahyangan ini dibangun dengan penuh rasa cinta, kebhaktian kepada Dewata, dan rasa tulus dari seluruh Rakyat Medang" jelasnya.
"Rakyat Medang?" tanyaku
"Iya, ini adalah wilayah kerajaan Medang. Kerajaan yang memiliki kotaraja di Poh Ptu" jawabnya
"Poh Ptu?" tanyaku
"Rakyan, apakah kau bener tidak ingat dengan semua ini?" tanyanya padaku penuh dengan keheranan.
"Tidak pendeta, bahkan ini tempat baru pertama kali aku datangi" jawabku.
Aku tidak tahu dengan apa yang Pandita bicarakan. Aku merasa ini adalah kali pertama aku datang ke abad ini. Penjelasan Pandita membuatku semakin bingung. Di sisi lain aku bahagia karena bisa masuk ke dunia lain, ke masa lalu. Suatu saat aku akan menceritakannya pada anak dan keturunanku.
"Apa kamu tahu, kenapa kamu bisa sampai di sini? bagaimana caranya?" tanyanya.
Aku kemudian menjelaskan tentang pesan dari kakekku, dan juga cara aku berkomunikasi dengan dunia ini. Aku mengatakan bahwa Mama ku pernah berpesan untuk aku ke Prambanan setelah mendapatkan panggilan. Aku juga menyampaikan bahwa suatu hari nanti aku akan berjodoh dengan seorang pangeran dari Abad ini.
"Kakek?" tanyanya.
Pendeta itu kemudian tersenyum dan berkata.
"Apa kamu pernah melihat wajah kakekmu sebelumnya?"
"Pernah, sekali. Saat aku berada dalam area pemakaman dan hendak digangguin sama para hantu". terangku.
Aku kemudian mengingat bagaimana wajah dari kakekku. Tapi ternyata aku tidak mengingat dengan jelas. Wajahnya saat menemuiku penuh dengan sinar. Sehingga tidak terlihat jelas olehku.
"Apa kamu pernah diwarisi ilmu kesaktian dan pusaka oleh kakekmu?" tanyanya lagi.
"Tidak, karena kakekku sudah meninggal ketika aku belum lahir. Jadi aku tidak tahu secara langsung bagaimana kesaktian kakekku" kataku.
Tapi aku pernah mendengar dari mama dan tetangga ku. Kakek memiliki banyak pusaka yang sangat sakti. Akan tetapi pusaka itu kemudian di labuh dan dilarung. Beberapa pusaka diwariskan kepada orang yang disukai kakek. Mama ku tidak mewarisi pusaka apapun dari kakek.
"Apa kamu merasakan kalau kamu memiliki perlindungan?" tanyanya.
Aku bingung dengan maksud perlindungan. Tapi aku menyadari apa yang dimaksud oleh Pandita itu.
"Hmmm... iya, terutama dari bangsa halus, yang hendak berbuat jahat kepadaku. Aku seperti mempunyai dinding yang tidak bisa ditembus oleh mereka" kataku.
"Baiklah, apa kamu anak tunggal, apa ibu mu pernah mati, apakah kamu pernah dilindungi oleh ayahmu?" tanyanya.
__ADS_1
Aku kemudian menceritakan riwayat hidupku dan aku binggung, kenapa pendeta itu bisa tahu padahal aku tidak cerita. Aku juga menangis ketika mengingat tentang perjuangan Mama ku yang merawat aku seorang diri. Mama sekaligus menjadi sosok ibu dan ayah untukku.
"Dari mana kamu tahu tentang aku, Pendeta?" tanyaku.
"Itu adalah ujian yang harus Rakyak lakukan. Rakyan tidak butuh perlindungan dari siapapun. Rakyan sudah terlindungi sejak kamu belum dilahirkan. Kamu harus mampu melindungi dirimu sendiri. Kamu harus teruji bahwa kamu mampu melakukan semua hal yang mungkin orang lain tidak bisa lakukan" terang pendeta itu.
"hmmm.. Pendeta, apakah nanti aku bisa kembali ke dunia nyataku?" tanyaku.
"Tentu bisa, apa kamu ingin kembali sekarang?" tanyanya
"Apakah aku boleh tahu bagaimana candi itu dibangun" tanyaku.
Pendeta itu kemudian tersenyum manggut manggut.
"Tentu boleh, tapi paduka Rakai yang akan menjelaskannya langsung" terangnya.
"Paduka Rakai?" tanyaku.
"Iya, dialah suamimu. Dialah pendamping hidupmu di sini, dan di Kehidupan selanjutnya. Ingatlah Rakyan, bahwa kamu akan selalu terhubung dengan tempat ini, dengan Parahyangan Brahman. Tempat ini dikehidupanmu yang sekarang akan menjadi tempat yang sangat kau rindukan. Tempat kau akan melangsungkan upacara besar. Upacara itu harus kau sendiri yang lakukan. Kau akan dikenal oleh banyak orang.Kau selalu berdampingan dengan parahyangan. Terlebih ketika kau sudah bertemu dengan paduka Rakai. Sekarang kembalilah ke alam nyatamu. Suatu saat kita akan ketemu lagi. Perjumpaanmu dengan paduka Rakai akan membuatmu menjadi nyaman untuk selalu kau berada di sini. Kembalilah sekarang, jika kau masih penasaran. Tanyakan pada Rakai tentang apa yang ingin kau tau. Selamat jalan paduka Rakyan kembalilah" katanya yang penuh dengan arti dan maksud yang aku sendiri kurang tau.
Aku bingung dengan penjelasan Pandita tentang pesannya ini.
"Maksudnya apa Pandita?" tanyaku
"Jawabannya akan segera hadir sebentar lagi. Pangeran akan menjemputmu sebentar lagi." katanya
"Menjemput?" tanyaku
"Iya pangeran akan segera menjemputmu dan akan mengajakmu pulang ke istana." katanya
Aku semakin bingung dan ingin bertanya lebih banyak lagi. Tapi tiba - tiba Pandita mengangkat tangan dan mengarahkannya pada ku. Ada seberkas cahaya yang menyelimuti wajahku. Cahaya itu terlalu kuat dan kemudian aku memejamkan mata dan mengucapkan mantra.
"Om Nama Siwaya." ucapkan
Tak berapa lama cahaya itu hilang dan aku membuka mata.
**
Episode kali ini cukup ya dan terimakasih telah berkenan membaca
With love
Citralekha
kira - kira ilustrasinya seperti di bawah ini
__ADS_1