Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Rakai Adhiraksa Sida dan Rakyan Sanjiwani


__ADS_3

** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


"Mau kemana putri?" tanya Adhiraksa


"Maaf pangeran, aku mau mandi dulu. Oh iya di sana ada penjagaku yang baru. Kamu tolong bantu obati luka dia akibat Widasari." kataku


Setelah itu, aku masuk kamar dan bersiap untuk mandi. Adhiraksa pun kemudian menuju balai alit samping kamarku. Dia mendekati Sanjiwani yang tertunduk. Dia mengamati tentang wanita yang sedang membelakangi dia. Mendengar langkah kaki, Sanjiwani kemudian berbalik badan.


"Kau??" kata mereka secara bersamaan


Mereka berdua saling menunjuk satu sama lain. Adhiraksa kaget, ternyata wanita yang akan datang adalah Sanjiwani. Demikian juga dengan Sanji, lelaki yang ada di depannya adalah Adhiraksa.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Adhiraksa ketus


"Seharusnya aku yang tanya ke kamu. Ngapain kamu di sini? Kau mau menipu semua or ...?" kata Sanjiwani


Belum sempat Sanjiwani melanjutkan perkataan. Tangan kanan Adhiraksa sudah menutup mulut Sanjiwani.


"Ikut aku" ajak Adhiraksa


Mereka berdua kemudian menghilang. Adhiraksa mengunakan ajian halimunan. Sebenarnya mereka tidak pergi jauh. Tapi dengan ajian itu, mereka tidak terlihat dan tidak terdengar.


"Kenapa menggunakan aji halimunan? kau takut aku membongkar penyamaranmu?" goda Sanjiwani


"Lihat di balik pohon jambu." kata Adhiraksa


Benar saja, tak berapa lama setelah mereka menghilang. Ada sepasang mata yang kemudian keluar dari rimbunan daun jambu.


"Sial, kemana perginya pangeran Adhiraksa dan Rakyan Sanjiwani. Tapi ini berita bagus. Akan ku sampaikan kepada putri Widasari. Jika mereka berdua saling kenal." katanya sambil tersenyum licik.


Melihat dirinya di untit oleh orang lain. Membuat Sanjiwani murka. Dia mengeluarkan ajian 'sireping manah'. Ajian itu merupakan sebuah ilmu yang dapat membuat seseorang lupa dengan apa yang dilihat dan di dengar.


"Kenapa kau melakukan itu, Adhi?" tanya Sanjiwani


"Aku merasakan dia akan berbuat jahat dengan kita." jawab Adhiraksa.


Aku pun kemudian keluar kamar. Tapi ternyata di balai alit, aku tidak menjumpai Adhi dan Sanjiwani.


"Kemana mereka pergi?" gumamku


Lalu ada dayang yang melintas di depanku.


"Dayang, apa kalian tahu kemana pangeran Satria dan Putri Sanjiwani?" tanyaku


"Ampun putri, tadi hamba melihat mereka masih di sini. Tapi ketika kami kembali mengambil minum. Ternyata mereka tidak ada." kata dayang


"Baiklah, apa mereka ke balai obat ya." kataku


"Putri, kalau begitu. Biarkan kami saja yang ke balai obat. Putri tunggu saja di kamar." saran Dayang.


Aku pun mengiyakan saran Dayang. Tapi, aku seperti merasakan ada aura aji halimunan.


"Seperti halimunan" gumamku

__ADS_1


Tapi aku terus melangkah masuk ke kamar.


"Adhi, ayo hilangkan halimunan ini" pinta Sanjiwani


"Ikut aku" ajak Adhiraksa


Mereka kemudian menuju taman Puspa Dharma. Menurut Adhiraksa di sana lokasinya bagus untuk berbicara empat mata.


"Kenapa kau bawa aku ke sini?" tanya Sanjiwani


"Aku rasa di sini aman. Sanjiwani, kau harus tahu. Putri Nararia mendapatkan anugrah dewa. Dia berasal dari masa depan. Dia juga memiliki pusaka teratai emas dan panah pancaroba." jelas Adhiraksa


"Ya, aku tahu. Makanya aku kembali untuk memastikannya." kata Sanjiwani


Mereka berdua kemudian duduk di pendopo yang dikelilingi oleh teratai emas.


"Adhi sekarang katakan padaku. Apa yang terjadi dengan Rakai Pikatan? kenapa kamu datang ke sini menggantikan posisinya?" tanya Sanjiwani


Adhiraksa kemudian menjelaskan. Bahwa Satria sedang bertapa untuk menambah kesaktian. Jadi dia menggantikan posisi satria untuk sementara waktu.


"Sanjiwani, aku harap kau bisa mengerti. Bahwa Nararia hanya untuk sementara waktu. Bersabarlah" kata Adhiraksa


"Aku tidak menyangka bahwa dia akan datang secepat ini. Tapi aku takut, jika Satria nanti tidak mengenaliku." kata Sanjiwani sedih


"Jika saatnya tepat, kita akan buka semua rahasia ini. Aku rasa Kak Satria tidak ingat bahwa dia pernah ke masa depan. Dia lupa pernah membawa Nararia ke abad ini. Tugas kita adalah membantu Satria segera membuat mahakarya candi." kata Adhiraksa


"Ya, Siwa Grha adalah gerbang putri Nararia kembali ke masa depan." kata Sanjiwani


**


(Di kamarku)


"Puspa, Kencana keluarlah" kataku


Tak berapa lama mereka berdua segera keluar dari tubuhku. Puspa tersenyum manis. Sedangkan Kencana terlihat mengeluarkan nafas yang panjang.


"Kenapa kalian berdua?" tanyaku


"Bukannya kami yang harusnya bertanya. Ada apa putri kau memanggil kami?" tanya Puspa


Aku segera menjelaskan tentang Pasopati, Sanjiwani, dan Adhiraksa. Aku ceritakan semua bahwa Adhiraksa tahu tentang masa depan.


"Puspa apa kau tahu, siapa sebenarnya Rakyan Sanjiwani?" tanya ku


"Dia pendekar yang hebat. Dia baik hati, dan penuh welas asih. Dialah kesayangan Bodhisatwa." kata Puspa


"Dia siapa, dari kerajaan mana?" tanyaku masih penasaran.


"Dia dari kerajaan Medang, putri." jawab Kencana


Aku kaget, kalau Rakyan Sanjiwani dari Medang. Ternyata dia sudah berbohong. Dia mengatakan dari kerajaan timur Jawa.


"Berarti dia berbohong. Apakah dia mempunyai niat yang jahat?" tanyaku penuh curiga


"Tidak putri, dia baik dan selalu berpegang teguh pada kebenaran." jawab Puspa


"Suatu saat nanti, kita akan kasih tahu kamu. Siapa sebenarnya Rakyan Sanjiwani." kata Kencana


Setelah itu, mereka kemudian masuk lagi ke tubuhku.

__ADS_1


"Duuh, kok sudah hilang sih. Padahal tadi aku mau tanya, kapan Satria selesai bertapa." gumamku


**


(Widasari)


Sekembalinya dari keputrenku. Widasari uring - uringan. Dia membanting seluruh perabotan yang ada di dalam kamarnya. Dayang berusaha menenangkan. Tapi malah jadi sasaran kemarahan Widasari. Seorang dayang kemudian pergi memanggil Pasopati. Dayang tahu bahwa penyebab utama Widasari uring - uringan adalah Pasopati.


Pasopati kaget, karena mendapatkan laporan dayang. Dia segera menuju Keputren Widasari. Pasopati tahu bahwa penyebab utamanya pasti krna Sanjiwani. Widasari cemburu terhadap Sanjiwani.


"Wida, buka pintunya. ini aku Pasopati." teriak Pasopati


"Pergiiii!!! kamu jahat bangeraan. Aku benci kamu." kata Widasari sambil membanting cangkir perunggu ke pintu.


Pasopati lalu bertanya dengan dayang. Sejak kapan, Widasari bersikap aneh seperti itu.


"Ampun pangeran, putri bertingkah aneh semenjak pangeran ke hutan tanpa pamit. Padahal putri telah berdandan untuk pangeran." kata dayang


Pasopati paham, bahwa kemarahan Widasari bertumpuk- tumpuk. Pertama, dia telah meninggalkan Widasari. Kedua kembali ke Istana dengan Sanjiwani. Ketiga, Sanjiwani diterima menjadi penjagaku.


"Wida, buka pintunya" kata Pasopati


"Pergi sana, urusin saja wanita itu." teriak Widasari


Pasopati tahu, bahwa sifat Widasari masih kekanak - kanakan. Dia kemudian mempunyai ide untuk mengerjai Widasari. Selain itu, dia yakin bahwa rencananya akan berhasil. Widasari pasti akan membukakan pintunya.


"Putri, kamu yakin tidak mau membuka pintu ini untukku?" tanya Pasopati


"Ya, betul ... Pergi sana, aku nggak butuh penghianat seperti kamu." kata Widasari.


"Yakin ya, nggak mau ketemu kakak?" ledek Pasopati


Pasopati kemudian meminta dayang untuk menjalankan rencananya.


"Putri putri, gawat. Cepat buka pintunya." kata dayang sambil mengetok pintu


"Pergi dayang, aku mau sendiri." teriaknya


"Putri, cepat keluar. Jangan seperti itu, pangeran Pasopati tadi bilang." kata dayang


"Bilang apa?" tanyanya


"Jika putri tidak mau keluar, pangeran akan menemui Rakyan Sanjiwani." teriak dayang


Mendengar hal itu, Widasari segera membuka pintu kamarnya. Dia takut, jika perkataan dayang benar. Dia membuka pintu. Pasopati tidak ada di luar kamarnya.


***


Episode kali ini cukup ya, terimaaksih atas waktunya. Maaf telat update, karena baru saja pulang mengantar kakak2 Grup - 2 Kopassus jalan2 ke Candi Prambanan.


Hmmm..sebenarnya Siapa sih Rakyan Sanjiwani ini?


penasaran nggak?


Jangan lupa like, vote, comment dan rate ya.


tunggu episode selanjutnya


with love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2