
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Bangsawan itu hanya tersenyum dan kemudian menghilang.
"Jadi ini adalah keturunanku juga. Hebat sekali generasi Mataram yang dahulu mengadakan pernikahan beda pulau." batinku
"Kak, ayo kita ke tempat dimana Mayadenawa dapat dikalahkan oleh Dewa Indra." kata Wira
"Baik, Wir." kataku.
Kami pun melakukan motor kami. Ya seperti dikatakan Wira, bahwa lokasinya sangat berdekatan. Sebenarnya berjalan kaki bisa. Tapi karena tidak mau ribet. Akhirnya kita menggunakan motor.
5 menit kemudian kami sampai di parkiran yang kami tuju. Aku sudah bersiap akan mengeluarkan dompet ku. Karena ku tahu dan lihat di papan informasi. Biaya tiketnya, per orang untuk dewasa Rp 25.000
"Nggak usah, Kak... biar Wira yang selesaikan." kata Wira
Dia pun lalu berjalan duluan mendahului kami. Sama seperti ketika di Goa Gajah. Tak butuh waktu lama, Wira segera kembali.
"Ayo kak masuk" katanya
"Mbayar Wir?" tanyaku
"Aman kak" katanya sambil senyum - senyum.
Kami pun lalu masuk sama seperti wisatawan lainnya. Sebenarnya tidak apa - apa sih mbayar. Untuk dana pelestarian, tapi kalau dapat gratis ya lumayan, hehehe...
Kami masuk disambut oleh para pecalang (tim keamanan adat) serta para pemangku. Mereka bertugas untuk memberikan tirta dan mengingatkan pengunjung wanita untuk mengikat rambut.
"Rambutnya sudah diikat?" tanya pemangku
"Sampun Jero Mangku" kataku
Ya, jika berkunjung ke Pura Tirta Empul. Wajib bagi seorang wanita untuk mengikat rambutnya. Hal itu dikarenakan sebuah konsep. Cerita tentang Dewi Dupradi (istri pandawa) yang rambutnya diurai karena dinodai oleh Kurawa. Dia berjanji tidak akan mengikat rambutnya sebelum keramas dengan menggunakan darah Dursasana (anak ke - 2 Kurawa). Sehingga bagi wanita yang menguraikan rambutnya dipercaya sebagai bentuk kemarahan. Orang yang marah (rambut nya diurai) tidak boleh masuk ke Pura. Masuk ke Pura harus dengan hati yang bersih dan ketenangan jiwa.
"Apakah ada sesuatu?" tanya salah satu Jero Mangku
"Ini kakak saya ingin meminta tirta Sudamala, Jero." kata Wira
"Ya, kalian silahkan melihat kemegahan pura dulu. Sembari nanti pengunjungnya berkurang." kata Jero Mangku.
"Baik" kata kami kompak.
Kami pun lalu masuk melalui gapura paduraksa. Ya gapura sebagai batas arena suci.
Seperti pada umumnya pura-pura di Bali, Pura Tirta Empul secara horizontal terbagi atas tiga halaman, yaitu halaman luar, halaman tengah, dan halaman dalam.
Pada halaman luar (jaba) terdapat beberapa bangunan seperti wantilan dan kolam beserta ikan hias untuk memperindah pura. Di halaman tengah terdapat beberapa bangunan, antara lain, Bale Pegat, Bale Agung, Bale Gong, dan Taman suci.
Pada halaman dalam yang merupakan halaman tersuci terdapat sejumlah bangunan suci pemujaan seperti Bale Piyasan, Bale Pemereman, Bale Pawedan, Pelinggih Mayadanawa, Pelinggih Patih Mayadanawa, Bale Priyasan Dewa, Gedong Pengemit, Gedong Dewa, Tepasana, Gedong Sari, Bale Pengaruman, dan Bale Peselang.
__ADS_1
wuuuuussh
Angin tiba - tiba berhembus dan membuat kain dan rambutku berkibar.
"Kita dipersilahkan masuk, kak" kata Andi
"Ya betul, Ndi... Aku melihat banyak bidadari sedang menundukan kepala. Sepertinya mereka hormat padaku." kataku
"Tentu putri, itu sebagai bentuk penghormatan kepada titisan Ratu Mataram." kata Adhiraksa yang tiba - tiba muncul.
"Eh kamu muncul? kan tidak aku panggil" batinku
"Hello... apa anda lupa tuan putri. Saya berganti peran dengan Dewi Puspasari. Jadi selama Puspa dan Kencana. Aku lah yang akan melindungimu." kata Adhiraksa berasa menunjukan kesombongannya
Sebagai seorang Arkeolog, mataku langsung tertuju pada sebuah tempat. Ya tempat dimana terdapat banyak tinggalan Arkeologinya.
"Itu batu lingga kah?" tanyaku
"Empat buah batu alam. Batu-batu alam ini berada di halaman dalam pura, letaknya di dekat bangunan Gedong Sari. Batu-batu alam ini masih dianggap suci oleh masyarakat pengempon pura." kata Jofel
"Kemungkinan itu adalah menhir, Kak. Menhir atau tahta batu yang terkait untuk kepentingan keagamaan" sahut Andi
Menhir adalah batu tegak yang didirikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang. Menhir dapat berdiri tegak atau berkelompok.
Menhir merupakan refresentasi monumen megalitik yang didirikan oleh sekelompok masyarakat di tempat-tempat tertentu dan akan melegitimasikan hubungan antar kelompok masyarakat dengan leluhur atau nenek moyangnya.
Sementara itu tahta batu adalah salah satu hasil teknologi batu yang mula-mula berfungsi sakral sebagai tahta arwah nenek moyang atau pemimpin yang dihormati.
"Itu Yoni kan ya?" tanyaku
"Ya Kak betul, itu adalah lingga-yoni. Lingga yoni terdapat pada sebuah pelinggih arca di halaman tengah di sebelah barat kolam suci Tirta Empul. Lingga yang terletak (berdiri) pada lubang yoni dibuat dari bahan batu padas, dengan ukuran tinggi 21 cm dan lebar 16 cm. Sedangkan yoni yang berada di bawahnya, bagian sisinya berukuran 50 cm. Sebagai sarana peribadatan benda ini diketahui melambangkan kesatuan Dewa Siwa dengan saktinya Dewi Parwati" jelas Wira
Yoni adalah benda berbentuk seperti lumpang batu yang mempunyai cerat pada salah satu sisinya. Menurut kepercayaan Hindu, yoni merupakan simbol pasangan Dewa Siwa dalam wujud lingga. Oleh karena itu, yoni mempunyai pasangan berupa lingga yang bentuknya seperti tiang atau batu penumbuk yoni juga merupakan lambang unsur wanita, sedangkan lingga merupakan lambang unsur laki-laki. Persatuan kedua unsur tersebut dianggap sebagai lambang penciptaan dan kesuburan.
"Kenapa?" tanyaku
"Soalnya dari tadi putri nanya terus. Padahal kan putri tahu apa arti dan maknanya." kata Adhiraksa
"Ya, aku memang tahu semua itu. Tapi kan aku harus membuat orang di sekitarku menjadi penting. Sehingga aku harus berinteraksi." kataku
"Ternyata itu maksudnya, baik putri. Aku paham sekarang. Oh iya putri, waktu mu hanya sampai hari ini ya. Sebelum nanti malam ritual itu dilaksanakan." kata Adhiraksa
"Hari ini akan aku selesaikan" kataku
"Kak, ayo kita lanjut lagi." kata Andi
Aku pun lalu mengikuti mereka masuk ke dalam pura. Ternyata pura ini banyak mengandung tinggalan Arkeologinya. Aku melihat ada arca Dewi, arca binatang, pendopo, dan lainnya.
Di Pura Tirta Empul ditemukan dua arca binatang, yaitu lembu dan singa yang ditempatkan bersama-sama dengan lingga-yoni tersebut di atas. Sebuah arca lembu dari bahan batu padas ditemukan di Pura Tirta Empul. Arca lembu berukuran panjang: 90 cm, tinggi: 48 cm, dan lebar 36 cm, berbahan batu padas. Arca lembu dalam sikap telungkup di atas lapiksegi empat panjang dalam keadaan aus. Sebuah arca singa juga ditemukan di Tirtha Empul dengan ukuran tinggi 59 cm,lebar: 58 cm, dan tebal 32 cm, berbahan batu padas.
"Nandi ya?" tanyaku
"Betul kak, dia sebagai wahana Dewa Siwa. Sedangkan bentuk Siwa dan Parwati diwujudkan dalam Lingga dan Yoni." kata Andi
"Kak, ayo kita ke tepasana" kata Jofel
"Apa itu tepasana?" tanyaku
"Berdasarkan bentuknya, fragmen bangunan ini diperkirakan merupakan bagian dari susunan atap prasada atau candi. Fragmen yang berbahan dari batu padas ini pada bagian sisi-sisinya telah ditumbuhi lumut, sedangkan bagian sudut dan bawahnya dalam keadaan aus. Selain fragmen bangunan, di Pura Tirta Empul terdapat bangunan utama, yaitu tepasana yang mirip dengan bentuk candi." jelas Wira
__ADS_1
Aku bangga kepada ke-3 yuniorku ini. Ternyata mereka telah belajar banyak hal. Tidak salah aku mengajak mereka untuk mencari tirta sekaligus bisa belajar.
"Pura ini sangat unik lho kak." kata Jofel
"Uniknya kenapa?" tanyaku
"Pura Tirta Empul merupakan representasi dari pura taman air yang dikembangkan oleh para penguasa di masa lalu. Pemilihan mata air sebagai lokasi tempat suci tampaknya sangat sesuai dengan konsep India Kuno yang mensyaratkan bahwa lokasi sebuah kuil sedapat mungkin harus berdekatan dengan sumber air" terang Jofel
"Oh iya, tirta ... dimana tirta nya? Kak Nara kok belum lihat." kataku
"Ada di samping, Kak." kata Wira
Aku pun tertarik dengan beberapa panil yang tersaji dalam papan informasi. Aku sampai lupa, dari tadi ngomongin masalah deskripsi fisik. Sedangkan sejarahnya aku belum tahu. Jiwa Arkeologiku harus beranjak untuk mengetahui sejarahnya.
"Oh iya bagaimana sejarah berdirinya pura ini?" tanyaku
"Untuk dapat mengungkap sejarah pendirian Pura Tirta Empul, ada beberapa sumber tertulis yang dapat digunakan, antara lain Prasasti Manukaya dan pustaka lontar Usana Bali. Prasasta Manukaya adalah sebuah prasasti yang dipahatkan pada sebuah batu, sekarang prasasti tersebut tersimpan pada sebuah palinggih (bangunan suci) di Pura Puseh Desa Manukaya." jawab Wira
Begitu mendengar kata "prasasti". Aku pun langsung tertarik. Ya dokumen resmi kerajaan berupa data prasasti.
"Prasasti Manukaya?" tanyaku
"Ya Kak, Sejak tahun 1924 Prasasti Manukaya telah menarik perhatian di kalangan para ahli purbakala, khususnya ahli purbakala dari Belanda. Diantara mereka yang menaruh minat besar terhadap prasasti ini adalah W.F. Stutterheim. Stutterheim adalah orang pertama yang berhasil membaca Prasasti Manukaya dan kemudian diterbitkan dalam bukunya yang berjudul Oudheden Van Bali. Selanjutnya prasasti ini dibaca ulang oleh R. Goris dan diterbitkannya dalam bukunya yang berjudul Prasasti Bali." kata Wira
"Untuk mengetahui detil tentang Prasasti Manukaya. Mari ikut Jero Mangku ke patirtan." kata Jero Mangku yang tiba - tiba ikut nimbrung
Kami pun kemudian tersenyum kepada Jero Mangku dan mengucapkan salam panganjali.
"Putri kau akan mendapatkan sebuah ilmu tentang bagaimana cara melepaskan seseorang yang terkena pengaruh buruk. Serta kamu akan tahu bagaimana tirta itu akan bekerja." kata Adhiraksa
"Apakah dari Jero Mangku ini?" tanyaku
"Iya, beliau akan menunjukan lewat sebuah cerita yang terkandung dalam tirta ini. Kamu harus bisa menafsirkan maknanya agar nanti malam kamu bisa melakukan itu membebaskan para pangeran." kata Adhiraksa
"Mari, kita ke petirtaan. Izin saya akan jelaskan tentang cerita tentang mata air ini." kata Jero Mangku.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni. Selain itu, menulis beberapa episode ini diperlukan studi dan referensi. Sehingga informasi yang saya sampaikan valid.
next :
Cerita apa yang akan Nararia dapatkan di Tirta Mpul? Apakah cerita itu yang akan menunjukan bagaiamana dia akan membebaskan para pangeran Medang?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
Citralekha
*
Tinggalan Arkeologi di Pura Tirta Empul
__ADS_1
Pura Tirta Empul