
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Aku menutup mata dan menangis. Aku tak kuasa menahan haru dan rasa bahagia karena aku bisa bertemu dengan keluarga Siwa. Slama ini aku hanya membaca melalui kitab dan melihat perwujudannya melalu arca - arca di candi.
Suasana kali ini berbeda, aku kembali merasakan sentuhan tangan yang lembut. Aku juga mendengar suara alunan gentha. Aku berpikir, kalau ini sudah kembali ke Kalyana Sundara Grha. Aku segera membuka mata dan ternyata benar. Aku kembali bersama Satria yang sudah tersenyum manis.
Pandita juga menghentikan gentha nya. Beliau meletakan gentha dan mengambil air suci. Aku dan Satria diberikan air suci tersebut. Aku meminumnya sebanyak 3x.
"Terimakasih Pandita." kataku
"Putri dan pangeran, ritual belum selesai. Anda harus mengelilingi sebanyak 7x putaran pada arca Sang Kalyana." kata Pandita.
Aku dan Satria menurut saja. Kami segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Pandita. Sambil mengucapkan mantra om nama Siwaya, kami mengelilingi arca itu. Setelah itu, kami memandikan arca dan menaburinya dengan wewangian, seperti bunga dan irisan bunga pandan.
Kami juga melakukan hormat kepada Pandita dan memohon doa restu, agar pernikahan kami nanti dapat berjalan dengan baik.
"Sayang, ayo kita keluar dari bangunan ini." ajak Satria.
Aku segera mengikuti dia dan sekali lagi, aku masih memandang wajah tampan dan cantik, Kalyana Sundara. Arca itu seperti hidup dan tersenyum, juga melaimbakan tangan.
"Iya kak, makasih ya sudah mengajakku ke sini. Love you sayang." kataku
Kami keluar dari bangunan kecil itu dan dipersilahkan duduk di pendopo kecil. Asisten Pandita kemudian membuatkan kami minuman tradisional dan beberapa ubi - ubi rebus.
"Terimakasih Pandita." kata kami berdua
Kami kemudian bercakap - cakap dengan Pandita dan mendengarkan nasihat beliau. Satria konsultasi tentang proses pernikahan dan tatacara pernikahan. Aku hanya menyimak dan tersenyum mendengarkan penuturan dari Pandita.
Setelah berbicara beberapa lama. Pandita meninggalkan kami berdua untuk ngobrol.
"Rakyan aku ingin berbicara denganmu." katanya
"Ada apa, kak?" tanyaku
Aku khawatir dengan apa yang akan Satria bicarakan. Aku merasakan tidak beres, karena tidak seperti biasanya dia mengajak berbicara serius.
"Apa ada hal yang membuat kakak tidak nyaman?" tanyaku lagi
Dia hanya menggelengkan kepala dan tertunduk lesu. Aku melihat dia seperti itu langsung memandang dan mengangkat wajahnya. Aku kemudian memeluk dan memenangkannya. Aku bingung ada apa sebenarnya.
"Kenapa kak? ada masalah?" tanyaku
"Kita harus berpisah untuk sementara waktu." katanya
Dia langsung memelukku dengan erat. Aku bingung kenapa dan ada apa tiba - tiba mengatakan perpisahan.
"Berpisah? kenapa?" tanyaku penasaran
"Aku harus kembali ke Pikatan." katanya
"Apa ada yang terjadi dengan Pikatan?" tanyaku
__ADS_1
Aku tidak tahu, kenapa Satria tiba - tiba harus kembali ke Pikatan. Apakah terjadi sesuatu di Pikatan. Atau dia tidak nyaman tinggal di Istana Medang.
"Ada prajurit Pikatan yang menggabarkan kalau ayah raja Pu Patapan sedang sakit." kata Satria
"Sakit apa, kak?" tanyaku
"Aku juga tidak tahu, sakit apa. Prajurit hanya bilang kalau ayah raja sedang sakit." kata Satria
Aku merasakan hal yang aneh dengan kabar dari prajurit Pikatan. Ada hal yang mencurigakan, tapi aku tidak tahu. Hatiku merasakan hal yang aneh.
"Berapa lama kakak ke Pikatan?" tanyaku
"Aku kurang tahu, segera setelah kondisi ayah membaik. Aku akan segera membawa rombongan dan meminangmu." kata Satria
"Apa aku perlu ikut ke Pikatan untuk menengok ayah raja Patapan?" tanyaku
Aku berharap diizinkan melihat dan menjenguk orang tua kak Satria. Aku penasaran dengan wajahnya. Aku juga penasaran dengan daerah Pikatan dan kondisi wilayah utara.
"Kamu tetap di Medang. Jangan kemana - mana sebelum aku kembali." kata Satria
"Kapan kakak akan berangkat ke Pikatan?" tanyaku
"Besok sebelum Surya menyingsing aku harus berangkat." kata Satria.
Aku sebenarnya tidak ikhlas harus berpisah dengan Satria. Bahkan semenitpun aku tidak mau berpisah dengan dia.
"Sayang, ayo kita kembali ke Medang." kata Satria.
Kami segera bergegas pamitan ke Pandita dan siswa di asrama Kalyana Sundara Grha. Setelah itu, kami menuju kereta dan segera kembali ke kerajaan. Aku semakin tidak nyaman dan berharap waktu berhenti agar Satria tidak meninggalkan ku.
Perjalanan ini aku gunakan sebaik - baik mungkin. Sepanjang jalan aku tiduran di pangkuan Satria. Sifat manjaku membuat dia semakin berat meninggalkan ku.
"Omong kosong macam apa kak?" tanyaku
Aku langsung bangun dan memandang wajahnya. Satria langsung mencium bibirku. Lama sekali kami berciuman. Entah apa yang membuat kalau ini akan menjadi perpisahan yang agak lama. Aku sangat takut kehilangan dia. Tapi aku nggak mau membuat Satria tahu kalau aku sangat khawatir.
"Kak, setelah sampai di Pikatan segera kirim telik sandi untuk mengirimkan surat kepadaku." kataku
"Iya sayang aku pasti segera berkirim surat dan memerintahkan prajurit khusus untuk mengantarkan langsung kepadamu." kata Satria.
Aku ingat dengan gelang manik - manik yang diberikan oleh Dewi Sakti. Sepasang gelang itu adalah hadiah pemberian dari sang dewi. Aku berniat memberikan kepada Satria. Gelang itu menurut Puspa adalah gelang perlindungan.
Aku segera mencari gelang itu di buntelan jarik yang aku gunakan. Setelah ketemu, aku memakaikan gelang itu di lengan Satria.
"Kak, aku punya hadiah untukmu." kataku
"Hadiah?" tanya Satria
Aku segera memakaikan gelang itu di lengan kanan Satria.
"Berjanjilah kepadaku jangan pernah melepas gelang ini. Gelang kita sepasang. Jika kau menghilangkan maka kita tidak akan berjodoh." kataku
"Apa maksudmu, sayang?" tanyanya
"Ini adalah gelang sakti pemberian Puspa. Ini akan melindungi kita dari makhluk halus." kataku
Satria kemudian melihat gelang dan membandingkan dengan gelang yang aku pakai.
__ADS_1
"Serasi, kan?" tanyaku
"Iya sayangku." katanya singkat
Dia memeluk ku dengan erat. Tak terasa perjalanan kami sudah sampai di kota raja.
"Sayang bangun, kita sudah sampai di kota raja." kata Satria
Aku menggeliat dan tersenyum manis serta mencium pipinya.
"Segeralah kau istirahat, kau pasti capek." kata Satria
Tapi jujur aku ingin menghabiskan malam ini bersama dia.
"Bisakah kita terus bersama malam ini?" tanyaku
"Tidak sayang, kita belum boleh untuk menghabiskan malam bersama. Segera setelah ayahku sembuh kita akan menikah." kata Satria
Kami tidak langsung menuju bilik kami. Tapi menuju ke singgasana dan menghadap kepada orang tuaku. Satria ingin pamit dan mohon restu kepada orang tuaku.
"Ayah raja, mohon maaf menganggu. Ijinkan hamba kembali ke Pikatan untuk beberapa waktu." kata Satria
"Kenapa pangeran, apakah ada hal yang mendesak di Pikatan?" tanya ayahku
"Ayah raja Pu Patapan menurut telik sandi Pikatan sedang menderita sakit. Hamba diminta untuk segera kembali ke Pikatan." kata Satria
"Baiklah pangeran, hati - hati di jalan. Sampaikan salam hormatku pada kakak Pu Patapan." kata ayahku
Satria segera mendekat dan menghaturkan sembah kepada ibu dan ayahku.
"Segeralah kembali ke Medang, sepertinya putriku tidak akan sanggup berpisah denganmu." kata ibuku.
Aku ada ide untuk minta izin kepada orang tuaku untuk ikut ke Pikatan bersama Satria.
"Ayah ibu, bolehlah Rakyan ikut ke Pikatan menjenguk ayah Pu Patapan?" tanyaku
Ayah dan ibuku saling berpandangan.
"Nak, tidak elok jika seorang wanita datang ke negara orang yang belum ada ikatan resmi. Pangeranmu akan segera kembali dan meminangmu secara resmi." kata ibuku
Aku hanya bisa melepas kepergian Satria dengan berat hati.
"Segera kembali dan kita akan segera menikah" kataku
"Iya, aku berjanji akan segera kembali dan menikah denganmu." kata Satria
Aku mengikuti dan mengantar Satria ke Kesatrian. Sebelum itu aku memeluknya dengan erat.
"Ada apa, sayang? dari tadi kau memelukku dengan erat." kata Satria
"Aku pasti sangat merindukan mu." kataku
Malam cepat datang, dengan berat hati, aku kembali ke Keputren. Aku bahkan tidak bisa tidur dan terus memikirkan Satria. Aku berharap bisa ikut, hingga terlintas dalam pikiranku untuk mengikutinya dari belakang dan menyamar.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.
__ADS_1
With love
Citralekha