Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Hutan Larangan


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, rate, dan comment ya*


Happy reading


.


.


"Hutan Larangan??" teriak Widasari


Dia nampak kaget ketika mendengar kata Hutan Larangan. Tabib kerajaan segera masuk ke balai obat dan nampak kaget karena Widasari sudah sadar dari sakitnya.


"Putri Widasari?, bagaimana mungkin anda sudah sehat, Pangeran Pasopati belum kembali. Bagaimana anda bisa sembuh?" tanya tabib


"Aku juga tidak tahu, tabib. Mungkin Kak Rakyan bisa menjelaskan." kata Widasari


Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan mereka berdua. Tidak mungkin aku memberitahu yang sebenarnya.


"Aku juga tidak tahu, aku tadi tertidur dan bangun - bangun sudah melihat Wida bangun." kataku


Aku mencoba mencari alasan agar mereka tidak curiga.


"Oh iya tabib, bisa diceritakan kenapa dengan hutan larangan?" tanyaku


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak bertanya tentang kesembuhan Widasari tanpa getah pohon pulai. Tabib kemudian menjelaskan tentang hutan larangan yang ada di perbatasan kota raja.


"Hutan itu dijaga oleh makhluk sakti bernama Kala Maruti. Dia adalah raksasa yang kejam. Akan tetapi jika ada seorang lelaki maka akan diculik dan dijadikan suami oleh putri raksasa." kata Tabib


"Lalu bagaimana dengan Pasopati?" tanya Widasari


"Seharusnya pangeran sudah kembali jika tidak ada halangan." jelas Tabib


Aku semakin khawatir dengan Pasopati. Aku takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Bagaimanapun juga semua kejadian ini karena salahku.


"Aku akan menyusul Kak Pasopati, ke hutan larangan." kata Widasari


"Tidak putri, itu terlalu berbahaya. Raksasa itu pasti akan langsung membunuh putri. Kesaksiannya tidak bisa diremehkan. Hanya dengan pusaka dewa kembang teratai emas. Raksasa itu bisa dibinasakan. Tapi sampai sekarang tidak ada yang memiliki pusaka dewa itu." terang tabib


Pusaka teratai emas yang dapat membunuh raksasa itu. Artinya akulah yang harus ke Hutan Larangan. Tapi bagaimana mungkin aku bisa keluar dari dalam istana dengan penjagaan yang sangat ketat. Apalagi orang tuaku pasti akan melarangkuke hutan itu. Meskipun aku mampu membunuh raksasa itu, tapi mereka tidak tahu kalau aku lah pemegang pusaka itu.


"Wida, kamu istirahat dan berdoa saja. Semoga Pasopati segera kembali." kataku menenangkannya


"Kau tidak tahu perasaanku, Kak. Kau lah yang bersalah, jika terjadi sesuatu dengan Kak Pasopati. Kau harus bertanggungjawab." kata Widasari


Aku menengok dan langsung kembali ke bilik kamarku. Perkataan Widasari memang benar, semua ini karena salahku. Jika Widasari tidak melihat adegan Pasopati menolongku. Maka dia tidak akan jatuh dna membuatnya ke hutan larangan.


"Putri, tidak seharusnya anda berkata seperti itu. Dia adalah putri mahkota." kata tabib

__ADS_1


"Maaf tabib, aku terbawa emosi. Tolong bawa aku ke bilik kakak." pinta Widasari


.


.


(Hutan Larangan)


"Pangeran ini adalah hutan larangan. Pohon pulai merah ada di hutan bagian dalam. Apakah pangeran yakin mau masuk?" tanya prajurit.


"Apapun yang terjadi, aku akan masuk untuk menyelamatkan Widasari" kata Pasopati


Tak berapa lama angin kencang datang. Semua pohon bergerak karena hempasan angin. Suara gemuruh dan tawa dari makhluk Kala Maruti membuat siapapun menyaksikan akan lari terbirit - birit.


"Ggggrrrrr ... siapa kau anak manusia, yang berani sekali masuk ke wilayahku." kata Maruti


"Permisi, maaf aku tidak bermaksud menganggumu. Aku Pasopati, pangeran dari Medang. Aku datang ke sini untuk meminta getah pohon pulai merah." kata Pasopati


"Kau pangeran tampan, sangat cocok untuk menjadi suami dari putriku. Aku akan mengizinkanmu mengambil getah pulai merah tapi dengan syarat. Kau harus menikah dengan putriku." kata Maruti


Mendengar persyaratan dari Maruti jelas Pasopati tidak akan mau menuruti permintaannya. Maka terjadilah pertarungan yang sengit antara prajurit Pasopati dan Kala Maruti. Tapi yang dibukanlah manusia. Sehingga dengan mudah prajurit Pasopati dapat dikalahkan. Tiba giliran Pasopati untuk menghabisi prajurit Maruti. Tapi tak berapa lama Pasopati dapat dikalahkan oleh Maruti. Pasopati ditangkap dan dibawa ke penjara istana Kala Maruti.


Istana Kala Maruti adalah istana tak kasat mata. Sehingga tidak akan mudah dilihat oleh mata kepala biasa. Melihat ayahnya membawa seorang pangeran tampan. Kala Geni (anak Maruti) nampak bahagia. Dia disebut kala Geni karena rambutnya menyala seperti api. Pasopati Tak sadarkan diri, akibat pengaruh dari ajian sakti Kala Maruti.


Kala Maruti segera meminta prajuritnya untuk menyiapkan upacara pernikahan ala kerajaan demit. Sang Geni sangat bahagia. Dia pun malih rupa menjadi seorang putri yang cantik. Demikian juga dengan keadaan istananya.


.


.


Aku masuk ke dalam bilik kamarku dan menangis. Aku menyebut nama Satria berulang kali. Kemudian terlintas olehku untuk keluar istana secara diam - diam untuk masuk ke Hutan Larangan.


Aku kemudian mencari selendang warna hitam. Aku membalutkan wajah dan tubuhku dengan kain hitam. Aku juga menggunakan penutup kepala dan wajah. Agar tidak ketahuan. Selanjutnya adalah aku keluar dari bilik kamar secara diam - diam.


Tapi tak berapa lama Resi Narada muncul di sampingku. Aku langsung mengucapkan sungkem kepadanya.


"Terimalah sembah hormat hamba, sang rsi." kataku


"Narayan Narayan ... Putri mau kemanakah kamu?" tanya rsi Narada.


"Pasti resi sudah tahu, saya ingin kemana. Saya ingin ke hutan larangan menyelamatkan Pasopati." kataku


"Putri, kau harus segera ke Hutan Larangan membebaskan Pangeran Pasopati. Dia dalam bahaya, jika tidak segera ditolong dia tidak akan bisa kembali lagi." terang Rsi Narada.


Sang Rsi kemudian membawaku menghilang dan keluar dari istana tanpa diketahui oleh orang lain. Tak berapa lama, Widasari, tabib, dan dayang sampai di depan bilikku.


"Kakak, maafkan aku. Tadi aku tidak sengaja berbicara kasar dengan kakak." kata Widasari.

__ADS_1


Mereka kemudian kembali ke balai obat karena tiba - tiba Widasari pingsan. Dia belum pulih, karena penyembuhannya belum sempurna.


.


.


(Hutan Larangan)


Aku sudah sampai di tepian hutan. Sang Rsi pun meninggalkan ku seorang diri. Aku merasakan hawa jahat dan dingin menyelimuti hutan ini. Terlintas dalam pikiranku untuk kembali ke Medang. Tapi nyawa Pasopati harus segera diselamatkan


"Putri, aku akan membuka mata batinmu. Agar kau bisa melihat dalam keadaan gelap dan melihat dimana istana Kala Maruti berada." kata Rsi.


Aku kemudian duduk bersila dan siap dibuka mata batinku. Setelah semuanya selesai, sang rsi menghilang dan aku membuka mata.


"Aaaaakkkkhhhhh" teriakku


Aku melihat berwarna warni wujud makhluk tak kasat mata di depanku. Mereka menghampiriku dan menggodaku. Lantas aku segera melawannya. Aku gunakan ilmu beladiri yang telah Dewi Sakti berikan padaku. Pertarungan tidak imbang, karena aku hanya seorang diri. Sedangkan makhluk astral itu sangat banyak.


Aku menjauh dan melesat dari kepungan makhluk itu. Aku segera mengeluarkan panah dan busur. Aku memanah mereka 1/1. Setelah itu, aku bisa memusnahkan mereka semua. Aku bernapas lega, setidaknya sambutan tak ramah dari pemilik wilayah telah aku kalahkan.


Aku harus berhati- hati agar tidak menarik perhatian makhluk lain. Terpikir olehku untuk mengganti pakaianku menggunakan kain kafan dari mayat hidup itu.


"Hueeek, baunya busuk banget." gumamku


"Kalau bukan karena Pasopati, ogah aku menyamar jadi mayat hidup ini. Mana bau bangke ni kain." umpatku


Aku segera masuk menjelajah hutan larangan. Setidaknya aroma manusiaku sedikit tertutup oleh bau bangke kain yang aku pakai.


Aku melewati sekumpulan makhluk astral yang sedang membicarakan pernikahan antara Kala Geni dengan Pasopati. Mereka tidak menyerangku dan menganggap aku adalah bagian dari mereka.


"Bagus, mereka tidak curiga." batinku


"Eh pernikahannya kapan akan berlangsung?" tanyaku pada hantu kuntilanak.


"Besok malam, ihihihihi." katanya


Aku melihat bayi yang digendongnya melirik ke hadapanku. Matanya penuh darah dan menyeringai seperti mau menghisap darah.


Aku segera menyingkir dari hadapannya. Takut penyamaran ku terbongkar oleh bocah setan itu.


"Awas kau Pasopati, kau harus membayar mahal atas tindakanku hari ini." batinku


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih sudah berkenan mampir.


with love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2