Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Desa Terbersih di Dunia


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


Setelah berpamitan, mereka pun melajukan motornya. Menjauh dari Villa Tabanan milik Mas Putu.


"Mbak Nara ... Ayo masuk, kita makan." panggil Mas Putu


"Ah iya mas" kataku


Ketika aku masuk sampai ke Meja Makan. Aku tidak melihat Aura dan Tamara.


"Prasta, kemana Aura dan Tamara?" tanyaku


Prasta kemudian memandang ke arah Satria. Sepertinya dia meminta persetujuannya.


"Kamu kenapa nanyain mereka? bukannya mereka itu sudah jahat dengan mu?" tanya Satria


"Ya kan dia jahat karena terkena pengaruh negatif." kataku


"Narario mari kita makan dulu. Besok kita mau liburan bareng - bareng." sahut Mas Arya yang memotong pembicaraanku dengan Satria


"Kemana?" tanya kami kompak.


Pak Gede, Mas Arya, Gusde, dan Mas Putu pun juga kompak menjawab.


"Ada deh, hehehe" jawab mereka


Akhirnya aku pun ngalah dan duduk untuk makan malam. Tapi jujur aku memang masih penasaran dengan Tamara dan Aura.


*


(Malam hari).


Aku sedang menikmati bintang sendirian. Tiba - tiba aku dikejutkan dengan secangkir susu hangat.


"Minumlah lumayan untuk menghangatkan badan" kata seseorang dari belakangku.


Aku pun lalu menoleh ke belakang. Ternyata tangan itu milik Satria.


"Hai, kamu." kataku


"Boleh aku temani?" tanya Satria


"Silahkan" kataku


Beberapa saat kemudian kami saling diam dalam kebisuan masing - masing. Hingga akhirnya, Satria mengalah dan mengawali keheningan itu.


"Nara ..." katanya yang kemudian berhenti


"Apa?" tanyaku


"Aku mau mengucapkan terimakasih karena kamu telah menolong kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Jika kamu tidak menolong kami. Tapi aku masih penasaran, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku dan Prasta sedang dalam pengaruh jahat? lalu bagaimana kamu bisa mengetahui tirta penawar serta menyelamatkan kami masuk ke Setra Ganda Mayit? Jika kamu manusia biasa, itu sangat mustahil kamu bisa melakukan itu semua." kata Satria panjang lebar.


Sejenak aku terdiam, mencerna satu per satu pertanyaan dari Satria. Aku bingung aku harus bagaimana. Aku jelas tidak boleh membuka rahasia siapa aku. Tapi bagaimana aku menjelaskan kepada nya.


"Adhiraksa" batinku


Tak lama kemudian dia muncul.


"Jawab saja, kalau kamu dapat petunjuk lewat mimpi. Terus kamu konsultasi dengan Pandita. Sehingga kamu diberikan jalan dan kemudahan." kata Adhiraksa


"Cakeeep ... makasih ya" kataku


"Nara, kamu kok malah terimakasih denganku? Seharusnya aku yang terimakasih denganmu. Kamu belum menjawab pertanyaanku, lho." kara Satria


Adhiraksa memang sangat usil, hampir saja aku ketahuan. Tapi jawaban dari dia dapat digunakan sebagai alibi.

__ADS_1


"Aku tahu lewat mimpi, kemudian aku ke Pura Luhur Lempuyang. Di sana, aku bertemu dengan seorang Pandita. Ternyata Pandita itu waskita, Sat. Beliau tahu apa yang sedang aku pikirkan. Kemudian beliau memberikan solusi. Awalnya aku takut, jujur. Aku ini hanya manusia biasa. Tapi demi kalian, aku mengumpulkan tenaga dan keberanian." kataku


"Nara ... aku mau minta maaf pada mu. Selama ini, aku selalu jahat pada mu." katanya sambil memegang bahu ku.


Aku hanya tersenyum dan tidak menyangka bahwa Satria akan melakukan hal itu. Selama ini aku merasa, bahwa Satria bukanlah Satria ku. Tapi sifat nya kini hampir mirip dengan Satria ku.


"Nara, Satria ... apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Prasta


Dia datang lalu berdiri diantara aku dan Satria. Aku juga melihatnya sedang menggeser tubuh Satria.


"Sat, kamu tidak melakukan tindakan kejahatan dengan Nara, kan?" tanya Prasta


Prasta sangat curiga pada Satria. Dia pun lalu melihat ke arahku dan aku menggelengkan kepala.


"Aku baik - baik saja, tuan" kataku sambil tersenyum.


"Syukurlah jika Satria berani menyakitimu. Langsung aku deportasi seperti kami mendeportasi Tamara." kata Prasta keceplosan.


Dia lalu menutup mulutnya dan cenggar cenggir. Aku pun memicingkan mata. Ternyata mereka mendeportasi Tamara. Tapi bagaimana bisa?


"Apa? Kalian mendeportasi Tamara?" tanyaku


"Hehehe ... kelakuan Prasta tu." sahut Satria


"Kenapa? Elo enggak terima?" tanya Prasta balik


"Aku juga sudah mutusin dia." kata Satria


"Kalau lu dah putus sama Tamara. Apa maksud mu ngomong di depan Nararia?" tanya Prasta


Hmmm..Aku jadi tidak enak. Ternyata mereka berdua berdebat karena ucapanku. Eh pertama Prasta ding, yang mulai.


"Sudah ih, jangan seperti anak kecil. Ayo kita duduk di taman samping." kataku


Kami pun lalu pergi ke samping. Mengelar tikar dan duduk di bawah sinar bulan.


"Oh iya, kalau Tamara di deportasi apakah itu bisa?" tanyaku


"Nara, tenang lah sekarang dia tidak akan ganggu kamu. Dia sudah aman di pesawat. Aku bisa memastikan kalau dia akan sampai di Jerman. Aku sudah mengirim pengawal untuk mengawasi dan mematai dia." kata Prasta


"Enggak ada yang nanya tentang Aura." kata Prasta


"Aku cuma ngasih tahu saja, biar dia tidak penasaran. Lagian kamu ni, tadi sebelum kamu datang. Kita baik - baik ya Ra. Elu datang semua nya berubah." bela Satria


"Kamu masih saja ngeselin ya" kata Prasta


Aku lalu berdiri dan meninggalkan mereka berdua.


"Aku mau tidur, besok mau jalan - jalan, kan?" kataku


"Lha Nara, kok kamu pergi sih... Sat elo di sini saja." kata Prasta


Tapi Satria segera meraih tangan Prasta. Dia kemudian mendorong Prasta. Satria hendak melangkah duluan. Tapi Prasta tak mau kalah. Dia segera menarik tangan Satria. Dan...akhirnya mereka berdebat lagi. Aku pun hanya menggelengkan kepala. Aku langsung masuk kamar dan tidak peduli lagi dengan mereka berdua.


*


(Pagi hari).


Pagi - pagi kami sudah di info kalau akan mulai jalan pukul 09.00. Aku pun kemudian mandi dan siap untuk sarapan bersama.


"Ready to traveling, guys?" tanya Pak Gede


"Ready" jawab kami kompak


Kami lalu naik menuju ke depan. Sudah ada 1 minibus di depan. Perjalanan terasa menyenangkan. Banyak candaan yang kami lontarkan. Tapi kami tidak tahu, kemana akan pergi.


"Sebenarnya kemana sih kita akan pergi?" tanyaku


"Ke desa Terbersih di dunia." kata Gusde


"Desa Terbersih?" tanya Satria


"Sebentar lagi kita akan sampai." kata Mas Putu.


Desa Adat Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Dari Denpasar berjarak sekitar 45 kilometer, dekat dengan Kintamani atau Gunung Batur.

__ADS_1


Tak berapa lama kami sampai. Kami turun dan melakukan pembayaran tiket. Setelah itu, kita masuk ke dalam. Nuansa desa yang sangat kental dan bersahaja.


"Bagaimana sejarah nya desa ini?" tanyaku


"Nama Desa Penglipuran berasal dari kata pengeling dan pura yang artinya mengingat tempat suci (para leluhur). Pada awalnya masyarakat desa berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Mereka bermigrasi ke Desa Kubu Bayung (sekarang menjadi desa Penglipuran) dan akhirnya menetap dengan senantiasa menjaga keluhuran falsafah budaya mereka." jelas Mas Putu


Kami lalu melangkah maju dan mulai foto bersama. Kami foto di depan rumah adat. Serta disuruh nyobain loloh cemcem. Itu lho minuman khas Desa Penglipuran.


Awalnya Desa Adat Penglipuran hanya sebagai desa biasa layaknya desa-desa di Bali lainnya yang mempertahankan kekayaan budaya leluhur. Namun ketika datang mahasiswa UDAYANA untuk KKN pada tahun 1990, mereka membangun taman-taman kecil yang cantik serta penataan lingkungan.


"Bagaimana cerita nya desa ini dinobatkan sebagai Desa Terbersih?" tanya Prasta


"Rahun 1991-1992 ada beberapa wisatawan yang datang mengunjungi desa. Dan akhirnya pada tahun 1993 sesuai Surat Keputusan (SK) Bupati No.115 tanggal 29 April 1993 maka ditetapkanlah sebagai Desa Wisata Penglipuran." sahut Mas Arya


Desa Adat Penglipuran ini pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terbaik di dunia selain Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India. Desa ini sangat bersih, tak terlihat sampah berserakan. Kondisi ini dapat terbentuk karena tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan yang sudah ditanamkan sejak zaman nenek moyang dahulu.


Bahkan kendaraan bermotor tak boleh memasuki wilayah desa. Kendaraan bermotor bisa diletakkan di garasi namun melalui jalur yang berbeda. Anda juga tidak diperbolehkan merokok sembarangan. Jika ingin merokok harus dilakukan di tempat yang sudah disediakan.


Setiap rumah mempunyai sebuah pintu gerbang disebut Angkul-angkul. Semua rumah di desa ini seragam tetapi tidak sama, hampir mirip bahkan. Untuk ukuran rumahnya sama persis. Tercatat ada 985 jiwa dalam 234 kepala keluarga yang tersebar pada 76 pekarangan, yang terbagi rata di setiap sisi dari luas total 112 hektar.




Kami lalu mengambil banyak foto. Setelah itu, rombongan memisahkan diri. Kami dibebaskan pergi ke rumah manapun. Akan tetapi, pukul 13.00 kami sudah harus kumpul di depan papan informasi.


"Nara, ayo kita ke pura" ajak Prasta


"Aku ikut" sahut Satria


"Boleh tapi kalian jangan ribut lagi ya" kataku


Mereka lalu menganggukan kepala. Kami pun mengunjungi setiap rumah. Ada banyak karya seni yang disajikan secara live. Semuanya membuat mata kami menjadi manja.


"Pura nya sangat indah ya" sahut Satria


"Betul, ayo kita naik" ajakku


Tapi ketika hendak naik, aku menyenggol seseorang. Aku pun hampir jatuh. Segera Prasta menahan ku. Tapi saat itu juga, tanganku ditarik oleh Satria.


"Kamu nggak papa kan?" tanya Satria


"Mas, hati - hati kalau jalan. Pacar saya hampir jatuh ni" kata Prasta


"Hallo ... Pacar?? sejak kapan wooy?" tanya Satria.


Mereka berdua pun kembali berdebat. Aku lalu mendekati orang yang berpakaian Bali itu. Aku tidak tahu dia siapa, tapi buah yang dia bawa jatuh. Sehingga aku membantu mengambilnya. Saat buah terakhir, tangan kami sama - sama memegang buah yang sama.


Aku lalu melihat ke arah nya. Senyum nya berkembang. Demikian juga dengan ku. Aku tak menyangka jika aku akan bertemu dengan dia lagi. Wajah nya maish sama imut. Senyum nya masih manis.


"Cahaya Nararia" katanya sambil tersenyum


"Apa aku mimpi bertemu dengan mu?" tanyaku


Jujur sosok itu lah yang selama ini aku rindukan. Sudah lama aku tidak bertemu dengan dia. Setahu ku, dia sedang menjalankan pendidikan militer di Akademi Militer. Sehingga kita tidak pernah ketemu.


"Aku bantu berdiri" katanya


Aku langsung memeluk dia. Ya memeluknya serat mungkin. Aku sangat rindu dengan nya. Teman yang selalu ada saat aku butuhkan.


"Nara..." sahut Prasta dan Satria


***Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni.


next :


Siapa lelaki yang tiba - tiba langsung dipeluk Nararia?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


With love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2