Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Tentang Dihyang


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


***


"Nara, kamu enggak usah mandi saja. Tapi cukup badut muka, usap kepala, tangan, dan kaki." saran Adhir.


Aku pun hanya menggangukan kepala. Kebetulan siang ini, kita sangat beruntung. Petirtaan ini sepi, sehingga tidak ada orang yang menganggu kita.


"Kamu kenapa?" tanya Adhir


"Aneh, perasaan tadi banyak mobil deh. Tapi kenapa di sini tidak ada orang." kataku


Adhir pun hanya tersenyum lalu menjentikan tangannya di depanku. Astagaaa... ternyata dia membuat semua orang yang ada di petirtaan ini membisu diam tak bergerak.


"Aku lakukan itu, agar kamu nyaman. Masa putri mahkota harus berbaur dengan pengunjung lain." kata Adhir.


"Adhir... kamu itu ya, seharusnya biarkan saja. Putri mahkota kan dulu. Sekarang aku warga biasa." kataku


Tapi Adhir tidak suka di debat. Dia segera menyuruhku untuk membersihkan diri. Setelah itu, kami kembali ke mobil dan bersiap menjelajah alam dieng.


"Nara, apa kamu tahu tentang seluk beluk bangunan di Dihyang?" tanya Adhir.


Aku hanya menggelengkan kepala. Hmm..sebenernya aku tahu sih. Tapi aku pura - pura nggak tahu saja deh. Biar Adhir seneng, hehehe...


"Apa?" tanyaku


"Selain bangunan keagamaan juga leluhur kita meninggalkan jejaknya. Mereka meninggalkan jejak dengan memperlihatkan kekayaan leluhur kita." kata Adhir.


"Maksudmu apa sih, Dhir? Aku tidak tahu." kataku


Dia pun lalu menjelaskan kepadaku tentang maksud dari perkataan dia.


"Terlepas dari beragam pengaruh arsitektur yang ada di Dieng, dapat diketahui dewa yang dipuja di Dieng adalah trimurti, terdiri dari Brahma (pencipta isi alam semesta), Wisnu (pengatur waktu keberadaan isi alam semesta), dan Siwa (pengatur kembalinya isi alam semesta kepada alam keabadian). Ketiga dewa tersebut merupakan dewa-dewa utama dalam agama Hindu." kata Adhir.


Sebagaimana temuan dari Gemuruh, Wonosobo, berupa tiga lembaran emas yang memuat relief Siwa Mahadewa, Wisnu, dan Harihara serta sebuah arca Siwa dan Parwati dari emas. Di Jawa, sekte yang paling populer adalah pemujaan terhadap Siwa dan para pendampingnya (Parswadewata). 


"Pemujaan terhadap Siwa di Dieng diwujudkan dalam bentuk arca maupun simbolisasinya yang ditempatkan di dalam bilik utama candi (grbagrha), diikuti oleh dewa pendamping yang terdiri dari Durga, Agastya, dan Ganesha." kata Adhir


"Adhir, apa kamu tahu, bahwa Siwa juga digambarkan dalam berbagai bentuk?" tanyaku


Dia pun menganggukan kepala dan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Siwa digambarkan dalam berbagai perwujudan, yaitu Aniconic digambarkan berupa lingga (simbol laki-laki) yang diletakkan di atas yoni (simbol perempuan), Antropomorfik digambarkan dalam bentuk manusia, contohnya arca Siwa dan Mahaguru, Zoomorfik digambarkan dalam bentuk binatang contohnya arca Nandi." kata Adhir.


Dari sekian banyak penggambaran Siwa di Dieng, Siwa Trisirah  (Siwa diarcakan berkepala tiga)  dan  Siwanandisawahanamurti (Siwa diarcakan dengan posisi duduk di atas vahananya, nandi) adalah arca-arca  khas Dieng.


"Hebat kamu Nara, ternyata kamu tahu juga tentang penggambaran dewa dewi." puji Adhir.


Aku pun hanya tersenyum karena dipuji oleh Adhir. Oh iya, rute kita pertama kali ialah ke Candi yang paling tua. Tapi sebelum itu, kami melewati sebuah tempat.


"Ra, apa kamu tahu cerita dibalik itu?" tunjuk Adhir.


Aku pun lalu mengikuti petunjuk dari telunjuk Adhir. Hmm...ternyata dia menunjuk sebuah situs. Namanya Gangsiran Aswatama.


"Tempat untuk menyalurkan aliran air ketika menggenangi candi?" tanyaku


Dia pun menganggukan kepala.


"Istilah Bale Kambang dan Gangsiran Aswatama mungkin dahulu berfungsi sebagai saluran untuk membuang genangan air yang menutupi halaman Kompleks Candi Arjuna." kata Adhir.


"Memangnya Candi Arjuna pernah tenggelam?" tanyaku


"Iya, tapi penjelasannya nanti ya tentang Candi Arjuna. Kita ke Candi Bima dulu." kata Adhir.


Aku pun menurut dengan petunjuk Adhir. Oh iya, untuk masuk ke lokasi ini. Kita harus membayar tiket lagi. Karena kawasan Dieng berada di dua kabupaten. Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.


"Rp 50.000 untuk berdua, pak" kata penjaga loket.


Adhir pun lalu memberikan uang selembar seratus ribu.


"Kembalinya ambil saja, nih saya tambahin." kata Adhir.


"Untuk anak dan istri mu yang sedang menunggu dirumah." kata Adhir.


Aku pun tersenyum dengan sikap kedermawanan Adhir. Dia lalu memberitahu aku, bahwa anak nya penjaga loket tadi sedang sakit.


"Kamu tahu?" tanyaku


"Ya, hanya dengan melihat mata nya. Maka aku bisa melihat apa yang akan terjadi nantinya." kata Adhir.


Aku pun tertegun dengan sikap Adhir. Sungguh bener - bener sikap yang mulia. Tak berapa lama, kami sampai di parkiran Candi Bima.


Candi Bima merupakan salah satu situs candi terbesar yang ditemukan di kawasan Dataran Tinggi Dieng tepatnya di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi ini memiliki keunikan dimana bentuknya berbeda dengan candi-candi yang ditemukan di Jawa Tengah pada umumnya. Arsitektur unik candi ini sering dikait-kaitkan dengan gaya arsitektur India. Keberadaannya cukup dikenal karena berada di tepi jalur utama menuju kawasan Kawah Sikidang Dieng.


"Candi Bima yang dibangun sekitar abad VII-VII M masih menunjukkan pegaruh India yang kuat. Hal ini ditunjukkan dengan bentuk atap yang terpengaruh oleh dua gaya dari India, gaya India Utara tampak pada atap yang berbentuk menara tinggi (sikhara)." kata Adhir.


Sedangkan gaya India selatan ditunjukkan dengan adanya atap bertingkat dengan menara-menara sudut dan relung berbentuk tapal kuda dengan hiasan berupa arca kudu. Meskipun masih terpengaruh gaya India, namun hal itu menjadi satu keistimewaan yang dimiliki oleh Candi Bima, karena sampai saat ini gabungan dua gaya itu hanya dijumpai pada candi tersebut.


"Jadi candi ini sangat India sentris banget, ya?" tanyaku


"Iya, karena dulu ada pendeta dan arsitek dari India yang membantu masyarakat kita membangun candi. Jadi di sini adalah pusat belajar untuk membangun candi." kata Adhir.


"Candi Bima mirip dengan Candi Bhubaneswar di India Utara yang dikatakan merupakan perkembangan dari kuil dengan bentuk Shikhara (menara yang bertingkat). Di samping itu, gaya India Utara ditunjukkan dengan adanya Kudu yang terdapat di Candi Bima." kataku

__ADS_1


Hiasan kudu yang berbentuk menyerupai tapal kuda dengan hiasan relief kepala manusia ditengahnya. Relief semacam ini oleh beberapa ahli disebutkan gayanya mirip seni topeng di Jawa.


Sayangnya keterawatan Candi Bima cukup mengkhawatirkan karena pengaruh uap belerang menyebabkan batu-batu penyusun candi menjadi sangat rapuh.


"Kira - kira tingginya berapa meter ya?" tanyaku


"Candi Bima memiliki ketinggian sekitar 8 meter, dibangun di atas pondasi yang berbentuk bujur sangkar berukuran 6 x 6 meter" jawab Adhir.


"Oh iya, Ra... Apa kamu tahu kalau ada beberapa prasasti yang ditemukan di Kawasan Dieng?" tanya Adhir.


"Tadi disebutkan 22 prasasti. Tapi apa saja, aku nggak tahu." kataku sambil tertunduk.


"Biar aku yang menjelaskan." kata Adhir.


*


Prasasti Wayaku (Dieng I), berangka tahun 776 Ҫ, berbahasa Jawa Kuno, berbahan batu dan sekarang disimpan di Museum Nasional Jakara dengan nomor inv. D:20 est 337


Prasasti Manulihi A (Dieng II), berangka tahun 786 Ҫ, berbahasa Jawa Kuno, berbahan batu. Tempat penyimpanan saat ini tidak diketahui, tetapi di Museum Nasional tercatat dengan nomor inv. Est.2012; DP.2526-2527.


Prasasti Manulihi B (Dieng III), berangka tahun 792 Ҫ, berbahasa Jawa Kuno, berbahan batu. Tempat penyimpanan saat ini tidak diketahui, tetapi di Museum Nasional tercatat dengan nomor inv. Est.2102; DP.2528-2529.


Prasasti Widihati (Panggon), berangka tahun 813 Ҫ, berbahasa Jawa Kuno, berbahan batu, tempat penyimpanan di Museum Nasional dengan no. Inv. D.30; est.197 dan 202


Prasasti Dieng IV, berangka tahun 1132 Ҫ, berbahasa Jawa Kuno


"Banyak banget ya ternyata. Aku ingin mengkajinya" kataku.


"Boleh, Arkeolog Muda memang seharusnya begitu." kata Adhir.


Aku pun hanya tersenyum. Setelah kami berdiskusi tentang Candi Bima. Kami pun tak lupa untuk sembahyang memuja Dewa yang ada di Candi Bima. Setelah selesai, kami pun menuju ke candi selanjutnya.


****


SELAMAT HARI RAYA NYEPI YA TEMAN - TEMAN. SEMOGA TUHAN MEMBERKAHI KITA SEMUA.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".

__ADS_1


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2