Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Meredam Pemberontakan


__ADS_3

**Sebelum membaca jangan lupa like, vote, dan comment ya.


rate bintang 5 juga boleh.


coin juga boleh banget


Happy reading**


.


.


Satria dan Pasopati memutuskan untuk mencari para perusuh yang sudah merusak citra Satria. Pada awalnya, aku dan Widasari rencana akan di tinggal di Desa Dadap Manis. Tapi aku memaksa untuk ikut. Aku ingin membantu Satria meredam pemberontakan.


"Nararia dan Widasari sebaiknya kalian tinggal di sini bersama masyarakat Dadap Manis. Kami akan tumpas para perusuh." kata Satria


"Enggak mau, aku mau ikut dengan kalian menumpas pemberontak." kataku


"Benar, jangan anggap kami wanita lemah." timpal Widasari.


"Baiklah ... kalian bisa ikut tapi jangan ikut bertarung jika kami tidak terdesak." kata Pasopati.


Kami sepakat untuk berangkat menuju desa yang kemungkinan disatroni perusuh.


'Coba saja Kencana dan Puspa masih bersamaku. Dia pasti bisa menyelidiki dimana perusuh itu berada.' gumamku dalam hati.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Satria


"Aku ingin segera menumpas pemberontakan, kak." kataku


"Berjanjilah jangan jauh dariku saat menumpas perusuh." kata Satria


"Iya." jawabku singkat.


Kereta kami melaju dengan cepat. Kami ingin segera sampai ke desa selanjutnya. Tak berapa lama ada seorang lelaki yang menghadang kereta kami.


"Berhenti paduka, tolong kami." katanya sambil terengah - engah.


Satria turun dari kereta dan orang tadi langsung menuduhnya sebagai biang keladi.


"Ka aa.....uuuuu, penyebab semua ini." katanya


"Tenang lah kisanak, kalian pasti telah disatroni oleh perusuh yang mengatasnamakan aku?" tanya Satria.


"Bee ... ttuuul." katanya


"Dimana mereka, kami akan membuktikan kalau pangeran Pikatan tidak bersalah" kata Pasopati.


Aku kemudian mengusulkan kepada Satria, Pasopati, dan Widasari juga sais untuk berganti pakaian. Pakaian kebesaran kerajaan akan membuat perusuh takut dengan kehadiran kami.


"Kita menyamar saja dan berbaur dengan masyarakat." kataku


"Usul yang bagus, kisanak apa kau tahu dimana kami mendapatkan pakaian sepertimu?" tanya Satria


"Baik paduka, ikutlah bersama hamba."


Kami kemudian dibawa oleh salah satu masyarakat desa itu untuk berganti baju. Kami masuk secara diam - diam ke rumah orang itu. Setelah itu, kami diberikan baju dari keluarganya.

__ADS_1


"Ampun paduka, hanya ini baju terbaik yang kami miliki." kata orang itu.


"Terimakasih banyak ya kisanak." kata Pasopati


Kami langsung berganti pakaian dan menyamar menjadi penduduk desa.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Widasari


"Masih cantik kok putri." kataku


Kami meminta kepada orang itu untuk merahasiakan penyamaran kami dan akan segera bergabung dengan masyarakat desa selanjutnya agar dapat menangkap basah pada perusuh.


"Apakah cara ini akan ampuh?" tanya Widasari


"Kita tidak akan tahu kalau tidak mencoba, kan?" kataku


"Kita harus berganti nama, Sekar sebagai Nararia, Bayu sebagai Pasopati, Indra sebagai Satria, dan Arum sebagai Widasari." kata Satria.


Kami menuju ke Desa Lingga. Menurut orang tadi, desa di sekitar sini adalah Desa Lingga. Masyarakat Lingga pun sudah was - was jika segerombolan perusuh mengacau. Termasuk kami pun juga harus diperiksa ketika masuk ke perkampungan itu.


"Berhenti, kalian siapa dan mau kemana?" tanya penjaga desa.


"Maaf kisanak, kami dari desa di negeri seberang. Kami adalah yatri (semacam musafir)." kata Pasopati


"Ada apa kalian memasuki desa kami?" tanyanya lagi.


"Kami ingin numpang makan, istirahat, dan sembahyang." kataku


Kami berusaha meyakinkan mereka agar kami bisa memantau desa itu dari perusuh. Pasopati kemudian memberikan uang beberapa keping agar kami bisa masuk. Cara itu memang ampuh, yah tindakan sogok ternyata sudah ada sejak abad ke - 9.


"Ayo kita menuju warung itu." kataku


"Kenapa sayang?" tanya Satria


"Apa makanannya kurang enak?" tanya Pasopati


"Enak kok, ayo makan." kataku


Kami kemudian menyantap makanan dengan lahap. Kami juga mendengar bisik - bisik dari segerombolan orang itu. Orang itu kemudian mulai menebarkan gosip tentang Satria.


"Eh apa kalian tahu, kami adalah pembawa maklumat raja meminta pajak keamanan untuk pernikahan Pangeran Pikatan dan Putri Pramodhawarddhani." katanya


"Pangeran dari Pikatan itu sungguh tak tahu diri. Sudah menumpang dan akan merampas tahta, juga akan menyengsarakan rakyat." kata salah satu warga.


Satria terlihat sangat geram, tapi langsung aku tahan agar tidak menimbulkan reaksi lebih dulu. Kita harus mengumpulkan bukti dan informasi sebenarnya mereka itu suruhan siapa. Tapi aku sedikit curiga pada adikku, Balaputra. Tapi aku tidak bisa menuduh tanpa bukti.


Orang itu hendak pergi, tapi dicegah oleh pemilik warung karena mereka belum membayar.


"Maaf Ki, anda belum membayar." kata pemilik warung


"Apaa??!!, apa kalian tidak tahu kami utusan kerajaan??" kata salah satu orang.


"Tapi kami hanya pedagang kecil, mohon membayar." kata pedagang lagi


Segerombolan orang itu langsung menendang meja dan kursi makan. Mereka akan merusak tempat ini. Pemilik warung pun memohon agar warungnya tidak dirusak. Kami hanya memperhatikan saja. Kemudian salah satu orang itu menghampiri kami.


"Sepertinya kalian bukan dari orang sini. Kalian pasti punya banyak orang. Ayo bayar pajak orang asing." katanya

__ADS_1


"Maaf kisanak atas perintah siapa?" tanya Satria


"Kami membawa maklumat raja untuk menarik pajak tinggi untuk pernikahan Pangeran dan putri." katanya


Pasopati kemudian berdiri dan meminta bukti tentang pemungutan pajak yang sangat tinggi. Gembong itu langsung memberikan dan Pasopati membaca serta memperhatikan stempel kerajaan.


"Stempel ini palsu." kata Pasopati.


"Apa maksudmu?" tanya gembong


Pasopati melirik kepada Satria sebagai tanda untuk segera meringkus. Satria pun kemudian meringkus dan menahannya. Tindakan itu membuat sekelompok orang itu marah kepada kami.


"Hei lepaskan dia, kalian ingin melawan kami?" tanyanya


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanyaku


"Wah, ada cah ayu. Ayo ikutlah denganku. Akan kuberikan kesenangan dunia yang belum pernah kau nikmati." katanya


Dia berusaha mencolekku tapi langsung di tampar tangannya oleh Pasopati.


"Berani kalian menyentuh dua wanita kami, maka kalian akan segera mati." kata Pasopati.


Akhirnya terjadilah pertarungan. Saling lempar meja dan kursi. Satria kemudian menendang salah satu gerombolan keluar dan terjdilah pertarungan. Saling teriak dan baku hantam. Rombongan perusuh mengeluarkan pedang. Masyarakat sekitar menjadi kacau dan teriak ketakutan. Desa yang awalnya tertata rapi kini menjadi porak poranda akibat perkelahian itu.


Guci dan genting juga menjadi sasaran untuk saling dilemparkan. Aku dan Widasari menenangkan pemilik warung, karena mereka menangis warungnya sudah diacak - acak.


"Tenang lah, mbok.. nanti kami akan ganti." kataku


"Tapi, ini terlalu besar, apa kalian mampu?" tanyanya


Kami berusaha menenangkan mereka. Aku juga melihat bertandingan itu. Ternyata perusuh ini telah menempatkan pasukan panah dari segala penjuru.


"Berhenti kalian." teriak pimpinan warok


Satria dan Pasopati menghentikan serangan mereka. Mereka melihat sekeliling telah ada pemanah yang siap memanah mereka dan penduduk desa.


"Apa yang harus aku lakukan." gumamku


"Menyerah atau kalian semua akan mati!!" katanya lagi


Satria dan Pasopati saling lirik. Mereka kemudian menutup mata dan melakukan penyerangan secara cepat dan mengalahkan para pemanah itu.


"Hebaaat." kataku


"Putri, pangeran kita tu gagah perkasa. Tenang saja." kata Widasari


Pertarungan terus berlanjut. Saling serang, bermain pedang, perisai, dan senjata lainnya.


"Kapan pertarungan ini akan berakhir?" tanyaku


"Mereka terlalu banyak, kak." gumam Widasari


"Apa kita membantunya?" tanyaku


**


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya

__ADS_1


with love


citralekha


__ADS_2