
*Sebelum membaca jangan lupa untuk vote, like, dan comment ya*
Rate bintang 5 juga boleh.
.
---
Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Dunia berhenti bergerak, semua orang diam tak bergerak bagaikan patung dan lukisan. Aku masih bingung dengan semua ini. Siapa sebenarnya Satria ini. Kenapa dia bisa menghentikan waktu. Aku memang tahu hanya 3 dewa Tri Murti yang bisa menghentikan waktu.
"Satria ... aku mau berteman denganmu. Tapi bolehkah aku tanya 1 hal?" tanyaku.
"Tentu, katakanlah." kata Satria sambil tersenyum manis.
"Kamu siapa?" tanyaku yang masih bingung dengan keadaan seperti ini.
"Aku Satria." katanya.
Aku sangat curiga sama Satria siapa sebenarnya dia. Apakah dia awatara Dewa Wisnu atau Dewa Siwa. Aku masih bingung dan membuatku pusing akan hal itu. Aku kemudian tertunduk dan duduk lemas.
"Kamu kenapa Nararia?" tanya Satria yang ku lihat wajahnya sangat ketakutan.
"Aku nggak papa. Hanya pusing dengan semua ini. Kamu siapasih?" tanyaku lagi yang masih belum percaya.
"Harus berapa kali aku katakan. My name is Satria Dyah Seladu. You can call me Satria." katanya, dia berharap aku percaya padanya.
Aku masih menggelengkan kepala. Aku nggak percaya dengan ini semua. Aku sempet menganggap kalau ini mimpi.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanyaku lagi.
"Tidak, ini adalah nyata Nararia." katanya.
Aku kemudian menangis dan Satria langsung mengelus lembut kepalaku.
"Jangan nangis, aku nggak sanggup melihat wanitaku seperti ini. Bangunlah, percaya padaku." katanya yang sangat meyakinkanku.
"Kenapa kamu bisa menghentikan perputaran waktu?" tanyaku penuh selidik sebenarnya Satria ini siapa.
__ADS_1
"Ini suatu kebetulan, aku tak sehebat itu lah." katanya membela diri.
Aku kemudian berlari dan menghampiri Dika, Fais, dan Ivan. Mereka bertiga tepat berada di depan Candi Bubrah. Langkah mereka terhenti, mereka seperti patung tak bergerak sama sekali.
"Dika, Ivan, Mas Fais, kalian kenapa?" kataku sambil menggoyangkan tubuh mereka 1 per 1. Aku kemudian menangis.
Tangan lembut kemudian menyentuh bahuku. Aku kemudian menengok kebelakang.
"Kamu ngapain ke sini? belum puas membuat mereka semua seperti patung?" kataku sambil terisak.
"Aku akan kembalikan mereka seperti semula. Tapi ada syaratnya." kata Satria mencoba negosiasi bersamaku.
Aku kemudian mengusap air mata dan memandangi Satria.
"Katakan Satria, apa maumu?" kataku sambil berlinang air mata.
"Nararia ... jadilah temanku. Izinkan aku untuk melindungi dan teruslah bersamaku." katanya.
Tanpa pikir panjang, aku kemudian mengiyakan perkataan Satria.
"Ikutlah bersamaku dan kita akan kembali ke Prambanan." katanya.
"Aku mau di sini sama mereka. Sekarang kembalikan semuanya." kataku
"Nara, kenapa kamu tidak menyambutku penuh dengan kasih sayang?" kata Satria sambil berkaca - kaca.
Aku kurang tau apa yang membuat Satria ingin menangis. Aku tertunduk dan prioritasku sekarang adalah bisa mengembalikan ke dalam keadaan seperti semula.
"Nara, apa kamu tidak menginginkanku?" katanya lagi.
"Satria ... aku minta maaf tapi aku hanya ingin semua kembali. Kamu belum menjawab, siapa kamu sebenarnya. Apakah kamu hantu?" kataku sambil menangis dan terus menggoyangkan tubuh Dika.
"Nara, hanya demi manusia itu, kamu sampai menangis dan tidak memperdulikanku. Apa hebatnya dia?" kata Satria yang mulai tidak sabar.
"Tapi mereka adalah sahabatku. Aku sayang dengan mereka." aku terus menangis terisak sambil terus memanggil nama Dika.
Aku tidak lagi memperdulikan kehadiran Satria. Tapi tak lama kemudian semua keadaan kembali normal.
__ADS_1
"Rara ... kenapa kamu nangis?" tanya Dika dengan heran.
Aku kemudian melihat sekeliling dan semuanya telah normal. Aku langsung memeluk Dika, Ivan, dan Mas Fais.
"Ra, kamu nggak papa kan?" tanya Ivan penuh keheranan dengan sikapku.
"Apa kamu disakiti sama orang lain?" tanya Fais yang juga bingung.
Aku kemudian menyeka air mataku dan menjelaskan semua apa yang terjadi. Tapi mereka semua malah menertawakanku.
"Ra, kamu laper ya?" tanya Dika.
"Enggak, tadi tu ada lelaki tampan tapi dia jahat. Dia hampir membuat kalian meninggal." kataku sambil mencari keberadaan Satria. Ternyata dia sudah tidak ada di sini.
"Eh ... kemana dia, tadi dia ada di sini kok." kataku lagi sambil mencari - cari keberadaan Satria.
"Sudah sudah sudah ... makin kacau ni anak. Kamu capek? atau kita pulang saja?" tanya Ivan
Aku kemudian menggelengkan kepala dan sekali berkata kalau aku sudah ketemu dengan Satria, si lelaki misterius yang bisa menghentikan dunia.
"Kamu ni kebanyakan nonton kartun. Udah yok kita masuk ke Candi Bubrah." ajak Dika disertawi tawa geli dari Ivan dan Fais.
Aku masih tertunduk dan menangis, kenapa ini semua terjadi. Satria pergi kemana. Aku kemudian memejamkan mata dan ku sebut nama Satria.
*
Episode kali ini cukup ya teman - teman.
maaf kalau kemarin ndak update. Sebenarnya sudah update tapi belum dipublish sama mangatoon.
Maaf ya pertemuan Nararia dan Satria tidak selancar yang dibayangkan.
Tunggu episode berikutnya ya ...
with love
Citralekha.
__ADS_1