Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Adhiraksa Sida


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


*Spesial update hari ini ya gais, hayooo..jangan lupa vote nya lho*


***


Senopati Dandaka dan Ivan pun bertanya - tanya tentang hal itu. Kenapa tubuh Dika tiba - tiba bercahaya.


Kira - kira 5 menit tubuh itu bercahaya. Tiba - tiba cahayanya mulai meredup dan menghilang. Saat itu, kami semua terpukau dengan apa yang kami lihat.


Berdirilah seorang ksatria muda nan gagah dan mempesona. Lelaki dengan wajah sempurna dan hidung mancung.


Dialah Adhiraksa Sida



Lelaki yang kini memiliki badan kasar. Dia berubah menjadi manusia sempurna. Dia sangat tampan dan pastinya akan membuat wanita terperangah. Sosok baru itu berdiri tegak sambil mengembangkan senyumnya.


Kami semua masih terpukau melihat sosok baru Adhiraksa. Biasanya kami melihat dia dalam wujud Ardika Pradnyawan. Kini rupa nya secara nyata kita lihat.


"Ini lah anugrah dari Mahadewi Kali ketika kau sentuh dengan penuh cinta, putri." kata Kencana.


Aku lalu menengok kepada Kencana. Ucapan Kencana membuatku tersenyum.


"Tapi kemarin aku memeluk dia, tidak terjadi perubahan." kataku


"Karena kemarin yang kau inginkan adalah Ardika Pradnyawan. Tadi yang kau inginkan adalah jiwa Adhiraksa. Putri ... itu lah wujud manusia Pangeran Adhiraksa." sahut Puspa.


Kami semua lalu tersenyum bahagia. Ternyata Adhiraksa bisa memiliki tubuh manusia. Yeyeyey... udah gitu dia tampan, manis, dan cool. Kereeen pokoknya.


"Adhiiir" kataku


"Sanjiwani" sapa nya.


Kami pun saling menghampiri satu sama lain. (eehmmm seperti film India gitu deh. Lari - lari saling menghampiri) dan (seperti Teletubies) berpelukan.


"Putri Sanjiwani, terimakasih karena cinta tulusmu. Aku memiliki tubuh manusia." katanya


"Pangeran Adhiraksa... terimakasih ya kamu telah menjaga ku." kataku sambil menangis sesenggukan.


Rasa sayang dan saling mengasihi tiba - tiba muncul. Entah keberanian dari mana aku bisa mengatakan hal itu. Aku merasakan hangat sekali tubuh Adhiraksa. Pangeran tengik yang rela mengorbankan segalanya untuk aku. Pangeran tengik yang tanpa pikir panjang rela berkorban untuk Dika.


"Nara" sapa Dika.


Aku pun tersadar bahwa disitu ada banyak orang dan tak kasat mata.


"Dika" kata ku sambil tersenyum dan melepaskan pelukan Adhiraksa.


"Dasar manusia lemah, nggak bisa lihat orang bahagia sebentar saja. Cemburu bilang bos" ledek Adhiraksa.


"Eh pangeran tengik, sekarang gue merasa enteng. Bersyukur sekali elo sudah tidak numpang di tubuh gue." balas Dika.


Mereka berdua pun lalu berhadapan satu sama lain. Saling melirik, melotot, dan memancarkan aura persaingan.


"Eh tuan Dika, sekarang elo lihat. Tubuh gue lebih atletis dan gue lebih ganteng. Emang elo, pasukan khusus kerempeng." ledek Adhiraksa.


"Heleh, wajah mu itu karena terpengaruh kegantenganku. Kalau elo enggak numpang ke badan gue. Belum tentu wajahmu sedikit ganteng. Gimana pun juga tetep gantengan gue lah." balas Dika.


"Heleh, gimana pun juga gantengan gue dari segala arah. Gue tampan, kaya, sakti, setia, dan tidak sombong lagi." kata Adhiraksa.


"Elooo" balas Dika.

__ADS_1


"Stoooop" kataku


Setelah mendengar keributan ke dua manusia tampan itu. Akhirnya aku melerai mereka berdua.


"Kalian mau berantem?" tanyaku


"Dika dulu" kata Adhiraksa.


"Jelas - jelas Adhiraksa yang duluan" balas Dika.


"Stooop, hooop, berhenti bisa nggak?. Ayo kalian berdua baikan" bentakku.


Mereka masih saja saling tatap dan melirik satu sama lain. Hingga akhirnya aku meraih tangan mereka.


"Ayo buruan baikan. Kalau enggak, aku marah ni sama kalian." kataku


Aku langsung cemberut dibuat oleh tingkah mereka. Aku pun langsung menghampiri Ivan.


"Van, ayok kita jalan. Kita tinggalkan mereka berdua saja." kataku


"Iya, seperti anak kecil saja mereka tu." kata Ivan.


"Ayo Senopati, Puspa, Kencana kita pergi." ajakku.


Aku pun melirik kepada mereka berdua. Lalu hendak mengajak Puspa dan Kencana pergi. Sedangkan Senopati dan Ivan akan kembali ke rutinitas mereka.


"Kalau kalian nggak baikan dan berdamai. Aku nggak mau ketemu sama kalian lagi" ancamku


Mereka berdua langsung melirik dan menghampiri satu sama lain.


"Nara, stop ... tunggu iya kita baikan." kata Dika.


Dika dan Adhir pun kemudian saling berjabat tangan. Mereka juga berpelukan satu sama lain.


"Eh Dika ngeselin, inget ya kita masih saingan. Jangan harap loe bakalan menang melawan gue." kata Adhiraksa.


"Siapa takut, kita akan saingan secara sehat. Awas kalau sampai elo berbuat curang" kata Dika.


"Kami sudah baikan" kata mereka berdua.


"Oke, kalau gitu ... Kami pamit pulang ke Indonesia yah. Adhir kamu mau ikut pulang ke Indo atau tinggal di sini sama mereka?" tanyaku


Adhiraksa pun tersenyum manis dan sinis kepada Dika.


"Aku ikut kamu pulang ke Indonesia." kata Adhiraksa.


Tapi sebelum Adhiraksa menuju ke arahku. Terlebih dahulu dicegah oleh Dika.


"Tunggu, kalau kamu pulang ke Indonesia. Mau tinggal dimana kamu? Sebaiknya kamu tinggal di sini bersama kami. Ini kan sebagai tanda persahabatan kita. Kita akan berlatih ilmu tenaga dalam." kata Dika.


Dika pun tersenyum manis kepada Dika. Serta mencoba mempengaruhi aku.


"Tapi aku harus menjaga Nararia. Kasian dia sendirian." kata Adhiraksa.


"Nara sudah ada Dewi Puspa dan Pangeran Kencana. Sebaiknya elo disini sama kami." kata Dika bersikekeh.


Akhirnya aku pun memutuskan untuk nasib Adhiraksa.


"Yaudah, Adhiraksa .. kamu tinggal bersama Dika dan Ivan saja. Aku bisa jaga diri di Indonesia. Lagian kan kalian berdua bisa berlatih. Serta saling mengenal satu sama lain." kataku


"Tapi putri ..." protes Adhiraksa.


"Nggak ada tapi - Tapi an, elo disini sama gue." kata Dika.


Setelah itu, aku pun mengucapkan terimakasih dan melambaikan tangan. Kami bertiga lalu kembali ke Indonesia.


Sepeninggalan kami, tentu saja mereka berdua berantem. Hal itu membuat Ivan dan Senopati Dandaka lalu menyingkir.


*


Istana Kegelapan

__ADS_1


Saat itu, Raja Arda sedang duduk termenung di serambi depan. Para dayang pun menghibur raja nya yang sedang galau. Meskipun banyak wanita cantik. Tapi tetap saja, hal itu tak membuat Raja Arda bergeming.


"Maharaja Ardana Kumara." sapa Mahapatih.


"Ada apa patih?" tanya Raja Arda.


"Raja, mohon maaf ... apakah raja masih ingin mengejar cinta putri Sanjiwani?" tanya Patih.


"Tentu saja, aku sudah dibuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Jelas aku ingin mendapatkannya. Jika aku tak bisa maka siapapun juga tak boleh mendapatkannya." kata Raja Arda.


Ketika itu, datanglah Aura. Dengan tidak suka mendengar perkataan raja dan patih. Mereka berdua berusaha memprovokasi raja Arda.


"Raja Arda ... tidakkah kau tertarik padaku?" tanya Aura.


Aura pun menari dengan erotis di hadapan raja Arda. Segala rayuan dan belaian diberikannya. Tapi Arda tetap tak bergeming.


"Aura...Meskipun kau telanjang sekalipun. Aku tidak tertarik denganmu." kata Raja Arda.


"Raja Arda ... apa kurang nya aku dibanding Nararia itu?" tanya Aura.


"Dia tidak pernah menjatuhkan dirinya pada lelaki. Tapi lelaki lah yang ingin dengannya. Dia bak seperti piala oscar. Siapapun ingin mendapatkannya." kata Raja Arda.


Hal tersebut membuat Aura murka dan tamak. Hingga akhirnya Aura berusaha menyerang Raja Arda. Tapi dengan gesit, patih menahan serangan Aura.


"Putri Aura!! Apa yang kau lakukan?" tanya patih.


Aura pun dengan mudah dikalahkan oleh patih. Aura terjatuh dan menangis menahan sakit hatinya. Gak lama kemudian, Tamara datang. Dia menghampiri dan menolong Aura.


"Aura Jangan rendahkan dirimu. Raja Arda tidak menyukainya." bisik Tamara.


"Aku sudah jatuh cinta sejak raja Arda membuka dan menampakan wujud rupawan itu." kata Aura.


Tamara pun sekilas melirik pada Raja Arda. Ya memang benar bahwa wajah Arda sangat menarik dan mempesona. Bahkan dunia kegelapan pun sangat senang melihat wujud raja nya. Banyak para putri di dunia kegelapan yang ingin menjadi istri nya. Tapi tak seorang atau pun bangsa mereka yang memikat Arda.


"Tamara, bawa Aura menyingkir dari hadapanku." kata Raja Arda.


Tamara pun lalu membawa Aura pergi. Sepeninggalnya dua wanita itu. Raja Arda kembali melamun dan merenung. Dia membayangkan bagaimana ketika pertemuan nya dengan ku di hutan itu. Patih pun lalu memberikan sebuah ide agar Raja Arda bisa mendekatiku.


"Maharaja, saya punya usul agar Raja bisa berdekatan dengan putri Sanjiwani." kata Patih.


"Apa usulmu, patih?" tanya Raja Arda.


Patih lalu membisikan sebuah rencana. Hal tersebut membuat Raja Arda berbinar.


"Bagus sekali patih, aku akan ikuti saranmu." kata Raja Arda.


Dia pun lalu bangkit dan mulai menyusun rencana.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next:


Kira-kira apa rencana Raja Arda?


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"

__ADS_1


__ADS_2