Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Liyangan Part 2


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*


***


"Hei ini apa?" tanya Dika.


Dia memegang sebuah benda yang sangat banyak. Tapi benda tersebut dalam keadaan gosong. Dika lalu mengamati benda gosong yang dia pegang.


"Seperti padi eh beras gosong." kata Dika


"Coba lihat" kata Ivan


Ivan lalu mengamati beras gosong yang sedang dipegang oleh Dika. Benar saja, bahwa itu adalah sisa dari beras masa lalu.


"Iya betul ini beras gosong, kenapa bisa ada di sini?" tanya Ivan.


"Ini adalah sisa dari bahan pangan yang dimakan oleh penduduk Desa Liyangan. Karena pada waktu itu tiba - tiba terjadi letusan Giri Sindoro. Sehingga mereka tidak sempat membawa bahan makanannya." kata Adhiraksa.


"Betapa dasyatnya letusan pada waktu itu. Sehingga meluluhlantakkan percandian dan perkampungan kuna ini." sahut Dika.


Aku pun lalu berjalan menuju sebuah tempat yang secara kasat mata masih berupa timbunan tanah.


"Nara, kamu mau kemana?" tanya Dika.


"Mau ke sebuah tempat, disini aura nya sangat kuat banget." kataku


Mereka semua pun lalu mengikutiku. Aku lantas menjelaskan secara Arkeologi.


Keberadaan Situs Liyangan yang hancur karena aliran piroklastik Gunungapi Sindoro seringkali dikaitkan pula dengan isi Prasasti Rukam yang ditemukan di Desa Petarongan, Kecamatan Parakan, tidak jauh dari Situs


Liyangan.


Dalam prasasti yang diterbitkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung dan berangka tahun 907 M itu, memang disebutkan adanya desa yang hilang karena letusan gunung. Namun, tafsiran terhadap kemungkinan Situs Liyangan adalah desa atau wanua Rukam yang hilang karena letusan gunung masih diragukan. Diduga kuat wanua Rukam bukanlah desa yang hancur, tetapi justru desa yang menggantikan desa yang hancur.


Risalah sejumlah erupsi Gunungapi Sindoro terbaru


berdasarkan pertanggalan absolut yang cukup meyakinkan. Dalam risalah itu setidaknya ada dua erupsi yang hampir sejaman dengan prasasti Rukam. Keduanya hanya terpaut beberapa abad, yaitu sekitar


abad ke-8 dan abad ke-1). Informasi baru ini membuat diskusi tentang identifikasi wanua Rukam dengan Situs Liyangan akan semakin terbuka dan menarik.


Pengamatan tim peneliti terhadap temuan sejumlah struktur batu yang telah ditemukan memang memberikan kesan adanya dua tahap pembuatan struktur-struktur batu tersebut.


"Siapakah Maharaja Dyah Balitung itu?" tanya Dika.


"Kamu kenapa tiba - tiba berkata seperti itu?" tanya Adhiraksa.


"Entahlah, hatiku seperti bergetar ketika mendengar namanya. Apakah dia salah satu raja yang memerintah di Mataram?" tanya Dika.


"Ya, dia adalah cicit keponakanku. Asalnya dari utara Jawa. Dia kemudian menikah dengan putri mahkota. Jadi dia seperti kembaranku, Pikatan. Dia naik tahta karena menikahi Nararia." kata Adhiraksa.


"Dan elu berusaha merebut tahta Mataram dari kembaran elo?" ledek Dika.


"Dikaaaa!!" teriak Adhiraksa.


Tapi Dika kemudian membalas dengan menyulitkan lidahnya. Tentu saja hal itu membuat Adhiraksa geram.


"Hadeeeh dua manusia itu kapan akurnya, sih" kata Ivan


"Hahahha... biarkan saja, tapi itu bisa membuat hiburan kita." kataku


Kami pun lalu kembali berjalan tanpa dua pangeran tengik itu.


"Nara, lalu Balitung itu keturunannya siapa? Maksudnya dia pasti memiliki darah pangeran. Kalau tidak, dia tidak seharusnya tidak punya keberanian menikahi putri mahkota" tanya Ivan.

__ADS_1


Aku pun lalu tersenyum mendengarkan perkataan dan analisis Ivan. Memang betul, bahwa Balitung adalah keluarga kerajaan.


"Balitung adalah cicit Rakyan Pu Tamer." sahut ku


"Pu Tamer?" tanya Ivan


Dia seperti mengingat sebuah nama tadi aku sebutkan. Hal itu terlihat dari kerutan di dahi Ivan.


"Kenapa Van?" tanyaku


"Pu Tamer sepertinya aku pernah dengar nama itu. Tapi aku lupa dimana" kata Ivan.


"Pu Tamer itu adalah Tamara." sahut Adhiraksa.


Ivan pun terbelalak mata nya. Ya, memang Balitung adalah cucu dari Pu Tamer. Adhir dan Dika juga sudah selesai bermain.


"Kalian sudah kelar berantem kek anak kecilnya?" tanya Ivan.


Aku pun hanya tertawa mendengarkan ledekan dari Ivan.


"Cih, kenapa kamu tidak memisahkan kita?" tanya Adhir.


"Males banget" sahut Ivan.


Setelah itu, kita pun menuju sebuah tempat yang sangat unik lagi.


"Ini bangunan apa sih?" tanya Ivan


Dia menunjuk pada sebuah bangunan yang berbentuk ramping dan ada jaladwaranya.


"Ini namanya petirtaan" kataku


"Petirtaan? tirta ... air?" tanya Ivan


"Iya, ini adalah petirtaan kuna Liyangan. Jadi sebelum umat sembahyang ke arena utama. Terlebih dahulu mereka harus membersihkan diri. Dengan cara mandi atau membasuhi tangan dan kaki nya." sahut Adhiraksa.


Dika pun lalu memperhatikan petirtaan itu. Dia mengitari dan mengamati petirtaan itu. Ajaib ketika dia menyentuh salah satu jaladwaranya. Seketika itu, jaladwara yang tadinya kering berubah basah. Lama - lama air keluar dari mulut jaladwara.


"Dika" kataku lirih.


Seketika itu, aku melirik ke arah Adhiraksa. Apa maksud dari perkataan Adhir. Tapi memang benar, sih, Dika kenapa bisa mengendalikan jaladwara.


"Apakah itu efek karena dia pernah menyatu denganmu?" tanyaku


"Hmmm..aku kurang tahu, semoga seperti itu. Tapi, aku rasa ada kekuatan di balik semua ini. Kekuatan apa, aku tidak tahu." kata Adhir.


Kami pun lalu berjalan ke arah Dika. Kami perhatikan aliran air itu. Air yang sangat jernih dan menyilaukan mata.


"Ini seperti tirta gangga, air abadi dari Dewi Gangga." kata Adhiraksa.


"Di - Dika" kataku,.


Aku lihat dia masih memejamkan mata. Seperti tidak mau bangun. Tapi tangannya terus bergerak memainkan air itu.


"Eh iya, gimana ... aku tu tadi lagi mandi tau. Mandi di sungai gangga. Air nya jernih banget, seperti ini. Ya betul, seperti ini. Eh sejak kapan pancuran ini ada airnya?" tanya Dika.


Kami pun saling bertatap, gimana dia bisa tidak tahu coba. Bahkan pancuran itu mengeluarkan air karena ulahnya. Dia yang menyentuh jaladwara itu.


"Tadi kamu bilang sedang mandi di Gangga?" tanya Adhiraksa.


"Iya, air yang berasal dari pegunungan Himalaya. Terasa dingin dan dipenuhi dengan teratai yang sedang bermekaran. Indaah banget pokoknya" kata Dika sangat antusias.


Adhiraksa lalu memegang tangan Dika. Tapi langsung ditepis olehnya.


"Adhiiir... apa - apaan kamu, jangan bilang kamu terpesona ya sama aku? Aku masih normal tahu!" hardik Dika.


"Idiiih,.. najong, gue suka sama elo. Menyesal gue, deket sama elo" tukas Adhiraksa.


Dika pun hanya tersenyum ketika melihat temannya kesal.


"Oke, Dika jadi kamu sudah menyucikan diri. Kalau begitu, segeralah kamu untuk bermeditasi. Kami akan meninggalkanmu sendirian disini." kataku


"Semoga kau berhasil dan tidak direncah oleh kawanan Denawa penunggu daerah perbatasan" ledek Adhiraksa.


"Hahaha ... doakan saja, aku akan baik - baik saja. Selain itu, pangeran tengik. Kau akan dapat aku kalahkan. Tunggu saja, Nara ... jaga dirimu baik - baik yah. Aku akan selalu merindukanmu" kata Dika.

__ADS_1


Aku pun hanya menganggukan kepala. Aku takut jika berbicara malah menanggis.


"Ivan, Adhir ayo kita menuju Nandi Grha. Kita harus mengantarkan Ivan ke sana." kataku


"Baiklah, byee... pasukan kerempeng." ledek Adhiraksa.


Setelah berpamitan, kami pun menghilang dari pandangan Dika.


*


Jerman


Malam ini adalah malam yang ditunggu. Dimana Hainan akan bertarung dengan Satria. Tentu saja Satria sebagai Ivan.


"Atur semua sebaik mungkin, aku ingin Ivan mati dengan berbagai jebakan." kata Hainan.


"Baiklah, kau benar ingin membunuh dua orang itu?" tanya seseorang.


"Tentu saja, dua orang itu jika berhasil kumatikan. Aku akan kaya raya. Tidak rugi, aku menyamar sebagai salah satu pasukan khusus." kata Hainan.


2 jam kemudian.


Semua prajurit dalam latihan persahabatan ini kumpul dalam arena. Ya, terdapat sebuah kotak. Tentu saja, kotak ring yang akan digunakan sebagai duel. Komandan lalu membacakan peraturan uji ketangkasan.


"Sat, kamu harus tenang ... pancing Hainan menunjukan jati dirinya. Aku rasa Hainan yang itu, bukan Hainan yang sebenarnya. Aku merasakan ada aura Denawa yang kuat." kata Prasta


"Ya, aku juga merasakan hal yang sama. Untuk itu, tetaplah waspada. Aku yakin di arena ini banyak sekali jebakan." kata Satria


"Baiklah, kalau begitu bersiaplah... aku akan memantau jalannya pertandingan ini." kata Prasta .


Setelah semuanya siap, Satria Ivan pun masuk ke arena pertandingan. Hainan dengan gagah berani langsung melompat ke dalam ring.


"Ivan, sebaiknya kau menyerah saja. Sebelum kau kehilangan martabat mu" ledek Hainan.


"Aku? menyerah? sebaiknya kamu bangun lah dari tidurmu" kata Satria.


Hainan pun langsung menendang Satria. Tapi setiap gerakan Hainan dapat dibaca dengan mudah. Sehingga tendangannya mengenai ruang kosong.


"Lumayan juga ilmu beladirimu" ledek Hainan.


"Ayo lah, keluarkan kesaktianmu. Jangan seperti anak bawang." kata Satria.


Hainan kini mengeluarkan berbagai kekuatan yang dia miliki. Tapi semuanya dapat ditepis dengan mudah.


"Benar apa kata ketua, bahwa Ivan sangat kuat. Tapi bukankah ini menarik. Baiklah, aku tidak akan ragu" batin Hainan.


Satria pun mengamati setiap gerakan Hainan.


"Benar apa yang dikatakan Prasta. Aura Denawa sangat kuat." batin Satria.


Hainan tiba - tiba mengeluarkan ajiannya. Ajian berupa kumbhageni. Sebuah ajian yang dikeluarkan dari telapak tangan. Dari telapaknya mengeluarkan api yang sangat kuat.


"Kumbhageni? Ajian ini seharusnya sudah musnah. Kenapa masih ada di sini." kata Satria


"Kau akan mati dengan ajianku ini" kata Hainan.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"

__ADS_1


__ADS_2