
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading.
Aku dan Pasopati mencari keberadaan Satria. Tujuan kami adalah pasar tempat terakhir kami berpisah. Aku berharap bisa menemukan dia. Aku ingin memaksanya untuk segera menikah denganku (hahahaha ... ini terlalu egois).
"So, kita nyari Satria ke pasar kah?" tanyaku
"Tidak Rakyan, tapi ke pesanggrahan." kata Pasopati.
"Kenapa enggak dipasar, So?" tanyaku lagi
"Ini pasti Rakai sudah kembali ke pesanggrahan. Biasanya Rakai istirahat di sana." jawabnya.
Aku nurut saja dengan Pasopati. Aku yakin Sopati akan dapat menemukan Satria. Kali ini aku akan tunduk pada nasihat dan perintah Pasopati. Aku tidak mau membuatnya susah untuk berkali - kali.
"Berapa lama kita ke pesanggrahan, So?" aku mulai bawel.
"Sekitar 1 jam perjalanan." jawabnya.
"So, Rakai kalau di pesanggrahan ngapain saja?" tanyaku lagi.
"Menenangkan pikiran, kasih makan rusa, dan ... " katanya.
Pasopati menjelaskan aktivitas Satria jika di pesanggrahan. Akan tetapi ia kemudian diam dan tidak melanjutkan omongannya. Aku terus bawel dan penasaran apa yang dilakukan lelaki tak bertanggung jawab itu. Dia sudah menarikku ke dunianya. Tapi malah dia tidak memperdulikan aku.
"dan apa?" tanyaku penasaran.
"Banyak para gadis dari kalangan orang kaya dan bangsawan berusaha menghiburnya." katanya
"Wah ... apa Satria berbuat mesum dengan para gadis itu?" tanyaku
"Aku kurang tahu Rakyan ... Aku tidak ada wewenang untuk mengetahui urusan pribadinya." katanya.
Aku sangat sebal begitu mendengar kalau Satria juga dikelilingi banyak gadis.
"Pasopati ayo lebih cepat lagi. Aku nggak bisa membiarkannya menyentuh wanita lain." kataku
Pasopati kemudian tersenyum mengetahui aku tidak sabar untuk bertemu satria. Sepanjang perjalanan dia selalu menggodaku dan bercanda tentang Pasopati. Bahkan dia berkata, agar Satria tidak menikah denganku. Agar aku tidak bisa kembali ke masa depan.
"Kalau gitu ayo cepat kita bertemu dengan Rakai."
"Baik Rakyan ... pengangan. Aku akan lebih cepat lagi." katanya
Kereta kami kemudian melaju dengan kencang. Tak berapa lama kami sampai di pesanggrahan. Aku mengamati bangunan itu. Bangunan yang sangat megah. Terbuat dari batu andesit dan dihiasi dengan payung - payung kerajaan yang mewah.
Halaman depan banyak dijaga oleh para pengawal yang membawa perisai, tombak, dan di pinggangnya terdapat sangkur.
"Maaf anda tidak boleh masuk." kata salah satu pengawal.
"Kenapa?" tanyaku
"Putri Gendis Wangi melarang anda masuk. Paduka Rakai dan Putri Gendis sedang sibuk dan tidak boleh diganggu." katanya
Aku geram mendengar penuturan dari dayang. Ternyata ini semua perbuatan Gendis Wangi. Pasopati kemudian keluar. Dayang dan pengawal segera memberi hormat. Sepertinya, Pasopati lah yang bisa membantuku masuk ke dalam.
__ADS_1
Aku paham, bahwa aku bukanlah putri Pramodha gang sebenarnya. Tapi aku hanya reinkarnasinya. Jelas saja aku lupa pada semua kejadian di istana Medang.
"Dia adalah paduka Rakyan. Kalian tidak boleh melarangnya masuk." kata Pasopati.
Dayang dan pengawal kemudian memperhatikanku dari bawah hingga atas. Mereka seperti tidak percaya kalau ini aku adalah putri mahkota.
Aku berlagak sedikit sombong, tatkala Pasopati memperkenalkan diriku pada dayang penjaga pelanggaran.
"Ampun paduka Rakyan, kami tidak menyadarinya. Baiklah silahkan masuk." katanya sambil menyembah padaku.
Aku terharu dan sekaligus bangga. Tak kusangka di kehidupan sebelumnya, aku lah sang ratu yang akan dicatat di buku sejarah. Tapi kata Pandita Narada, ketika aku kembali ke masa depan. Aku tidak akan pernah bisa keluar masuk ke abad ini lagi.
Gerbang ghaib hanya terbuka dua kali. Artinya sekali untukku masuk dan sekali untukku kembali ke masa depan.
"Dimana Rakai berada?" tanyaku
"Beliau ada di kamar." katanya
Aku langsung masuk dan mencari keberadaan Rakai. Tapi banyak sekali kamarnya. Dalam bayanganku, aku sudah berpikiran yang macam - macam tentang Rakai. Perbuatan mesumnya dengan Gendis Wangi. Aku bahkan tidak bisa membayangkan, jika aku nanti akan mendapatkan sisa dari Gendis
"Pasopati dimana kamar Rakai?" tanyaku
Ia kemudian mengantarku ke sebuah kamar yang dijaga oleh pengawal Kerajaan Keling. Banyak sekali prajurit Keling yang menjaga luar ruangan itu. Tujuannya pasti untuk mencegah aku masuk dan menganggu kesenangan mereka.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Pasopati.
"Kalian tidak diizinkan masuk. Paduka Rakai dan putri Gendis tidak boleh diganggu." katanya
Pasopati kemudian mengalihkan perhatian pengawal. Sedangkan aku langsung masuk. Ku lihat Rakai tak berdaya. Ia pingsan, bahkan Gendis Wangi berusaha melepas pakaian kebesaran Rakai.
"Gendis menyingkir, apa yang kau lakukan pada Rakai?" kataku.
"Rakyan kenapa kau bisa masuk?" tanyanya
"Aku datang untuk mengambil milikku." kataku
"Cih, milikmu? kamu sudah meninggalkannya bersamaku. Itu artinya dia sudah menjadi milikku. Pergiiiii !!!" gertaknya.
Aku berusaha mendekati Rakai tapi langsung ditahan oleh Gendis. Betapa geramnya aku melihat berlagak seperti itu. Jelas - jelas, hanya aku lah wanitanya yang akan menikah dengannya.
"Mundur ... Ia adalah pangeranku. Aku akan menikahinnya dan aku akan menjadi ratu di tanah Yawa." katanya sambil tertawa.
"Simpan mimpimu. Dia milikku, hanya aku yang akan menjadi ratunya." kataku
"Rakai bangun ... banguuun Rakai ... sadarlaah." teriakku.
Gendis kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dari kainnya. Botol kecil dari gerabah itu merupakan obat penawar agar Rakai sadar dari pingsannya. Aku tak menyangka, pada abad ini racun sudah ditemukan.
"Rakai tidak akan pernah bangun sebelum ia meminum obat penawarnya." katanya sambil membawa botol penawar.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanyaku.
"Kami hanya bersenang - senang. Aku akan mendapatkan keturunan darinya. Anakku nantinya yang akan kugunakan untuk memikat Rakai, hahahahha
" katanya
__ADS_1
Aku kemudian lari dan langsung mendorong Gendis. Ia terjatuh dan botolnya juga ikut jatuh. Ramuan penawar itu tumpah. Betapa kagetnya aku melihat penawar itu tumpah. Aku kemudian berusaha mengambilnya dengan tanganku. Tapi percuma, air itu dengan cepat meresap pada lantai batu.
"Hahahha ... dasar bodoh, kau telah membuat penawarnya rusak. Tapi aku bisa membuatnya, hahaha ... hanya aku yang akan bisa menyadarkannya." katanya
Kami kemudian berkelahi. Akan tetapi aku tidak sanggup mengalahkan Gendis. Ia pandai beladiri. Aku pun beberapa kali terjatuh akibat pukulannya. Aku merasakan dunia berputar. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku harus menyelamatkan Rakai. Aku kemudian memejamkan mata dan memohon anugrah dari dewa.
"Hei apa ini." gumamku.
Aku melihat sebuah bunga keluar dari dadaku. Aku baru ingat, bahwa aku memiliki pusaka teratai emas yang dapat melindungi dan membantuku bertarung. Teratai emas merupakan pusaka dewa yang sudah ada di dalam tubuhku sejak aku dalam kandungan.
"Teratai emas!" teriakku.
"Hahahha ... kau tidak akan mampu mengalahkanku. Bersiaplah untuk mati." kata Gendis.
Teratai emas itu langsung menghancurkan serangan dari Gendis. Pedang dan panah juga hancur sebelum menyentuh kulitku. Teratai terus melesat dan melukai Gendis.
"Awwwww ... wajahku." teriaknya kesakitan.
Darah segar mengalir dari pipi Gendis. Aku tidak tega melihatnya. Aku memejamkan mata, karena melihat wajah rusak seperti tersayat pedang. Membayangkannya saja aku menjadi takut.
"Teratai emas, hentikan." perintahku
Teratai kemudian berhenti menyiksa Gendis. Akan tetapi gendis kemudian mengambil tombak dan dilemparkan ke arahku.
"****** kau Rakyan." teriaknya
Teratai kemudian membesar dan melindungi aku dari depan. Serangan itu ditangkis oleh teratai emas. Tombak itu berbalik menuju Gendis. Dia tertusuk oleh tombak miliknya sendiri.
"Aaaaaakkkkhhhhh " teriak Gendis.
Ia kesakitan karena tombak tadi sudah menusuk perutnya. Gendis tewas dengan tombaknya sendiri. Bahkan aku mual dna tak sanggup melihat banyak darah berceceran di lantai batu.
"Teratai emas, tolong sadarkan Rakai." perintahku
Teratai itu kemudian berputar di atas Rakai dan mengeluarkan cahaya. Tak berapa lama Rakai bergerak. Teratai emas juga menyingkirkan jasad Gendis dan ruangan itu menjadi rapi seperti tidak terjadi apa - apa.
"Rakyan." kata Rakai lirih.
"Iya Rakai." Aku kemudian memeluknya.
"Jangan pergi dariku." kataku
"Rakyan ... apakah boleh?" tanyanya.
"Tidaaaak ... jangan coba - coba melakukan itu sebelum kita menikah." kataku.
Aku kemudian berlari keluar ruangan. Aku takut Rakai akan berbuat yang tidak - tidak padaku.
"Dasar mesum, pasti dia masih terpengaruh obat dari Gendis." batinku
**
Episode kali ini cukup ya.
Terimakasih atas waktunya dan berkenan sudah membaca.
__ADS_1
with love
Citralekha