Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Jalan - jalan Part 2


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan comment*


Happy reading.


.


Satria kemudian menyuruh sais kereta untuk berhenti di pesanggrahan. Kami berganti pakaian menggunakan yang lebih sederhana. Aku dan Satria kemudian berjalan kaki menuju pasar. Sais pun juga mengikuti kami dari belakang.


"Aku seneng deh kak, orang - orang tidak akan memperlakukan kita dengan istimewa." kataku


"Nararia, kamu memang beda. Aku semakin sayang denganmu." katanya yang membuat ak malu.


Tiba - tiba dia memegang dan menggandeng tanganku. Ini adalah kali pertama aku digandeng oleh seorang pria.


"Kamu kenapa?" tanyanya


"Anu nggak papa kak." kataku bohong.


Aku merasakan debar jantung yang kencang. Ini adalah kencan pertamaku. Meskipun kencannya di pasar. Tapi aku merasakan bahagia.


"Hei itu ramai - ramai kenapa, kak?" teriakku.


Aku melihat sekumpulan orang yang bersorak - sorak.


"Itu adu ayam" kata Satria.


Aku kemudian mendekat dan penasaran ingin melihat adu ayam. Kasian sih melihat beberapa ayam yang mati akibat taji atau mata pisau yang diletakan pada jalu ayam.


"Kak, aku nggak tahan lihat darah. Kasian ayamnya." kataku sambil bergidik ngeri.


Aku berbalik arah dan tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, saya tidak sengaja." kataku sambil tertunduk


Orang itu tidak terima. Ia menarik dan menggodaku.


"Eh ada wanita muda yang ngajak pesta ini. Kulit mulus dan masih perawan. Ayo temani aku." katanya sambil berusaha menarik paksa tanganku.


Sais kemudian maju dan menghajar lelaki tak bermoral itu. Terjadilah pertarungan antara sais dan orang itu. Akan tetapi kawanan preman kampung membantu temannya.


"Kak, bantuin sais kereta kita." kataku


"Tenanglah Rakyan, ia mampu menghadapi semuanya." kata Satria


"Tapi kak, nanti dia terbunuh." kataku sambil terisak.

__ADS_1


Satria kemudian memelukku. Aku juga membenamkan wajahku di pelukannya. Aku masih mendengar suara teriakan dari preman itu.


"Nararia sudah ... sais kita menang." katanya


Aku kemudian melepaskan pelukan itu dengan terpaksa. Aku nyaman banget bersamanya. Otot lengannya membuat aku semakin kagum pada tubuhnya yang kekar.


"Hebat kamu ... oiya siapa namamu?" tanyaku pada sais.


"Ampun paduka, nama hamba Pasopati." katanya dengan menundukkan kepala


Aku kemudian tersenyum karena ingat nama Pasopati adalah senjata utama dari Arjuna.


"Kenapa kamu tersenyum, Rakyan?" tanya Satria sambil cemberut.


"Aku ingat kalau Pasopati itu senjata dari Raden Arjuna. Kenapa kakak cemberut" kataku


"Rakyan, aku tidak suka kamu memberikan senyumanmu kepada orang lain." katanya ketus.


Aku berpikir kalau dia sedang cemburu. Masa iya dia cemburu dengan seorang sais kereta. Tapi setelah ku lihat - lihat. Sais kereta itu lumayan tampan, berotot, tegap, dan sexi (kulihat perutnya six pack).


"Kamu sedang mikir apa Rakyan?" tanyanya.


"Eng ... enggak papa. Aku sudah nggak sabar ingin ke pasar dan belanja." kataku bohong.


"Paduka, pasar sudah ada di depan. Paduka Rakyan bisa membeli apapun yang diinginkan. Hamba akan membayarnya." kata Pasopati.


Aku kemudian tersenyum dan berkata


"Kak Pasopati, tenanglah. Aku memiliki uang kok."


Satria terus melototiku. Aku kemudian tersadar bahwa aku tadi manggil Pasopati dengan sebutan 'kak'. Aku kemudian memeluk Satria secepatnya agar ia tidak marah ke Pasopati.


"Aku sayang kamu." kataku


Satria kemudian tersenyum dan mencubit hidungku.


"Aku juga sayang kamu. Jangan mencoba menggoda Pasopati di depanku." katanya


"Jadi, kalau nggak ada kakak. Aku bisa menggoda Pasopati?" kataku bercanda.


"Aku akan menghukummu, jika kamu berulah." katanya


"Hukuman apa yang akan kakak berikan padaku?" kataku


Dia hanya tersenyum dan kemudian aku digendong. Ia seakan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Banyak orang yang melihat ke arah kami berdua. Aku juga melirik pada Pasopati yang ada dibelakang kami. Ia hanya tersenyum dan menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Rakyan, kita sudah sampai." aku kemudian diturunkan.


Pasar ini sangat ramai. Banyak barang - barang yang menurutku perlengkapan tradisional di jual. Ada yang menjual sayur, lauk (ikan air tawar, udang, dan ikan tambak, kepiting, cumi - cumi), ternak, alat upacara, alat memasak, dan bucket bunga. Aku kemudian mendekati orang jualan selendang.


"Berapa harganya ini?" tanyaku


"3 yu ... selendang ini cocok jika anda gunakan." kata penjual


Aku bingung dengan istilah 3 yu. Aku kemudian mengeluarkan uang dari kemben. Aku jadi geli, ternyata uangku ada dikemben. Aku juga baru menyadari ternyata aku tidak menggunakan BH. Aku kaget dan panik.


"Kenapa Ra?" tanya Satria.


"Apa orang zaman ini tidak menggunakan pakaian dalam, kak?" tanyaku


Satria kemudian tertawa dan dia melihat ke arah dadaku.


"Kakaaak !!! jangan mesum." kataku sambil menepis tangannya.


Aku kemudian memalingkan wajah dan kembali fokus ke penjual selendang.


"Ibu, saya tidak tahu 3 yu itu berapa. Tapi ini uangku." kataku sambil menyerahkan uang 20rb an.


Ibu itu kemudian menerima dan terus membolak balik uang itu. Ia juga berbisik kepada penjual sebelahnya dan memperlihatkan uang yang aku bawa.


Pasopati kemudian menyerahkan emas kecil berbentuk kotak sebesar biji jagung. Aku kemudian ingat kalau uang itu adalah piloconto. Uang yang sama dengan koleksi museum.


"Pilocinto" teriakku


"Ampun paduka ini adalah mata uang satuan mas ma" kata Pasopati.


"Kalau 3 yu?" tanyaku


"3 yu artinya harus membayar dengan uang seperti ini." kata Pasopati.


Ia kemudian mengeluarkan uang yu. Ternyata uang yu adalah pilocinto dari perak.


**


Episode kali ini cukup ya teman - teman.


Terimakasih atas waktunya


With love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2