
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
"Kamu tenang saja, luka ini akan sembuh setelah kita sampai di tanah leluhur" kata Prasta.
"Yaudah kalau begitu, ayo segera bersiap dan kita pergi ke tanah leluhur" kata ku.
Aku pun lalu beranjak ke kamar dna membangunkan Retno. Setelah itu kami pun bersiap dan akan berangkat ke Tanah Leluhur.
"Itu kenapa Nara?" tanya Denta.
"Mandi sana lu, ntar gue tinggal sini lho." kata Satria.
Denta pun lalu beranjak dan bersiap untuk mandi. Pada waktu itu, Prasta pun masuk ke dalam kamar yang satunya.
"Pras, apakah Nara merasakan sesuatu yang aneh ya?" tanya Satria.
"Entahlah, aku harap dia akan baik-baik saja. Musuh kita kali ini tidak sederhana. Dia datang dengan persiapan dengan matang". kata Prasta.
"Sementara kita belum bisa menggunakan kekuatan kita secara maksimal." kata Satria.
"Aku was - was, jika mereka mencegat kita ditengah jalan. Maka kekuatan kita belum cukup untuk mengimbangi Dewantara." kata Prasta.
"Tenang saja, ada aku." kata Adhiraksa.
Dia pun langsung masuk ke ruangan itu dan memberikan solusi untuk menghindari Dewantara.
"Apakah kamu yakin dengan cara ini akan berhasil?" tanya Prasta.
"Kita tidak tahu, jika tidak mencoba kan?" kata Adhiraksa.
"Aku setuju denganmu, ayo segera kita bersiap." kata Satria.
Mereka pun lalu bersiap untuk pergi ke tanah leluhur.
(Hotel).
Dewantara pun mondar mandir di depan ranjang nya. Tiba-tiba asap unggu masuk ke dalam kamarnya.
"Pangeran Agung.." kata Dewantara sambil menundukkan kepala.
"Pangeran Dewantara, apakah kamu sudah tahu kemana putri mahkota akan pergi?" tanya pangeran agung.
"Semalam, Sakya telah menyelidiki bahwa hari ini mereka semua akan pergi ke tanah leluhur." kata Dewantara.
"Kita harus menyerang sekarang, jika tidak.. maka kita tidak ada kesempatan untuk menyerang." kata Pangeran Agung.
Dewantara pun menganggukan kepala serta memanggil bawahannya.
"Pangeran muda" sapa Sakya dan pengawalnya.
"Sakya, segera persiapkan diri kalian. Kita akan menyerang villa sekarang." titah Dewantara.
"Baik pangeran muda" sahut yang lainnya.
Sakya pun lalu mempersiapkan pengawalnya untuk menyerang vila. Sementara itu, di villa, Adhiraksa telah memberikan gelang perlindungan.
__ADS_1
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Adhiraksa.
Kami semua mengganggukan kepala. Serta berangkat melalui pintu dimensi.
"Meskipun kita melalui pintu dimensi, kita tetap harus waspada. Mereka bisa saja menyerang kita melalui dimensi." kata Adhiraksa.
Pada saat itu, jalan dimensi tiba-tiba mengeluarkan aku yang besar.
"Awas apiii" teriak Denta.
"Sialan, mereka bisa menemukan kita." kutuk Satria.
Jalan itu menjadi gelap dan kita tidak bisa melihat sekeliling. Tapi tiba-tiba kalung yang ada di leher ku menyala.
"Ada apa ini?" tanya ku.
Semua mata tertuju pada aku. Mereka melihat cahaya berpendar sangat menyilaukan mata. Cahaya itu lalu mengantar ke jalan ujung.
Bruuuk
Semua nya jatuh tak beraturan.
"Waduuuh... sakit sekali" kata Denta.
"Ini tempat apa ya?" tanya Retno.
Kami pun lalu melihat sekeliling. Dan ternyata oh ternyata kami berada di tanah merah. Ya tanah merah seperti pulau yang ada di tengah aliran pertigaan sungai.
"Ini sungai, kita berada di sungai besar. Persimpangan 3 sungai." teriak Retno.
"Aduh.. ada buaya nya tidak ya.. haduh, aku belum mau mati. Buaya, jangan makan aku, dagingku alot. kamu sebaiknya makan Satria saja, dia lebih legit." teriak Denta.
Sontak Satria menjitak kepala Denta.
"Gue lempar loe ke tengah sungai." bentak Satria.
"Aneh, kenapa pintu dimensi membawa kita ke pertigaan sungai?" tanya Adhiraksa.
"Mana kita tahu, bukankah ini rencana mu ya?" tanya Prasta.
"Sialan! kalau bukan karena api sialan tadi, kita pasti mendarat di tanah leluhur dengan selamat." kata Adhiraksa.
Mereka lalu celinggukan ke sana dan kemari. Ya, mereka benar - benar berada di pertigaan aliran sungai besar. Air sungai 1 aliran berwarna cokelat, 2 aliran berwarna bening.
"Sungai yang bercampur menjadi 1, pasti ada sesuatunya." kata Prasta
"Apakah kita sudah sampai di tanah leluhur?" tanya Retno.
Pada saat kebingungan itu, mereka kemudian mendengar suara seruling.
"Eh kalian dengar tidak? seperti ada suara seruling." kata Denta.
Kami semua lalu berpandang dan menganggukan kepala. Kami pun lalu celinggukan mencari sumber suara itu. Tiba tiba angin datang dan suara seruling itu semakin jelas.
"Eh... kalung Mbak Ra menyala" kata Retno.
Kami semua lalu memandangi kalung sakti ku. Aku pun lalu memegang liontin nya dan tak lama kemudian angin tadi hilang. Begitu anginnya hilang, kami pun dapat melihat dengan jelas seorang ksatria sedang memainkan seruling.
"Siapa ya dia?" tanya ku
"Kita ke sana saja, kali saja dia bisa bantu kita keluar dari tengah sungai ini." kata Prasta.
"Eh,.. bukannya kalian adalah manusia sakti ya? kenapa kalian tidak terbang saja?" tanya Denta.
Kami pun lalu berpandangan, dan apa yang dikatakan Denta ternyata benar. Kenapa tidak terbang, mreka ber 3 kan bisa terbang.
"Pinter elo Den" puji ku
__ADS_1
"Denta" kata nya sambil menepukkan dada.
Adhiraksa pun lalu mencoba untuk yang pertama. Ternyata keanehan terjadi, kekuatan nya sama sekali tidak bisa digunakan.
"Kenapa Dhir?" tanyaku heran.
"Aku tidak bisa menggunakan kesaktian ini." kata Adhiraksa.
Melihat sikap Adhiraksa, Prasta dan Satria pun mencoba juga. Tapi ternyata sama saja. Mereka tidak bisa menggunakan ilmu nya.
"Aneh banget ini tempat." kata Prasta.
"Ayo segera kita temui ksatria itu. Kali saja dia tahu bagaimana kita keluar dari sini." seru Adhiraksa.
Kami pun segera menemui ksatria bersuling itu. Semakin lama semakin dekat. Tiba - tiba Ksatria itu berhenti bermain seruling.
"Selamat siang, ksatria hebat." sapa Adhiraksa.
"Kalian ingin keluar dari pertigaan sungai ini?' tanya ksatria itu.
"Benar ksatria, mohon petunjukmu" kata Prasta.
"Sungai ini adalah pertemuan 3 sungai besar. Sungai Citarum, Cisadane, dan Ciaruteun. Hanya yang memiliki darah putra putri kerajaan lah yang bisa membawa kalian keluar." kata ksatria itu.
Kami pun lalu saling menatap. Adhiraksa lalu mengajukan diri.
"Nara, ayo segera kita laksanakan perintah ksatria ini. Aku memiliki darah putra kerajaan." kata Adhiraksa.
"Lalu bagaimana cara nya kita keluar setelah tahu kalau kita memiliki darah keturunan putra putri kerajaan?" tanyaku
Ternyata Ksatria itu sudah hilang dari pandangan mata. Sontak kami semua binggung.
"Lha, kemana ksatria tadi? Duh.. kita terjrbak deh di tengah sungai" tanya Denta.
"Ini semua karena Dewantara sialan itu." gerutu Satria.
"Sudah lah, kita pasti menemukan cara. Tadi Ksatria itu menyebutkan bahwa sungai ini bernama Citarum, Cisadane, dan Ciaruteun. Itu artinya sekarang kita berada di TANAH SUCI PERADABAN" kata ku dan disahut dengan ke-3 lelaki
Setelah menyebutkan kata tanah suci, keadaan pun tiba - tiba berubah. Kami tidak lagi berada di tengah sungai, tapi sebuah tempat yang sangat indah.
"Tempat ini... sangaat indaah" kata Adhiraksa.
***
Maaf banget baru sempat update.
Banyak hal dan deadline yang harus dikerjakan.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
Maaf ya, sudah off lama,. sekarang akan update tiap 2 hari sekali yaa..
__ADS_1