
*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment (coin juga boleh ya).
Happy reading
.
.
Dari penjelasan Puspa dan Kencana, aku menyimpulkan bahwa leluhur yang aku tahu diawali dari Dapunta Hyang Selendra (Raja Gunung). Beliau mempunyai ibu bernama Bhadrawati dan Santanu (ayahnya). Itu artinya mereka adalah kakek dan nenek ku jauh.
Aku juga mendapatkan gambaran bahwa awal kerajaan Mataram di bangun oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Beliau lah yang mendirikan baru bernama Mataram (Medang) yang beribukota di Poh Ptu. Ratu Sanjaya naik tahta pada tahun 717 M.
Tahun 732 M, beliau mendirikan sebuah lingga di atas bukit Sthirangga untuk memuja Dewa Siwa. Pendirian lingga tersebut untuk memperingati kejayaan kerajaan yang sebelumnya diraih oleh pamannya (Raja Sanna).
Akan tetapi, beliau meninggal dunia karena jatuh sakit. Dia meninggal dengan sangat menderita. Dia menderita sakit selama 8 hari karena telah mengikuti ajaran dari gurunya. Melihat penderitaan ayahnya, anaknya kemudian meninggalkan agama Siwa.
"Suatu saat aku akan membuat diagram silsilah kakek buyutku." gumamku dalam hati.
"Bukan kamu yang membuat, tapi cicitmu yang akan membuatnya" kata Puspa
"Cicit?" tanyaku
"Tapi maaf putri, kami belum bisa mengajakmu ke dunia, dimana keturunanmu berkuasa di Mataram." jelas Kencana
"Tapi apakah aku akan bisa melihat bagaimana cicitku nanti?" tanyaku
"Tentu, tapi setelah kamu menikah dengan Rakai. Kami akan membawamu." kata Puspa.
Aku senang sekali, karena aku sudah diajak di awal - awal Medang dibangun. Serta akan diajak ketika Medang mengalami kehancuran. Aku pun sadar bahwa hukum sebuah negara pada masa ini. Hukumnya ialah proses pendirian, perjuangan, mencapai puncak, pergolakan, dan runtuh.
"Puspa, kenapa kita belum sampai ke Tara Bawana?" tanyaku
"Sabar putri, sebentar lagi kita akan sampai." jawab Puspa
Benar saja, tak berapa lama. Kami sampai di sebuah halaman percandian yang sangat megah dan mewah. Luar biasa Candi nya menjulang tinggi. Atapnya terbuat dari stupa. Terdapat sebuah candi induk dan dikelilingi oleh candi perwara.
"Ini ciri Candi Budha." kataku dalam hati
"Betul putri, ini untuk memuja dan memuliakan Dewi Tara." jawab Kencana
Aku hanya tersenyum ketika mereka bisa berkomunikasi dengan suara hatiku. Mereka jelas tahu apa yang aku pikirkan. Itu karena mereka telah tinggal di tubuhku. Terlebih mereka juga apsara dan apsari.
"Apakah ini untuk memuja, ibuku?. Tapi kan ibuku belum meninggal dan bukan seorang dewi?" tanyaku penasaran.
Aku menduga - duga, bahwa bangunan ini diperuntukan untuk ibuku (Dewi Tara). Tapi kan, pada saat ini ibuku mungkin belum menjadi menantu kakek Panangkaran. Lalu siapa sebenarnya dewi tara itu.
"Bukan putri, bukan Dewi Tara ibumu. Tapi Dewi Tara sang dewi di kepercayaan Budha." kata Puspa.
"Jadi kakekku Rakai Panangkaran memuja Dewi Tara? beliau meninggalkan agama Siwa, karena takut mengalamai nasib yang sama seperti Kakek Buyut Sanjaya?" tanyaku
Itu memang sangat logis. Karena pada masa itu, kepercayaan bisa berganti karena suatu peristiwa besar. Memang ajaran yang berkembang pada abad ini adalah Agama Siwa (Hindu) dan Budha.
__ADS_1
"Kencana, Puspa bisakah kau jelaskan kenapa kakek Panangkaran memilih memuja Dewi Tara, kenapa tidak langsung ke Adi Budha?" tanyaku
Jelas aku akan bertanya seperti itu. Setahu ku Budha tertinggi adalah Adi Budha. Aku penasaran kenapa kakek memilih memuja Dewi Tara. Itu pasti alasannya, kenapa yang dipilih seorang dewi. Bukan memuja kepada Manjusri, Ratnasambhawa, Amogasidhi, atau Amitabha.
"Tidak putri, kakekmu memuja beberapa dewa dalam Budha. Hanya saja dalam candi ini khusus untuk memuja Dewi Tara." kata Kencana
"Candi ini adalah candi pertama yang dibuat oleh kakekmu, Panangkaran setelah dia dinobatkan menjadi raja." sahut Puspa
Itu artinya ini adalah candi pertama yang dibuat oleh kakek. Pantas saja candi ini sangat mewah dan megah. Terlihat pada ornamen candi nya yang sangat raya dan kaya akan motif hias.
"Baik putri, aku akan menjelaskan alasan kakekmu memilih memuja Dewi Tara dan membuatkan candi pemujaan untuknya." kata Kencana
...
(Penjelasan Kencana)
Nama Tara berasal dari bahasa Sanskerta "tar" yang artinya menyeberangkan. Itu berarti bahwa Dewi Tara membantu menyeberangkan semua mahkluk keluar dari segala penderitaan (samsara). Dia disebut juga sebagai "jetsun Drolma yang berarti ibu sang pembebas. Juga dikenal dengan "Pagma Drolma yang berarti sang pembebas nan mulia."
Dewi Tara juga disebut sebagai Dara Eke yang berarti ibu dari semua Budha dan Bodhisatwa. Dewi Tara mempunyai 21 perwujudan Arya Tara. Akan tetapi yang paling terkenal ialah Tara Hijau. Tara Hijau merupakan penolong yang tangkas, bagi mereka yang memohon kepadanya.
Tara putih yang berkaitan dengan kedamaian dan keharmonisan. Khususnya welas asih yang agung, penyembuh, dan ketentraman. Dewi Tara juga dikenal sebagai "cintacakra" yang berarti roda pengabul keinginan.
Perwujudan lain adalah tara merah yang berarti kekuatan dan menaklukan. Tara kuning yang berarti kemajuan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kekayaan. Tara biru berarti kekuatan dan kehebatan.
...
Setelah mendengar penjelasan dari Kencana, aku paham kenapa Rakai Panangkaran memilih untuk memuja Dewi Tara ketika di awal pemerintahannya.
"Itu berarti Rakai Panangkaran memuja Dewi Tara untuk kebebasan dari malapetaka yang telah menimpa Rakai Sanjaya, kan?" tanyaku memastikan
"Seperti biasanya putri, anda sangat cerdas." kata Kencana
"Bolehkah aku melihat dengan seksama bangunan Tara Bawana ini?" tanyaku
"Tentu, silahkan putri." kata Puspa
Seperti biasanya, mereka telah memasang ajian Halimunan. Jadi orang yang sedang beraktivitas di sini tidak akan melihatku. Terlebih dahulu aku melakukan doa dan puja. Aku masuk ke dalam bangunan utama. Disana terdapat sebuah arca Dewi Tara yang besar. Arca tersebut terbuat dari perunggu.
"Sudah putri?" tanya Puspa
"Aku mau melihat motif hias di dinding samping." kataku
Puspa dan Kencana pun dengan setia mengikuti dari belakang. Diantara dinding bangunan candi ini, yang paling membuatku tertarik ialah relief kala. Kala atau penjaga bangunan suci keagamaan digambarkan dengan sangat detil dan raya.
Kala pada candi ini digambarkan dengan lumayan besar. Pada tepi kala terdapat kinara dan kinari yang sedang menari. Pada bagian atas matanya terdapat motif sulur. Pada telinganya kanan dan kiri terdapat wajah raksasa. Dia juga digambarkan memiliki gigi yang besar. Serta dari mulutnya keluar motif sulur berujung teratai.
Pada relung candi terdapat berbagai arca bodhisatwa. Candi ini sangat detil, pantas saja kalau disebut sebagai candi kerajaan. Candi ini letaknya di dataran rendah. Tidak seperti Candi Lingga (Gunung Wukir).
"Puspa, candi ini sangat indah sekali. Bagaimana mereka membuat gambaran yang detil seperti ini?" tanyaku
"Pendeta perancang bangunan ini telah belajar dari Jambu Dwipa. selain itu, mereka juga melakukan tapa brata yoga dan samadhi. " jelas Puspa
__ADS_1
"Tapi, leluhurmu sangat hebat putri. Mereka tidak mengikuti contoh bangunan di India. Melainkan dibuat dengan cipta dan rasa yang tinggi. Ini merupakan arsitek karya leluhurmu. Leluhurmu sangat hebat karena telah menemukan gaya dalam pembuatan bangunan suci." timpal Kencana
Aku pun tersenyum bangga. Ternyata meskipun belajar seni bangun di India. Tapi mereka telah menciptakan dan membuatnya menjadi bangunan yang berbeda dengan yang ada di India.
Leluhur kita tahu, bahwa kita bukanlah bangsa yang meniru. Tapi kita belajar dan kemudian menciptakan dan berinovasi menjadi lebih baik. Bangunan candi kita berbeda dengan candi yang ada di India.
...
Candi ini pada masa sekarang dikenal dengan nama Candi kalasan. Letaknya di Dusun Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY. Candi ini tidak jauh dari jalan utama Yogya - Solo.
...
Tiba - tiba mataku tertuju pada sebuah batu yang dikurung dalam sebuah pendopo kecil. Aku pun melangkahkan kakiku ke sana.
"Puspa, ini?" tanyaku
"Ini adalah prasasti batu yang dibuat oleh kakekmu untuk memperingati pendirian Tara Bawana" kata Kencana
"Nara, apakah kamu tahu siapa nama abhiseka dari kakekmu?" tanya Puspa
Aku kemudian mengingat - ingat gelar abhiseka yang pernah Fais bilang padaku.
"Tejahpurna Panangkaran." kataku
"Itu bukan abhiseka, tapi itu adalah sebutan karena kakekmu seorang hang sakti." kata Puspa
"Lalu?" tanyaku
"Ada banyak gelar abhisekanya. Salah satunya adalah Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Sangkhara Sri Sanggramadhananjaya." kata Kencana.
Aku mengangguk dan sangat kagum. Ternyata orang pada masa ini telah memiliki nama dan gelar yang panjang.
"Tapi kenapa dia menggunakan gelar 'Sangkhara', bukannya Sangkhara adalah nama lain dari Dewa Siwa?" tanyaku
"Karena dia adalah putra dari Sanjaya yang merupakan pemuja Siwa yang taat. Sebelum berganti agama, kakek Panangkaran juga pemuja Siwa yang taat." jelas Puspa.
Setelah tahu alasannya, aku semakin penasaran dengan bunyi prasasti batu itu.
"Puspa" kataku sambil melirik.
Puspa sepertinya tahu apa maksudku. Dia hanya tersenyum dan bergerak menuju prasasti batu itu.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate.
Jangan lupa pula untuk mampir di karya baruku yang berjudul "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku".
With love
Citraleka
__ADS_1