
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
Setidaknya mereka bisa sedikit lega, karena kami selamat. Tapi tetap saja Puspa harus segera menemukan Nara dan Adhir.
"Puspa, berhati - hati lah" pesan Kencana.
"Sampaikan salamku pada Ayah Dewa Indra." kata Puspa.
Setelah itu, mereka pun berpisah menuju tempat tujuan masing - masing.
(Istana Kegelapan)
Kehebohan juga terjadi di Istana Kegelapan. Dimana penghuni kocar kacir. Mereka juga merasakan gempa yang dasyat.
"Apa yang terjadi?" tanya Aura.
"Sepertinya ini pertanda baik untuk kita." kata Balapati.
"Apa maksudmu Balapati?" tanya Tamara.
"Apakah kita tidak keluar dari istana dan menyelamatkan diri?" tanya Aura.
"Aku rasa tidak perlu" kata Patih.
"Balapati segera perintahkan para punggawa untuk menenangkan rakyat." perintah Patih
Balapati pun menuruti perintah ayahnya. Segera dia memerintahkan penggawa dan pengawal untuk menstabilkan masyarakat.
"Apakah ini pertanda buruk atau murni bencana alam?" tanya Tamara.
"Aku tidak tahu, yang pasti aku merasakan ini energinya sangat kuat." kata Aura.
Pada saat semua sedang menerka jawaban. Raja Kegelapan dalam posisi masih samadi di ruang pemujaannya. Tapi dia tahu apa yang sedang terjadi di luar. Bahkan dia tersenyum dengan adanya kekacauan ini.
"Putraku kau akan segera mendapatkan tambahan kekuatan. Bersiaplah untuk menerima kekuatan itu." kata sinar merah.
"Terimakasih ayahanda, putra akan sangat senang sekali. Cepat atau lambat, perang akan segera terjadi." kata Ardana.
Setelah itu cahaya merah melesat keluar. Dalam kesendiriannya itu. Ardhana sekali lagi tersenyum.
"Nararia.. kau pikir aku tidak tahu jika selama ini kau telah berbohong. Kau pikir kau bisa selamat kali ini. Kau telah membuatku menyentuh wanita sialan itu. Kau pun harus membalas semuanya. Kau harus menjadi milikku. Akan aku hancurkan dan kumusnahkan semua orang dan penjagamu." kata Ardana.
(Kembali ke luar istana kegelapan).
Punggawa dan prajurit berhasil menenangkan para warga kegelapan. Setelah semuanya stabil, Balapati kembali kepada ayah dan 2 wanita itu.
"Ayahanda... semuanya sudah terkendali. Apakah kita perlu membangunkan Maharaja?" tanya Balapati.
"Aku rasa tidak, Raja Arda pasti tahu apa yang sedang terjadi." kata Patih.
"Balapati, apakah kau sibuk hari ini?" tanya Tamara.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Balapati.
"Bisakah kau mengajari aku beberapa ilmu pedang?" tanya Tamara.
Balapati terlihat mengerutkan dahinya. Tidak seperti biasanya. Tamara bersikap seperti itu. Ini juga baru pertama Tamara memohon untuk diajari teknik pedang. Padahal Tamara adalah pejuang wanita yang pandai bermain pedang.
"Kenapa kau tiba - tiba seperti ini?" tanya Balapati.
"Aku lama tidak berlatih pedang." kata Tamara.
"Aura, apakah kau berminat belajar pedang juga?" tanya Balapati.
"Tidak, aku mau kembali ke kamar ku. Kalian selamat berlatih" kata Aura.
"Aku akan mengantarkan mu." kata Balapati.
"Balapati, Aura sudah bersama dayang. Ayo kita segera ke tempat latihan." kata Tamara.
Balapati terlihat sangat kesal. Tapi Aura pun mengamini apa yang dikatakan Tamara. Sehingga mau tidak mau mereka berdua pun menuju tempat latihan. Terlihat raut wajah Tamara yang bersemu kemerahan. Entah sejak kapan Tamara merasa nyaman melihat dan bersama Balapati. Tapi Balapati masih merasa risih dengan perlakuan manis dari Tamara.
"Balapati, apa menurut mu Balaputra akan segera kembali?" tanya Tamara.
"Oh iya, aku melupakan pangeran Balaputra. Jangan - jangan peristiwa alam ini adalah pertanda." terima Balapati.
"Pertanda kalau pangeran Walaing sudah menyelesaikan tapa nya di lembah neraka?" tanya Tamara.
Balapati pun kemudian memikirkan perkataan dari Tamara. Tapi ketika berpikir tiba - tiba pedang sudah berada di depan lehernya.
"Jika kau melamun, maka kau akan oleh musuh mu" kata Tamara.
Balapati pun kemudian tersenyum dan dia menunjukan belati siap menusuk ginjal Tamara.
"Kesombongan membuat kau tidak waspada dengan gerakan kecil yang mematikan." kata Balapati kemudian tersenyum
"Simpan hayalanmu... ayo segera selesaikan latihan pedang. Ternyata bermain pedang denganmu sangat menyenangkan." kata Balapati sambil tersenyum.
Kedua muda mudi itu pun kemudian menikmati latihan senjata nya. Aura kebahagian terpancar dari keduanya. Jauh di balik jendela istana kepatihan. Sang Patih sedang mengawasi putra nya berlatih. Dia pun tersenyum melihat pemandangan di depannya.
"Aku pun akan sangat setuju jika Balapati menikah dengan putri Tamara. Sebab dia berdarah Mataram. Lelaki kegelapan dan wanita Medang jika bersatu akan menghasilkan anak yang pilih tanding. Dia akan berhasil menguasai istana kegelapan. Aku harus mendorong Balapati agar menikahi putri Tamara. Rahasia ini tidak boleh diketahui oleh orang lain. Termasuk Maharaja sendiri." batik patih.
(Kembali ke Dihyang).
Nara dan Adhir masih mengamati raut muka pandita. Adhir pun kemudian mengajak Nara berbicara melalui telepati.
"Sepertinya pandita sedang melihat sebuah peristiwa" kata Adhir.
"Ya, aku juga bisa merasakan. Tapi entah peristiwa apa." kata Nara.
Tak lama kemudian pandita Dharma Hyang membuka matanya. Raut wajahnya terlihat sangat cemas.
"Ada apa pandita?" tanya Nara.
"Berita buruk putri mahkota." kata pandita.
"Berita buruk? Apa maksud anda pandita?" tanya Adhir.
"Telah terjadi bencana alam, laut bergejolak, gunung merapi meletus, dan terjadi gempa bumi. Ini adalah awal dari mahapralaya." kata pandita.
Nara dan Adhir pun kemudian saling menatap satu sama lain.
"Mahapralaya?" kata mereka berdua secara bersamaan.
"Gempa bumi? tsunami? gunung meletus? Kenapa kita tidak bisa merasakan hal demikian?" tanya Adhiraksa.
__ADS_1
"Karena kalian berada di dunia ilusi dan saya tarik ke masa abad ke 7. Sehingga kalian tidak akan merasakan hal tersebut." kata pandita.
Adhir pun berusaha berkomunikasi dengan dunia luar ilusi. Tapi sayangnya tidak bisa. Bahkan berkomunikasi dengan prajuritnya juga tidak bisa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nara. Dia mencoba menghubungi Puspa dan Kencana. Tapi gelombangnya tidak sama.
"Pandita apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kami tidak bisa berkomunikasi dengan para penjaga kamu?" tanya Nara.
"Tadi sudah aku katakan putri. Ini adalah dunia ku, tanpa seizinku kalian tidak akan bisa berkomunikasi dengan pihak luar. Tapi kalian tenang saja. Setelah kejadiannya aman. Kalian akan kami kembalikan." kata Pandita.
"Sebenarnya pertanda apa itu, pandita? seberapa hebatnya bencana itu" tanya Adhiraksa.
Pandita lalu menunjukan kepada Adhir dan Nara. Betapa terkejutnya mereka ketika dapat melihat apa yang sedang terjadi. Sama persis dengan gambaran yang saat ini ada. Mereka melihat rumah rusak, mayat manusia, hewan, dan tumbuhan mati. Nara pun tidak sanggup melihat peristiwa itu. Sehingga dia menanggis dan menutup mata nya. Melihat hal itu, pandita lalu menutup penglihatan mereka.
"Mengerikan sekali pandita, apakah itu murni bencana alam atau akibat kekuatan jahat?" tanya Adhir.
"Kekuatan jahat, pangeran." kata pandita.
"Kekuatan jahat siapa? Apakah?" tanya Adhir.
"Benar pangeran, Walaing sudah selesai dari tapa nya. Dia akan segera kembali dari dasar neraka. Bencana itu adalah akibat gejolak alam akan hal buruk terjadi." kata pandita.
Nara dan Adhir pun tersentak. Ternyata gejolak alam itu akibat kekuatan baru Walaing.
"Apa?? Walaing berhasil menyelesaikan tapa nya? Baru saja keluar akibatnya sangat mengerikan. Bagaimana jika benar - benar dia menggunakan kekuatan baru nya. Pasti korban akan semakin banyak." kata Adhir.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus mencegah Walaing, Adhir." kata Nara sambil menanggis.
"Tidak, saat ini kekuatan Walaing sangat besar. Bahkan kemampuan kalian berdua satu tingkatan dengan Walaing. Artinya kalian berdua setara dengan Walaing." kata Pandita.
Ternyata mengerikan sekali, akibat dari tapa Walaing. Nara dan Adhir harus bersatu agar bisa mengimbangi Walaing. Artinya besar sekali kekuatan Walaing.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, pandita?" tanya Adhir.
Terlihat kecemasan dalam wajah Adhiraksa. Dia sudah membayangkan akibatnya. Bahkan kalung padma locana pun tidak akan mampu mengalahkan Walaing saat ini.
"Pangeran, kembalilah ke kerajaan utara. Bermeditasi dan bangkitkan seluruh kekuatan utara. Serap energi nya untuk menyatu dengan mu. Tapi..." kata Pandita.
"Tapi apa pandita?" tanya Adhiraksa.
Terlihat raut wajah sedih pada pandita. Melihat hal itu, Nara pun sangat cemas.
***
Maaf banget baru sempat update.
Banyak hal dan deadline yang harus dikerjakan.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1