Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Pagi - pagi sebelum Surya menyingsing aku sudah di depan Kesatrian. Tujuannya ialah untuk menatap Satria sebelum dia kembali ke Pikata.


"Hoy pagi - pagi dah bengong disitu." bentak Pasopati


"Pasopatiii!!!" teriakku


Aku seperti mendapatkan berlian yang cantik begitu mengetahui ada Pasopati sedang berjalan ke arahku.


"Kamu ngapain di sini, Ra?" tanya Pasopati


"Nunggu Satria." kataku


"Lho memang dia tidak pamit padamu?" tanya Pasopati


Aku bingung dengan maksud Pasopati. Apakah Satria sudah berangkat ke Pikatan sebelum bertemu denganku.


"Maksudnya?" tanyaku


"Dia sudah berangkat." kata Pasopati


"Kapan?" tanyaku


"Semalam setelah kamu kembali ke Keputren. Dia langsung berkemas dan berangkat ke Pikatan." kata Pasopati


Aku langsung terduduk lemas, seperti tak punya tenaga begitu mendengar penuturan dari Pasopati. aku tidak menyangka kalau Satria akan kembali ke Pikatan tanpa bertemu denganku terlebih dahulu.


"Dia bilang perginya sebelum Surya menyingsing. Aku sudah bangun sangat awal, So. Bahkan aku tidak bisa tidur." kataku


"Aku kira akan menemuimu terlebih dahulu. Dia terlihat tergesa- gesa setelah telik sandi Pikatan menemuinya." jelas Pasopati


"So, apakah telik sandi tu wajar datang tengah malam?" tanyaku sedikit curiga.


Pasopati mengeryitkan dahinya dan kemudian mengamati sekitar.


"Memang tugasnya sangat rahasia. Tapi jika benar Rakai Patapan Pu Palar sedang sakit. Seharusnya mengirim utusan secara resmi melalui Raja Samaratungga." jelas Pasopati


Aku menjadi semakin khawatir. Andai saja aku bisa menghilang atau terbang. Maka aku akan susul dia secepat mungkin dan kembali lagi ke Medang. Setelah memastikan kalau Satria baik - baik saja di Pikatan.


"Aku curiga, Ra." kata Pasopati


"Curiga kenapa?" tanyaku


"Aku akan kirim prajurit telik sandiku untuk ke Pikatan dan mencari tahu tentang Rakai Patapan dan Satria." usul Pasopati.


Aku jelas sangat setuju, jika Pasopati akan mengirim telik sandinya ke Pikatan. Aku berharap telik sandi itu dapat segera mendapatkan kabar dan kembali lagi memberikan laporan pada kami.


Aku dan Pasopati lalu berpisah dan kembali ke Keputren. Aku masih memikirkan tentang Satria. Tidak seperti biasanya dia pergi tanpa pamit kepadaku. Aku curiga telah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.


Tapi aku mencoba berpikir positif. Satria akan segera mengirim surat kepadaku setelah dia sampai di Pikatan. Tak berapa lama, pintu bilik kamarku diketok. Aku segera membuka pintu. Aku kira itu adalah Pasopati yang akan memberitahukan tentang kabar Satria.


"Paso ... eh Balaputra, ada apa dik?" tanyaku


"Apa kabar kakak cantikku." kata Balaputra


"Kamu ada apa dik, kemari?" tanyaku lagi


"Kakak tidak mempersilahkan adikmu ini duduk?" tanya Balaputra

__ADS_1


Aku segera mempersilahkan Balaputra untuk duduk di pendopo kecil samping kamarku. Aku juga memerintahkan kepada dayang untuk segera membuatkan minuman dan membawakan makanan.


"Ada apa dik?" tanyaku


"Kakak, aku dengar kakak ipar kembali ke Pikatan karena ayahnya, Pu Palar sedang sakit?" tanyanya


Aku merasa kalau Balaputra sedang menyelidik terhadapku tentang Satria. Tapi aku harus berusaha tetap tenang.


"Bukannya adik sudah tahu, kenapa tanya ke kakak lagi?" tanyaku


"Kakak sepertinya tidak suka padaku ya?" tanya Balaputra.


"Bukan begitu, dik. Kakak hanya sedikit kecewa." kataku


Balaputra kemudian berhenti menenggak minumnya. Dia segera berbicara dengan serius kepadaku.


"Kecewa kenapa, kak?" tanyanya


"Dia pergi tanpa pamit padaku." kataku


Dia segera memanas - manasi dengan berbagai macam argumen. Dia juga menjelek - jelekkan Satria di depanku.


"Wuah, kak belum nikah saja, kakak ipar sudah berani seperti itu. Bagaimana jika dia sudah menikah dengan kakak. Dia bisa semena - mena dengan kakak." katanya


"Tapi tidak seperti biasanya dia seperti itu, dik." kataku


"Kakak tu terlalu baik dengan si tengik. Makanya kakak dibutakan oleh cinta." katanya


"Apa maksudmu dengan si tengik?" tanyaku


"Tidak tidak, maksud aku kakak ipar." katanya


Aku semakin tidak karuan dan tidak mood untuk berbicara lagi. Aku mengusir Balaputra secara halus.


"Adik, maaf kakak mau istirahat. Semalam kakak tidak tidur." kataku


Aku merebahkan diriku sejenak dan tiba - tiba kamarku diketok lagi. Aku merasa kesal dan ogah untuk membuka pintu. Tapi pintu kamarku terus diketok.


"Bala .... Aku udah bilang ke kamu sedang tidak mood berbicaaa... eh kamu, So." kataku


Saking jengkelnya, aku sempat ngomel - ngomel dan ternyata orang yang ngetok pintu adalah Pasopati.


"Kenapa Balaputra tadi?" tanya Pasopati


"Rindu sama kakaknya." kataku


"Jangan, bohong... terus ngapain kamu ngomel - ngomel tadi?" tanya Pasopati.


"Eh kamu ngapain ke sini?" tanyaku


Aku segera mengalihkan perhatian Pasopati agar tidak terus menyelidiki tentang Balaputra.


"Aku sudah mengirimkan prajurit telik sandi untuk ke Pikatan." katanya


"Butuh berapa lama untuk sampai dan kembali ke Medang?" tanyaku


"Satu hari, besok pagi dia seharusnya sudah kembali ke Medang." kata Pasopati.


Aku mengajak Pasopati untuk duduk ke pendopo dan menyuguhkan beberapa hidangan.


"So, aku sudah tidak sabar ingin segera mendengar kabar dari telik sandi." kataku


"Sabar lah, kau kira telik sandi adalah raden Gatotkaca yang bisa terbang dalam waktu sekejab." kata Pasopati


Baiklah So, kalau gitu aku mau mandi dulu ya. Pagi tadi aku belum sempat mandi.

__ADS_1


"Pantes bau asem dari tadi." kata Pasopati


Aku langsung reflek memukul bahu Pasopati dan kakiku sempat tergelincir. Pasopati dengan sigap langsung menangkapku.


"Kak Rakyan, Kak Pasopati." teriak Widasari


Aku dan Pasopati segera sadar dan mengejar Widasari. Dia pasti akan salah paham melihat adegan tadi.


"Wida tunggu wida" teriakku


Widasari tidak memperdulikan teriakan kami berdua. Doa terus berlari, terjatuh, dan kepalanya terbentuk batu.


"Widaaaaa." teriak kami berdua


Pasopati segera berlari dan menghampiri Widasari.


"Wida bangun, kamu tidak kenapa - Kenapa, kan?" tanya Pasopati


"So, segera bawa ke tabib kerajaan." kataku


Pasopati segera membopong Widasari ke balai pengobatan. Tabib kerajaan kemudian mengobati luka Widasari. Aku dan Pasopati menunggunya dengan panik.


"Pangeran dan putri, luka di kening putri Widasari lumayan parah. Dia bisa sembuh dengan getah pohon pulai." kata tabib


"Kalau gitu segera obati Widasari menggunakan getah pulai" pinta Pasopati


"Tapi, persediaan di balai obat habis, pangeran." kata tabib tertunduk


Pasopati tanpa pikir panjang segera pergi ke hutan dan mencari getah pohon pulai untuk mengobati Widasari. Aku masih menunggu dan duduk di samping Widasari. Tak terasa aku tertidur hingga malam.


"Putri, ini sudah larut malam, sebaiknya putri istirahat." kata dayang


"Tidak, dayang. Aku akan menjaga Widasari hingga dia sadar dan tidak terjadi apa - apa." kataku


Dayang lalu pamit dan akan istirahat. Sementara itu aku masih menunggu Pasopati yang tidak kembali. Aku teringat bahwa liontin pancaroba dan teratai emas bisa menyembuhkan luka yang berat.


"Duh, kenapa aku membiarkan Pasopati pergi ke hutan angker. " kataku sambil menepuk jidat.


Aku segera duduk bersamadi dan memanggil teratai emas keluar dari dadaku. Aku juga melepas liontin dan menggabungkannya. Aku mencari air dan mencelupkan 2 pusaka itu. Setelah itu, pusaka kembali ke tubuhku. Aku segera mengusapkan air tersebut di kepala Widasari.


Tak berapa lama Widasari sadar dari pingsannya.


"Kakak, apa yang terjadi?" tanya Widasari


"Kamu tadi jatuh." kataku


Dia langsung duduk dan menunjuk dengan jarinya.


"Kau dan Pasopati?" tanya Widasari.


"Enggak, Wida ... tadi aku tidak sengaja tergelincir dan Pasopati menolongku." kataku


"Lalu dimana Kak Pasopati?" tanya Widasari


Aku segera menjelaskan bahwa Pasopati sedang pergi ke hutan larangan untuk mencari getah pohon pulai.


"Dia ke hutan larangan mencari getah pulai untuk lukamu." kataku


"Hutan larangan??" tanya Widasari.


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya karena sudah berkenan mampir.


With love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2